4.3 Larut

1955 Kata
Ryan menyelesaikam suapan terakhirnya dengan khidmat. Memang tidak ada yang bisa mengalahkan keenakan masakan mie goreng becek miliknya. Dia pun membereskan peralatan makannya dan perlatan dapur yang kotor. Terdengar suara gerbang dibuka dan deru mesin mobil yang memasuki halaman rumahnya. Dia tersenyum tipis. Akhirnya, kedua orang tuanya pulang ke rumah. Dengan langkah pasti, dia menuju ruang utama dan membukakan pintu untuk mereka berdua. "Hai, Ma, Pa," sapanya lembut. Dia masih ada di pintu. Tangannya melambai dengan gerakan di telapak saja. "Eh, Ryan. Tolongin Mama sini, sayang." Wanita itu melambai balik ke arah anaknya. Sekaligus memberikan isyarat untuk mendatanginya. Dia terlihat sibuk di bagian belakang mobil, bagasi. Ryan mendekat. Dia memakai sandalnya dan segera berjalan menuju Mamanya. "Ada apa, Ma?" Leher Ryan ditarik untuk mendekat. Pipinya dicium oleh Mamanya sejenak. Ryan pun membalas. "Kangen banget sama kamu." Ryan hanya mengulas senyuman yang tidak berarti apapun itu. Dia kemudian mengalihkan perhatiannya ke barang-barang yang ada di bagasi. Terlihat sangat banyak tas-tas kertas dan plastik yang berjajar di sana. "Mama belanja apa di Kediri?" "Banyak. Nanti kita bagi-bagi ke tetangga, ya. Mama juga beli kerupuk kesukaan Tante Dinda. Besok kayaknya kita harus ke rumah Ella buat nganterin semuanya." Mamanya sibuk menurunkan tas-tas itu dari bagasi. Bahkan Ryan hanya bisa melihat Mamanya yang keribetan sendiri. "Aku bantu apa?" Ryan hampir berteriak keras ketika terlonjak kaget saat merasakan ada tangan kekar yang melingkar di lehernya. Itu tangan Papanya. Dia pun mengelus d**a dan menenangkan napasnya. "Papa, sumpah, ah. Ngeselin. Mana kaget banget, lagi." Pria itu tertawa. "Kamu itu, tetep aja. Mana yang katanya mau tetep jadi pelindung dan temen Ella sampai gedhe? Orang pelindungnya aja kagetan gini." Lalu, pria itu memberikan pukulan-pukulan tinju kecil di lengan Ryan. Rasanya rindu sekali dengan anaknya yang sudah beranjak dewasa ini. Bahkan sekarang dia tidak perlu jongkok atau menundukkan kepalanya lagi untuk berbicara dengan Ryan. Mungkin, beberapa saat lagi dia yang harus mendongak saat berbicara. "Ah! Ah! Pa! Sakit, elah." Ryan menggenggam tangan Papanya dan menjauhkan kedua tangan itu darinya. Dia antara suka dan tidak suka Papanya kalau sudah jahil seperti ini. Suka karena interaksi mereka sangat santai dan tidak suka soalnya Papanya kadang tidak bisa mengira-ngira. "Anak sama bapak, sama aja. Gitu kalau dibilang sama suka ngelak. Dah, ini dia. Udah Mama turunin. Bawa satu-satu ke dalam, ya, sayang. Mama mau bikin es teh dulu." Wanita itu membawa dua tas di tangan kanan dan kirinya. Kemudian, dia berlalu, meninggalkan dua lelaki yang masih berdiri menatap kepergiannya. "Mama gak papa, 'kan, Pa?" Ryan tahu jika Mamanya sedang tidak dalam kondisi hati yang baik. Terlihat sekali dari caranya menyapa dan menyambutnya. Hanya sekali ciuman di pipi? Biasanya saja Ryan akan sangat bosan menunggu Mamanya selesai menciumi seluruh wajahnya. "Ada masalah, ya?" Papanya, Anwar, menghela napas dalam dan mengeluarkannya pelan. "Gitu, lah. Banyak banget yang harus disusun ulang karena investornya gak setuju dengan beberapa program yang akan diluncurkan setengah tahun besok." "Kenapa?" Ryan mulai membawa tas-tas itu di tangan kanan dan kirinya. Tidak hanya satu. Dia bisa membawa tiga sampai empat sekaligus. Sisanya, dibawa oleh Papanya. "Nanti Papa kasih tahu kenapa. Tapi, jangan bicara apa-apa dulu, ya, di depan Mama. Dia sensi banget dari tadi. Kamu manjain aja nanti." Ryan tersenyum dan mengangguk paham. Dia beriringan jalan untuk memasuki rumah. Pandangannya langsung teralihkan dari Papanya menuju seseorang yang bersendekap dan bersandar di sisi pintu utama. Siapa lagi kalau bukan Mamanya. "Kenapa, Ma?" "Bau mie. Kamu habis makan mie, ya?" introgasinya. Ryan menelan ludah dan tersenyum tanpa dosa. "Hehehe. Kepepet banget. Laper." "Sini. Sini." Mamanya mendatangi dirinya dan segera menarik telinga Ryan. "Siapa yang buatin?" "Aaaaa .... Aaaakuu bikin sendiri, Ma. Aku bikin sendiri. Plis, lepasin. Sakit banget. Aduh." Lelaki itu harus merundukkan kepalanya mengikuti tarikan Mamanya agar telinganya tidak copot. Dia pun dilepaskan. Mereka masuk rumah dan sampai di ruang tengah. Terlihat sekali kalau Mamanya masih kesal. "Maaf, Ma. Maaf banget. Aku tadi lupa belum makan terus ketiduran di meja belajar. Beneran. Sekali aja ini aku khilaf. Gak ada pilihan lain, loh, Ma." Ryan mendekati Mamanya dan meletakkan kedua tangannya di atas pundak wanita itu. Dia harus merayu Mamanya bagaimanapun caranya. Suasana hati Mamanya sedang tidak baik. Kalau dia tidak segera menyelesaikan masalah mie ini, besok pagi pasti akan menjadi momen sarapan yang mengerikan. Ah, dia tidak mau mengulangi kejadian beberapa bulan itu lagi. Kejadian di mana dia harus meminum jus yang dibuatkan oleh Mamanya karena ketahuan makan mie sembunyi-sembunyi. Mamanya ini memang tidak menyukai mie instan. Lebih tepatnya, beliau takut jika anaknya ketagihan dan terus memakan mie. Itu bisa berdampak buruk bagi kesehatan Ryan yang sejak dini sudah menjadi pemain basket. Wanita itu menghela napas dalam dan mengeluarkannya kasar setelah medapatkan ciuman di kening dan kedua pipi dari anaknya itu. Dia menatap Ryan tajam. "Mama maafin kali ini. Tapi, gak ada kata maaf selanjutnya. Kamu jangan makan mie pas malem kenapa, sih, Ryan? Hari ini jadwal latihan kamu, 'kan? Seharusnya habis latihan itu kamu pesen makanan bergizi gitu kek." "Iya. Iya. Besok aku gak bakalan ngulangin lagi. Maaf, ya, Mam." Ryan memeluk Mamanya. "Mama istirahat, ya. Jangan bikin es teh. Besok aja aku bukinin teh lemon kesukaan Mama. Tanpa gula. Aku hapal kok." Wanita itu membalas pelukan anaknya dengan erat. Tanpa dia sadari, air matanya luruh begitu saja. Dia tidak bisa membendungnya dan menumpahkan semua kekesalan hatinya di balik pelukan anaknya. Ryan memang tempat penyembuhan yang paling tepat saat dia membutuhkan sandaran. Dia sangat bersyukur mempunyai anak yang pengertian seperti Ryan ini. "Makasih," ucap wanita itu dengan mengelus punggung lebar anaknya. Dia melepaskan pelukannya saat sang suami mendatanginya dan memeluk pundaknya. "Ayo bersihin badan dulu terus tidur. Kamu butuh istirahat, sayang." Pria itu membawa istrinya untuk masuk ke kamar. Sebelum menutup pintu ditutup, Papanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Senyuman pria itu mengembang. Ryan membalas dengan anggukan dan senyuman. Itu yang selalu dia sukai dari Papanya. Dia ingin menjadi seperti pria itu. Sangat pengertian dan selalu ada untuk Mamanya. Sabar dan selalu bisa berbicara dengan santai bersama dirinya. Karena itulah, dia selalu meresah saat tidak ada orang di rumah. Bukan karena hubungan mereka yang renggang atau ada pertengkaran di antara mereka. Ryan hanya kangen. Dia membutuhkan kehadiran orang tuanya yang sangat mendukungnya itu. Dia membutuhkan energi mereka untuk memberinya dorongan dan penyembuhan dari keletihan jiwa. Jadi, kalian sudah tahu, 'kan, dari mana Ryan mendapatkan sifatnya yang selalu ingin menjaga Ella dengan baik itu? *** "Ngapain lo telepon gue malem gini?" tanyan Ryan saat mengangkat gawainya yang berdering nyaring di tengah malam yang mulai larut. "Hehehe. Gue mau bilang makasih banyak." Si penelpon, Nian, suaranya terdengar agak berat. "Sama-sama. Lo abis bangun tidur, ya?" "He-em. Gue tadi tidur habis isya terus kebangun, sih, ini. Gak bisa tidur lagi." "Tidur sendirian?" "Iya. Mama gue udah tidur. Gue gak enak kalau mau bangunin." Di kamarnya, Nian mengeratkan pelukannya di selimut. "Lo kenapa belum tidur?" tanyanya balik. "Abis nyambut Mama sama Papa. Barusan pulang dari luar kota." "Oh, akhirnya udah pulang juga." "He-em." Ryan merebahkan tubuhnya di atas kasur dan mematikan lampu kamar dari tombol yang ada di sebelah kasurnya. "Udah. Cuma mau bilang kayak gitu aja?" tanyanya mengonfirmasi. Sekaligus sebagai perwakilam ketidakpercayaannya dengan kelakuan temannya satu itu. "Hahahaha. Niat awalnya gue mau nelpon Ella, sih. Cuma gak enak aja. Kayaknya udah malem banget. Takut ganggu dia." "Dan terus, lo malah dengan enaknya ganggu gue kayak gini. Gitu?" Nian tergelak lagi. Memang itu yang sedang dia lakukan sekarang. "Iyalah. Siapa lagi yang bakalan gue riwuki kalau bukan lo?" Ryan menghela napas kasar. Dasar temannya satu ini. "Oke. Oke. Gue bolehin. Awas aja lain kali lo kayak gini lagi. Istirahat yang cukup kek." "Gue udah istirahat, anjir. Kenapa, sih, lo?" "Gak papa." Mungkin kalau yang diajak bicara oleh Ryan ini bukan Nian, dia akan mengucapkan sedikit dark joke. Namun, itu akan menjadi bahasan yang sangat sensitif jika diucapkan kepada Nian. "Lo baik-baik aja, 'kan? Gak ada sakit?" "Iya. Gue baik, kok." Nian memberikan jeda untuk kata-katanya. "Makasih banyak lo udah mau ijinin gue buat kenalan sama Ella. Makasih juga karena waktu itu lo bawa saputangannya Ella." "Saputangan lo?" Ryan menyela. "Hahaha. Iya. Bisa juga dibilang kayak gitu. Pokoknya gue berterima kasih banyak ke lo." Ryan tersenyum kecut mendengarkan suara temannya itu. Rasanya sudah lama tidak mendengar Nian secerewet dulu saat bersamanya. Setidaknya, sampai dia tahu keadaan Nian yanh sebenarnya. "Maafin gue." Ryan akhrinya berbicara meskipun agak ragu. "Buat apa?" "Buat telat bawa saputangan lo. Andai gue bawa saputangan itu lebih cepat, mungkin ada yang bisa diubah dari keadaan lo." Nian tersenyum di sana. Senyumannya tidak bisa diartikan dengan jelas. Ada rasa senang, ada sedih, juga ada pemakluman dan harapan di sana. Bahkan, dia sendiri juga tidak tahu bagaimana senyumannya itu digambarkan. "Lo gak perlu minta maaf. Lo bawa aja, gue udah bersyukur. Dan untung aja lo bawa saat itu. Bukan setelahnya." Tunggu. Sepertinya Ryan tidak bisa mendengarkan lebih dari ini. Dia belum siap dengan pernyataan lain dari Nian. Ada banyak hal yang ternyata tidak dia ketahui meskipun sudah lama menjadi teman lelaki itu. Apakah mereka masih bisa dikatakan sebagai teman? "Karena, gue sebenernya udah minta dokter anestesi gue buat—" "Gak usah lo terusin. Gue gak bakalam terima ucapan terima kasih lo kalau lo ngelanjutin." Ryan menekan suaranya agar tidak berteriak. Sesungguhnya dia kesal sendiri ada di keadaan ini. Bukan. Dia tidak kesal karena Nian. Dia kesal kepada dirinya sendiri. Dia kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa saat temannya itu menghadapi hal serius. Pun dia telat menyadari semuanya. Dia yang salah di sini. "Galak sekali anak Pak Anwar ini." Nian malah ingin mengajak bercanda. "Gue gak papa, Yan. Gue gak bakalan sebodoh itu lagi. Lagi pula sekarang gue punya alasan untuk tetap hidup," lanjutnya. Ryan tertegun. Kata-kata itu akhirnya terucap. Sebuah konklusi yang selama ini dia pendam untuk dirinya sendiri. Dia belum pernah mengucapkannya kepada siapapun. Meskipun itu Radit, Devan, atau Harris sekalipun. Bahkan kepada Ella. Rasanya lidahnya selalu kelu. Entah karena apa. Yang dia ketahui sekarang adalah dia sedang sangat merasa bersalah kepada Nian. Hanya itu. "Makasih karena lo mau bertahan sampai saat ini." Tak ada kata dari keduanya. Mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Gue bakalan jaga Ella. Dia juga udah mau ijinin gue buat jadi temen dia. Makasih udah kasih dia pengertian, Yan. Tanpa lo, gue gak bakalan bisa deketin Ella lagi." "Mendingan lo diem aja, deh, sekarang. Lo simpen aja itu kata terima kasih lo yang gak tahu gue berapa jumlahnya. Gue tahu emang berharga banget buat kehidupan lo. Terus lo bayar gue pakai komitmen kalau lo gak bakalan menyerah lagi. Paham?" Ryan tidak mau menangis. Merasakan hampir kehilangan teman sungguh membuatnya tidak bisa berpikir dengan baik. "Oke. Oke. Gak usah ngegas, bos." "Lo yang buat gue ngegas, ya." Nian malah tertawa. Menggoda Ryan memang menjadi salah satu hobinya setelah mereka berkenalan dulu di tempat pelatihan basket. Saat Ryan masih SMP dan baru pertama kali masuk. Andai saja dia mempunyai adik sepeti Ryan. Rumahnya pasti ramai. "Hahahaha. Gak peduli." Nian semakin ingin menggoda Ryan. "Ryan." "Apa?" jawab lelaki itu sewot. "Gue masih bisa minta bantuan lo lagi, 'kan?" "Apa dulu." "Tanyain ke Ella, apa dia beneran bolehin gue deket sama dia. Gu takut aja kalau itu karena dia sungkan. Gue jadi gak enak." "Ella pasti ngijinin lo. Dia gak bercanda." "Bukan bercanda. Tapi, sungkan." "Serah apa kata lo. Tapi, yang gue lihat dari cara bicara dia saat bahas tentang lo, itu berbeda. Gue tahu." Nian terdiam sejenak. "Dan lo gak papa juga, 'kan, kalau gue misalnya deket sama Ella?" Sekarang, Ryan terdiam. Dia memejamkan matanya untuk menimbang banyak hal. Dia harus berpikir cepat. Namun, hatinya terus saja menginjak rem. Dia tidak tahu harus menjawab bagaimana. Hingga dia terlarut dalam pikirannya. "Tentu." Hanya itu yang bisa dia ucapkan. Dia tidak bisa mengiyakan atau menidakkan. Bahkan dia juga tidak mengerti apa maksud dadanya yang terasa tidak nyaman ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN