Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menekan. Elang mulai bicara lagi, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, nyaris berbahaya. “Saya nggak akan pergi. Nggak akan pernah, Senja.” Kalimat itu jatuh, seperti vonis mematikan. Senja menatapnya tajam, tanpa gentar. “Ini rumah suamiku kalau kamu lupa.” “Dan kamu mantan istri saya,” balas Elang cepat, tanpa ragu. “Kamu pikir semua itu bisa dihapus begitu saja?” “Bisa,” sahut Senja tegas. “Dan sudah aku lakukan. Kak Elang nggak punya tempat lagi di hidupku.” Elang tertawa singkat, tawanya terlalu aneh untuk dianggap keramahan. “Faktanya kamu nggak pernah bisa menghalau kedatangan saya. Kamu bersedia menerima apa pun perbuatan saya terhadap kamu.” Sebelum Senja sempat membalas, suara pintu kamar terbuka dari dalam. “Senja.” Nama

