Matahari semakin berjalan ke arah barat saat Ella selesai bersiap-siap. Ayah dah ibunya belum datang dari luar kota. Kata mereka, mereka akan sampai di malam hari.
"Mau ke mana?" Pertanyaan itu membuat Ella terdiam sejenak, menghentikan langkahnya menuruni tangga.
"Keluar sama Ryan."
Dewi, si penanya itu, mengangguk. Dia duduk di sisi meja makan sambil memeluk toples hijau berisikan rengginang itu. "Oh, hati-hati," lanjutnya sambil mengunyah rengginang. "Ryan mana, loh? Tumben banget gak masuk."
"Katanya males masuk." Lalu gadis itu terdiam. Sebenarnya, Ryan mempunyai terusan dari alasannya itu. Ryan malas harus bertemu dengan Dewi dan berakhir gelut. Akan tetapi, sangat tidak mungkin untuk Ella mengatakan hal itu sekarang. Bahkan sampai nanti pun pasti tidak akan dia sampaikan. Terlalu ngeri jika harus melihat kakak perempuannya itu melotot dan mengomel meskipun bukan karena dirinya.
"Oh, ya udah. Hati-hati pokoknya. Ayah sama ibu bakalan dateng sekitar jam delapan."
Ella pun mengangguk dan meneruskan langkahnya.
"Eh, titip boleh?"
Gadis itu menghentikan langkahnya lagi. Kakak perempuannya sangat mengganggu, namun dia tidak bisa mengekspresikannya di depan kakaknya. "Apa?" Dia mencoba agar nada bicaranya tetap biasa.
"Nanti pas pulang, beliin Ayah dan Ibu makanan ringan atau apa gitu. Jajanan juga boleh. Yang penting ada yang dimakan mereka nanti pas agak malem."
Ella menggangguk. Dia kira Dewi akan titip pesanannya. Ternyata, itu untuk oreng tuanya.
"Bawa uang, kan?" tanya gadis itu lagi.
"Bawa, kok. Cukup kayaknya. Aku pergi dulu, ya, Mbak." Ella berusaha agar kakaknya tidak mengajaknya bicara lagi. Kasihan Ryan juga yang sedari tadi telah menunggunya.
"Hai!" Ella menyapa Ryan yangmasih duduk di atas jok sepeda motornya. Dia menutup pintu utama dan segera mendatangi sahabatnya.
"Kok lama? Katanya udah siap-siap dari tadi." Ryan memberikan helm agar dipakai oleh Ella.
"Iya, memang." Gadis itu membenahi letak helm di kepalanya dan Ryan menautkan tali helm itu. "Tapi, Mbak Dewi ngajak bicara terus. Aku tertahan lama," gerutunya.
Ryan tertawa kecil dan memundurkan sepedanya untuk berbelok arah ke jalan. "Titip juga?"
"Iya. Buat Ayah Ibu."
"Oh." Ryan mengangguk lalu menyalakan mesin sepedanya.
"Kamu beneran pergi latihan, Ry?" tanya gadis itu sebelum naik di belakang Ryan.
"Iya. Memangnya kenapa?"
"Jadi, aku sendirian dong sama Kak Nian nanti?"
"Kamu mau aku temenin?" Ryan dapat melihat gadis itu menggeleng dari kaca spion.
"Bukan begitu juga, sih. Tapi aku takut kalau canggung tiba-tiba. Tapi, kalau kamu ikutan juga kamu harus absen dari latihan. Padahal, kan, abis ini ada pertandingan, kan, Ry?"
"Iya."
"Ya, udah. Oke, deh."
"Apanya yang oke?"
"Gak papa aku sendirian menghadapi Kak Nian."
Ryan tertawa. Dia belum melajukan sepedanya, menunggu Ella memosisikan diri dengan pas. "Menghadapi? Hahaha. Kayak apa aja, El."
"Ya, pokoknya kayak gitu. Aku gak tahu mau bilang yang cocok kayak gimana."
"Yang kayak kamu sama aku."
"Heh? Maksudnya gimana?"
"Hahaha. Gak. Gak papa. Tinggal bilang 'ketemu' gitu aja pakai 'menghadapi'."
"Dahlah. Ryan cerewet. Iya. Pokoknya gitu. Ayo berangkat. Nanti kamu telat ke DBL gimana."
"Ya, tinggal ijin masuk."
Ella tidak meneruskan bicaranya. Sebenarnya dia juga masih ingin menimpali omongan Ryan. Akan tetapi, mereka tidak akan berangkat sampai kapan pun jika terus begitu.
***
Sesampainya di depan kafe, Ella turun dan melepaskan helmnya. Dia tidak langsung memberikan pelindung kepala tersebut kepada Ryan. Pandangannya menjuru ke segala arah. Di depan sana memang ada taman alun-alun. "Ini beneran kafenya, Ry?" tanya gadis itu sambil celingukan mencari plakat yang biasanya tertempel di depan kafe. Akan tetapi, dia tidak menemukannya.
Ryan tersenyum melihat kelakuan temannya satu ini. Dia mengambil helm yang ada di tangan Ella dan meletakkannya di atas cantholan sepeda. Dia memegang tangan Ella dan menunjukkan ke plakat yang gadis itu cari. Mudah sekali bagi Ryan untuk menebak Ella.
"Apaja Kafe, kan?"
Gadis itu tersenyum lebar, agak malu. "Hehehe."
"Mau masuk dan cari sendiri atau aku temenin dulu?" tawar Ryan sambil melepas helmnya.
Ella menilik jam tangannya. Sudah pukul tiga lewat tiga puluh menit. "Ke DBL-nya bisa lama banget gak? Kamu bakalan kejebak macet apa enggak? Telat apa enggak?"
Tanpa berkata lagi, Ryan menyangga sepedanya dan meletakkan helmnya di atas sepeda motor. Dia menarik tangan Ella dan mengajaknya jalan menuju kafe itu. Mau tidak mau, Ella harus melangkah bersama lelaki itu. Dia belum sempurna menyadarkan diri dari pertanyaan-pertanyaannya tadi. Langkahnya agak terseret.
Ryan membuka pintu utama kafe itu dan langsung melambai ke tempat barista. Di sana ada empat lelaki yang mengenakan celemek coklat. Mereka memberikan senyuman kepada Ryan. Ada yang melambaikan tanyannya membalas Ryan. Itu adalah Devan.
"Beneran, kan?" Ryan melontarkan pertanyaan itu untuk mengonfirmasi ucapannya tadi pagi.
Ella menyengir.
"Kenapa?" tanya Devan yang mendatangi mereka.
"Dia gak percaya kalau lo yang punya kafe ini." Telunjuk Ryan mengarah ke Ella.
Ella tersenyum sungkan ke Devan. Dia mengikuti Ryan duduk di salah satu kursi depan meja barista.
"Gak tampang orang yang bekerja keras, ya?" canda Devan sambil menumpukan kedua telapak tangannya di atas meja.
Ella hanya membalas dengan senyuman.
"Santai aja, El. Anggap aja kayak rumah. Kamu boleh ke sini kapan aja kamu mau."
"Nanti pas dia udah mau tutup, aku ajak kamu ke sini." Ryan menimpali.
Devan membulatkan matanya. "Lo mau gue cekik?"
Ryan tertawa. Akan tetapi tidak dengan Ella yang sudah menegang. Devan yang melihat reaksi gadis itu pun langsung menglarifikasi. "Eh, jangan berpikir macam-macam. Kita udah biasa guyonan kayak gitu."
Ryan menoleh ke Ella dan mengelus-elus kepala gadis itu. "Jaga kata-kata lo, sih, kalau mau deket ama dia."
Sungguh, Devan ingin mencekik lelaki di depannya ini sekarang juga. Perkataan Ryan itu bisa membuat Ella salah paham dengan dirinya. Dia mendelik ke arah lelaki itu. Yang menjadi sasaran pandang hanya tertawa.
"Nian udah dateng apa belum, sih?" Ryan mencoba mengubah topik. Dia juga harus segera menuju tempat latihannya.
"Udah, tadi. Kayaknya dia ke kamar kecil deh." Devan menunjukkan tempat duduk kosong yang ada tas di atasnya.
"Lo gak latihan?" tanya Ryan memastikan.
"Nanti. Gue bakalan dateng, kok. Pelatih juga tahu hari ini gue ada jadwal di sini. Gue udah ijin. Beliau bilang gue bisa ambil jadwal malam."
Ella hanya mendengarkan percakapan dua lelaki itu. Dia tidak terlalu paham dengan percakapan mereka. Masalah basket, dia hanya tahu itu. Dia lebub memilih melihat-lihat interior kafe ini. Auranya sama dengan kafe-kafe yang pernah dia kunjungi. Hanya saja ini lebih klasik. Punggungnya menegak saat melihat Nian yang baru menyembul dari pintu di ujung ruangan. Mungkin di sana adalah kamar kecil. Gadis itu menepuk paha Ryan dan berisyarat dengan dagunya.
"Nian!" Ryan mengangkat tangannya.
Nian yang merasa namanya dipanggil pun menoleh ke asal suara. Dia menghentikan langkahnya menuju mejanya. Dia mengangkat tangannya untuk membalas. Lelaki itu mendatangi temannya itu.
"Udah dateng ternyata," ucapnya sambil bersalaman dan menyenggolkan bahunya ke milik Ryan. "Hai," sapanya sambil tersenyum ke Ella.
Ella membalas dengan senyuman juga. Dia memegang kursi yang dia duduki. Dia sudah mengira perasaannya benar. Dia akan canggung jika harus sendirian dengan Nian. Baru bertemu saja dia sudah bingung harus bersikap bagaimana. Padahal, kemarin malam mereka bercerita panjang lebar melalui gawai. Tapi, itu masih lebih gampang dari pada harus bertatap muka seperti ini.
"Hai, Kak." Sangat kaku, bahkan Ella juga menyesali sudah mengatakannya.
Devan yang ada di balik meja pun harus mati-matian menahan tawanya. Ella sangat menggemaskan.
"Gue nganterin dia doang, kok," ucap Ryan sambil berdiri dari duduknya. "Gue pergi latihan dulu, ya. Jaga dia baik-baik. Awas lo kalau sampai ngapa-ngapain dia." Ancaman itu malah terdengar seperti candaan.
Nian mengangguk. "Gue bakalan jaga dia. Gak mungkin juga gue culik. Terlalu berharga."
Ella dapat merasakan pipinya memanas. Semoga saja pipinya itu tidak berkhianat dengan menyembulkan warna merah. Dia sudah mati-matian menahan senyumannya, soalnya.
"Aku berangkat dulu, El." Lelaki itu berdiri di sebelah Ella dan meraih tangan gadis itu. Dia menepuk-nepuk pelan punggung tangan itu. "Gak usah takut. Nian baik." Dia berbisik lalu mengusap pundak Ella.
Gadis itu mengangguk sambil agak mendongak agar bisa melihat wajah sahabatnya itu.
"Gue duluan, ya." Ryan berpamitan dan melangkah ke luar kafe.
Ella menatap punggung lelaki itu hingga tertelan pintu kafe. Pandangannya tetap mengikuti pergerakan lelaki itu hingga Ryan pergi meninggalkan halaman kafe dengan sepeda motornya. Dia mengembuskan napas halus agar dua lelaki yang ada di sampingnya itu tidak mengetahui berat hatinya. Ah, dia terlalu bersemangat kemarin hingga lupa kalau biasanya dia akan sangat grogi menghadapi orang secara langsung.
"Ella," panggil Nian.
Ella menoleh. "Iya, Kak."
"Ayo ke sana." Nian menunjuk ke meja yang tadi ditunjuk oleh Devan tadi.
Ella mengangguk dan turun dari kursi yang agak tinggi itu. Dia berjalan duluan karena Nian mempersilakannya terlebuh dahulu.
Devan menahan tangan Nian. "Good luck." Lalu, lelaki itu menberikan senyumannya.
Nian mengangguk dan tersenyum sebagai balasan. Dia menyusul Ella yang sudah berada di sisi meja yang dia tunjuk tadi. "Duduk, La." Tangannya terhampar.
Ella mengangguk. Sedari tadi, dia memegang tali tasnya erat. Nian melihat itu. Dia hanya tersenyum karenanya.
"Mau pesen apa?"
"Coklat latte ada enggak, Kak? Aku gak suka kopi."
Nian mengangkat kedua alisnya. Senyumannya melebar seketika.
"Kenapa?" Ella bertanya, bingung.
"Aku juga mau pesan coklat latte. Kok bisa sama."
Gadis itu tersenyum. "Kakak gak suka kopi?"
Lelaki itu tersenyum sambil mengangguk. "Aku gak boleh minum kopi."
"Kenapa?"
"Masalah kesehatan."
"Oh," respons Ella sambil mengangguk paham. Dia meraih daftar menu dan melihat nama-nama kue pendamping kopi di sana. Dari fotonya yang tertera di bawah nama, Ella bisa membayangkan bagaimana lezatnya kue-kue itu.
"Kamu mau kue apa?"
Ella mengangkat wajahnya. "Hmm?"
"Pilih aja kue yang kamu mau."
"Hmm. Yang direkomendasiin Kak Devan aja, deh." Karena Ella yakin pemilik kafe itu akan memilihkan yang terbaik.
"Jangan." Nian gak mencondongkan badannya ke depan. Satu telapak tangannya berada di sisi kanan bibirnya.
"Kenapa, Kak?" Ella mengerjapkan mata beberapa kali.
"Soalnya Devan bakalan ngasih kita yang termahal." Nian menarik kembali badannya. "Ah, pokoknya jangan."
Ella melirik ke arah Devan yang sibuk membuat minuman untuk pelanggan yang ada di depan lelaki itu. Kemudian dia tertawa kecil. "Kak Devan suka cari untung, ya?" Kini gadis itu yang mencondongkan dirinya ke depan dengan suara bisikan.
Nian tersenyum datar dengan sebelah mata yang terpejam. Raut wajahnya sangat serius. Dia mengangguk cepat. "Apalagi dari teman-temannya. Malah ditarik banyak."
Ella tertawa. Dia yakin itu hanya gurauan Nian. Tidak mungkin ada teman setega itu. "Oke deh kalau kayak gitu."
"Jadi pesen apa kalian?" Sebuah suara mengagetkan keduanya. Ada Devan yang berdiri di sebelah meja mereka, membawa pena dan nota.
Nian dan Ella saling memandang untuk beberapa detik tanpa kata. Mereka menahan tawa sekaligus was-was kalau lelaki bongsor itu mendengar percakapan mereka tadi.
"Lo gak milih coklat latte?" tanya lelaki itu sambil menunjuk nama minuman yang dia sebutkan di daftar menu.
Nian melihat gerakan Devan sejenak lalu memandang Ella kembali. Dia menaikkan dua alisnya. "Jadi samaan?"
Ella mengangguk.
"Coklat latte dua berarti," pesannya.
Devan masih berdiri pun berusaha menahan senyuman dia memukul pundak Nian sejenak, membuat si korban mendongak.
"Ape?"
"Gak. Gak papa." Devan malah sengaja menyenggol pundak temannya itu lagi. Dia bahkan melebarkan senyumannya untuk menggoda lelaki itu.
"Kamu lihat, kan?" Nian menunjuk ke Devan. "Cowok yang kayak gini, tuh, melancarkan segala cara untuk menggaet pelanggan. Apalagi biar untung. Mekanya, kamu harus hati-hati."
Devan mendelik. "Jangan berpikiran yang macam-macam." Dia langsung menyergah Ella yang tertawa cantik. Lelaki itu menelan ludah. Tidak Ryan, tidak Nian. Ucapan mereka bisa membuat Ella salah paham.
Ella menggeleng. "Enggak, kok, Kak."
Devan berdehem sejenak dan menulis pesanan yang diucapkan Nian tadi. "Apa lagi?"
"Yang paling enak di sini apa?" Ella bertanya. Dia mendongak, melihat reaksi Devan.
"Ini, sih." Lelaki itu menunjuk ke nama kue yang ada di baris kedua dari atas.
Nian tersenyum dan memandang Ella. "See?"
Ella juga ikutan tersenyum karenanya. Harga cake itu memang tidak semahal yang di baris pertama. Akan tetapi, tetap saja termasuk yang lumayan merogoh kocek.
"Ya, udah. Aku mau yang itu, Kak." Ella menahan diri agar tidak tertawa.
"Kalian berdua kenapa, dah? Sengaja gunjingin gue, kan?" Devan menodongkan penanya ke Nian.
Yang ditodong mengangkat tangan. "Enggak. Kata siapa?"
"Awas lo macem-macem." Terlihat sekali kalau Devan mulai kesal. Dia menulis pesanan Ella.
Nian sengaja membuang muka ke arah luar kafe. Dia tidak tahan untuk tidak tersenyum. Devan memang sasaran yang bagus untuk dijahili jika sedang di kafe. Dia tidak akan membalas berlebihan karena harus tetap ramah.
"Dua Chocolate Latte dan dua Neo Brownie Velvet." Lelaki itu membaca pesanan yang baru saja dia tulis.
"Makasih, Kak Devan." Ella memberikan senyumannya sambil tetap mendongak.
Devan yang hendak membalas pun akhirnya terdiam. Ella terlihat begitu menawan, bersama iringan lagu 'Sempurna' yang sedang diputar.
Nian yang melihat itu langsung menendang tulang kering Devan dan melotot ke lelaki itu.
"Hehehe. Sama-sama, Ella." Dia tersenyum canggung lalu membalikkan badan. Dia menyempatkan membalas pelototan mata Nian dan berlalu untuk menyiapkan pesanan.
"Kak Devan lucu, ya." Ella terus memandangi lelaki tinggi itu.
"Heh?" Nian segera menghalangi mata Ella agar memalingkan pandangan dari temannya.
"Kenapa, Kak?" Gadis itu menatap Nian dengan muka polosnya.
"Jangan lihat Devan terus."
Ella mengerutkan dahi.
"Dia pakai susuk. Nanti kamu tersejerat sama jinnya dia."