3.3 Di Masa Lalu

1134 Kata
Bukan Devan yang mengantarkan pesanan Nian dan Ella. Karyawannya yang lain. Bukan karena dia enggan, tetapi telepon dadakan dari sang pelatih untuk datang saat itu juga yang membuatnya tunggang langgang. "Gue duluan." Lelaki bongsor itu melambaikan tangannya ke para teman baristanya, juga kepada Nian dan Ella. "Kakak gak ikutan latihan?" Pertanyaan Ella itu berhasil membuat Nian berhenti sejenak dari sesapannya pada Chocolate Latte-nya. Dia menanggapi dengan tersenyum. Perlahan, dia menurunkan gelasnya. Dia menggeleng. "Aku udah ijin ke Pelatih untuk gak ikutan latihan." "Kenapa? Gak bakalan kena sanksi?" Lelaki itu menggeleng lagi sambil membasahi bibirnya yang terasa kering. "Aku, 'kan, mau ketemu kamu hari ini. Lagi pula Pelatih juga ngasih jatah cuti latihan empat kali sebulan. Ini aja baru pertama kalinya aku ambil." Ella mengangguk-angguk. Dia belum pernah mendengar tentang masalah cuti dari Ryan. Ryan juga orangnya sangat disiplin masalah latihan. Dia juga tidak akan mengganggu Ryan saat hari latihan. Kecuali hari ini, karena Ryan tak keberatan dan sekalian jalan. Nian memandang Ella seksama. Tidak ada reaksi berlebihan dari gadis itu. Apa dia memang tidak menarik? Atau kata-katanya tidak mengena? Ah, padahal dia sudah berpikir cepat untuk memberi jawaban agar bisa melihat reaksi gadis di depannya itu. "Hmmm, La." Nian agak ragu mau memulai pembicaraan. Ella mengangkat kedua alisnya setelah merasakan nikmatnya coklat latte Apaja Kafe ini. Bertepatan dengan panggilan dari orang yang ada di depannya. "Iya?" "Aku mau nerusin tentang saputangan kemarin." "Hmm?" Ella sepenuhnya memberikan atensinya kepada Nian. Dia duduk tegap agak santai dengan tangan di atas meja. Dia tersenyum simpul. "Aku tahu ini terdengar sangat klise dan agak berlebihan, tapi ini tentang omongan Nenek di masa lalu." Nian menghela napas dalam dan mengeluarkannya agak kasar. Dia ingin mengungkapkan hal yang membuatnya terpaku dan berpikir serta sedikit tercengang. Akan tetapi, dia sudah dari kemarin malam mencoba untuk bermuka tebal dan menahan malu. Ya, ini akan terdengar sangat memalukan dan akan sangat memilukan jika dia benar-benar ditertawakan oleh gadis di depannya ini. Semoga Ella mau mengerti. "Saputangan yang aku kasih ke kamu itu pemberian Nenek." Dari sini dia menelan ludah sejenak. Mencoba menangkap reaksi yang akan diberikan oleh Ella. Gadis itu masih menatapnya dengan seksama. Sepertinya tidak akan masalah jika dia melanjutkan. "Di situ ada sulamannya, 'kan?" Ella mengangguk. Kemudian gadis itu mengerjapkan matanya dengan cepat. Membuat Nian menahan ucapannya sejenak. "Aku lupa belum minta kembali saputangan Kakak dari Ryan. Maaf," ucapnya setelah mengecek isi tasnya. "Gak papa, La. Gak papa. Itu gak usah dikembalikan. Buat kamu aja." Ella tersenyum canggung sambil memperlihatkan gigi-giginya yang rapi. "Terus, kata Nenek aku," katanya sambil menjeda dengan gigitan di bibirnya. Dia berdehem sejenak. "Saputangan itu akan membawa takdir ke aku." Ella tersenyum lebar. Nian memejamkan matanya sambil mengepalkan tangan menahan malu yang sangat luar biasa. Dia yakin wajahnya sudah memerah. Kemudian, dia agak mencondongkan badannya dan menutupi sebagian wajahnya dengan kedua telapak tangan. Kenapa gadis itu tidak berkata apa-apa, sih? Lalu, dia harus bagaimana? Hening. Itulah yang terjadi di antara mereka berdua setelah sekian menit hanya bertatap muka, menunggu orang yang ada di depan mereka berbicara dahulu. "Aku percaya." Ella akhrinya angkat bicara setelah terdiam sekian lama. Bukan tanpa alasan dia terdiam lama dan hanya tersenyum kepada Nian. Bukan juga karena dia ingin menertawakan kisah Nian yang sudah seperti dongeng Snow White. Dia hanya mencoba mengendalikan desiran hebat di dadanya yang meradang. Nian mengerjapkan mata dengan sangat cepat dalam beberapa hitungan. "Beneran?" Ella mengangguk mantap. "Iya, aku percaya. Toh, memang kita dipertemukan lagi, 'kan? Berarti memang ada takdir di antara kita, 'kan?" Nian tersenyum. "Iya. Kamu adalah penyembuh aku." Ella mengangkat alisnya. Suara Nian terlalu rendah. Dia hampir tidak biaa mendengarnya. Lelaki itu menggeleng. "Tidak. Bukan apa-apa." Dia menghela napas lega. Akhirnta dia menemukan seseorang yang dari dulu dicarinya. Pun sambutan yang baik sungguh membuatnya optimis. *** Di lapangan DBL, Surabaya .... Pelatih mengistirahatkan para anggota tim setelah berlatih sekian jam. Mereka pun berhamburan mengambil air minum dan duduk-duduk di pinggiran lapangan. Lebih memilih duduk di atas lantai dari pada duduk di atas kursi. Mereka meluruskan kaki. "Lo ngerti?" Devan membuka pembicaraan di antara teman-temannya. Di depannya ada Harris, Radit, dan tentu saja Ryan. Ketiga lelaki itu menggeleng serempak. "Idih, gue belum selesai bicara." Devan mengangkat tangannya yang menggenggam handuk leher. "Gue dari tadi kepikiran Nian." Ketiga lelaki yang di depannya itu mengangkat alis mereka serempak. "Kenapa?" "a***y, kompak bener." Namun Ryan, lah, yang bertanya dengan sangat sungguh-sungguh. "Dia kelihatan berseri lagi." Harris dan Radit menahan tawanya. "Sumpah gue gak bohong. Gue lihat wajah dia pas ketemu Ella tadi. Bener-bener kayak bukan Nian yang satu tahun ini gue kenal. Berubah total. Lo ngerti gak, sih? Gue kayak lihat Nian di masa lalu." Devan menjelaskan. "Dari pertama kali kita ketemuan di komplek AU itu emang Nian udah kayak berubah gitu, sih, kalau kata gue." Radit ikutan menimpali. "Malah dari awal dia lihat saputangan yang gue bawa. Dia kayak nemuin sesuatu yang sangat berharga." Ryan baru berbicara setelah jeda beberapa saat. Membuat yang lainnya menoleh. "Apa?" tanyanya, merasa menjadi pusat perhatian. "Lo kenapa? Kayak orang banyak pikiran aja. Banyak utang lo?" Radit menyebet Ryan dengan handuk yang ada di tangannya. Ryan hanya tersenyum singkat dan menunduk. Entah kenapa dadanya terasa kurang enak. Apakah dia masuk angin? Harris yang melihat itu hanya diam. Tidak biasanya Ryan berperilaku seperti itu saat membicarakan tentang NIan. Warna wajahnya berbeda. Biasanya lelaki yang menjadi sepupu pacarnya itu akan sangat antusias saat membahas tentang NIan. secara, Ryan dan Nian sudah berteman sejak dahulu. Pun pertemanan dua lelaki itu lebih dekat dari semua orang yang sedang duduk bersama di sini. "Merasa bersalah, ya?" tanya Harris yang mendapat anggukan dari Ryan dalam beberapa detik selanjutnya. Radit dan Devan menghilangkan senyumannya yang hendak menggoda Ryan. "Kenapa gak dari dulu aja gue pinjem saputangan Ella? Kenapa gue bawa saputangan itu pas udah terjadi semuanya? Sumpah gue merasa jadi yang paling jahat buat Nian sekarang." Ryan mengusak rambutnya dengan kasar. Beberapa keringatnya yang bersarang di rambut menetes. "Anjir, muncrat!" Radit yang duduk di sebelah Ryan protes. dia kena getahnya juga. Ryan menangkupkan kedua tangannya dan memasang wajah sedih, memelas agar tidak mendapat timpukan dari lelaki yang lebih tua darinya dua tahun itu. "Gagal mellow, ya, Bos." Devan menonjok lengan Ryan tanpa kekuatan. Ryan hanya tersenyum dengan gummy smile andalannya dan membuang beban yang sempat membuat hatinya gundah beberapa saat yang lalu. Ah, mungkin perasaanya memang bukan untuk diungkapkan kepada teman-temannya. Apalagi tentang keadaan Nian. Itu sudah menjadi suatu pembahasan yang krusial. Akan lebih tidak nyaman jika dia mencampurkan keresahannya sendiri dalam perbincangan itu. Suara peluit Pelatih berbunyi. Mereka semua berkumpul kembali dan mendapatkan arahan latihan. Mereka akan memperagakan strategi beru untuk mencetak poin di keranjang lawan. Memang benar keputusan Ryan untuk tidak mengeluarkan semua isi hatinya. Lelaki itu menoleh saat merasakan ada tangan yang mengusap punggungnya. Harris tersenyum untuk bilang bahwa lelaki itu memahami apa yang sedang dirasakan oleh Ryan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN