Ia menggenggam tangan Senja, mantap. “Ingat.” Baskara memberi peringatan pelan. “Perlihatkan pada mereka bahwa kamu bahagia menjadi istri saya.” Senja mengangguk, meski terlihat tertekan. “Baik, Mas.” Tidak ada yang bisa ia lakukan selain patuh. Sedari tadi, ia menjawab dengan tatapan lurus ke depan. Sengaja perempuan tersebut menghindari mata sang suami. Gedung yang dipijaki dipenuhi cahaya. Lampu kristal menggantung di langit-langit tinggi, memantulkan kilau ke lantai marmer yang mengilap. Musik lembut mengalun, berpadu dengan suara percakapan para tamu yang datang dari berbagai kalangan—baik pebisnis, eksekutif, hingga relasi lama yang kembali bertemu. Senja berjalan di sisi Baskara. Lengannya terselip rapi di lengan pria tersebut. Langkahnya terukur. Dari luar, mereka tampa

