4.5 Baik

1701 Kata
Acara sarapan di kediaman Ryan tidak begitu padat dengan percakapan. Mereka menikmati hidangan dengan santai dan tenang. Hanya perbincangan dan pertanyaan ringan yang dilontarkan satu sama lain. "Nian gimana? Baik-baik aja, 'kan?" Hingga pertanyaan itu keluar dari bibir mama Ryan. Lelaki itu menghentikan suapannya dan menatap mamanya dengan dahi terlipat. "Baik. Dia udah jauh lebih baik dari yang terakhir kali. Itu pun udah cukup lama juga. Nian kuat, kok." Papanya hanya mendengarkan sambil terus menyendok makanannya. Bagaimanapun dia harus segera berangkat ke kantor. "Untunglah kalau kayak gitu. Kamu juga yang sabar, ya. Semua pasti punya waktu sendiri-sendiri." Ryan tersenyum kecut. Suapannya setelah itu terasa hambar. Suasana hatinya meredup begitu saja setelah disebut nama Nian. "Kamu nanti malam ada latihan, Ryan?" tanya sang ayah, mengalihkan pembicaraan. Sebelumnya, dia memberikan isyarat kepada sang istri untuk tidak meneruskan perkataannya. "Enggak, Pa. Kenapa?" Ryan memandang papanya. "Bisa jemput Papa nanti?" Ryan melongo. "Ke kantor Papa? Dih, ngapain? Maaf, gak tertarik. Pake banget. Emang Pak Endang ke mana?" Anwar mengembangkan senyumannya. Dia tidak mempedulikan istrinya yang sudah melotot kepadanya. Pria itu mengalihkan pembahasan dari kegundahan hati Ryan kepada keengganan pemuda itu. Ryan sangat tidak menyukai pembahasan tentang kantor dan apalah itu tentang bisnis papa dan mamanya. "Pak Endang sudah izin ke Papa buat gak masuk tiga hari ini. Beliau ada acara keluarga." Wajah Ryan menjadi kusut. Sangat kusut. "Dih, ya, gak aku juga kali, Pa. Pokoknya aku gak mau. Papa gak usah libatin aku sama kantor Papa itu, ya. Aku gak bakalan peduli." Ryan menyuap sarapannya dengan kekuatan kekesalan. "Harus menghindar terus, ya?" Pria itu tidak menyerah. Dia masih ingin melihat reaksi Ryan yang sudah lama tidak dinikmatinya itu. Membahas kantor dengan Ryan selalu sukses membuat anaknya itu merengek seperti anak kecil. "Tau, Pa! Tau!" Ryan terus melanjutkan sarapannya tanpa memalingkan wajah dari makanannya. Dia harus cepat-cepat menghabiskan makanannya sebelum mood-nya hari ini benar-benae hancur. Sebenarnya, ada apa dengan Mama dan Papanya hari ini? "Enggak. Enggak. Canda doang. Papa bisa berangkat sendiri, kok, sama Mama." Anwar mengambil tisu dan mengelap mulutnya. Dia sudah menyelesaikan makanannya. Tubunya sedikit bangkit dan menjorok ke depan. Dia mencubit pipi anaknya. "Gemes banget anak Papa. Mana udah gedhe. Gini katanya mau ngelindungin Ella terus sampai tua. Apanya?" "Papa!" Ryan kesal. Dia mencoba menyingkirkan tangan Papanya dengan pundaknya. Kedua tangannya sibuk dengan sendok dan garpu. Pria itu malah tertawa keras lalu mengusak rambut anaknya. "Jadi anak yang baik, ya, Ryan. Biar kamu bisa jaga siapa aja dan apa aja. Semoga kamu bisa terus sukses dengan jalan kamu sendiri." Tangannya dia tahan di leher Ryan untuk mengarahkan wajah anak itu kepadanya. Ryan menurut. Dia mengangkat wajahnya dan menatap Papanya. Tatapan pria di depannya itu sangat teduh. Membuatnya tertegun sejenak. "Selagi kamu punya hati yang baik, semuanya akan baik walaupun mungkin di hati dan badan kita terasa sakit. Selalu jadi baik, ya, nak." Kemudian, pria itu mencium kening anak lelakinya itu. Ciuman itu tidak singkat. Cukup lama dan membuat Ryan semakin membeku di tengah kehangatan yang menyelimuti dirinya. Sang ibu yang melihat itu hanya bisa menahan air matanya sambil menangkupkan kedua ujung tangannya di depan mulut. Dia sangat menyukai suaminya yang sangat peduli dengan anaknya itu. Sangat lembut dan hangat. Untung Ryan juga mempunyai sifat yang sama dengan suaminya. Dia sungguh bersyukur dengan semua itu. Kedua lelaki itu saling menatap lekat. Mereka tersenyum tentram. "Makasih atas doanya, Pa. Ryan bakalan berusaha untuk menjadi orang yang lebih baik. Kalau Papa lihat aku agak melenceng dan gak baik, tolong ingetin aku, ya." Anwar mengangguk. "Mekanya, untuk jadi salah satu syarat anak baik dan berbakti kepada orang tua, kamu ceeptan belajar tentang bisnis dan kantor, ya. Om Darian bakalan selalu siap buat ngajarin kamu segala hal di segala waktu." Dia mengembangkan senyuman jahilnya. "Apalagi kalau hari ini kamu bilang bersedia. Bakalan lebih baik lagi." "Papa! Gak lucu banget, sumpah." Ryan sungguh kesal. Papanya itu sangat mengesalkan. Padahal dia sudah ingin menitikkan air mata tadi. Sejenak dia menyesal sudah membeku dan tertegun dengan perkataan Papanya. "Ngeselin. Aku bahkan pengin banget peluk Papa tadi. Gak jadi. Sumpah gak jadi. Nyesel banget." Pria itu tertawa dengan terbahak-bahak. Dia mendapatkan pukulan di pundaknya dari sang istri. "Kamu, itu. Gak kira-kira kalau mau bercanda." "Eh, tapi Papa beneran dan niat banget, loh, doain kamu. Itu dari lubuk hati Papa paling dalam. Gak bohong." "Apanya? Konspirasi terselubung. Propaganda. Serah, lah, Pa. Jangan ngajak Ryan bicara lagi." Ryan meletakkan sendok dna garpunya dan meneguk air putihnya yang sudah tersedia di gelas samping piringnya. "Loh. Loh. Kok gitu? Gak boleh kayak gitu sama Papa." Sang ibu menyela. Dia juga tidak setuju dengan ucapan anaknya meskipun dia tahu bahwa pemuda itu sedang kesal sekali. "Kenapa gak boleh? Ya, gak bisa kali, Ma, aku bicara ama Papa abis ini. Orang Papa di kantor. Aku di sekolah. Mana bisa ngajak bicara." Ryan mengalihkan pandangan ke Papanya. "Ya, 'kan, Pa?" Dia memberikan isyarat dengan telunjuk yang menunjuk ke Papanya dan ibu jari yang terangkat. Dia membentuk gestur seperti menembak ke Papanya. Yang lebih menyebalkan bagi satu-satunya wanita yang ada di sana adalah pria yang bernama Anwar itu juga melakukan hal yang sama. Anak dan bapak memang sama saja. Dia sekarang merasa sebagai orang yang bodoh sendiri di sana. Kalau seperti ini dia ingin punya anak lagi saja. Kalau bisa request, dia mau yang perempuan. Biar dia tidak menjadi kacang di antara dua lelaki ini. Acara sarapan itu ditutup dengan pelukan dua pria itu kepada satu-satunya wanita di antara mereka itu. Mereka berdua mencium pipi wanita itu dengan sangat dalam. Kemudian mereka berangkat ke tempat tujuan masing. *** "Pagi." Ryan langsung duduk di bangku depan bangku Ella. Dia mencoel hidung gadis yang sangat terkejut dengan kedatangannya itu. Bahkan Ella tadi hampir berteriak. "Mulai pacarannya," celetuk Danisha yang juga terkaget dengan keberadaan lelaki itu. "Syirik aja lo." Ryan menjulurkan lidahnya. Ella melihat pundak Ryan. Lelaki itu masih membawa tasnya. Berarti dia belum ke kelasnya sama sekali. "Kamu kalau gak berangkat sama aku mesti berangkatnya mepet banget." Ryan nyengir kuda. Dia malah mencubit pipi Ella gemas. "Gimana? Udah selesai kangennya sama Ibu Ayah? Habis ini ada temennya. Gak usah takut sendirian lagi sama Mbak Dewi." Dia menurunkan tangannya. Ella melotot. Dia memberikan isyarat kepada Ryan karena ada Danisha di sebelahnya. "Lah, anjir. Lo masih takut sama Mbak lo sendiri sampai sekarang. Gak salah lo?" Danisha memang tidak bisa mengontrol suaranya. Beberapa pemilik mata yang ada di kelas langsung membuat mereka sebagai bahan untuk menancapkan pandangan tajam mereka. "Lo yang anjir. Keras banget, sih." Ryan memprotes. Tak hanya itu, dia menghadiahi gadis itu denga tepukan di kepalanya. "Hallah, lo suka aja jadi pusat perhatian." "Ya, 'kan, sekarang bukan gue yang jadi topik utama. Tapi, Ella. Entar aja kalau gue lagi jalan di koridor atau main basket di lapangan. Lo mau teriak, jerit-jerit, manggil-manggil nama gue gak papa. Apalagi kalau