Kerumunan manusia di sepanjang jalan sarat akan keramaian. Semua menunggu hal yang sama. Mempunyai tujuan yang sama, melihat parade iring-iringan tatanan buah, bunga, dan sayur yang dibentuk sedemikian rupa di atas kendaraan. Ada bermacam-macam tatanan yang unik-unik pula. Ada yang bergaun kelopak bunga, ada boneka raksasa dari sayur-mayur, ada pula karangan buah dan bunga yang sangat besar. Mereka diarak menggunakan kendaraan yang bermacam-macam pula. Ada yang memakai becak, sepeda motor, hingga mobil truk besar yang pengaman muatan pinggirnya tidak dipasang. Berbagai macam hasil bumi yang dirangkai seperti itu berhasil memukau para penduduk dan pengunjung dari dalam dan luar negeri.
Ella sengaja diajak oleh orang tuanya untuk mendatangi festival itu. Mengajak anak bungsu mereka melihat keramaian dan keindahan alam Malang. Sebenarnya, niat mereka hanya akan berkunjung ke Taman Safari di Prigen. Akan tetapi, salah satu penjaga kebun binatang itu mengabarkan bahwa akan ada festival ini. Mereka pun setuju untuk menambahkan satu hari libur lagi demi festival ini. Toh, itu akan membuat Ella senang dengan melihat keunikan dan keindahan parade tersebut. Jarang-jarang ada acara besar seperti ini.
"Ayah!" Tanpa tersadar, Ella melepaskan tangan ayahnya dan membenahi tali sepatunya. Awalnya, dia baik-baik saja karena sang ayah juga berada di sisinya. Namun, karena kerumunan para manusia itu juga bergerak, Ella terbawa arus dan terjatuh beberapa kali karena menjadi sandungan orang.
Di sanalah dia. Kebingungan dengan keadaan sekitar, dalam keramain gelombang manusia yang tak terhitung banyaknya. Si kecil Ella menoleh ke sana kemari, meneriakkan panggilan untuk ayah dan ibunya, tetapi tidak ada satu pun jawaban yang dia dapat. Dengan segera, dia menepi sekaligus mencari tempat yang sepi. Masih ada sisa kewarasan di kepala gadis kecil itu. Dia tetap berteriak mencari ayah dan ibunya meskipun yang dia lakukan hanyalah sia-sia belaka.
Dia pun mulai duduk di bangku jalan yang tersedia. Dia capek. Tidak tahu pula harus bagaimana. Air matanya keluar bersamaan dengan ketakutan yang mulai bersarang pada dirinya. Hari semakin siang namun yang dia dapatkan adalah matahari yang mulai ditutupi oleh awan.
Siang itu mendung.
Dia meringkuk sambil terus terisak-isak dalam kesendirian yang membuat kerisauan hatinya semakin memburuk. Dia tidak bisa membayangkan kalau harus menjadi gembel di umurnya yang masih belia ini. Dia terlalu muda untuk menjadi gelandangan jalan.
"Hai. Kamu siapa? Kenapa di sini sendiri?" Suara itu membuat Ella mendongakkan kepalanya. Dia melirik dari balik tangannya. Ada anak laki-laki berbaju kasual dan celana jeans yang berdiri di depannya. "Kamu terpisah dari ayah sama ibu?"
Ella kecil sempurna mendongakkan kepala. Memperlihatkan wajahnya yang acak-acakan karena dipenuhi dengan air mata. "Kok kamu bisa tahu?" tanyanya.
Bocah laki-laki itu tersenyum. "Aku pernah kayak kamu soalnya. Jadi aku tahu." Dia mengambil tempat di sebelah Ella dan duduk di samping gadis itu. "Jangan takut. Aku di sini." Dia memberikan senyumannya agar menenangkan.
"Tapi aku gak kenal sama kamu."
"Gak papa. Nanti kita bisa kenalan. Yang penting sekarang, kamu jangan nangis dulu. Ayo ikut aku. Aku bawa uang."
"Buat apa?" Ella mengusap kedua pipinya dan menahan sesenggukan yang tersisa. Tak lupa sentrupan hidungnya juga dia harus mengondisikan sekarang. Dia merogoh sakunya dan menemukan tisu yang sudah lecek di sana. Dia pun memanfaatkannya untuk menolong harga dirinya yang tersisa.
"Kamu mau beli apa? Aku bakalan bayar buat kamu. Biar kamu gak nangis." Bocah itu berdiri dan menyerahkan telapak tangannya.
Ella memandang telapak tangan itu sejenak. Mempertanyakan apa yang harus dia perbuat dengan itu. "Kenapa?"
"Gandeng aku. Biar kamu gak hilang lagi," ucap bocah itu tegas dan langsung diindahkan oleh Ella kecil. "Jangan nangis, ya."
Ella mengangguk dan mulai melangkah beriringan dengan bocah itu. Mereka menuju ke jajaran para pedagang yang mengambil untung saat ada acara besar seperti ini. Jarang-jarang mereka menemukan para pengunjung dalam jumlah besar yang tentunya akan berpengaruh pada penjualan dagangan mereka. Sungguh kolaborasi kebetulan yang bagus.
"Kamu mau beli apa?" Bocah itu sedikit mengeratkan genggamannya. Sekarang mereka ada di keramaian. Akan sangat beresiko kalau tidak kuat berpegangan. "Permen kapas mau? Arbanat." Dia menunjuk ke arah penjual yang memajang arbanat di kedua sisi rombongnya itu.
Ella mengangguk. Dia suka permen kapas. Kenapa anak ini bisa tahu itu?
Mereka mendatangi penjual dan membeli satu. "Kok kamu gak beli?" tanya Ella polos.
"Aku gak boleh makan permen kapas. Nanti tenggorokanku sakit. Dimarahin sama Mama."
Ella mengangguk. Mereka pun berjalan lagi, menuju tempat saat mereka bertemu tadi. Kemudian, mereka duduk lagi dan Ella menikmati permen kapasnya. Tanpa gadis itu sadari, bocah laki-laki yang telah berbaik hati menolongnya itu tersenyum.
"Kamu jangan nangis lagi. Kalau terpisah dari orang tua, langsung ke pos penjaga dan bilang ke satpamnya kalau kamu tersesat."
Ella mengangguk sambil menikmati permen kapasnya. "Kamu beneran gak mau ini? Manis. Enak banget, loh."
Bocah itu menggeleng. "Aku sebenarnya juga mau. Tapi aku takut nanti sakit dan dimarahi Mama."
"Mama kamu galak, toh?"
Bocah itu menggeleng. "Mamaku gak galak. Aku aja yang kadang nakal. Jadi Mama nasehatin aku terus."
Ella mengangguk dan bahkan hampir tidak peduli dengan omongan bocah itu. Permen kapasnya lebih penting.
"Kalau sudah, ayo ke tempat penjaga. Mungkin saja orang tuamu sudah ada di sana," ajaknya.
Lagi-lagi Ella hanya mengangguk. Mereka pun beranjak saat gadis itu menyelesaikan permen kapasnya dan membuang batang kayunya di tempat sampah. Aslinya dia akan membuang sembarangan, namun dicegah oleh bocah itu. Katanya, itu akan menyumbat saluran air dan membuat banjir. Ella pun menurut dan membuang sampah pada tempatnya.
"Kamu suka bunga?" tanya bocah itu. Dia sudah tidak menawarkan gandengan tangan karena jalan yang dia pilih cukup lenggang. Hanya terlihat beberapa orang yang berjalan dan beristirahat di tepiannya.
"Suka."
"Bunga apa?"
"Mawar, melati, sama sepatu. Soalnya aku cuma tahu itu doang."
Bocah itu terkekeh. "Bunga di dunia ini gak cuma tiga, loh. Kamu tahu, kan?"
"Iya, tapi aku gak tahu mereka apa aja. Yang ada di rumahku cuma tiga itu," jelasnya.
"Oh, gitu." Reaksi tenang bocah itu memang tidak biasa. "Kamu pernah ke taman bunga, gak?"
Ella menggeleng. "Memangnya di Jawa Timur ada?"
Bocah itu tertawa. "Kenapa harus tanya? Pasti ada, lah. Di Taman Kota Surabaya banyak bunga dan tanaman. Ngapain tanya di Jawa Timur."
Ella cemberut. "Aku kira itu tempat wisata. Kalau tempat wisata, kan, aku bisa kapan-kapan ngajak Ayah dan Ibu ke sana."
Bocah itu mengangguk paham. "Aku gak tahu. Tapi, pokoknya bunga di sekitar kita, tuh, banyak banget. Gak cuma mawar, melati, dan sepatu."
"Iya. Aku tahu. Aku cuma suka aja sama mereka karena ada di rumahku."
"Tapi, tahu, kan, kalau ada bunga anyelir, anggrek, tulip, bugenvil, talang, lili,—"
"Iris, bangkai, kantung semar, sakura, lilac dan lain sebagainya. Aku tahu. Aku udah bilang, kan, aku tahu bunga. Cuma yang ada di rumahku tiga itu. Jadi yang aku tahu bener cuma tiga itu." Entah, Ella hanya kesal saja dikira tidak tahu nama-nama bunga. Kalau di buku, dia tahu banyak. Tapi tidak bisa melihat aslinya dan tidak bisa menyentuhnya. Apalagi merawatnya. Itu berarti sama saja dengan tidak tahu bunga-bunga itu, kan?
"Oke. Oke. Aku hanya bertanya." Bocah itu menangkap wajah gadis yang berjalan di sampingnya itu memerah. Dia tahu gadis itu sedang menahan marah dan dia tidak mau kalau gadis itu menangis lagi. "Berarti kamu suka banget, ya, sama bunga. Sampai bunga yang jarang temen-temenku tahu aja kamu bisa tahu gitu. Hebat."
Berhasil. Bocah itu merasa berhasil karena bisa membuat gadis itu tersenyum kembali. Warna wajahnya sudah kembali seperti semula. Dia pun bernapas lega. Dia pasti akan sangat merasa bersalah jika gadis itu menangis lagi.
"Aku memang suka bunga." Entah untuk apa perkataan itu. Tapi, Ella sekarang merasa malu karena sudah hampir marah-marah kepada orang yang tak dia kenal sebelumnya.
"Ciiieeeeeee ... ada yang pacaran. Cieeee ...." Teriakan itu ditujukan pada mereka. Beberapa anak seumuran mereka sedang duduk-duduk di pinggiran jalan dan memantau pergerakan mereka.
Lengan Ella ditarik untuk lebih dekat dengan bocah itu. "Gak usah takut, ya," bisiknya dan dijawab dengan anggukan serta gumaman kecil.
Mereka pun berlalu tanpa menggubris gangguan bocah-bocah itu. Ella menoleh ke arah anak lelaki di sebelahnya. Ternyata, bersikap bodoh amat itu menguntungkan juga. Dia belajar sesuatu yang baru. Dia pun tersenyum.
"Kenapa?" tanya bocah itu.
"Gak papa. Kamu baik, keren. Mereka gak ganggu lagi."
Bocah laki-laki itu memasang wajah datar. Sesungguhnya, dia sedang menahan malu. Pujian Ella berpengaruh sekali padanya. Dia berusaha agar tidak tersenyum terlalu lebar. Itu akan memalukan.
Mereka berdua berjalan-jalan untuk melihat tanaman yang ada di sekitar. Bocah itu mengurungkan niatnya untuk mengajak gadis kecil yang ditolongnya itu langsung ke pos penjagaan. Dia berpikir ada bagusnya juga untuk membawa gadis itu berjalan-jalan sebentar melihat-lihat tanaman sekitar.
Beberapa tanaman mempunyai papan nama. Jalanan yang mereka pilih masih lenggang. Arak-arakan festival juga masih berlangsung di jalanan besar. Mereka memilih untuk mengambil jalan yang agak sepi, tapi tetap mengikuti jalur festival itu. Terlalu beresiko kalau mereka di tengah-tengah kerumunan.
"Kamu haus, gak?" tanya bocah itu. Dia melihat Ella sedari tadi menelan ludahnya.
"Iya. Tenggorokanku kering," jujurnya.
Bocah itu tersenyum. "Kamu di sini tunggu dulu, ya. Pasti capek karena dari tadi jalan terus."
Ella mengangguk.
"Aku mau beliin kamu minum dulu. Air putih aja mau?"
"Yang dingin."
"Tapi, kan, hawa di sini dingin. Kalau kamu kedinginan gimana?"
"Gak papa. Aku suka dingin."
"Oke." Kemudian bocah itu melangkah menjauh, meninggalkan Ella sendirian duduk di atas trotoar sambil memegang kedua lututnya.
Ella melihat ada ranting yang tergeletak di sebelahnya. Dia mengambilnya dan memulai membuat pola di atas tanah belakangnya. Dia menggambar matahari dan dua manusia biting mini di bawahnya. Mereka saling bergandengan tangan dan tersenyum. Ella menambahkan gambar yang dia bayangkan sebagai permen kapas di tangan manusia biting mini yang mempunyai rambut panjang. Kemudian, dia menambahkan botol minuman untuk yang berambut pendek. Dia puas.
"Kok sendirian? Ditinggal pacarnya, ya?"
Ella menoleh. Itu adalah salah satu anak laki-laki yang tadi mengganggunya di sana. Ella sedikit melangkah ke belakang dan memegang erat ranting di tangannya. Dia berniat untuk memukul bocah itu kalau terus mengganggunya. Akan tetapi, ketakutannya lebih besar hingga tangannya seperti tak bisa digerakkan.
"Kamu, sih, pacaran sama dia. Gak ada gunanya." Kemudian bocah itu tertawa. "Sini. Main sama aku." Dia melangkah mendekat.
Ella melangkah ke belakang, menghindari bocah itu. Merasa ditolak, bocah itu menggeram. "Aku gak ngapa-ngapain kamu, kok. Jangan sok cantik kayak gitu, deh," marahnya.
"Ngapain?" Suara itu membuat Ella menoleh. Itu adalah anak laki-laki yang bersamanya tadi. Untung dia sudah kembali. Lengan Ella diraih dan diarahkan untuk bersembunyi di belakang tubuh anak laki-laki itu. "Cemen banget beraninya sama cewek."
Bugh!
Satu pukulan mengenai pipi kanan bocah penolong Ella. Gadis itu terkejut dengan kejadian di depannya. Itu sangat cepat. Dia baru kali ini melihat perkelahian di depan matanya sedekat ini. Air matanya keluar begitu saja. Bahkan dia tidak bisa berteriak sedikit pun.