Senja yang semula duduk meringkuk di tepi ranjang tersentak. Bahunya menegang, jari-jarinya mencengkeram kain seprai. Kepalanya segera dipenuhi kemungkinan terburuk. Ia menoleh ke pintu kamar, memastikan tidak ada bayangan di baliknya. Sunyi. Ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas. Rasa takut menyergap lebih dulu. Bukan ketakutan yang meledak, melainkan yang merambat pelan. Menjalari tengkuk dan membuat d.a.da terasa sempit. Senja berdiri, langkahnya tertahan. Ia ingin berpura-pura tidak mendengar, ingin kembali ke ranjang dan menutup telinga. Akan tetapi, ketukan itu terus datang, berirama, sabar, seolah tahu bahwa ia sedang menimbang. Akhirnya, dengan napas pendek, Senja menghampiri balkon. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. Ia berhenti sejenak, menempelkan te

