“Mau kemana?” langkah Davin terhenti, mendengar suara Ibunya. Sejujurnya ia sudah mencari momen yang tepat untuk pulang ke apartemen, yakni dengan menyelinap saat ibunya terlelap. Beberapa waktu lalu Ibunya tidak terlihat di sekitar rumah, lagipula waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, yang mungkin saja ia tengah beristirahat. Namun rupanya Nia tetap mengetahui niatnya, saat mengendap keluar rumah. “Mau pulang,” jujurnya. Semakin sering berbohong, semakin besar kecurigaan yang akan tercium dan itu sangat berbahaya. “Kenapa pulang? Sudah larut begini, menginap saja. Besok pulang, kamu pasti lelah.” “Tadinya mau ambil sesuatu di rumah,” “Bisa ambil besok. Masih ada waktu.” Pegangan di pundaknya menguat, Davin tidak punya alasan lain untuk meloloskan diri. “Vin, mau kemana

