"Siapa dia?!" tanya Alex dengan suara yang cukup meninggi. Tatapannya tajam, seolah menembus indra penglihatan Ana. Ana diam, dan itulah yang kerap kali ia lakukan.
"Tekan kerjaku, kebetulan dia tidak datang dengan pasangan, dan aku menemaninya. Sepertinya kita harus masuk sekarang." tekan Ana tanpa banyak basa-basi dan tanpa menunggu jawaban, langkah kakinya akhirnya menuju karpet merah dan diikuti oleh seluruh keluarganya. Akan tetapi, Alex menatap punggung ana dengan sangat tajam.
Pintu terbuka, memperlihatkan aula pesta yang cukup ramai, namun mereka terlihat tenang, dan juga berkelas. Tiffany masih tidak bisa percaya saat ia melihat Ana datang dengan seorang pria tampan dan berkelas bersamanya. Tidak hanya itu, Ana juga bisa beradaptasi dengan lingkungannya, ia bisa menyesuaikan diri, meski ia tidak pernah datang ke acara berkelas semacam itu.
Tentu saja, ia bisa beradaptasi. Dunia penuh kemewahan dan penuh pengkhianatan sudah ia pijaki sebelum ia menjadi salah satu anggota keluarga Willson.
"Jack, aku masih takut ada yang mengenaliku." gumam Ana. Suaranya sangat pelan, dan hal ini hanya Jack yang mendengarnya.
"Bukankah anda sudah melakukan beberapa rangkaian operasi wajah karena ada luka di wajah anda sebelumnya?"
Ana diam, tapi ia akhirnya mengangguk kecil. Mereka sudah ada di dalam, dan sudah berada di tengah-tengah pesta. Jack yang ada di samping Ana tampak menoleh ke arah Ana. Ia berusaha melepaskan lengannya dari Ana, dan ia akhirnya menggenggam jari-jemari Ana.
Jack tersenyum kecil, "Tenang, semua akan baik-baik saja."
Meskipun hal itu tidak kunjung membuat hati Ana tenang, akan tetapi ia akhirnya berusaha untuk tetap tenang.
"Hm, aku sebenarnya sedikit kesal padamu," jawab Ana.
Jack terkekeh, "Sepertinya kamu harus membuatkan pertunjukan malam hari ini. Kamu siap, 'kan?" tanya Jack. Ana mengangguk, dan mereka pergi dari sana.
***
Suasana masih ramai, dan salah satu MC mulai mempersilahkan beberapa tamu untuk duduk.
Sebuah acara sudah dipersiapkan sebelumnya akhirnya hendak dimulai. Sebuah panggung teater terbuka, memperlihatkan beberapa orang yang memakai topeng pesta.
Di tangan mereka memegang beberapa alat musik, dan keluarga Willson tampak terkejut di saat mereka melihat Ana ada di atas panggung itu juga.
Ana mulai memainkan biola yang ia pegang, alunan lagu dari melodi sebuah lagu berjudul Royalty. Ana memainkan biolanya, instrumen yang begitu mendalam itu membuat siapapun yang mendengarnya akan merasa tersentuh.
Ana melakukannya demi menarik perhatian seseorang, dan ia juga mencurahkan seluruh isi hatinya dalam setiap istrumen yang ia mainkan.
Hatinya sakit saat mengingat seluruh keluarganya habis, tak tersisa. Ia menitikan airmata sembari memejamkan matanya.
Keluarga Willson membelalakan matanya saat melihat apa yang dilakukan oleh Ana. Oleh gadis bernama Aira yang jarang mereka ketahui apa yang ia lakukan selama hidup bersama mereka.
Tanpa terasa, suara tepuk tangan memenuhi ruangan aula. Ana selesai dengan pertunjukannya dan Jack kembali mendatanginya untuk membantunya turun dari panggung. Akan tetapi, seorang wanita tampak datang menghampirinya dan juga menatapnya dengan tatapan berbinar.
Wanita itu terlihat cantik, elegan dan anggun, Ana tersenyum, bukan karena ingin terlihat ramah, tapi ia tahu – inilah yang ia tunggu, dan umpannya akhirnya mendapatkan hasil yang sudah ia targetkan!
"Hebat sekali! Setiap melodi yang anda tuangkan sungguh membuat jantung saya berdebar," ujarnya dengan mata penuh binar kagum!
"Terimakasih, apa anda suka dengan biola?" tanya Ana dengan suara yang terdengar sangat manis.
"Sangat!"
"Kebetulan, saya juga menyediakan kursus biola, kalau anda mau, saja akan bersedia menjadi guru les anda." ujar Ana sembari tersenyum kecil.
"Sayang, apa yang sedang kamu lakukan?" Ucapan seorang pria membuat Ana terdiam sejenak. Ia terpaku saat mendengar suara pria yang menghancurkan dirinya, hidupnya, beserta keluarganya.
Seorang pria berparas tampan dengan postur tubuh tinggi tegap itu menghampiri wanita yang ada di hadapan Ana.
Mereka menatap satu sama lain, Alexander Lemos, pria itu ada di hadapan Ana. Jantung Ana rasanya bak diremas-remas, sakit rasanya.
"Bukankah aku sudah bilang, jangan bicara dengan orang asing!" pria itu menarik kekasihnya lalu pergi dari sana.
Ana terpaku, ia sulit untuk merespon. Tatapannya terlihat sangat dalam, juga menyimpan luka yang mungkin sangat besar.
Sepasang kekasih itu pergi dari sana, dan meninggalkan Ana yang masih terpaku di tempatnya.
"Nona, sebaiknya kita duduk saja dulu. Nona?" Jack yang menyadari reaksi dari Ana yang terlihat berbeda akhirnya menciba bertanya.
"Nona, ada apa? Apa anda—"
"Jack, aku akan ke toilet dulu kamu duduklah dulu." Ana memotong pertanyaan Jack, dan ia mengangkat dresnya lalu pergi dari sana.
Ana bergegas menuju ke toilet, tanpa ia sadari, ada orang yang memperhatikannya dan mengikutinya.
Ia memang ingin ke toilet, dad4nya sesak saat melihat pria itu. Tapi, Ana juga ternyata masih menyimpan perasaan suka, mungkin hal itu terjadi karena Alexander Lemos adalah cinta pertamanya.
Ana menuju ke toilet, dan tanpa bertanya pada siapapun, ia tahu di mana letak toilet tersembunyi yang ada di sana. Di depan sebuah Wastafel Ana mulai menghidupkan kran dan menangis. Rasa sesak di dad4nya masih terasa, dan ia hampir saja tidak sanggup menahannya.
Isak tangis mulai keluar pelan, namun akhirnya teredam oleh kran air yang mengalir deras. Ana hanya menangisi semuanya dalam beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali mencoba bersikap tenang, bak tidak terjadi apa-apa.
Ana segera keluar dari toilet, akan ada babak baru setelah ini, dan ia yakin – Jack pasti akan mencarinya kalau ia berada di sana terlalu lama.
Akan tetapi saat ia membuka pintu, matanya terbelalak lebar saat melihat siapa yang ada di sana dan tampaknya memang sengaja menunggu dirinya.
"Mau apa kamu ke sini?!" Ana bicara dengan suara yang terdengar mengimingidasi. Akan tetapi,borang yang ada di hadapannya tidak menjawab, ia malah menarik Ana ke sudut lain bangunan yang cukup tersembunyi dan juga sepi. Meski ada wanita yang akan menuju ke toilet, mereka tidak akan terlihat dari sudut ruangan itu.
Tubuh Ana menegang saat ia mulai merasakan kedua tangan pria itu mulai mengunci tubuhnya. Bahkan, tubuh pria itu makin lama – makin dekat, dan bahkan nyaris menyentuh bagian dad4 ana yang lumayan berisi dan padat.
"Aku bahkan sampai tak mengenali kamu, dan sekarang aku tanya..., kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanyanya dengan suara sensual.
Ana dapat mencium aroma mint dari nafas pria itu dan kini begitu dekat dan menyapu pipinya. Harum, tapi Ana merasa tidak nyaman.
"Lepaskan aku! Kita tidak seharusnya begini!" Ana berusaha mendorong dad4 bidang itu, akan tetapi sedikitpun dari tempatnya.
"Kenapa tidak bisa? Asal kamu tahu, aku adalah orang yang terlalu berambisi! Kalau aku mau kamu, tentu aku harus mendapatkannya. Lagipula, siapa yang akan menghentikan aku kali ini?" tanyanya.
Kedua mata ana melebar, ia hampir saja menendang pria itu, akan tetapi, ia melihat beberapa orang yang tampaknya sedang mencarinya tanpa alasan yang jelas, Ana akhirnya mengurungkan niatnya untuk menghajar pria di hadapannya. Akan tetapi, sesaat kemudian ia akhirnya menyesali keputusannya di saat ia merasakan bagaiman sensasi saat bibirnya di hisap dan dilahap dengan rakus.
'Kenapa jadi begini?!' batin Ana dengan tidak percaya!