bc

Jerat Cinta Mafia Gila (Rodriguez Family)

book_age18+
164
IKUTI
2.9K
BACA
dark
dominant
badboy
mafia
heir/heiress
drama
bxg
campus
city
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

Note : Kawasan 21+ harap bijak memilih bacaan!

Apa jadinya jika seorang mafia tampan tiba-tiba hadir dalam hidupmu dan meng-claim-mu sebagai miliknya? Itulah yang terjadi dengan Vivian Salsadila, artis cantik dan ternama di Indonesia yang sedang naik daun itu hanya bisa menurut saat Zach Rodriguez menyatakan bahwa Vivian adalah miliknya. Bagaimana tidak, mafia gila itu menjadikan nyawa Vivian sebagai ancaman. Vivian yang hidupnya selalu lurus-lurus saja dipertemukan dengan seorang mafia gila yang tak berpikir dua kali untuk mengarahkan pelatuk ke kepalanya, dia dipaksa tunduk dan melakukan segala permintaannya, bahkan jadi penghangat ranjangnya, meski tanpa cinta.

"Kau milikku Vivian," tegas Zach.

"Oh ya? Menurutmu begitu? Sejak kapan?" tanya Vivian menantang.

"Sejak aku bilang kalau kau adalah milikku. Silakan melawan, tapi jangan salahkan aku kalau peluru ini menembus kepalamu," jawab Zach.

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1
"Kau yakin akan masuk kesana, Ri?" Gadis bersurai coklat itu mulai ragu, mendadak perasaannya tidak enak dan ingin pulang saja. Bagaimana tidak? Di hadapannya menjulang sebuah hotel bintang 5 dengan dentuman musik keras yang bahkan terdengar keluar. Dia yakin pasti yang ada di dalam sana bukanlah hal baik untuknya, terlebih untuk imagenya sebagai seorang aktris ternama. "Kak, terlambat untuk kembali, oke? Ayo!" Maria mulai membuka pintu samping mobil hendak turun saat tangan si surai coklat menariknya kembali duduk ke kursi kemudinya. "Apa lagi?" Maria memutar bola matanya jengah. Wanita polos yang sayangnya adalah sahabatnya ini berhasil membuatnya kesal. "Bagaimana kalau ada wartawan yang melihat kita? Karir kita bisa tamat, kau tahu?" si gadis bersurai coklat, Vivian, terlihat khawatir. "Kak, ini hotel. Wartawan tidak akan tahu kalau kita pergi ke tempat perjudian. Demi Tuhan, Kak!" Maria berujar kesal. "Tapi tetap saja 'kan?" Sahutan kecil terdengar dari bibir mungil Vivian, tak berniat kalah dari Maria. "Kak, Kak Arya menyelenggarakan acara ini secara legal, dan cuma orang-orang yang punya undangan yang bisa masuk, Which is ini tertutup untuk umum Kak. Ayolah ...," Maria memutar bola matanya kesal. "Tapi kau masih kecil untuk hal seperti ini, kau bahkan baru legal kemarin!" Vivian memulai perdebatan. Entah bagaimana caranya, dia harus meyakinkan Maria untuk membatalkan niatnya masuk ke dalam sana. "Oh, perlu kau ingat aku ini anak kecil yang sudah bisa 'membuat' anak kecil. Jadi hentikan semua perdebatan ini dan turun sekarang!" Maria keluar dari mobil dan berjalan membuka pintu penumpang dimana Vivian masih bersikukuh tidak ingin turun. Dengan tarikan paksa, akhirnya Vivian turun sedikit terhuyung karena Maria tidak main-main mengerahkan tenaganya menarik Vivian keluar dari mobil. Vivian lelah, tentu saja. Baru saja satu jam yang lalu dia menyelesaikan syuting untuk iklan terbarunya. Niatan awalnya, actris itu ingin pulang dan tidur, sebelum akhirnya Maria muncul di lokasi syuting, memaksa Vivian berpakaian formal, dan berakhir di hotel milik Arya, calon kakak ipar Maria, untuk menghadiri acara yang baru Vivian ketahui diselenggarakan untuk klien-klien kelas kakapnya. Acara tahunan orang kaya, begitu kata Maria. Acara dimana puluhan pengusaha dompet tebal menghabiskan ratusan juta rupiah dalam semalam di meja judi. Setelah menunjukan kartu undangan dan diperiksa oleh dua pria berbadan tebal yang menghadang di pintu utama, barulah Vivian dan Maria diperbolehkan masuk ke dalam sebuah Hall mewah berisi belasan meja yang sudah diisi beberapa orang yang sedang berjudi. Maria memanjangkan lehernya untuk mencari keberadaan kekasihnya dan kakaknya yang sudah berada lebih dulu di tempat ini, sementara Vivian berjalan merapat di belakang Maria, risih dengan banyaknya jumlah perempuan dengan baju super seksi yang terpampang jelas di depan matanya. "Maria ...," Vivian mencicit pelan di belakang telinga Maria. "Hm?" "Apa-apaan ini? Kau bilang ini tempat perjudian? Kenapa seperti tempat prostitusi?" Vivian mengeletuk giginya kesal. "Judi tanpa perempuan tidak akan menarik, Kak. Menurut cerita Kak Arya, perempuan-perempuan di sini sering dijadikan bahan taruhan. Siapa yang menang, dia bisa memakai jalang milik yang kalah," Maria menjelaskan bak dosen. "What?" "Kau mendengarku dengan jelas, Kak. Ayo ke sana!" Vivian dan Maria melewati sekitar lima meja judi hingga akhirnya sampai di depan meja bartender, di sana sudah berdiri Arya dengan setelan jas merah gelapnya dan rambut hitamnya, berdiri tegap di samping Lyala, kakak Maria yang mengenakan gaun cantik warna abu rokok dan sedang mengamit lengan Arya dengan posesif. "Ri, kau membawa Vivian?" Lyala yang pertama kali menyambut kedatangan Vivian dan Maria, agaknya kaget melihat Vivian hadir di acara seperti ini, mengingat Vivian sangat menentang hal-hal semacam ini, judi, kekerasan, penjualan perempuan dan hal-hal illegal lainnya. "Dia perlu membuka matanya Kak, agar tidak bodoh terus." Maria berujar santai dan dihadiahi tepukan di atas kepalanya oleh Vivian. "Lama tidak bertemu, Kak." Vivian membungkuk di hadapan Lyala dan Arya, memasang senyum termanis yang ia punya. "Senang bertemu denganmu, Vi." Lyala menyahut dan Arya hanya mengangguk. "Mana King?" tanya Maria pada Arya yang sepertinya tengah menunggu kedatangan seseorang. "Di sana," Arya menunjuk dengan dagunya ke sebelah kiri. Di sana ada King, pacar Maria yang sedang sibuk bercengkrama entah dengan siapa. "Aku akan ke sana." Maria pamit, berjalan santai meninggalkan Lyala, Arya dan juga Vivian yang mulai kebingungan harus apa saat Maria pergi. "Ingin minum sesuatu, Vi?" Arya menawarkan. "Bagaimana dengan sampanye?" Lyala memberi pilihan. "Sampanye kedengarannya bagus." Vivian mengangguk dan mendudukan diri di kursi di depan meja bar. "Berikan dia sampanye!" Arya memerintah pada bartender yang sedang sibuk menatapi Vivian tanpa berkedip. Siapa yang tidak kenal Vivian? Penyanyi sekaligus actris yang sedang naik daun, dengan paras amat sangat menarik. Hanya orang pedalaman hutan saja yang mungkin tidak mengenal Vivian di Indonesia. "Sampanye-nya?" Vivian mengernyit ke arah bartender yang tidak juga bergerak. "Ah, maafkan aku Nona. Akan aku ambilkan sekarang." Bartender dengan nametag Nath itu mulai menuangkan sampanye untuk Vivian dan tergugup memberikannya pada Vivian. "Apa ada yang salah dengan wajahku?" Vivian memiringkan kepalanya dan membuatnya terlihat menggemaskan. "T- tidak, tidak ada yang salah, hanya … apa kau Vivian Salsadila? Vivian Salsadila yang artis itu?" Nath terlihat memerah mendapatkan tatapan menggemaskan seperti itu dari Vivian. "Astaga, aku kira kenapa. Iya, aku Vivian Salsadila." Vivian tersenyum lagi. "Ternyata yang asli lebih cantik …." "Hem? Kau membuatku merona, kau tahu?" Vivian berucap main-main. Saat sibuk bercengkrama dengan bartender yang mengaku sebagai fansnya, mendadak suasana menghening sedetik saat pintu utama terbuka lebar. Di depan sana, berdiri seorang lelaki berkulit gelap berjas formal dengan rambut hitam legamnya, berdiri paling depan dengan aura arogansi yang kental dengan belasan orang berbadan kekar di belakangnya. Sedetik Vivian terkesiap, agaknya merinding dengan aura percampuran antara arogansi, d******i, wajah datar yang terlihat bengis, dan seksi. "Akhirnya datang juga," Arya berucap puas bercampur lega. Tamu super VVIP yang sedari tadi ditunggunya dengan tidak sabar akhirnya memunculkan batang hidungnya. Kehadirannya langsung menyedot ratusan pasang mata yang menatap lapar ke arahnya. "Dia, Zach Rodriguez?" Lyala berbisik, takut suaranya terdengar lancang menyebut nama itu. Pebisnis kelas kakap tentu sangat tahu siapa Zach Rodriguez, semua tamu Arya yang merupakan pengusaha, malam ini mengincar uang si pria berkulit gelap. Jika kau berhasil menarik perhatian si pria berkulit gelap untuk berinvestasi di perusahaanmu, dana yang kau dapat layaknya air bah memenuhi rekening bank-mu. Semua pengusaha di ruangan ini tahu bagaimana royalnya seorang Zach Rodriguez dalam berbisnis. Tidak pernah tanggung-tanggung dalam urusan dana dan tidak pernah tanggung-tanggung dalam membuat seseorang kaya raya hanya dengan berbisnis dengannya. Arya contohnya, dulunya Arya hanya pemilik motel kecil di Jakarta, sampai ayahnya mempertemukan Arya pada Zach di suatu acara amal di sebuah hotel. Beruntung bagi Arya karena berhasil menarik perhatian Zach, sedikit berbincang dengan pria berkulit gelap itu tentang usahanya, dan Zach menawarkan investasi di motel kecil Arya. Entah apa yang membuat pria berkulit gelap itu menggelontorkan dana fantastis untuk motel kecil milik Arya saat itu, bahkan Arya yakin, dengan dana yang diberikan Zach, si pria berkulit gelap itu bisa membeli setidaknya 100 motel seperti milik Arya. Singkat cerita, motel kecil milik Arya sudah rata dengan tanah dan berganti dengan hotel bintang lima dengan fasilitas kelas satu, menjadikan hotel milik Arya cuma bisa disewa oleh mereka-mereka yang berdompet tebal jika melihat list harga sewa per-kamar hotel milik Arya. Lelaki berkulit gelap itu berjalan angkuh langsung menuju ke arah Arya yang masih setia berdiri menunggu Zach sampai di hadapannya dengan Lyala makin menempel di lengan kanan Arya. Aura laki-laki ini benar-benar kuat, bahkan Lyala yang biasa berhadapan dengan criminal bawah tanah, mendadak menciut di hadapan Zach. "Ingin minum, Boss?" Arya mempersilahkan Zach duduk di depan meja bar saat Zach baru sampai di hadapannya. "Sampanye," seperti biasa, tidak ada basa basi. Entah bertanya soal kabar, atau sejenisnya. "Kekasihmu?" Zach menunjuk Lyala yang mengkeret di belakang Arya dengan dagunya. "Tunanganku lebih tepatnya." Arya mendudukan dirinya di sebelah kursi Zach. "Aku tidak tahu kau bertunangan." "Aku mengundangmu dua bulan lalu dan kau tidak datang," kesal Arya. "Aku lupa mungkin." Zach mengambil gelas sampanye yang baru saja selesai dituangkan oleh bartender di hadapannya. "Hei! Setidaknya jangan lupakan pertunangan adikmu ini, Kak. Pedulilah sedikit padaku." Arya makin kesal. "Aku peduli, sampai sekarang uangku mengalir seperti keran air bocor di rekeningmu 'kan?" Arya adalah salah satu tangan kanan Zach dalam bisnis perhotelan. Lalu, Zach itu siapa? Apa pekerjaannya? Apa kau pernah mendengar desas desus tentang orang paling berpengaruh di 'bawah tanah'? pernah mendengar tentang si pria berkulit gelap keji yang kaya raya? Jika iya, Zach Rodriguez inilah orangnya. Demi menutupi bisnis 'bawah tanahnya', sehari-hari orang mengetahui Zach Rodriguez adalah seorang CEO multicompany. Zach tidak menyadari setidaknya beberapa detik Vivian dengan lancang memandangi wajahnya tanpa berkedip, terpengaruh bahkan nyaris tersedot oleh pesona kuat milik Zach Rodriguez. Vivian bahkan melupakan sampanye di hadapannya, ada seseorang yang jauh lebih menarik perhatiaanya saat ini. Zach yang dengan sangat lancang mengabaikan eksistensi Vivian yang berjarak dua kursi darinya. Ck, tidak ada seorang pun yang boleh mengabaikan Vivian seperti ini! Jauh di dasar hatinya, harga dirinya agak terluka. Yang benar saja, di luaran sana bahkan banyak pria dan wanita memelas dan membuang harga diri demi secuil perhatiaan dari Vivian. Apa-apaan si pria berkulit gelap ini? Berani sekali mengabaikan Vivian. Hey! Dia Vivian! Vivian Salsadila! Penyanyi sekaligus actris yang sedang dipuja-puja saat ini. "Ehem!" Vivian berdehem agak keras untuk menarik perhatian Arya, Lyala dan Zach yang terlihat sibuk bercengkrama. Ingat, Vivian tidak suka diabaikan. "Ya, Vi?" itu Lyala yang bereaksi dan agaknya Vivian sukses menarik perhatian karena Zach melirik tajam ke arahnya. Bahkan hanya dari lirikan kecil itu, Vivian merasa ditelanjangi. Vivian merinding. "Kak, sepertinya aku perlu ke kamar kecil .…" Vivian mati kata. Hanya dilirik sedikit dan otaknya mendadak lumpuh. Alasan macam apa itu? Ke kamar kecil dan meminta izin? "Biar ku antarkan." Lyala melihat hal ini bak kesempatan emas, saatnya melarikan diri dari Arya dan si aura iblis Zach Rodriguez. Terburu, Lyala melepaskan tautan jari Arya dan miliknya dan berhambur ke arah Vivian, memaksa Vivian bergegas meninggalkan Arya dan Zach yang sudah kembali membahas bisnis mereka. "Kak, dia siapa?" Vivian memandang Lyala yang masih setia menarik Vivian menuju sebuah ruangan pribadi milik Arya yang masih satu ruangan dengan hall tempat perjudian itu diselenggarakan. "Zach Rodriguez. Rekan bisnis sekaligus kakak Arya. Bukan kakak kandung sih, dari cerita Arya, dia itu yang membantu bisnis hotel milik Arya ini," Lyala menjelaskan sambil merogoh dompetnya. Saat menemukan kunci di dalam tasnya, Lyala memasukkan kunci berbentuk unik itu ke lubang kunci di pintu berukiran megah di hadapan mereka sekarang. "Kenapa kita kesini?" Vivian bingung saat memasuki ruangan yang baru saja dibuka Lyala untuknya. "Aku tahu kau sesak nafas di sekitar si Zach Rodriguez itu, Vi. Aku hanya menyelamatkanmu." Lyala duduk sambil memandang ke jendela kaca yang terhubung langsung dengan Hall. "Kau … apa?" Vivian bertanya penuh keheranan. "Kau mendengarku, Vi. Aku tahu kau tertarik, tidak, kau sangat bernafsu ingin menelanjanginya dan duduk di atas paha Zach. Liurmu nyaris menetes saat memandangnya," Lyala berujar Vulgar. "Aku APA?" Vivian histeris. "Kau bisa membohongi satu dunia ini, Vi, tapi tidak denganku. Aku tahu kau sangat tertarik pada Zach, aku hanya menyelamatkan nyawamu yang bisa saja sudah hilang karena kau lancang memandangnya dengan wajah mesummu itu." Lyala menyilang kakinya dengan angkuh seperti baru saja membuka kartu mati Vivian Salsadila. "Wow, Kak Lyala, aku tidak tahu mulutmu sekotor itu." Vivian mengalihkan pembicaraan. "Aku beradaptasi dengan baik bersama Arya." "Dan aku tidak ingin menelanjangi tuan Rodriguez itu dan mendudukan p****t seksiku di atas miliknya, oke? Jangan mengada-ada!" "Aku tidak bilang kau mau mendudukan p****t seksimu di atas miliknya. Aku hanya bilang kau ingin duduk di atas pahanya. Dasar wanita kotor!" Lyala mencibir. Vivian terpelongo hebat dan memilih tidak melanjutkan perdebatan super vulgar ini lebih lanjut. Harus Vivian akui kalau Zach Rodriguez itu adalah salah satu pria terpanas yang pernah dia lihat. Mulai dari wajah, pembawaan sikapnya yang arogan dan elegan di saat bersamaan, benar-benar membuat Vivian sedikit, errr kepanasan? dan kenyataan bahwa Zach Rodriguez itu meniadakan eksistensinya, membuat Vivian meradang. Walaupun enggan dia akui, tapi dia benci melihat sikap Zach yang seperti itu. Sudah beberapa tahun ini semua orang nyaris memandang memuja ke arah Vivian, dan ini pertama kalinya dalam enam tahun lebih karirnya ada seseorang yang lancang mengabaikannya. Okelah, Vivian mungkin berlebihan, tapi selama hidupnya Vivian tidak pernah diabaikan, yang boleh adalah Vivian yang mengabaikan! Ingat! Cuma Vivian yang boleh mengabaikan seseorang! Vivian memandang kearaah kaca yang memampangkan kejadian di hall, mendadak orang-orang memenuhi satu meja, menyemut. Lyala yang melihat arah pandang Vivian, ikut-ikutan memandang keramaian di hall melalui kaca tembus pandang di ruangan pribadi milik Arya. "Wow, sepertinya perjudian sesungguhnya baru saja di mulai." Lyala tersenyum miring.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Tersesat yang Nikmat

read
22.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.4K
bc

Beautiful Pain

read
13.7K
bc

Putri Korban dan Janji Gelap Sang CEO

read
4.9K
bc

Revenge

read
35.8K
bc

Marriage of Revenge

read
29.4K
bc

I Love You Dad

read
294.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook