chapter 5

1035 Kata
Sesak ini sedikit longgar,,memberi ruang untuk ku ,,aku kembali dengan luka yang belum selesai,,ku lihat kau terbaring lelah seolah sudah terluka,,dan kau tahu akupun begitu... adakah sikapmu untuk menyelesaikan luka ini,,atau kita kan berjalan masing-masing untuk mencari cara mengobati luka kita sendiri.... Aku tersentak dari tidurku,,mataku perih dan kerongkongan kering,,tangis hebat itu membuat ku kelelahan,,tapi ada rasa lega setelah mengeluarkan semuanya padamu,,aku keluar kamar ku lihat kau berbaring di sofa dengan lengan di dahimu... pemandangan yang membuatku sedikit prihatin,,tapi ku biarkan saja aku berlalu ke dapur untuk minum... Dan kembali ke kamar untuk tidur.... Hingga pagi menjelang tak kulihat Ikhsan masuk ke dalam kamar,, penasaran aku keluar dan tak ku dapati Ikhsan di setiap sudut,,aku seperti meleleh,,dari sudut hati ku aku masih belum sanggup kau tinggalkan tetapi egoku mengalahkannya,,mungkin ini yang terbaik,,kau pergi tanpa pamit menyiksa luka menganga,,dan tanpa penyelesaian membuat luka semakin terasa.... tapi sudah lah... Hari ini weekend,, anak-anak tentu tak sekolah membuatku bisa beristirahat di rumah... kulihat anak-anak main di ruang tengah,,aku duduk menatap jauh seolah aku tak disini.... memori..... Lalu setelah itu kau seperti baik-baik saja,, seperti tak pernah menggores luka,,aku masih tak faham tapi sudahlah,, semua juga kembali seperti semula,,malam itu kau tidur memelukku erat,, membuatku sedikit lupa dengan keadaan diam itu... Semua ini begitu berlarut larut terjadi selama ini... Kau diam tanpa sebab,,dan kau kembali biasa saja setelah semuanya... terkadang aku mencoba menebak apa yang terjadi,, terlalu takut untuk menanyakan nya,,takut akan diammu yang membuat luka lagi... Tapi tak pernah menemukan jalan yang di cari .. Saat ini.... Aku masih termenung,,hingga sebuah ketukan pintu terdengar... aku berjalan dan membuka pintu,,dari baliknya terlihat sosok "ibuk?" mertuaku datang.. "Setia,,boleh ibuk masuk?" "ya,, tentu ayo masuk" aku membawa ibu mertua ku masuk,,aku sungguh beruntung mendapatkan mertua yang cukup baik dan peduli,,dan tak pernah ikut campur urusan rumah tangga ku... "Setia,,ibuk tahu Ikhsan tak di rumah,,dia ke rumah ibuk tadi pagi dan terlihat sangat kusut,, Setia?? ada apa??" pertanyaan yang membuatku membeku,,aku tak tahu harus mengatakan apa... "baiklah kalau kamu tak ingin cerita,, ibu akan menceritakan sedikit tentang Ikhsan,,kamu mau mendengarkan?" aku mengangguk dalam diam mencari jalan dalam pikiran ku.... "Setia,, Ikhsan memang anak yang baik dan penurut sedari kecil,,dia mandiri dan bisa di andalkan,,hanya saja Ikhsan kecil terlalu sering hidup mandiri hingga dia tak pernah mengadu masalah apapun pada kami,,entah karena apa,,mungkin sikap ayahnya yang begitu keras sehingga membuat dia tak berani mengadu,,kau tahu Setia suatu ketika dia masih sekolah dasar aku pernah khawatir dia pulang sangat sore dengan banyak luka dan baju lusuh,,ibu menangis sambil menanyakan apa yang terjadi,,tapi dia hanya diam dan ayah hanya melihatnya saja tanpa memberikan pelukan atau kekhawatiran,, kejadian ini semakin memperparah kondisi Ikhsan,,Diman dia semakin sering diam dan menyembunyikan keadaan... hingga dia dewasa..." "Setia,, Ikhsan tak pernah mengeluh kan apapun,,hingga tadi pagi Ikhsan pulang dan menangis di pangkuan ibuk,,dia menangis sangat pilu,,ibuk berusaha bertanya,, Ikhsan hanya diam dan menangis,,dan dalam tangis itu hanya ada kata Setia mau meninggalkan ku buk,,itulah yang ibu dengar hingga dia terlelap lelah,,nak ibuk tak akan menyalahkan mu dan ibuk pun tak menuntut kamu mengerti keadaan Ikhsan,,hanya ibu ingin bertanya,, apakah benar itu keputusan yang kamu ambil?? pikirkan baik-baik nak,, hanya itu yang bisa ibuk bilang keputusan tetap ada padamu" aku diam dan terisak tak pernah ku sadari kata-kata ku membuatnya begitu terpukul,,laku apa susahnya mengatakan maaf atau menjelaskan mungkin tak akan jadi begini... "Setia,,ibuk tahu yang kamu pikirkan dan yang kamu inginkan... ibuk akan pulang menasehati Ikhsan,,bisakah kamu memberi Ikhsan waktu?" aku hanya mengangguk lemah masih sibuk dengan pikiran dan tangisku... Ibu berpamitan setelah main sebentar dengan cucu-cucunya... Aku mengantar ibuk ke depan masih dengan tangis diam... terlalu larut dalam pikiran ku sendiri.... Hari ini ku habiskan dengan renungan,,hingga Ari dan Ara melakukan semua sendiri,, mereka memberikan ruang untuk ku memikirkan langkah... Sekilas memori.... Bertahun sudah hingga mahkluk kecil kedua lahir dari rahimku,, seorang bayi perempuan yang manis... Aku kembali melihat binar bahagiamu,,tapi tetap dengan dirimu yang larut sendiri meninggalkan ku sendiri dalam lelah,,dan hatiku mulai terasa dingin dengan sikap mu... Ara Dwinia Kurniawan,,putri kecil kita yang membawa kebahagiaan lahir dan dalam pelukanmu kulihat bayi itu nyaman,,,aku hanya menatap,,tanpa ada balasan tatapan hangat darimu untuk ku... aku masih tak faham,, apakah aku sungguh tak berharga di matamu? Kilasan kembali pada saat ini... Setiap memori adalah kepedihan di hatiku,,tapi moment bahagia juga masih tersirat,,masa dimana kau dan keluarga kita menghabiskan waktu libur bersama meski hanya jalan-jalan ke taman... atau moment lain dimana kita ke supermarket bersama seperti keluarga bahagia yang utuh,,atau ketika kau tak mendiamkan ku kau masih bersikap sedikit mesra meski tanpa rayuan kata-kata.... pikirkan ku bergejolak,,aku tak ingin meninggalkan mu,,aku hanya butuh penyelesaian dari apa yang kita rasakan,,, sebuah komunikasi,,atau love language berbentuk cerita,,aku perlu mengisi kekosongan hatiku ini... dan aku tahu hanya kamu yang masih ku tunggu... Namun seolah kamu tak pernah berjalan searah denganku,,itulah yang terjadi,,di saat kau diam kita seperti dua orang asing yang tinggal bersama dan itu membuat aku terluka... Aku hanya ingin kamu membagi rasa apa yang kau lalui agar aku tahu perasaan mu,,agar aku tahu harus bersikap apa,,tapi seolah susah sekali itu terjadi,,diam itu menciptakan tembok tebal di antara kita.... Terkadang kamu hanya sibuk dengan pekerjaan mu,,seolah tak ada waktu untuk mendengarkan ku,, sementara aku membutuhkan tempat mencurahkan lelah batin ini.... Ini bukan tentang kita yang tak saling cinta,,ini tentang kita yang tak saling bicara dalam cinta.... Dan Ikhsan di satu sisi...... "Ikhsan,,ibuk sudah ketemu Setia,,apa yang terjadi di antara kalian hanyalah hal sepele,,dan itu di mulai dari sikapmu,, harusnya kamu lah yang menyelesaikan" Ikhsan diam tak mengerti... "maksud ibuk?"... "San,,tak semua masalah selesai dengan kamu diamkan,,kamu harus tahu Setia tak harus menanggung apa yang sedang menjadi bebanmu,,tak ada salahnya saat kamu tertekan bagikan dengan Setia dia bisa jadi pendukung mu,,ibuk tahu kamu terkadang mendiamkan nya saat ada masalah,,tak mau membagi beban agar dia tetap tenang,,tapi pernahkah kamu sadari nak,,kamu mendiamkan nya tanpa sebab menciptakan sebuah teka-teki di hatinya yang menjadi luka?? kamu melukai Setia nak,,tanpa kamu sadari... terkadang makna diam tidaklah sama di hati kami para wanita,,itu bisa jadi sebuah sembilu... meski di pikiran mu bukan itu maksudnya " Ikhsan terdiam,,mulai memikirkan dari mana ini semua terjadi..... Tak selamanya diam adalah emas,, terkadang diam bisa menjadi sebuah pedang tajam yang menghujam.... Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN