Tangan Ocean kembali terangkat dan bulir-bulir kecil bercahaya putih keluar dari sana. Kemudian bulir-bulir itu menyebar untuk menerangi isi kerang sampai ke sudut meski tetap redup. Kini mata Ocean bukan lagi satu-satunya yang menyala disini. "Aku ingin melihatmu." lirihnya, dengan tatapan mabuk itu kepadaku yang gemetaran. Aku meringkuk dan menutupi dadaku meski percuma. Tubuhku yang mulai terasa aneh kini tidak menjadi fokusku sekarang. Satu-satunya yang terpikir olehku hanya satu, lari dari sini. "Marine..." Ocean meraih wajahku dan tersenyum melihat ekspresiku yang ketakutan. "Jangan jadi begitu pucat. Tenanglah, semuanya tidak semengerikan itu... asal kau tidak melawa-" "Tidak mau!!" Aku menepis keras tangan Ocean sehingga dia tersentak ke belakang. Aksiku menciptakan celah

