Perkelahian antara dua anak laki-laki itu tak bisa dihentikan. Ella di belakang hanya bisa menangis ketakutan. Anak laki-laki yang menolong Ella itu mengambil ranting yang digenggam oleh gadis itu dan menjadikannya senjata. Kuda-kudanya baik. Terlihat terlatih dari caranya mengambil ancang-ancang. Tanpa banyak waktu dan omong, dia segera membuat anak laki-laki yang mengganggu Ella tadi kesakitan hingga mundur beberapa langkah sambil menahan tangis dan malu.
"Awas lo, ya! Gue gak bakalan maafin lo!" Teriak anak itu sambli berlari menjauh meninggalkan mereka berdua dengan kekalahan yang telak.
"Hei. Hei. Kamu gak papa?" Bocah itu sedikit merunduk untuk melihat keadaan Ella. "Ini minum dulu. Kamu pasti kaget, ya?"
Ella masih terisak saat menerima botol air mineral dari bocah itu. Dia tinggal meminumnya karena tutupnya telah terbuka. "Terima kasih." Itu tidak pernah dia lupakan ketika ada yang berbuat baik kepadanya. "Sakit banget pasti, ya, dipukul kayak gitu?" Dia memandang nanar bekas luka di pipi bocah penolongnya itu.
Bocah itu malah tersenyum lebar. "Aku keren, 'kan, bisa ngelindungi kamu?"
Ella tertawa di tengah tangisnya. Dia mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya dan memandang ceria bocah di depannya itu. Sangat gampang mengubah mood gadis ini. Padahal tadi dia benar-benar telihat amat ketakutan.
Mereka pun bergantian meminum air dalam botol itu. Berbagi air di tengah rasa capek yang cukup membuat mereka kelelahan.
Suara berisik terdengar tak jauh dari tempat mereka. Penasaran, mereka menoleh ke asal suara itu dan menangkap sosok anak laki-laki yang tadi mengganggu mereka. Dia tidak sendiri sekarang, membawa beberapa anak seumurannya berjalan menuju tempat mereka.
"Ayo pergi!" ajak bocah penolong itu yang segera menarik tangan Ella berlari bersamanya, menghindari komplotan anak-anak itu.
Ella mencoba menyeimbangkan langkahnya yang malah berakhir terjatuh. Lututnya membentur aspal dan berdarah. "Aduh!" rintihnya agak keras.
Komplotan anak-anak badung itu mendengar keluhan Ella dan langsung memberikan atensi mereka. "Mau ke mana kalian? Kabur?" teriak salah satu mereka.
"Kamu harus kuat. Ayo!" kata bocah penolong itu, masih menggenggam tangan Ella erat. Matanya beralih bolak-balik antara Ella dan anak-anak badung yang akan mendatangi mereka.
Ella berdiri dengan sekuat tenaga dan berlari mengikuti arah tangannya digenggam. Dia membiarkan bocah laki-laki itu mengarahkannya kabur. Bibir bawahnya dia gigit untuk menahan rasa sakit dan perih di lututnya. Dia tidak bisa berhenti sekarang meskipun sedang merasakan perih yang sangat. Sekarang dia lebih takut jika terjadi perkelahian lagi daripada mempedulikan lututnya yang lecet ini.
Awan di langit menebal. Hawa sekitar kian dingin dengan embusan angin pegunungan yang semakin kencang. Guntur juga semakin sering terdengar dari atas sana. Awan bergulung membentang dari satu ujung pandang ke ujung yang lain, berusaha menutupi sinar matahari di siang itu.
Ella mendongak. Langit semakin gelap. Itu membuatnya semakin takut. Dia mengeratkan peganggannya di telapak tangan bocah penolongnya itu. Beberapa kali dia mengalami hal yang tidak mengenakkan saat mendung seperti ini selama hidupnya. Sekarang pun juga. Membuatnya sedikit takut dengan milyaran air yang turun dari langit dalam satu waktu itu.
Hujan pun turun tanpa bisa diprotes. Mengguyur bumi, membasahi tanah juga dua tubuh mungil yang masih berusaha kabur. Sekaligus juga membubarkan kerumunan yang mengarak festival di siang itu. Semua manusia melangkah menjauh dari atap langit, mencari tempat berteduh.
Dua bocah itu juga berhenti di sebuah toko yang sedang tutup. Mereka berteduh di terasnya. Ella langsung duduk dan mengangkat kakinya. Rasanya sangat sakit dan perih bersamaan. Air hujan yang membasahinya juga membantu dirinya kesakitan. Darah yang dia keluarkan banyak. Bahkan sampai sekarang belum berhenti.
"Kamu berdarah!" pekik bocah laki-laki itu. Dia melihat wajah Ella. Gadis itu mulai menangis lagi sambil menggigit bibirnya kuat. Wajahnya memucat dengan badan yang terlihat mulai menggigil.
Dengan segera dia mengeluarkan saputangan yang ada di sakunya dan menyeka luka itu pelan-pelan. Kemudian, dia mencucinya sebentar dengan air hujan yang mengucur dari atap dan mengikatnya di kaki Ella setelah bersih lagi. "Maaf, kamu pasti kesakitan banget, ya? Maaf, ya." Tangannya mengelus-elus rambut gadis itu yang masih basah kuyup. "Jangan nangis lagi. Maaf, aku buat kamu nangis terus dari tadi. Ayo, aku antar kamu ke tempat penjagaan." Dia mencoba membujuk agar Ella menghentikan tangisannya.
Gadis itu menggeleng dengan bibir yang masih tergigit kuat. "Aku gak bisa jalan. Sakit banget kakiku." Kedua tangan mungilnya terkepal.
Bocah itu mengusap wajahnya sendiri. Dia bingung harus bagaimana lagi. Ini salahnya karena tidak segera membawa gadis ini ke pos penjaga. Dia berpikir sejenak. Baiklah, dia harus bertindak untuk menebus kesalahannya ini. "Kamu tunggu di sini dulu, mau, 'kan?"
Ella mendongakkan kepalanya. Dia menggeleng. Tentu saja dia tidak mau ditinggal sendiri. Bagaimana kalau bocah penolongnya itu malah hilang? Bagaimana kalau komplotan tadi malah datang? Bagaimana kalau dia tidak jadi bertemu dengan orang tuanya? Bagaimana kalau dia kedinginan dan malah jadi gembel setelah ini? Dia tidak bisa membayangkan ketakutannya.
"Ini. Kamu pegang ini. Sekarang, 'kan, hujan. Kamu pegang matahari ini buat ganti matahari yang hilang sekarang." Bocah itu menyerahkan kalung berliontin matahari yang dia ambil dari saku celananya kepada Ella. "Matahari ini jadi penjaga kamu, ya. Aku ke tempat penjagaan dulu. Gak jauh dari sini, kok. Cuma di alun-alun sana. Aku gak bakalan lama."
Pikiran polos Ella kecil mengajaknya untuk mengangguk. Dia menerima kalung berliontin matahari itu dari bocah penolongnya dan menggenggamnya erat. Dia melipat kedua tangannya dan menyandarkannya ke lutut yang tidak terluka. "Jangan lama-lama. Aku takut." Dia berucap sangat lirih. Isakan dan air hujan yang sedang turun turut menyamarkan suara gadis itu.
Bocah itu mengangguk dengan mantap. "Aku janji." Kemudian dia meninggalkan usakan pelan nan lembut di kepala Ella.
Gadis itu memeluk kedua kakinya yang tertekuk ke atas. Dia melihat lututnya yang lecet terbungkus saputangan hijau milik bocah penolongnya itu. Ada sulaman dua huruf si sana, G dan J. Sulamannya bagus dan rapi, membuatnya memberikan atensi dengan takjuban di sana. Ada motif bunga juga di sebelahnya. Dia mengerutkan dahinya, menebak bunga apa itu. Perlahan tangisan dan isakannya mereda.
Dia lain sisi, bocah laki-laki itu melangkah tegas untuk menuju pos penjagaan yang ada di sana. Dia tahu dan hafal rute ini. Dia tahu letaknya. Dia menyeberangi jalan dengan hati-hati di tengah hujan lebat yang mengguyurnya. Sudah banyak teriakan dan anjuran dari beberapa orang tua yang melihatnya berjalan untuk berteduh. Namun, dia menolak dan bilang bahwa dia harus segera ke pos penjagaan yang ada di alun-alun. Akhirnya, seorang juru parkir mengantarkannya ke sana, menggandengnya erat seperti anak sendiri. Mungkin juru parkirnya juga tak habis pikir ada anak bocah yang masih berkeliaran di tempat ramai sendirian di tengah hujan lebat seperti ini. Aneh, tapi membuat penasaran.
"Terima kasih, Pak." Bocah itu melepas peganganya pada juru parkir dan berterima kasih.
Juru parkir itu tidak langsung meninggalkan si bocah. Dia tetap menunggu apa yang bocah itu lakukan sekaligus memastikan bahwa bocah itu aman. Benar saja. Dia sampai geleng-geleng melihatnya. Anak berani.
Bocah laki-laki itu mendatangi beberapa penjaga yang berpakaian seragam dan mengabarkan bahwa ada anak kecil perempuan yang kehilangan orang tuanya sedari tadi. Dia menyebutkan gaya pakaian, warna, dan perkiraan tinggi anak itu.
Sang petugas pun segera mengabari orang yang ada di dalam bilik pos. Keluarlah sepasang suami istri dan langsung menghadap si bocah itu. Telunjuk bocah itu mengarah ke tempat dia meninggalkan anak perempuan tadi. "Aku antar ke sana, Om, Tante." Dia berucap tegas.
Wanita itu mengangguk di tengah berjongkok sambil menatap bocah itu. "Jangan menangis, Tante." Bocah itu mengelus tangan wanita itu lembut. Dia dibalas dengan senyuman darinya.
Mereka pun segera berjalan meninggalkan pos, ditemani oleh beberapa petugas. Memastikan semua aman dan untuk jaga-jaga jika harus ada tindakan lanjutan. Saat mereka sampai, sepasang suami istri itu langsung menghampiri si gadis kecil itu.
Ella langsung menangis lagi saat mengetahui orang tuanya telah berada di sampingnya sekarang. Dengan tubuh yang agak bergetar karena kedinginan, dia memeluk kedua orang tuanya. Dia menumpahkan semua kekhawatiran dan ketakutannya sedari terpisah dari orang tuanya. "Aku takut, Bu!" Itu yang dirintihkan Ella sedari tadi.
"Gak papa. Ibu udah ada di sini. Ella, tenang, ya."
Sang ayah juga ikut mengelus anak dan istrinya. Dia menenangkan keduanya yang sedari tadi menangis. Beberapa menit berlalu, dia teringat dengan anak laki-laki yang melaporkan anaknya tadi. Dia harus berterima kasih dan memberinya sesuatu sebagai rasa terima kasihnya. Akan tetapi, setelah menoleh ke sana kemari, dia tidak mendapati anak laki-laki itu di manapun.
"Pak, anak laki-laki tadi di mana?" Pertanyaan itu mengundang atensi Ella dan ibunya.
"Iya, di mana dia? Kita harus berterima kasih ke dia." Sang ibu tidak mau kalah untuk membalas budi.
Namun, percuma. Anak laki-laki itu tidak ditemukan di mana pun. Tidak ada di sekitar mereka. Bahkan, sebenarnya dia telah pergi sedari tadi. Dia merasa hanya perlu mempertemukan gadis yang ditemuinya itu dengan orang tuanya. Dia pun langsung pergi setelah tiba di tempat dia meninggalkan Ella. Dia berlari menjauh, menuju ke kehidupannya sebelum bertemu dengan gadis penyuka bunga itu. Dia merasa berguna dan bahagia karena sudah menyelamatkan seseorang meskipun harus mengikhlaskan uang, saputangan, dan kalung berliontin matahari yang baru dia beli tadi. Yang terpenting baginya sekarang adalah perasaan barunya. Perasaan bahwa dia tidak sia-sia mempelajari ilmu bela diri yang awalnya dipaksakan oleh ayahnya. Dia juga merasa tidak percuma keluar dan berjalan-jalan tadi. Dia tak apa. Hari ini dia belajar banyak hal juga. Belajar berpikir cepat dan tidak egois. Bahkan dia bisa berbagi dengan orang yang belum pernah dia temui sebelummya.
Kelak, dan sampai nanti, dia akan selalu mengenang dan mengingat kejadian ini. Kejadian yang membuatnya ingin terus ada di dunia ini
Satu lagi, meskipun dia meninggalkan barang berharga bagi dirinya untuk gadis itu, dia yakin seyakin-yakinnya bahwa suatu saat nanti pasti akan ada waktu yang disiapkan oleh Tuhan baginya untuk menemukan hal itu lagi.