Ragu,, Memandang pantulan dirinya di depan cermin dengan mangkok kecil di tangan. Bau kimia menyengat, menusuk hidung. Berulang kali meyakinkan dirinya, mengubah kebiasaan yang sudah melekat dalam dirinya, seolah warna merah sudah menyatu dengan dirinya. Bening si rambut merah, sebutan yang tersemat untuknya sejak lama. Bening pun nyaman dengan itu, berulang kali kembali mewarnainya agar tetap merah tapi kali ini yang ada di tangannya adalah pewarna rambut, tapi bukan merah. Melainkan hitam. Sudah sejak lama ia tidak memakai warna asli rambutnya, bahkan mungkin sudah lupa. Kali ini untuk misi mengejar cintanya, Bening harus mengorbankan warna rambutnya. “Huhhhhh” Menghembuskan nafas secara perlahan, kembali meyakinkan diri. “Nggak apa-apa Ning, namanya usaha. Berkorban sedikit ng