manggilnya, 'Ryan cowok ganteng sedunia' gitu gak papa banget malahan." "Ngimpi aja lo! Ngimpi!" Danisha mengembalikan tepukan di dahi Ryan. Lelaki itu mau membalas lagi tapi tangannya sudah digenggam oleh Ella. Kalau tidak dihentikan, dua orang ini akan terus berkelahi sampai jam masuk. "Ke sini mau apa?" Ella mengingatkan tujuan sahabatnya. Tidak mungkin, 'kan, Ryan segabut itu untuk mendatanginya tanpa alasan. Ya, meskipun biasanya lelaki itu juga biasa datang hanya untuk menyapa jika tidak sedang berangkat bersama. "Cuma nyapa?" Lelaki itu tersenyum lebar setelah bersungut menghadapi Danisha. Dia kembali ke mode Ryan sahabat Ella yang pengertian dan baik hati. Kedua tangannya dilipat di atas meja dan pandangannya lurus ke Ella. "Nanti abis sekolah kayaknya aku sama Mama bakalan ke rumah, deh. Tapi, gak tahu Mama maunya kapan." "Lah?" "Ternyata Mama juga ke kantor. Aku kira cuma Papa doang setelah perjalanan bisnis mereka berdua. Ya, emang, sih, cuma deket doang, tapi tetep aja." "Kalau Mama di rumah, 'kan, nanti sendirian malahan." "Malah aku penginnya Mama sendiri di rumah biar healing." Ella mengangguk. "Pasti capek banget, ya, Mama?" "Gitulah. Ada masalah juga pas di sana. Aku gak tahu pastinya kayak gimana." "Kamu gak tanya masalahnya di mana?" Ryan menggeleng. "Aku gak mau nanti Papa malah ngira aku tertarik dunia bisnis. Aku takut kalau Papa malah benera nyeret aku buat ke kantor. Ini aja tadi aku udah disuruh buat jemput Papa di kantor abis sekolah." Ella tersenyum dan memberikan elusan lembut di bahu Ryan. "Papa mau yang terbaik buat kamu, Ryan. Siapa tahu itu bakalan berguna untuk kedepannya?" "Tapi aku gak minat." "Kalau itu kemauan Papa dan suatu hari nanti kamu terpaksa, kamu mau ambil apa enggak?" Ella menatap mata Ryan dengan sungguh-sungguh. Lelaki itu mengendikkan bahunya. "Gak tahu. Itu soal besok. Aku gak mau mikir dulu." "Selama ini kamu yang bilang ke aku kalau harus mikirin masa depan. Terus, kenapa soal ini kamu gak mau mikirin?" Ella mencoba memberikan penjelasan yang tidak melukai hati Ryan. Lelaki itu terdiam dan menekusupkan wajahnya di lipatan tangannya. Dia mendesah kesal. "Aku sebenernya juga mau banget bantu Papa Mama. Tapi, aku tuh kayak gak punya bakat di situ gitu, loh, El. Aku juga pengin jadi anak yang baim buat Papa Mama. Tapi, itu semua bakalan menyiksa." "Ada aku, Ryan. Aku bakalan ada buat kamu." "Terus?" Itu bukan pertanyaan dari Ryan. Ataupun pertanyaan mandiri dari Ella. Itu dari Danisha. "Maaf aja karena udah nguping pembicaraan kalian. Tapi, plis deh, dengan kalian saling ada dan bertahan di sisi satu sama lain itu gak selalu membuat keadaan menjadi baik. Pun nurut gue itu kurang bijak. Kenapa? Karena kalian gak pernah tahu kapan mati dan kapan bakalan pergi untuk orang lain. Emang kalian mau nikah besok sampai menjanjikan ada di sisi satu sama lain? Kalau enggak, plis aja, udahan bilang bakalan nemenin. Karena itu nurut gue cuma bullshit yang bakalan jadi bom waktu. Nunggu diaktifin biar bisa bekerja dan menghancurkan siapa aja yang terlibat." Danisha berceloteh panjang lebar. Bahkan hampir tidak ada jeda. "Gue bilang kayak gini bukan karena gue sok tahu. Tapi, gue sebagai orang yang pernah mengalami, itu bener-bener menyakitkan." Ella dan Ryan terdiam mendengarkan omongan panjang Danisha. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Perkataan Danisha ada benarnya. Mungkin niat mereka baik, namun kenyataan yang akan terjadi belum tentu mengikuti nada hati seseorang. Bel masuk berbunyi. Ryan harus meninggalkan kelas Ella. Setelah lelaki itu menghilang dari pandangannya, dia baru teringat kalau nanti dia dan kekuarganya bakalan keluar. Ah, sepertinya acara itu harus batal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN