“Terima kasih, Dok.” Hans mengantar pria berkaus polo itu sampai di depan pintu penthouse. “Sama-sama, Tuan. Obatnya jangan lupa dirutinkan lagi, dan jangan sampai Nyonya Yasmin stres berlebihan.” Sang Dokter menitipkan pesan. Ia menjabat tangan Hans mantap. “Mari, Tuan.” Hans mengangguk melepas kepergian pria itu. Usai bayangan punggung sang dokter hilang dari pandangan, ia berbalik masuk ke penthouse. Dua puluh menit lalu, ia datang ke sini dengan membawa serta dokter muda langganannya. Tentu saja, karena telepon dari Elang yang mengabarkan Yasmin pingsan. Di kamar utama, Yasmin masih terbaring tidak sadarkan diri. Di sebelah Yasmin, Nabila terduduk sembari mengusap lembut puncak kepala sang mertua. “Nabila. Obati kakimu dulu.” Nabila menoleh, ia tersenyum simpul pada Hans.

