Ryan menatap Ella sekian kalinya. Dia menunggu gadis itu berbicara terlebih dahulu. Sudah dari gerbang tadi mereka hanya beriringan jalan tanpa kata sedikitpun. Ryan tidak bisa mengelak jika dia sangat ingin tahu bagaimana kesan Ella untuk Nian. Semoga percakapan mereka berdua berjalan lancar kemarin malam.
"El." Ryan tidak tahan. Dia tidak bisa membiarkan bibirnya terkatup lebih lama lagi.
"Iya. Ada apa?" Ella menoleh ke arahnya dengan tatapan polos. Sahabatnya ini sungguh tidak punya apa-apa, kah, untuk dikatakan kepadanya? Tidak biasanya gadis di sampingnya ini berbuat demikian. Biasanya saja dia langsung mendapatkan banyak cerita dan keluhan dari sahabatnya tersebut. Ah, dia kepikiran.
"Nanti ke kantin, 'kan?" tanya Ryan yang langsung menyadari pertanyaannya itu sungguh terlihat hanya basa-basi.
Ella mengangguk. "Iya," jawabnya singkat dan itu membuat Ryan sedikit frustasi.
"Oke." Lelaki itu mengangguk paham dan mengelus puncak kepala sahabatnya. "Nanti pesen apa aja, deh. Aku yang traktir."
Ella mengangguk lagi. Gadis itu memegangi tali tasnya dan kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Dia tidak terlihat akan berbicara sesuatu kepada Ryan.
Sebaliknya, Ryan justru ingin menghentikan Ella dan bertanya banyak hal. Ah, tapi dia tidak bisa melakukan itu. Dia takut Ella curiga dengan perbuatannya yang mungkin akan terlihat sangat aneh. Baiklah, tinggalkan Ryan dengan kebingungannya sendiri. Dia juga tidak tahu harus bagaimana.
"Sampai ketemu nanti, ya. Dadah!" Ryan melambaikan tangannya ke Ella. Mereka sudah sampai di depan kelas gadis itu.
Ella membalas dengan lambaian tangan juga. Dahinya mengernyit. Apa ada yang salah dengan Ryan? Atau, apakah dia punya salah dengan lelaki itu? Dia pun mengendikkan bahu dan segera masuk kelas. Dia berniat untuk bertanya nanti saat di kantin. Semoga dia tidak lupa.
Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kelas dengan kepala sedikit tertunduk. Kepalanya masih dipenuhi dengan sikap Ryan tadi. Meskipun dia hanya diam danmembalas seadanya, bukan berarti dia tidak tahu ada yang aneh dengan lelaki itu.
"Hei! Lihat jalan, Bu!"
Ella mengangkat kepalanya dan menemukan wajah Anton ada di depannya. Dia hampir terjatuh ke belakang jika ketua kelasnya itu tidak menarik tangannya segera. Perbuatan mereka pun menjadi bahan sorakan satu kelas. Tentu saja Ella sangat malu sekarang. Wajahnya memerah.
Berbeda dengan lelaki itu yang malah mengangkat kedua tangannya dan membuat gerakan untuk menghentikan sorakan itu. "Cukup. Cukup." Dia bertitah sambil berlagak sok. Baiklah, itu memang keahliannya. "Ada apa gerangan, wahai Nona?" Lelaki itu sedikit membungkuk dan melipat tangan kanannya di depan perut atas. Persis seperti pelayan restoran yang biasa dia lihat di sinetron telenovela kesukaan ibunya itu.
"Kamu kenapa, Ton?" Ella risih. Dia hendak melangkah ke samping ketua kelasnya itu namun dihadang. "Anda belum membayar pajak kepada saya, ya, Bu," bisiknya. "Saya sudah berbaik hati karena sudah mau pengertian dengan Anda kemarin."
"Kan, aku udah bilang terima kasih kemarin."
"Tentu saja itu kurang."
Ella melirik ketuanya tajam. "Apa mau kamu?"
Lelaki itu tanpa segan mengetuk pipi kanannya dengan telunjuknya dan memperlihatkannya kepada Ella. Seluruh kelas heboh lagi.
Ella memejamkan mata sejenak. Dia tidak mau melakukan apapun. Rasanya, dia mau pergi saja dari kelas. Kenapa lelaki itu menyebalkan sekali, sih.
"Nih, rasain!" Seseorang membentak di samping Ella dan menekankan tanggannya yang mengepal di pipi kanan Anton. Refleks, lelaki itu merintih kesakitan dan memgangi pipinya.
Ella segera menoleh. Dia tersenyum lebar. Itu adalah teman sebangkunya, Danisha. Dengan segera, dia menyembunyikan dirinya di belakang tubuh gadis itu. Dia tidak mau dekat-dekat dengan Anton. Lelaki itu berbahaya dan buaya.
"Lo kenapa, sih, Nis?" tanya Anton kesal. Dia mengelus-elus pipinya yang masih terasa sakit. Memang sakitnya tidak seperti pukulan, tapi bergesekan dengan kulit dan tulang tangan Danisha sama saja dengan menggesekkan pipinya ke kertas amplas. Danisha memang sengaja memanfaatkan tangannya yang kasar itu untuk membalas kejahilan Anton apapun itu. Dia juga tidak keberatan jika teman-temannya mengata-ngatai tangannya. Dia saja mengakuinya.
"Jangan kegatelan. Baru bantu sekali aja udah belagu." Danisha menaik-turunkan alisnya kepada Ella yang sudah berada di sampingnya lagi.
"Siapa yang belagu. Gue aja udah bantu tuh anak banyak banget. Gue pantes dapet imbalan, lah." Anton tentu saja harus memrotes perbuatan Danisha.
"Mau lagi?" Gadis itu sudah mengangkat tangan kanannya hendak menyapa pipi Anton lagi.
"Gak seru lo. Sumpah! Gak seru!" gerutunya.
Dua gadis yang masih ada di depan kelas itu pun tertawa sejenak. Mereka menyukai wajah kesal Anton yang suka usil itu. Begitu pula dengan penduduk kelas lainnya. Lihat saja, mereka juga tertawa mengikik melihat ketua kelas mereka kembali duduk di tempatnya sambil terus menatap tajam dua gadis itu. Rasanya mereka juga ingin mengerjai balik ketua kelas mereka. Sudah banyak kali mereka terjebak kejahilan Anton. Mulai dari mengumumkan PR yang tidak ada, menyuruh teman sekelasnya mengumpulkan buku latihan padahal tidak ada perintah untuk mengerjakan, dan lain sebgainya. Tidak terhitung dengan jari keusilan ketua kelas satu itu. Namun, dia juga sangat loyal kepada teman-temannya. Salah satunya seperti kejadian Ella kemarin. Pun, dia juga bisa mengendalikan kelasnya dengan baik. Ah, membahas Anton tidak akan habisnya. Ella yang tidak pedulian saja sampai hapal dengan kelakuan lelaki itu. Memang unik, tapi sekaligus menyebalkan.
"Makasih." Ella menyentuh tangan Danisha saat sudah duduk di bangku mereka.
Danisha mengedipkan satu matanya dan memberikan isyarat 'oke'. "Gue juga sebel sama tuh anak kemarin. Mekanya, mumpung ada kesempatan, gue pengin bales."
"Kemarin memang dia ngapain?"
"Iya, sih, bener dia gak ngelupain buat ngumpulin buku lo. Tapi ..."
"Tapi?"
"Tapi dia nyalin semua yang ada di buku lo ke buku dia." Danisha geleng-geleng. "Emang ada ... aja kelakuannya tuh anak."
"Maklum, masih masa puber."
Mereka berdua tertawa sejenak kemudian menegapkan punggung saat melihat kehadiaran seseorang di depan sana. Itu adalah Wali Kelas mereka. Ah, ada apa? Kenapa harus sepagi ini Wali Kelasnya datang ke kelas mereka? Itu sangat menakutkan. Sebaik apapun berita yang akan disampaikan, jika yang menyampaikan adalah Wali Kelasnya, rasanya sangat berbeda.
Ella menelan ludah. Dari sejak diajak oleh Ryan ke lapangan komplek AU, dia belum melihat atau pun bertemu dengan Wali Kelasnya. Ada rasa was-was. Apalagi saat pandangannya bertemu dengan Anton. Lelaki itu sengaja menoleh ke arahnya. Tatapan matanya tidak bisa diartikan sama sekali. Itu membuat Ella jadi semakin gugup.
"Almira Laila!" panggil Wali Kelasnya.
Seketika itu tubuh Ella menegang. Dia mengigit bibir bawahnya. Dia mengangkat tangannya.
"Ini bukumu."
Mau tidak mau Ella harus maju ke depan. Dia sudah mengeluarkan keringat dingin. Tangannya terulur ke buku yang diserahkan oleh Wali Kelasnya.
"Terima kasih karena sudah mengerjakannya dengan baik."
Ella mengangguk. Hatinya lega. Dia pergi ke tempatnya setelah Wali Kelasnya berisyarat untuk kembali.
"Aku kira apaan." Ella meletakkan bukunya di meja sekaligus kepalanya. Perutnya terasa sakit. Sangat menegangkan.
"Gue udah bilang ke Anton kalau bilang macem-macem ke Pak Wali, bakalan gue aduin ke Ryan." Danisha berbisik sambil terus meluruskan wajahnya ke arah papan tulis.
"Makasih." Ella membalas.
Sebenarnya, tanpa bantuan Danisha pun dia akan mengadukan Anton jika lelaki itu tak bisa menjaga mulut. Memang tidak berefek hingga Ketua Kelasnya itu dipukul atau apa. Tapi, paling tidak, melihat wajah Anton yang ketakutan ala anak anjing dengan gaya sok imutnya bisa membuat hatinya sedikit baik.
***
Kantin sekolah cukup penuh. Apalagi dengan anak IPS. Mereka keluar lebih awal. Pun, biasanya anak IPA mempunyai kebiasaan membawa bekal atau membawa makanan ringan yang mereka beli ke kelas. Kecuali jika mereka membeli bakso, soto, mie ayam, dan sebagainya.
Ryan dan Ella duduk berhadapan. Sedari tadi, Ryan memperhatikan Ella yang masih sibuk dengan baksonya. Bahkan gadis itu tidak mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.
"Hati-hati." Ryan mengambil tisu dan mengusap bawah bibir Ella. Tanpa sengaja gadis itu agak menumpahkan sendokannya. "Nanti bajunya kotor, bingung."
Ella menyengir. Ah, kelemahan Ryan. Sahabatnya terlalu menggemaskan. Dia malah tidak jadi kesal.
"Ryan." Panggilan itu membuat Ryan yang sudah agak putus asa pun mengangkat kepalanya. Dia sedang fokus memotong pentolnya. Kedua alisnya terangkat.
"Hmm."
"Kamu nanti abis sekolah bisa nganterin aku?"
"Ke mana?"
"Gak tahu. Aku belum tanya tempatnya."
Dahi Ryan mengerut. Dia menghentikan aktivitas makannya. "Tanya ke siapa?"
"Kak Nian." Ella pun mengambil gawainya dari saku dan melihat room chat-nya dengan Nian.
Ryan mengangguk paham. Setelah menyelesaikan suapan terakhir, dia meletakkan ujung telunjuknya kepuncak gawai Ella. Dia agak menariknya ke bawah agar dia bisa melihatnya juga. "Ngomong apa aja kemarin sama Nian?"
Ella mengetikkan beberapa kata di gawainya dan meletakkan benda itu. Dia tersenyum lebar dan rapat kepada Ryan. "Kak Nian seru. Ternyata kami punya masa lalu."
"Maksudnya?" Ryan fokus kepada gadis itu.
"Saputangan yang ada di kamu. Kak Nian minta ketemuan karena itu, 'kan?"
Ryan mengangguk.
"Aku dapet itu dari Kak Nian pas aku hilang di Malang dulu."
Mata Ryan membulat. "Yang kamu sampai demam seminggu itu?"
Ella mengangguk. "Lucu, ya? Ternyata aku bisa ketemu lagi sama Kak Nian." Gadis itu terlihat sumringah.
Ryan menangkap hal itu di wajah sahabatnya. Gadis itu tidak pernah bereaksi seperti ini saat berkenalan dengan orang lain. Namun, dengan Nian, Ella berbeda. Bahkan saat pertama kali dia bertemu dengan gadis itu pun Ella tidak sesumringah ini. Ah, mungkin karena dulu mereka terlalu kecil.
