Kami saling menari sampai musik terhenti. Itu juga yang menandakan bahwa aku harus melepas tubuh indah ini. Beberapa hari lalu, aku sudah dengan yakin melepas tubuh yang sudah ada di dalam dekapanku ini. Namun untuk hari ini, aku sungguh tidak rela untuk melepasnya lagi. Apalagi dengan sepasang mata yang menyimpan banyak makna itu. Aku tidak rela untuk kehilangannya lagi. Tetapi, kata-kata itu lagi-lagi mengganggu diriku dan membuat aku harus rela melepasnya. “Kamu harus ingat satu hal. Kamu tidak boleh ada di samping Ajeng untuk selamanya. Kamu hanya akan mencelakai dirinya saja.” Kenapa di saat seperti ini, semua itu selalu terlintas di depanku. Akhirnya dengan terpaksa, aku pun merelakan tubuh indahnya itu menjauh dariku sedikit demi sedikit. Aku lihat wajahnya juga mulai di tekuk

