"Marine?" Pupil mata itu menelusuri ruangan dengan tergesa-gesa. Mencari sampai sudut rumah yang ditinggalkan gelap dan berantakan. Pintu dan jendela dibiarkan terbuka, angin dari pantai berhembus menyibakkan tirai putih tipis, hal itu semakin membuat tengkuk Hans dingin. Jika saja bukan karena tukang angkut barang yang menelepon Hans menggunakan handphone Marine, Hans tidak akan tahu apa-apa. Tentang rumah yang tiba-tiba seperti ditinggalkan begitu saja ditengah-tengah mengemas barang dengan pintu dan jendela yang terbuka, dan tentang Marine tidak ditemukan di manapun. "Marine, kamu dimana?!" Hans menaikkan nada bicaranya. Suaranya menggema ke seluruh rumah, tetapi tidak ada jawaban. Menyadari itu, Hans semakin pucat. Ia semakin tergesa-gesa mencari. Meskipun jauh di dalam hatinya,

