Selepas makan malam, Ryan dan Ella duduk-duduk di sofa sambil melihat serial tv yang sedang tayang. Dewi pulang tak lama setelah itu. Ryan pun memilih untuk pulang dan mengurungkan niatnya untuk menginap kali ini. Yang terpenting, Ella sudah tidak sendiri di rumah. Padahal, dia sudah susah-susah membawa tas yang berisikan buku untuk besok. Tidak lupa, dia membawa pulang seragamnya yang sudah kering dan tertata rapi di lemari yang biasa dia gunakan di rumah itu. Ella tadi yang menyeterika seragam mereka berdua setelah maghrib.
Ella segera memasuki kamarnya setelah memastikan kakak perempuannya itu sudah mengisi perutnya malam ini. Agak khawatir, tapi lebih hanya ke pertanyaan formalitas. Dia tidak tahu harus bercakap apa sebelum meninggalkan saudarinya itu. Kalau harus berdua saja, rasanya akan mati topik. Dia memutuskan untuk berpamit ke tempat ternyaman di dunia. Kamarnya adalah tempat pelarian sekaligus tempat teristimewa dalam hidupnya.
Selama bersama Ryan tadi, dia tidak berani menyentuh gawainya. Dia takut kalau akan menimbulkan suasana canggung lagi. Sekarang, saat dia sendiri, dia memeriksa layar dan notifikasinya. Ada empat pesan yang belum dibaca dari nomor asing. Ah, itu nomor Nian tadi. Dia lupa belum menyimpannya. Setelah menyimpan kontak Nian, dia segera menjawab pesan lelaki itu. Isinya, bukan apa-apa, hanya meminta Ella untuk memberitahunya jika sudah memiliki waktu sendiri. Dia pun melaksanakannya.
"Hai. Ryan udah pulang?" tanya Nian suara beratnya saat sambungan teleponnya bersambut. Di sana, dia berbaring di kamarnya sambil bersembunyi di balik selimut tebal. Hawa dingin membuatnya ingin meringkuk. Pun demamnya tidak bisa ditoleran.
"Sudah. Dia gak jadi nginep." Ella membaringkan tubuhnya di atas kasur. Sangat nyaman apalagi dengan perut yang sudah terisi penuh.
"Dia rencana mau nginep?" Nian berdehem beberapa kali. Tenggorokannya panas setelah tertidur sebentar. Dia terbangun karena ada notifikasi masuk.
"Iya. Ya, tapi gak jadi. Soalnya kakakku udah datang."
"Kamu punya kakak?"
"Iya."
Nian menggumam tanda paham. Dia mengeratkan pelukannya pada selimut. Kenapa malam ini begitu tidak bersahabat dengannya? Padahal, dia sudah tidak menghidupkan penyejuk ruangan. "Ryan biasa nginep di rumah kamu, ya?"
"Iya, Kak."
"Oh, berarti kamu emang udah sedeket itu, ya, sama Ryan?"
"Iya."
Nian menghela napas dalam. "La," panggilnya.
"Iya, Kak?"
"Aku berasa kayak wawancarai kamu, deh, kalau gini. Apa gak ada jawaban lain selain 'iya' dan 'iya, Kak?'"
Ella terkekeh. "Maaf. Aku gak tahu harus ngomong apa."
Jeda sejenak. Mereka tiba-tiba terdiam masing-masing.
"La," panggil Nian.
"Iya?"
"Mau dengerin lagu gak?"
"Lagu apa?"
"Lagunya agak jadul, sih, tapi bagus. Mau dengerin?"
"Coba sini kirim. Mungkin aja aku bakalan suka."
Nian pun mengirim file musik ke Ella. Sejenak, Ella menilik judul dari file itu, "Naff–Akhirnya Kumenemukanmu". Gadis itu mengernyitkan dahi. Nama lagu dan bandnya sangat asing. Kemungkinan besar dia tidak pernah mendengarkannya.
"Kamu dengerin itu dulu, ya. Aku kasih kamu waktu lima menit untuk dengerin. Terus aku bakalan telepon lagi. Deal?"
"Oke, deh. Deal."
"Kok kayak gak ikhlas gitu, sih?"
"Ya, terus harus jawab gimana dong, Kak?"
"Jawab pakai, 'iya, Kak.' juga boleh, kok."
"Kak Nian rese'"
"Hahahaha."
"Iya, Kak. Aku dengerin dulu, ya. Nanti kalau udah aku kabarin."
"Gak usah."
"Kok gak usah?"
"Kan aku udah bilang ngasih kamu lima menit buat dengerin. Terus aku langsung telepon lagi."
Ella memutar kedua bola matanya. "Iya, deh, iya." Kemudian, sambungan antara keduanya terputus.
Ella menghela napas berat. Benar-benar berat. Ternyata mengahadapi teman Ryan, sama saja dengan menghadapi Ryan. Tahu begitu dia tidak akan mengindahkan omongan Ryan saat bilang bahwa Nian baik. Sebaik apa pun teman Ryan, ternyata sebelas dua belas dengan sifat lelaki itu. Satu frekuensi dengan sahabatnya. Baiklah, dia harus lebih bersabar.
Lagu itu diputar. Memperdengarkan alunan musik yang memang belum pernah menyapa telinga Ella.
Akhirnya,
kumenemukanmu
Saat hati ini
Mulai merapuh
Hanya mendengar chorus dari lagu ini, Ella bisa tahu maksud di baliknya. Semakin mendengarkannya, dia semakin mengerti maksud kejadian seharian ini. Kenapa dia tiba-tiba diajak oleh Ryan bertemu dengan teman-teman basketnya. Kenapa dia diperbolehkan untuk berkenalan dengan Nian. Kenapa Ryan selalu mengulang perkataan bahwa Nian baik. Kenapa dirinya harus rela menemani Ryan meskipun tahu akan turun hujan. Kenapa dia dimintai nomor telepon oleh Nian. Kenapa Nian bersikukuh untuk mengajak yang lainnya bertemu meskipun sedang demam. Dan banyak lagi pertanyaan atas kebetulan-kebetulan yang ada di pikirannya terjawab oleh lagu ini. Lagu yang indah, nada yang syahdu, dan lirik yang penuh dengan harapan akan sebuah keputusasaan. Semuanya membuat hatinya tercubit.
Satu hal lain yang membuat hatinya ikut menggundah, apakah Nian seputus asa itu sebelum ini? Siapa yang tega membuat lelaki seperti Nian pupus harapan? Apakah sampai saat ini lelaki itu masih merasakan keputusasaan itu?
Gawai Ella berdering. Tanpa berpikir panjang, dia mengangkatnya. "Kak." Suaranya bergetar. Dia berusaha menahan tangis.
"Ella, kamu gak papa? Jangan nangis, ya. Aku gak berniat bikin kamu sedih." Nian panik. Dia sampai mendudukkan diri hingga membuat kepalanya pening mendadak. "Itu lagunya bagus, kok. Tentang seseorang yang menemukan belahan jiwanya. Seperti yang aku rasakan sekarang."
Terdengar isakan dari Ella. Nian bertambah panik. Tapi, dia juga tidak bisa membayangkan kalau dia bisa melihat dan berada di samping gadis itu sekarang. Pasti dadanya akan lebih tercabik-cabik dahsyat. "Ella ...."
"Kak ... Kak Nian sekarang baik-baik aja, kan? Kak Nian udah gak sakit lagi, kan? Aku memang belum pernah punya pacar, tapi kayaknya diputusin pacar, tuh, ngaruh banget dalam kehidupan. Aku lihat temenku begitu, sih." Gadis itu berucap panjang lebar meskipun disela-selai dengan sesenggukan.
Nian bernapas lega. Dingin hawa sekitar digantikan dengan rasa hangat di dadanya. Ya, meskipun ada beribu rasa bersalah dan khawatir, paling tidak, dia tahu penyebab dasar Ella menangis. Bukan semata-mata karena lagu itu. Dia lega Ella mengerti maksudnya mengirimkan lagu lawas itu. Dia harus berterima kasih kepada Ryan. Lewat lelaki itu, dia tahu cara menghadapi Ella yang baru pertama kali tadi dia temui saat ini. "Aku gak papa, kok, La. Aku baik-baik aja. Aku sudah menemukan kamu. Makasih."
Ella mencoba menghentikan tangisnya dan juga ingusnya yang berlomba keluar. Dia segera menyekanya dengan tisu. "Untuk apa?"
"Untuk mau menerima ajakanku buat berkenalan. Kalau misalnya kamu tolak, aku gak tahu bagaimana jadinya. Pokoknya terima kasih."
Ella tersenyum dengan embusan napas tipis yang terdengar lembut. "Jangan terima kasih ke aku. Mungkin kalau bukan karena Ryan, aku juga bakalan nolak buat kenalan dengan Kakak."
Ryan lagi. Sungguh kehidupan gadis itu penuh dengan lelaki tersebut. Hingga membuat Nian yang awalnya sudah berbesar hati seakan ingin berkecil lagi.
"Oke. Aku bakalan terima kasih ke dia. Tapi, kayaknya gak bisa langsung ngomong."
"Kenapa?"
"Takut kena pajak seblak."
Ella terkekeh. "Ryan gak suka seblak. Katanya nanti dia dikira sad guy," tukasnya.
"Ya, kan, cuma ungkapan aja gitu. Biasanya pajak, tuh, seblak. Mana tahu aku kalau dia sukanya nasi goreng Cak Dul."
"Loh, kok, Kakak tahu Cak Dul?"
"Ryan sering cerita, sih, kalau nasi goreng terenak yang pernah dia makan, tuh, punya Cak Dul. Kita juga pernah dibawain, kok. Setelah aku coba, emang enak, sih. Cuma ...."
"Cuma apa?"
"Cuma kenapa gitu, loh, dia bawainnya sekali doang. Coba setiap latihan dia bawa buat kita gitu, kan, lebih afdol."
Ella tak bisa menahan tawanya. Sejenak rasa ibanya teralihkan oleh guyonan aneh Nian. Ella akui orang itu tampan, tapi kelakuan sama saja dengan Ryan. Koplak.
"La," panggil Nian dengan nada terlewat lembut. Membuat Ella tercenung sejenak dan tak menjawab. "Aku bersyukur bisa bertemu dan kenalan dengan kamu lagi. Makasih sudah datang ke kehidupanku lagi."
"Lagi?" tanya Ella heran.
"He-em. Lagi. Kamu gak salah denger, kok. Kita pernah bertemu sebelumnya."
Ella terdiam. Memorinya tidak pernah merekam nama Nian sebelum ini. Apakah dia yang lupa? Entahlah, dia hanya perlu mendengarkan perkataan lelaki itu selanjutnya.
"Kamu inget waktu festival di Malang dan kamu dikasih sapu tangan oleh anak laki-laki yang nolong kamu?"
Mata Ella perlahan terbuka lebih lebar. Festival di Malang? Tentu saja dia sangat ingat. Itu adalah satu-satunya festival yang dia ikuti dan membuatnya trauma setengah mati.
"Kamu ingat anak laki-laki yang sok jagoan nolongin kamu waktu itu?"
Ella tidak menjawab. Dia mencoba menyusuri setiap benang memori kepalanya. Dia tidak ingat wajah anak itu, hanya saja dia ingat perlakuan baik yang ditunjukkannya.
"Itu aku." Nian memberi jeda sejenak. Ini bagai confess yang entah kenapa membuat dadanya berdesir padahal bukan untuk mengeluarkan perasaannya. Bahkan, dia merasakannya dari awal kali bertemu dengan Ella tadi siang. Semoga jantungnya baik-baik saja. "Aku yang dulu nolong kamu saat tersesat. Akhirnya, sekarang aku bertemu denganmu lagi, Ella."
Ella menelan ludahnya. Ini terlalu banyak. Terlalu banyak informasi mendadak yang dia dapatkan dalam satu hari. Terlalu banyak kejadian dan ungkapan untuk hari ini. Dia yang awalnya merasa memahami alur Nian pun merasa bodoh sekarang. Mungkin lagu itu tidak seperti yang dia bayangkan. Seketika dia malu. Merasa terlalu percaya diri.
"Gi-gimana Kakak bisa tahu kalau gadis itu aku? Mu-mungkin Kakak nolong gadis lain." Jujur, ini seperti kebetulan yang terlalu betul bagi dirinya. Dia sampai tidak habis pikir.
"Enggak. Aku yakin itu kamu." Nian menggenggam selimut yang menutupi dirinya. Mencoba mengumpulkan kekuatan yang tersisa untuk membuka satu kenyataan yang sudah dari lama dia tunggu. "Saputangan hijau, La. Kamu ingat, kan?"
Rasanya Ella tidak bisa meneruskan konversasi ini. Semua informasi yang dia dapatkan dari Nian terlalu berat dan terasa menghujam kuat dirinya. Namun, akan terasa lebih tidak sopan kalau dia harus menutup telepon ini sekarang.
"Ada inisial namaku di sana. Sedang ada di Ryan, kan? Aku melihatnya waktu kita latihan basket dua hari yang lalu. Setelah memastikan bahwa itu saputanganku, aku minta ke Ryan untuk mengajak bertemu. Lalu, aku kenal kamu. Dan aku langsung yakin kalau aku gak keliru." Nian membentur-benturkan kepalanya ke belakang. Peningnya bertambah dahsyat dengan degupan jantung yang tidak bisa dikontrol. Sebenarnya, dia ketakutan untuk mengungkapkan ini sekarang, namun dia tidak mau mengundur lagi. Dia telah lama menunggu keajaiban. Sekaranglah saatnya.
"Kak Nian yakin gak salah orang, kan?" Pertanyaan itu berhasil membuat tubuh Nian melemas seketika. Genggamannya pada selimut mengerat.