Tangan Ella bergetar. Begitu pula dengan Nian yang kian merasakan desiran hebat dalam dadanya mengalir kuat, menjalar ke seluruh tubuh. Memori itu menguar dari sarangnya. Membuka tabir waktu yang telah memendamnya secara perlahan hingga membuat pandangan teralih darinya.
Ella ingat. Dia ingat semuanya sekarang. Senyuman bocah laki-laki yang menolongnya. Guyonan dan tawanya. Segala sesuatu tentangnya yang hanya diberi sedikit ruang dalam kenangannya. Semua seakan segar kembali dalam memorinya. "Kak Nian yakin gak salah orang, 'kan?"
Jeda sejenak memenuhi ruang di antara mereka berdua. Nian menatap langit-langit kamarnya tanpa ekspresi dan menghela napas panjang. Dia hanya ingin pencariannya berakhir. Dia hanya ingin menemukan gadis kecil itu.
"Kak ...." Suara Ella terdengar bercampur dengan isakan hebat yang tertahan. "Kakak beneran gak salah orang. Iya. Itu aku. Aku bahkan masih menyimpan kalung liontin matahari dari Kakak." Gadis itu berusaha untuk tidak meninggikan suaranya. Dewi sangat sensitif dengan suara di malam hari. Dia tidak mau mengganggu kakaknya dan berakhir dengan rasa penyesalan.
Nian menegakkan punggungnya lagi. "Beneran? Ella, kamu masih simpen itu? Liontin itu?"
Ella mengangguk meskipun dia tahu tak ada orang yang akan melihatnya melakukan itu. "Iya." Ucapan itu keluar dengan sedikit tawa di sela air matanya yang terus-terusan keluar. Ini seperti serendipity baginya. Memang terlalu banyak informasi hari ini. Banyak fakta yang terungkap di hari dia kehujanan ini. Akan tetapi, dia merasa senang. Tentu saja. Bocah yang dulu pernah menolongnya kini bisa berbincang kembali dengannya. Dia harus mengucapkan terima kasih dan membalas budi kepada Nian.
Nian menghela napas lega. "Syukurlah."
"Kenapa, Kak?" Ella menghapus sisa air matanya. Dia menoleh ke kaca rias yang tak jauh dari tempat tidurnya, menilik bentuk matanya. Agak memerah dan membengkak sedikit. Inilah kenapa dia tidak suka dan selalu menyesal kalau sedang tidak mau menangis. Semua jejak tangisan akan kentara dan dapat dilihat meski sudah lewat beberapa waktu.
"Kamu tahu? Ada hal lucu setelah aku balik ke rumah pada waktu itu," tukasnya.
"Kenapa memangnya?" Ella berubah menjadi khawatir. Tentu saja keadaan mereka saat itu tidak bisa dibilang baik-baik saja. Dia bahkan masih sangat ingat lututnya yang sakit menambah kesakitan pada dirinya yang mengalami demam hebat saat sudah kembali ke pemginapan.
"Aku demam tinggi pas balik ke rumah karena kehujanan, 'kan."
"Lalu?"
"Lalu kata Mama aku ngigau." Nian menahan tawanya. Ini hal yang memalukan tapi juga pantas dibagikan untuk ditertawakan bersama.
"Ngigau apa? Pasti yang aneh-aneh, ya?"
"Banget. Random banget."
"Apaan, Kak?"
"Aku teriak minta ampun ke Mama biar gak dimarahin karena keluar rumah pas ramai dan malah hujan-hujan. Kek, gimana, sih. Ya ampun, aku kalau mikirin ini sekarang pengin ketawa terus bawaannya. Aneh banget."
Tak ada respon dari Ella. Dia mencoba mencerna cerita itu.
"La? Halo!"
"Jadi Kakak pas waktu itu sebenernya gak dibolehin sama Mamanya Kakak buat keluar. Tapi, malah kehujanan dan sakit karena aku?"
Nian terdiam sejenak. Agaknya cerita itu malah membuatnya menyesal telah bertutur. Nada bicara Ella berubah lagi. Tidak. Bukan ini yang dia inginkan. Dia mau ditertawakan. Bukan malah menanam penyesalan di hati gadis itu. Dia tidak mau ada kata sedih lagi.
"Maafin aku, ya, Kak. Aku malah bikin Kakak sakit."
"Hei! Hei! Hei! It's okay. Gak perlu minta maaf. Jangan minta maaf lagi malah. Itu udah berlalu dan malah Mamaku bersyukur kalau aku bisa membantu orang. Mama juga bilang kalau mau berguna harus ada resikonya. Gak papa. Toh, waktu itu Mamaku gak marah."
"Tapi, tetep aja aku bikin orang tua Kakak setidaknya khawatir dan kerepotan karena Kakak sakit."
"Ya, kalau gitu minta maaf aja sendiri sama Mamaku."
"Heh? Maksudnya?"
"Ya, 'kan, kamu gak enaknya sama Mamaku karena kerepotan. Jadi, minta maaf aja ke Mamaku. Kalau aku, sih, selama ini gak keberatan."
"Dih, kok gitu."
"Makanya, jangan kayak gitu. Kejadiannya udah selesai dan aku sama Mama sama-sama ambil manfaat dari nolongin kamu."
Ella merapatkan bibirnya. Dia masih tidak paham dengan definisi gamblang yang dimaksud dengan 'mengambil mamfaat' dari kejadian yang malah membuat mereka susah. Entah karena Ella yang terlalu merasa bersalah, atau mereka mempunyai dan mengambil banyak hikmah.
"Aku orangnya gak suka keluar rumah. Aku gak suka nolong orang. Bahkan teman-temanku dulu jauhin aku karena aku orangnya ansos." Nian meneruskan ceritanya lagi.
Ella menelan ludah. Dia harus mempersiapkan diri dengan banyak informasi yang dia dapatkan setelah ini.
"Tapi, setelah kejadian nolongin kamu itu, aku jadi lebih terbuka sama orang lain. Aku malah jadi berteman dengan Radit sampai sekarang."
"Kak Radit?"
"Iya. Radit. Anak yang ganggu kita pas waktu itu. Itu Radit."
Ella membelalakkan matanya dan tidak merespon dengan kata-kata. Bahkan dia menahan suaranya agar tak keluar.
"Hahahaha. Kenapa? Kaget banget, ya? Emang takdir itu aneh, sih. Random banget. Coba tebak kami bisa deket karena apa?"
Gadis itu menenggelamkan kepalanya di bantal sambil menerawang. Kemungkinan apa yang bisa mempersatukan orang seberisik Radit dan orang penuh ketenangan seperti Nian? "Gak tahu." Dia buntu.
"Coba tebak dulu, deh. Ayo."
"Clueless. Beneran aku gak tahu. Gak bisa nebak aku, tuh."
"Dia nanyain kamu."
"Heh?"
"Hahahaha. Random banget, ya? Aku waktu itu, ya, biasa aja, sih. Gak mikir kalau hal itu bener-bener lucu sekaligus agak memalukan bagi kami berdua. Pas kapan gitu. Kayaknya masih SMP, kami bahas masa lalu dan kejadian itu muncul. Aku ingat. Kami tertawa terbahak-bahak setelah saling minta maaf karena udah jahilin dan saling pukul."
Ella tersenyum. Cerita kelanjutan setelah festival milik Nian seru juga. Dia meraih guling dan memeluknya. Posisi badannya dibaringkan miring. Dia siap mendengarkan.
"Mana kami juga pindah di tempat yang sama," lanjutnya.
"Hmm? Aslinya Kakak orang mana emang?"
"Lah? Aku kira kamu bakalan ngeh kalau aku orang Malang."
"Heh?"
"Hahahaha. Gak papa. Gemes banget, sih, kamu." Nian bahkan membayangkan wajah bengong Ella. "Aku orang Malang, La, aslinya. Sama kayak Radit. Kami dulu tinggal satu daerah di sana. Cuma pas aku mau SMP, Papa mendadak harus pindah ke Surabaya dan di sinilah aku sekarang."
"Rumah Kakak di Surabaya? Jauh banget."
"Enggak juga. Malah belum Surabaya, kok. Aku masih di daerah Sidoarjo. Cuma, ya, emang lebih ke Surabaya, sih."
"Emang rumah Kakak di mana?"
"Kenapa? Mau main? Mau minta maaf ke Mamaku?" goda Nian.
"Ish, Kakak. Aku beneran tanya."
"Aku juga beneran jawab, ini."
"Tau!"
Gelak tawa Nian lepas. Pintu kamarnya terbuka, memunculkan sosok Mamanya yang sedari tadi tidak lepas dari pembahasannya. Wanita itu menempelkan telunjuknya di atas bibir. Nian menampakkan gigi-giginya dan mengangguk. Tangan kirinya membentuk isyarat 'oke'. Wanita itu pun menutup pintu kamar Nian kembali.
"Iya ... iya ...." Nian mengalah, menenangkan kekesalan Ella. "Deket Juanda. Sekitar Aloha, lah."
"Ish, itu mah masih Sidoarjo banget. Aku kira Kakak rumahnya di Waru atau emang deket-deket Surabaya banget. Ternyata ...."
"Hehehehe. Ya, kan, gak mungkin juga aku sekolah sejauh itu."
"Lah, Kakak sekolah di mana?"
"Tanya aja sama Ryan. Pasti tahu."
"Kalau gak mau jawab juga gak papa, kok."
"Kan, emang gak mau jawab."
"Dahlah. Dahlah."
"Kok mutungan gitu, sih?"
"Capek. Pusing. Males. Kakak gak ada bedanya sama Ryan," jelas Ella dengan nada malas. Dia menghela napas acuh tak acuh.
"Kamu pusing? Gara-gara kehujanan tadi?" Nian terdengar khawatir.
"Bukan. Tapi, karena omongan sama Kakak." Ella benar-benar kesal. Kepalanya juga terasa nyut-nyutan. Ah, seketika dia melipat bibirnya, menyesali apa yang baru saja dia ucapkan. "Maaf, Kak. Aku gak maksud." Dia langsung meminta maaf.
"Gak papa. Emang dasarnya aku ngeselin, kok. Maaf, ya, Ella." Nian mengusap leher bagian belakangnya. Masih terasa panas ternyata. Atau tangannya yang terlalu kedinginan. Entah. "Capek banget, ya, bicara sama aku?"
"Kak ... Maaf." Ella benar-benar menyesal sekarang.
"Hahaha. Dari tadi kita pembahasannya minta maaf, mulu. Padahal Lebaran masih lama banget. Simpen aja, ya, minta maafnya buat Lebaran. Semoga masih bisa ketemu buat sungkeman ke rumah kamu."
Ella tertawa. "Iya, juga, ya."
"Mekanya. Besok-besok aja minta maafnya. Lagi ketemu dan baru aja omong-omongan. Udah minta maaf aja. Kayak patung aja."
"Hah? Apa hubungannya?
"Kaku."
Lagi, Ella tertawa. "Bisa aja astaga. Dasar Kak Nian." Dia menghela napas dalam dan terdengar di telinga Nian.
"Kenapa, La? Sesak napas karena gak bisa minta maaf lagi?"
"Hahaha. Enggak astaga."
"Terus?"
"Kelihatan banget kalau kita masih canggung."
"Banget. Tapi, tunggu."
"Hmm?"
"Itu bukan kalimat yang biasa diucapkan oleh anak ansos kayak kamu."
"Ih, aku gak seansos itu, ah, Kak."
"Terus apa? Emang kamu mau sebut apa dirimu yang gak gampang bisa terbuka dengan orang lain itu? Apa coba?"
"Ya, cuma takut aja. Bukan karena apa-apa."
"Gak ada alasan yang lain?"
"Hehehehe." Hanya itu respon dari Ella.
Di lain sisi, Nian paham kalau gadis itu enggan untuk meneruskan pembahasan ini. Gadis itu tidak mau menjawab. Namun, yang membuatnya kagum adalah caranya untuk menghindar. Dia pun tidak mau mengulik lebih dalam lagi. Mereka belum sedekat itu untuk saling berbagi cerita tentang hal yang lebih privasi.
"Oke, deh. Gak papa juga. Lagi pula orang juga banyak yang unik. Mungkin kalau kamu jadi super hero, kamu punya kekuatan untuk menjauhi orang."
Tak ada jawaban dari Ella.
"La."
"Iya?"
Nian yakin sekalin kalau gadis itu belum tidur. Ah, dia baru sadar. Seharusnya dia memasang filter di bibirnya sejak pertama akan berbicara dengan gadis itu.
"Aku keterlaluan, ya? Ma—"
"Jangan minta maaf. Katanya disimpen buat Lebaran besok."
"Iya, deh, gak minta maaf. Tapi, aku keterlaluan, 'kan, ya?"
Ella menggigit bibir bawahnya. Dia ragu untuk menjawab.
"Gak papa. Jujur aja."
"Iya, sih." Ella berucap lirih yang membuat Nian memejamkan matanya erat. "Tapi, gak papa. Itu juga buat aku sadar kalau ada beberapa hal yanh harus aku benahi dari diri aku, Kak. Makasih."
"Hei ... hei .... Itu keunikan kamu."
"Hehehe. Enggak, Kak. Dari lama juga aku mikir gitu. Aku juga pengin punya banyak temen kayak Nian."
"Aku mau jadi temen kamu."
"Ya, bukannya udah, ya?"
Nian tersenyum. "Oh, jadi aku bukan orang asing, ya, buat kamu?"
"Lah?"
"Okelah. Oke banget malah."
"Kak Nian apaan, sih?"
"Gak papa. Bahagia aja diterima jadi temen kamu."
"Aku juga punya temen sekelas."
"Tapi aku yang baru kenalan sama kamu dan bisa telponan sampai malam kayak gini. Iya, 'kan?"
Ella tersenyum. "Bener, sih." Atensi gadis itu beralih ke pintu kamarnya. Ada Dewi yang menyembul di sana. Ella langsung terhenti dari perkataannya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Dewi dengan nada kelewat datar. Bukan apa-apa. Dia memang tidak terbiasa dengan omongan bernada banyak.
Ella menutupi gawainya dengan kepalanya yang agak ditekankan di atas bantal. "Gak papa."
"Cepetan istirahat. Udah jam sepuluh lebih. Besok masih sekolah, 'kan?"
Ella mengangguk pelan.
"Jangan terlalu larut kalau mau telponan sama orang. Kasihan dia juga. Perlu istirahat." Setelah itu, Dewi segera meninggalkan kamar adiknya.
Ella menelan ludah. Memang percuma menyembunyikan sesuatu dari kakaknya. Seakan Dewi tahu semua hal yang ada pada dirinya. Dia jadi merinding sendiri.
"Siapa?" tanya Nian.
"Kakakku." Ella segera tersadar dari pikirannya. "Kedengeran, ya, Kak?"
"Agak."
"Hehehe. Jadi, sampai di sini dulu, ya, Kak. Aku takut kalau dia balik lagi."
"Kakak kamu galak banget, ya?"
"Hehehe. Aku tutup, ya, Kak."
"Bentar. Bentar. Hmmm ... kalau besok ada waktu, kamu mau gak ketemuan sama aku? Masih ada yang harus aku bicarain sama kamu."
"Ketemuan?"
"Iya. Kamu keberatan gak?"
"Hmm, bukan masalah keberatan, sih. Cuma gak pernah aja."
"Gak pernah keluar rumah buat jalan-jalan?"
"Enggak gitu juga, sih. Tapi ... baiklah, aku akan bilang ke Ryan. Dia bisa nganterin aku apa enggak. Emang mau ketemuan di mana?"
"Di kafe deket alun-alun, mau?"
"Baik. Tapi, aku gak tahu, ya, bakalan bisa enggak. Soalnya aku harus tanya ke Ryan dulu. Emang mau ngomongin apaan?"
Nian membasahi bibirnya. "Besok aja pas ketemu. Kayaknya nggak bakalan enak kalau sekarang. Pun, kamu udah ditegur."
Ella mengangguk. "Oke, deh."
"Sampai ketemu besok. Selamat malam."
"Kakak juga. Have a nice dream."
Sambungan terputus. Ella menghela napas. Dia berpikir sejenak. Ada hal yang mengganjal. Dia melihat jam di dindingnya. Ah, dia baru teringat kalau Nian tadi demam. Dia mengetuk pelan sisi dahinya dengan gawainya. Seketika dia menyesal untuk kesekian kalinya. Baiklah, dia harus bertemu Nian besok. Dia harus memaksa Ryan untuk mengantarnya.