"Dan Kak Nian ternyata juga sakit abis nolongin aku waktu itu."
"Heh?"
Ella terkekeh. "Lucu, ya? Kayaknya aku kalau lihat aku yang dulu pasti bakalan gemes, deh."
"Kamu sekarang juga gemesin," ucap Ryan.
Gadis itu memajukan bibir bawahnya, tanda tak percaya. "Gemesin dengan dua makna katanya, 'kan?"
Ryan tertawa. "Tahu aja. Kan gemes."
"Ish." Ella menajamkan matanya dan segera mengambil gawainya saat melihat ada notifikasi masuk. "Di kafe deket alun-alun sebelah timur? Kamu tahu tempatnya, Ry?"
"Kamu masih tanya aku tahu tempat atau enggak?" Ryan merapikan anak rambut Ella yang sedikit menutupi wajah. Dia menyelipkan ke belakang telinga. Dia tak peduli dengan tatapan orang lain keoada mereka. Toh, para pemilik mata dan bibir yang sedang memandangi mereka tidak tahu apa-apa.
"Iya. Iya. Yang biasanya nongkrong. Yang punya banyak teman." Ella cemberut.
Ryan tertawa pelan dan mengelus puncak kepala Ella.
"Apaja kafe?" Ella mengerutkan dahinya. "Kok aneh namanya."
"Apa aja ada. Itu singkatan, Ella."
"Kok kamu tahu, Ry?"
"Mau aku beri tahu pemilik kafe itu siapa?"
Ella mengedepankan badannya dengan tumpuan kedua sikunya di meja kantin.
"Devan." Ryan agak berbisik.
Ella menarik tubuhnya ke belakang lagi dengan sedikit kecewa. "Candanya gak asyik."
"Aku gak bercanda, Ella." Ryan tersenyum melihat reaksi Ella.
"Bohong. Mana ada Kak Devan punya kafe. Dia, 'kan, masih sekolah."
Ryan tertawa. Dia mencubit pipi kanan Ella, gemas. "Terserah kamu percaya apa enggak, tapi itu memang punya Devan. Dia kerja di situ juga pas pulang sekolah. Dulu emang gak segede itu, tapi berkat kerja sama yang baik dan dukungan orang tua Devan, kafenya bisa berjalan sampai sekarang. Kami biasanya juga nongkrong di situ."
Ella mengerjap-ngerjapkan matanya. "Beneran Kak Devan yang punya?"
"Kok kamu gak percayaan, sih?" Ryan masih dengan senyumannya memandang gadis di depannya.
"Temen kamu hebat-hebat juga, ya."
"Iya, kamu hebat."
"Heh?"
"Hahahaha." Ryan tidak bisa menahannya lagi. Ella terlalu lucu. Bersyukur dahulu dia menawarkan diri untuk menjadi teman dekat Ella dan diterima oleh gadis itu.
"Apaan, sih, Ryan!"
"Gak papa. Kamu, kan, temenku juga. Berarti kamu hebat juga dong."
"Ya, gak gitu juga kali konsepnya."
Mereka terdiam sejenak.
"Nian baik, kan?"
Ella mengangguk mantap. "Baik. Baik banget malah. Hmmm, tapi ...".
"Tapi apa?"
"Orangnya kadang ngeselin kayak kamu. Tapi, gak papa. Aku udah terlatih buat hadapi orang kayak kalian."
"Astaga."
Ella memperlihatkan gigi-giginya.
"Terus, kalian mau ketemuan di kafe, ngapain?"
"Kemarin kami belum selesai bicara udah dipotong sama Mbak Dewi."
"Disuruh tidur?"
Ella mengangguk.
"Mekanya jangan malam-malam kalau mau telepon."
"Ya, kan, kemarin bisanya malam. Aku juga, kan, yanh putusin sambungan kemarin."
"Nyalahin aku, nih?"
"Enggak." Ella menunduk. "Makasih udah perhatian sama aku dan bawain makan malam kemarin.
Ryan menangkupkan kedua tangannya di pipi Ella. "Kamu bisa enggak, sih, gak gemesin sehari aja." Kemudian lelaki itu mencubit pipi Ella.
"Sakit, Ryan!"