10, Ditinggalkan..

1157 Kata
Pagi itu, mereka kembali di hadapkan sesuatu yang membuat mereka bingung. Saat datang seseorang yang tampaknya kini menatap mereka dengan tatapan yang tajam. Tubuh tinggi tegap dengan pakaian serba hitam itu datang dan mendekat. "Mereka orang yang datang untuk menjemputku, kalian pergilah saja dulu." tanpa banyak kata, Ana membuka pintu dan menutupnya kembali. "Nona, apa kamu datang tepat waktu?" tanya salah satu di antara mereka. "Nona? Aira, sebenarnya kamu bekerja untuk siapa?" tanya Alex yang ternyata sudah ada di balik tubuh Ana. Ana membalikan tubuhnya dan melihat ke arah pria itu. "Kenapa? Apa urusanmu?" tanya Ana dengan tegas. "Aira! Kedatanganmu sangat aneh, kamu berubah, kamu bukan Aira yang aku kenal dulu, jelaskan padaku sesuatu," Alex tampak ingin menarik tangan Ana, tapi kedua orang berpakaian serba hitam itu langsung menghadangnya. "Menyingkir dari, Nona kami!" tegas salah satu diantara mereka. Terjadi suatu ketegangan yang membuat mereka merasa, Aira yang mereka kenal bukan lagi Aira yang sama. Tiffany, Aldo dan Aldi tampak sudah keluar dari dalam mobil dan melihat dengan jelas, apa yang terjadi. "Mundur," satu kata dari Ana membuat mereka mundur, dan dua lelaki bertubuh tegap itu tampak menurut. "Selalu akan ada perubahan, dan aku adalah salah satu orang yang menjunjung tinggi kata itu. Ayo kita pergi," Ana menyuruh kedua anak buahnya mundur dan ia berbalik pergi meninggalkan mereka yang kini dilanda kebingungan. Mereka juga bertanya-tanya, apa benar itu Aira yang mereka kenal? *** Waktu berlalu, dan Ana akhirnya memutuskan pergi ke butik yang direkomendasikan oleh Alex. Butik yang akan ia datangi pagi tadi, dan butik yang juga menjadi tempat dimana Alexander pergi bersama kekasihnya, mungkin... Andai mereka bertemu tadi, apa lelaki itu masih mengenalinya? Perubahan di wajahnya sungguh besar, begitu juga dengan sikapnya... "Aku bahkan tidak mengenali diriku sendiri yang sekarang ini, apalagi orang lain. Atau, aku hanya berharap akan begitu jadinya?" gumam Ana. Kendaraan roda empat itu terus melaju, membelah jalan raya di siang hari itu. Tidak memerlukan waktu lama, mereka sampai saat jam makan siang sudah terlewatkan. "Nona, anda belum makan siang. Apa tidak sebaiknya anda makan dulu?" tanya salah satu bawahan Jack yang mengantarkan Ana. "Rasa laparku seketika hilang, aku ingin segera sampai dan menyelesaikan hal yang sangat tidak berguna ini." tekan Ana sembari menatap lurus ke depan sana. Ia sudah tidak nafsu makan saat mengingat Alexander. Dan setelah sampai, ia akhirnya disambut dengan baik di sana. Ana hanya diam dan mendengarkan semua rekomendasi dress terbaik yang mereka miliki. Akan tetapi, salah satu pegawai berkata... "Nona Tiffany sudah memilihkan untuk anda, dan beliau berharap anda memakai dress pilihannya." "Apa?! Siapa kau berani memerintahku?! Dan siapa dia berani mengatur aku?! Tugasmu melayani konsumen, dan bukan mengaturnya! Aku tidak memakai uang Nona Tiffany-mu itu, perlu kau tutup mulutmu, atau aku yang akan membungkamnya?!" tanya ana dengan nada suara yang sangat emosi. "Nona, tolong kendalikan emosi anda." salah satu orang yang bersama Ana akhirnya mencoba meredam amarah wanita itu. "Kami datang untuk membeli, dan juga kami datang ke sini karena menghormati Tuan Alex yang meminta nona kamu datang ke butik kalian! Perlakuan kalian tidak pantas begini!" ujar salah satu anak buah Ana. Melihat tubuh tegap dan wibawa besar dari dua orang itu, seluruh pegawai akhirnya merasakan ketakutan teramat sangat. "Ma–maafkan ucapan pekerja saya, Tuan, dan Nona," "Diam, dan tunjukan saja dress termahal yang kalian miliki! Aku akan membelinya langsung, tapi..., jangan katakan pada mereka!" *** Malam pun tiba.. "Tiffany, kamu panggil kakak kamu, kita akan berangkat sekarang." Rere yang tengah mempersiapkan diri itu ternyata malah menyuruh Tiffany memanggil Ana. Dan beberapa saat kemudian... "Mah, Kak Aira tidak ada di kamarnya." "Tidak ada? Apa dia sudah pergi? Tapi kayaknya belum deh. Kamu sudah melihat ke dalam?" tanya Rere. "Mah, sudahlah..., mungkin dia sudah berangkat." ujar Aldo. Dorongan dari anak-anaknya membuatnya menurut dan melupakan soal Ana. Ricard dan Alex bahkan meminta mereka untuk melihat gadis itu sekali lagi, tapi mereka beralasan kalau mungkin dia sudah pergi. Setelah kepergian mereka, Ana baru saja keluar dari kamarnya. Perasaannya seketika tidak enak, ia mencari-cari maid yang mungkin dekat dengan dirinya. Dengan balutan dress malam berwarna crem itu, ana melangkah sembari mengangkat gaunnya yang terlihat bersinar dan indah. "Apa kalian lihat ayah dan ibu?" tanya Ana saat ia merasa rumah itu sangat sunyi, dan sepi. "Loh, nyonya mengira anda sudah pergi, mereka sudah pergi barusan, Nona An." ekspresi wajah wanita itu tampak panik, dan ia juga akhirnya bingung. Ana diam, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya ia mendengus kesal. "Ya sudah, aku akan berangkat sendiri saja." gumam Ana. Ana mengambil ponsel yang ada di tasnya, dan ia lantas menghubungi Jack. "Jack, tolong jemput aku." "Nona? Bukankah anda harusnya berangkat dengan keluarga anda?" tanya Jack. "Ck, b******n-b******n itu pasti mengatakan aku sudah berangkat, itu sebabnya mereka meninggalkan aku. Sekarang datang ke sini! Aku mau berangkat!" tekan Ana dengan suara yang terdengar sangat kesal. "Baik, Nona." *** Suasana di sebuah bangunan mewah terlihat sangat ramai. Mobil-mobil mewah tampak berderet, dan setiap yang sampai ke depan bangunan, terbukalah seluruh pintu dan para penumpang mobil yang merupakan tamu terhormat turun dari sana. Keluarga Besar Wilson akhirnya sampai juga di sana. Semua orang keluar dari dalam mobil, dan tidak terkecuali Tiffany. Gadis itu menatap ke arah bangunan mewah itu dengan tatapan berbinar. Ia juga senang karena Ana tidak ikut. Dalam hatinya, ia merasa menang, karena ia mengira Ana tidak akan bisa menyusul mereka. Ketiga anak laki-laki keluarga Wilson juga tampak sudah keluar dari dalam mobil dengan penampilan gagah dan tampan. Saat mereka baru saja hendak menuju ke pintu utama, perhatian mereka teralihkan pada sebuah mobil Rolls-Royce yang berharga belasan atau bahkan puluhan miliar. Pintu terbuka, dan seorang pria tampak menuju ke sebuah pintu untuk menyambut kedatangan seseorang yang ia bawa. Pintu terbuka, dan memperlihatkan kaki jenjang seorang wanita yang mengenakan high heels. Perlahan mereka melihat dress berwarna Cream yang wanita itu kenakan. Dan saat melihat siapa wanita itu, seketika mereka terkejut bukan main. "A–aira?!" sentak mereka, hampir bersamaan. "Sepertinya kita datang tidak tepat waktu, Nona. Apa yang harus saya lakukan sekarang?" tanya Jack saat ia menyadari keluarga baru Ana ada di sana, tepat di hadapan mereka. "Hm, sudah terlanjur basah, Jack. Kita datang sebagai pasangan, dan aku hanya ingin kamu memberitahu padaku nanti, kapan aku bisa melakukan tugasku nanti." gumam Ana. Jack tampak tersenyum manis, ia mengulurkan tangannya dan membantu Ana berdiri. Setelah berdiri sejajar, mereka akhirnya melangkah bersama bak sepasang kekasih. Jari jemari lentik Ana sudah berada di lengan kekar Jack, dan hal itu akhirnya membuat seluruh keluarganya menahan nafas. Tapi Alex tampak mengepalkan kedua tangannya saat melihat apa yang dilakukan mereka berdua. "Ayah, Mamah, ternyata kalian baru sampai. Aku sedih saat kalian meninggalkanku tadi, dan untungnya ada seseorang yang bersedia menjemputku dan mengajakku ke sini." ujar Ana dengan suara yang terdengar sangat lembut. Ada suasana yang yerasa begitu berbeda saat tiba-tiba saja ada beberapa pria berpakaian formal serba hitam mendekat ke arah mereka. Mereka tampak berdiri di belakang Ana pada saat itu. Dan apa yang ada di pikiran mereka setelah melihat semua itu?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN