4.4 Curhat Pagi

1525 Kata
"Selamat pagi." Ella menuruni tangga dengan ceria. Dia sudah selesai membersihkan badan dan menuju dapur. Senyumannya semakin mengembang saat mengetahui bahwa ayahnya juga ada di sana. Awalnya, dia hanya melihat sang ibu yang sibuk berkutat dengan peralatan masak. "Pagi, sayang. Udah wangi aja. Sini sayang Ibu dulu." Dinda, sang ibu, mengulurkan tangannya kepada anaknya dan meraih pinggangnya. Dia mencium pipi kanan dan pipi kiri Ella dengan dalam. "Panggil Mbak Dewi di kamarnya, gih. Dari tadi Mbak Dewi belum keluar kamar." Ella tidak menjawab langsung. Dia tetap menatap ibunya dengan wajah melas dan mata seperti anak anjing. Dia masih berdiri di tempatnya. "Kenapa?" tanya Dinda yang sebenarnya sudah mengetahui maksud Ella. "Harus aku, ya?" Gadis itu memelas dengan menampakkan mata yang melebar seperti anak anjing. "Iyalah. Harus kamu. Siapa lagi? Masa Ayah?" Ayahnya menyahuti sambil mengambil cangkir yang berisikan kopi buatan istrinya. Dia menyesap kopi itu dengan khidmat tanpa melihat ke arah anaknya yang masih menatapnya nanar. Dia melirik Ella yang masih berdiri itu dari balik cangkir. Kemudian dia tersenyum. Pria itu menghentikan acara minumnya dan meletakkan cangkirnya kembali. "Harus Ayah antar?" tawarnya dengan masih memberikan senyumannya. Ella tidak menjawab. "Kamu pernah denger pepatah Jawa, 'witing tresno jalaran soko kulino'?" Ella mengerucutkan bibirnya. "Pernah. Tapi, Ayah, aku gak benci Mbak Dewi. Aku cuma—" "Takut? Karena kamu gak terbiasa," sela ayahnya dengan nada yang sangat lembut. Dia tahu bagaimana harus memperlakukan anak bungsunya ini. "Gak gitu juga." Gadis itu menundukkan wajahnya. "Lalu apa?" Pria itu mendekati anak gadisnya dan mengambil kedua telapak tangan anaknya. Dia menatap wajah anaknya. Tanpa diminta, Ella mengangkat wajahnya dan membalas tatapan ayahnya. "El, Ayah cuma bisa bantu seperti itu. Kamu juga sudah tahu kalau Mbak Dewi gak pernah bermaksud untuk membuat kamu takut atau sakit hati. Mbak Dewi punya caranya sendiri untuk bicara. Kamu juga." "Aku tahu itu." "Lalu?" "Aku masih gak bisa buat biasa aja sama Mbak Dewi. Aku takut kalau perbuatanku malah jengkelin di mata Mbak Dewi atau aku yang gak sesuai dengan kebiasaan Mbak Dewi yang apa-apa bisa sendiri. Aku sadar, kok, Yah, aku tuh manja. Mbak Dewi enggak. Terus Mbak Dewi dari kecil juga hidup sama Kakek Nenek." Ella menghela napasnya untuk mengatakan setelahnya. "Seharusnya aku yang lebih mengerti dengan keadaan Mbak Dewi dan mencoba bersikap lebih dewasa. Gak harus yang lebih tua yang memulai. Aku pun juga harus bisa memulai dan memperbaiki hubungan." Pria itu mengangkat kedua alisnya. Jujur, dia agak terkejut dengan perkataan anak bungsunya ini. Dia menyimpan senyum lebarnya dan memberikan senyuman tipis dan nyaman. Dia mendengarkan semua perkataan anaknya. "Ryan juga bilang kayak gitu terus ke aku," lanjutnya. Sang ayah mengangguk. "Tapi, 'kan, semuanya butuh proses. Aku juga perlu banyak waktu buat memahami apa yang disukai Mbak Dewi. Dari makanan, aku sama Mbak Dewi aja seleranya udah beda. Apalagi Mbak Dewi mandiri banget. Semuanya bisa diselesaiim sendiri sama Mbak Dewi. Terus aku harus apa? Aku takut kalau bantu Mbak Dewi malah gak becus dan Mbak Dewi sebel sama aku. Sebenernya aku lihat Mbak Dewi bersih-bersih rumah itu aku mau bantu. Tapi, ya, itu tadi." Ella menundukkan wajahnya. "Aku berusaha sebaik mungkin buat bantu. Dari pada aku gak ngapa-ngapain, aku bantu Mbak Dewi, kok. Aku bersihin kamarku sendiri biar Mbak Dewi gak bersihin. Aku uda bener, 'kan?" Sang ibu yang sedang sibuk dengan masakannya pun hanya bisa tersenyum mendengarkan curhatan dadakan anaknya itu. Dia yakin Ella mempunyai banyak hal yang dipendam. Apalagi setelah ditinggal tiga minggu dengan kakak perempuannya sendiri di rumah. Kemarin itu yang pertama kalinya mereka berdua meninggalkan Ella dan Dewi di rumah sendirian. Sebenarnya, sebelumnya, mereka juga ragu untuk melakukan itu. Namun, setelah mempertimbangkannya dengan matang, mereka pun memutuskan untuk tetap pergi ke luar kota dengan harapan agar kedua anaknya bisa banyak menghabiskan waktu bersama. Akan tetapi, inilah jadinya. Akhrinya, dia hanya bisa menanggapinya dengan senyuman dan mendengarkan dengan baik keluhan anak bungsunya. Sebenarnya, tadi malam, saat Dinda tidur dengan Ella, dia sudah mendengarkan sedikit curhatan anaknya itu. Hanya saja, Ella terlihat sangat mengantuk, jadi dia berpura-pura ingin cepat tidur agar anaknya juga beristirahat. "Iya. Kamu udah bener, kok." Sang ayah menarik anaknya ke dalam pelukan. Dia menepuk-nepuk pundak Ella dengan lembut. "Jangan pernah menyerah untuk berusaha lebih banyak lagi." Ella mengangguk di balik pelukan ayahnya. Dia ingin menangis, tapi dia takut nanti akan terlihat. Jika Dewi melihat, dia akan ditanyai. Dia tahu itu. Makanya, dia menahan air matanya sekarang. "Iya, Ayah." Mereka melepaskan pelukan dan saling menatap lagi. Senyuman lebar dari sang ayah membuat Ella mengeluarkannya juga. Dia rindu berinteraksi dan berkonversasi seperti ini dengan ayahnya. Untung saja ayahnya ini belum berangkat kerja lagi. "Ya, udah. Kamu panggil Mbak Dewi dulu sana. Makanannya udah siap itu." Pria itu menunjuk ke meja makan yang sudah tertata rapi dengan beberapa macam makanan di atasnya. "Apa?" Dewi turun dari lantai dua. Dia masih ada di antara anak tangga. Mendengar namanya diaebut membuatnya langsung bereaksi. "Ada apa, Yah?" Ella yang hendak mengangguk pun langsung menoleh ke asal suara. Dia menelan ludah. Akan tetapi, dengan segenap keneraniannya, dia melambaikan tangannya ke arah kakak perempuannya. "Pagi, Mbak." Dewi mengangkat kedua alisnya dan meneruskan langkahnya. Dia membalas sapaan itu dengan senyuman. Entah, bukan kaku, tapi juga tidak terlalu ikhlas. Begitu tiba-tiba untuknya jika harus bersikap manis mengimbangi sikap adiknya. "Pagi." "Mbak, sini." Sang ibu berisyarat kepada anak sulungnya untuk mendekat setelah dengan gerakan cepat melepas apron yang tadi dikenakan untuk masak. Reaksi yang diberikan oleh Dewi sama. Dia heran. Merasa aneh saja dengan anggota keluarganya. Kenapa begitu tiba-tiba? "Apa, Bu?" "Sini." Dinda melebarkan kedua tangannya, meminta untuk dipeluk. Dewi mengedipkan matanya beberaa hitungan sebelum benar-benar mengijabahi isyarat ibunya. Dia berjalan ke sana dengan langkah kaku. "Kenapa, sih, Bu?" tanyanya. Sang ibu langsung mendekap anaknya dengan erat. "Kemarin malem Ibu gak sempet ke kamarnya Mbak Dewi. Tadi pagi juga habis subuh, Ibu langsung ke dapur buat masak sarapan. Ibu, tuh, kangen banget sama kamu." Wanita itu meletakkan kepalanya di pundak Dewi dengan nyaman. Tubuh mereka bergerak ke samping kanan dan kiri secara bergantian. Dewi yang diperlakukan seperti itu hanya bisa diam dan menerima. Dia tidak tahu harus bagaimana. Meskipun Kakek dan Neneknya juga suka sekali memeluknya, tapi pelukan yang dia dapatkan dari ibunya terasa berbeda. Bukan. Bukan karena dia tidak menyukai pelukan dari ibunya. Akan tetapi, kata-kata yang terucap di sela pelukan itu membuatnya merasa asing. Bahkan bisa dibilang sangat asing. Ini bukan kali pertamanya dia mendapatkan seperti itu. Namun, dia tetap merasakan hal yang sama. Dia belum terbiasa. "Iya, Bu. Gak papa. Aku juga tadi malem langsung tidur, kok." Hanya itu yang bisa diucapkan oleh bibir Dewi. Dia tidak berbohong. Memang itu kenyataannya. Dia sudah tidak kuat menahan matanya. Apalagi tadi malam mereka sempat mengobrol berempat sampai hampir jam sepuluh. Itu adalah jam keramat baginya. Matanya sudah tidak kuat jika jam dinding sudah menunjuk angka itu. "Maaf, ya, Bu, aku tadi dari pagi gak bantuin Ibu bersihin rumah dan masak. Aku sibuk ngisi formulir buat diserahin ke Wali Kelas." "Gak papa. Ibu juga bisa sendiri, kok. Oh, ya, nanti habis sekolah, Ayah dan Ibu bakalan jemput kalian berdua, ya." Sang ibu berucap. Dia melepaskan pelukan dari Dewi. "Kita jalan-jalan ke mall. Udah lama kayaknya kita gak jalan-jalan. Kangen keluar bareng kalian. Pasti banyak banget yang bisa dilihat. Apalagi kalau sedang ada promo." Dia memberikan isyarat dengan kedua alisnya kepada sang suami. Pria itu hanya mengangkat bahunya. Dia tahu apa yang istrinya mau. Shopping. "Oke!" Ella bersorak dengan riang lalu memeluk Ayahnya. Dewi yang tangannya masih digenggam oleh ibunya pun hanya dapat diam dan sedikit melongo. Kehidupannya sungguh berubah. Sangat berbeda dengan ketika dia masih bersama Kakek Nenek. Ternyata, begini kehidupan di kota. Mekanya, dia melihat kamar Ella penuh dengan barang. Berbeda sekali dengan kamarnya yang minimalis. Bukan ukuran kamarnya yang minimalis, tetapi gaya kamarnya. Dia lebih suka yang simpel. "Mbak Dewi nanti pengin apa?" Sang ibu bertanya. "Iya?" Dewi tersadar dari lamunannya. "Nanti kamu mau apa di mall?" Dewi menggelengkan kepala pelan. "Aku gak tahu. Selama di sini aku jarang ke mall." "Kamu gak jalan-jalan sama temen-temen kamu?" tanya sang ayah. "Jalan, sih, Yah. Cuma aku gak biasa aja ke mall. Palingan kalau jalan, aku lebih suka ke foodcourt festival atau di warung pinggir jalan. Paling enggak ke kafe, lah. Kalau ke mall males. Terlalu rame." Kedua orang tua itu mengangguk paham. Ella hanya diam dan tidak menanggapi cerita kakaknya barusan. Dia sibuk menimbang dan membandingkan kebiasaan kakaknya itu dengan dirinya. Dia tipe orang yang suka ke mall, karena di sana ada banyak hal yang bisa dilihat. Meskipun dia tidak menyukai berkerumun dengan banyak orang, tapi kalau di mall, 'kan, keadaannya berbeda. Pun rasanya kalau di kafe luar mall, apalagi sendirian, itu membuatnya merasa terkucilkan. Seakan dia sangat kesepian. Rasanya sangat menyedihkan. Omong-omong soal kafe, kemarin saja dia minum di kafe. Tapi, cukup menyenangkan, sih, karena ada temannya. Ah, dia jadi teringat dengan Nian. Kira-kira bagaimana, ya, kabar lelaki itu? Semoga baik-baik saja agar bisa bertemu dengannya lagi. Ya ampun, kemarin dia sampai lupa kalau tidak menanyakan tentang sekolah dan tempat tinggal lelaki itu. Mungkin lain kali kalau bertemu kembali. Tapi, sepertinya ini memang takdir untuk bertemu lagi. Ternyata, topik penting yang biasa ditanyakan malah ketinggalan. Ah, jadi tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Kak Nian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN