BAB 21

1766 Kata

Aku yang tidak lagi mau mendengar apa pun dari mulut laki-laki tua yang aku panggil Ayah ini, memutuskan untuk pergi ke teras yang ada di balik jendela kaca yang besar itu. Aku capek dengan tingkah Ayah yang menganggap dirinya sudah menang. “Kamu mau ke mana?” tanya Ayah yang melihat diriku ini menjauh darinya. Meski ruangan ini cukup luas. Orang yang di dalamnya pun tidak terlalu padat. Namun, aku tetap merasa sesak di sini. Aku merasa kesulitan bernapas di tempat ini. Tanpa memperdulikan pertanyaan Ayah yang aku anggap sebagai angin lalu. Aku terus berjalan ke tempat yang aku rasa lebih nyaman. Walau dengan udara malam hari yang dingin, aku tetap memilih ruangan yang akan melihat ke langit lepas itu. “Tunggu, kalau kamu tetap seperti ini. Ayah akan langsung mengumumkan pernikahan ka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN