chapter 4

1043 Kata
Bias matahari di sela jendela ku,, menghanyutkan sebagian wajahku membuatku terbangun dari tidurku,,dan isi di dalam hatiku masih sama,,teras berat dan menekan..... Aku bangkit dari peraduan ku,,kulihat kau masih terlelap,,pukul menunjukan 6.30 pagi,,'tumben belum bangun' aku bergumam dalam hati tapi ku diamkan saja,,berlalu ke kamar mandi membersihkan diri dan menyiapkan sarapan... Membangun kan anak-anak untuk bersiap sekolah... Anak-anak di meja makan dan aku sedang sibuk melayani sarapan mereka kulihat kau keluar dari kamar menatap ku dengan tatapan kesal... 'mungkin karena tak ku bangunkan' aku diam saja ku lihat dengan kesal kau mendengus dan berlalu ke kamar mandi... Aku perlahan terbiasa seperti ini,,dan rasa sakit itu perlahan menjadi hampa... Kau keluar dan berlalu tanpa sarapan mu,, akupun mendiamkan saja.... sekolah memori bergelayut di otakku... memori.... setelah mendiamkan ku semalaman kau tetap diam pagi ini meski aku sudah membujukmu,, membangunkan mu dengan mesra menyiapkan sarapanpun tak kau sentuh... aku berlari mengejarmu sebelum berlalu berangkat kerja,,aku masih merengek memohon maaf dan sibuk menjelaskan agar kau tak marah lagi... tanpa ku sadari ini kembali menambah luka ku... Seolah aku saja yang berjuang sementara kau merasa layak di perjuangkan.... Kembali ke masa ini... Aku sungguh tersentak saat si bungsu meraih tanganku "ma ayo berangkat sekolah!" ujarnya melihatku melamun sesaat tadi... "iya ,,ayo mama antar" ku lihat si sulung diam menatap ku,,seolah tahu apa yang sedang ku pikirkan aku tersenyum membuat dia berpaling,,ku lihat seberkas luka di tatapan itu... Dia sedang patah hati,,dan itu karena kemurungan ku atau karena sikap papanya yang membuatku tersakiti... Dan hal ini sudah pernah ku utarakan pada Ikhsan,,akupun selalu tahu aku tak pernah mendapatkan solusi di setiap curhatan ku,, jangankan solusi,,sebuah support yang ku harapkan saja tak pernah ku rasakan,,seolah aku di tinggal untuk berjuang sendiri... Ya,,itu sudah bertahun-tahun ku alami... Aku mengantarkan anak-anakku dengan matik ku ke sekolah mereka,, mengantarkan dengan senyum yang ku buat secerah mungkin menutupi luka di hatiku... saat bersalaman si sulung memeluk ku,,hal yang tak pernah dia lakukan,, membuatku mematung dan ada aliran hangat di sekujur tubuh ku,, ternyata aku hanya butuh sebuah pelukan untuk mencairkan es dingin di dalam hati ini ... Aku balas memeluknya tanpa terasa aku terisak,,membuat dia menatapku... "mama,,masih kuat?" pertanyaannya seolah tahu aku sudah sangat rapuh dari dalam... Aku mengangguk sambil mengelus kepalanya "Abang sekolah yang rajin dan jaga adik,,mama pasti kuat kok demi kalian" dia tersenyum dan berjalan masuk ke gerbang sekolah... Ya tuhan sesimpel itu saja untuk mengobati luka ini,, namun tak pernah ku dapatkan dari suamiku... Aku mengusap airmata ku dan menghidupkan motor ku,,melaju kembali ke rumah menyelesaikan pekerjaan rumahku dan siap untuk melanjutkan pekerjaan ku kembali.... Satu hari memasarkan produk melalui online di semua sosial mediaku,,dengan riview menarik dan testimoni,, responnya sungguh baik beberapa orderan mulai masuk,, membuatku sangat senang... Sedikit hilang dari perasaan tertekan ku...Aku menikmati waktu bekerja ku ini tanpa gangguan dan tanpa perasaan tertekan itu.... Aku sudah menjemput kedua anakku,, membereskan semua pekerjaan rumah,,terasa sedikit lelah,,aku putuskan menutup pintu depan dan berbaring di ruang tengah di depan laptop yang masih menyala,,rasa lelah mengantarkan ku ke tidur siang yang lelap... di sisiku si bungsu mulai mengantuk dan sulung yang masih bermain robot rakitan nya... Lembayung senja menembus jendela,,membuatku perlahan membuka mata,,ku lihat Ikhsan sudah pulang,,sudah bersih dan duduk di dekatku,,aku diam aku tak berharap apapun lagi,,ku lirik sekilas dia melihat laptop ku,,aku bangun masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri... Kembali ke dapur,, kulihat sekilas Ikhsan menatap ku seperti penuh tanya,,apa yang sedang aku lakukan?? kira-kira itulah isyarat tatapan itu,,aku diam melengos dan masuk ke dapur menyiapkan makan malam... Di meja makan masih hening,,mencekam hanya denting sendok yang terdengar,,bisa ku lihat Ikhsan dengan tatapan tanya itu melihatku,,aku tak menjelaskan apapun,,terlalu lelah untuk melakukannya,,selama ini aku selalu menjelaskan apapun padanya meski responnya selalu sekedarnya saja,,dan ini membuatku merasa sudah tak perlu lagi menjelaskan,, menceritakan,, ataupun membicarakan apapun padanya... Selesai makan aku kembali di depan laptop ku,,ku lihat apa yang dia lakukan tadi sore dengan laptop ku,,tak ada yang berubah,,dia hanya melihat pekerjaan ku saja,,dia berjalan menuju ku,,memberi isyarat kepada kedua anakku untuk masuk kamar,,dan aku masih diam pura-pura tak melihat... Dia duduk di sampingku seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi belum juga keluar dari mulutnya... hingga..."kamu kerja?" "ya" "untuk apa?" pertanyaan yang melukai ini membuatku berbalik melihatnya dengan d**a penuh sesak " untuk menghilangkan sesak yang kau buat di dadaku,,marah yang kau diamkan membuat aku tersiksa,,tahukah kamu Ikhsan sikap diam mu ini sungguh menggores luka mencabik-cabik hati ku,,dan itu sudah bertahun-tahun lamanya ku pendam dan semua tak pernah ada penyelesaian,,kau diam saat marah,,kau diam saat aku cerita kau diam saat aku butuh,,yang kau berikan adalah dunia hampa,,dan aku sudah lelah berjuang,,aku hanya akan memperbaiki keadaan ku untuk siap melangkah dan melepaskan mu !!!" teriakan ku di hadapannya dengan semua sesak yang aku rasa dan airmata yang entah kapan mengalir begitu saja membuat dia terdiam seolah baru melihat sisiku yang ini,,bukan seperti aku yang dia kenal ceria dan mudah memaafkan nya... Aku bangkit berlalu masuk ke kamar dengan membanting pintu,,menangis dan berteriak sejadi-jadinya... Meninggalkan Ikhsan yang masih terdiam di tempatnya... Terasa lelah akupun tertidur... Entah apa yang di rasakan di sisi Ikhsan setelah melihat Setia begitu,, seperti dia tak mengenal Setia yang satu ini... pikirkan Ikhsan berkecamuk,,dengan sebuah kata 'melepaskan meninggalkan?' itulah yang terngiang di hatinya... Ikhsan tak masuk kamar malam ini,,dia terbaring di sofa memikirkan apa yang salah dalam rumah tangga nya,, menurut nya semua sudah baik-baik saja,, Setia istri yang baik dan Ikhsan sangat mencintainya,,lalu apa yang salah dengan diam,, bukankah itu l bih baik dari pada bertengkar dan bersitegang... Ikhsan merasa diamnya untuk menghindari keributan adalah benar,,tanpa dia sadari,,diam itu sudah menenggelamkan Setia dalam paling kesedihan... "apa yang harus aku lakukan,,tak cukup baik kah aku hingga dia ingin meninggalkan ku?" pikirkan ini membuatnya gelisah,, sungguh dia tak sanggup kehilangan seorang Setia Larasati... Tapi masih tak tahu harus berbuat apa... Rumit sekali saat seorang laki-laki tak tahu cara mencintai dengan benar,,atau tak tahu bagaimana memahami perasaan pasangannya... Ikhsan terbiasa diam dan menyelesaikan masalah tanpa mengadu pada siapapun,,dan itulah yang dia lakukan pada Setia terkadang bukan kesalahan Setia yang membuatnya diam,,tetapi masalah di luar rumah yang terbawa ke dalam,,hingga Setia yang menanggung imbasnya,,dan itu tak di sadari oleh Ikhsan... Lalu,,tangis yang pecah itu membuatku melukaimu,, itulah makna dari sebuah diam yang kau lakukan,, untuk menyakiti perasaan antara kita berdua.... Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN