BAB 8

1712 Kata
“Deg... deg... deg....” Suara detakan jantungku ini semakin terdengar jelas. Aku yakin, Andrew pasti bisa mendengar suara itu. Apalagi, suasana semakin sunyi setelah Andrew mengurung diriku di atas tempat tidur. Memang bukan dalam keadaan terlentang. Namun tetap saja, aku tidak bisa bergerak karenanya. Kedua tangannya ini, sungguh membuat aku semakin sulit untuk lari darinya. Tubuhnya yang sangat dekat denganku, membuat harum sabun yang tercium darinya membuat penciumanku mulai tergoda. Bukan hanya itu. Wajahnya yang semakin mendekati diriku itu, juga membuat diriku semakin salah tingkah karenanya. “I... ini... ini memang Andrew yang aku kenal,” kata hati kecilku sambil melihat matanya yang indah. Aku benar-benar seperti terhipnotis karenanya. Tenaga tiba-tiba saja menghilang, entah kemana. Keinginan untuk segera menghilang dari laki-laki ini pun rahib ke tempat yang tidak diketahui. Bahkan, sikapku yang biasanya selalu menghindari lelaki ini saat seperti ini pun juga tidak muncul-muncul. Sampai yang lebih aneh lagi, hati ini pun seperti ada yang menggelitik. Aku merasa seperti ada dorongan ingin melakukan hal lainnya lagi. Ada apa sebenarnya dengan diriku? Mengapa aku malah hanya berdiam diri di dalam kurungan tangan kekarnya ini? Bahkan, pikiran nakalku ini mulai mengkhayalkan bahwa tanganku sudah menyentuh dadanya yang bidang itu. Namun, sesegera mungkin aku langsung menepisnya dari benakku. Aku berusaha tetap sadar, bahwa orang yang di depanku ini adalah orang yang sudah berusaha membunuhku. Meski, aku sadar akan hal itu. Namun, tubuhku masih tetap terdiam dan tidak melawan untuk keluar dari kurungannya. Apalagi, kedua tangannya ini terdapat banyak celah untuk bisa lepas darinya. Tetapi, aku tetap tidak mau melakukannya. Aku masih terus berdiam dalam bisu. “Kenapa? Apa kamu mau melanjutkannya?” Akhirnya, mulutnya itu mulai mengatakan hal yang membuat diriku semakin gelisah. “Deg... deg... deg....” Jantung ini pun semakin cepat karena mendengar satu kalimat maut itu. Sekujur tubuhku pun mulai terasa sangat panas. Apa lagi dengan kedua pipiku. Aku sudah tidak bisa membayangkan betapa merahnya wajahku ini. Padahal, pendingin ruangan ini sungguh sangat terasa menusuk kulit. Hanya saja, itu tidak bisa menghilangkan rasa panas yang sedang melanda sekujur tubuh ini. “Kamu memang sungguh menggemaskan. Wajahmu ini... memang sangat....” katanya dengan senyuman manis menghiasi dirinya. Bukan hanya itu. Tangannya pun sudah mulai membelai lembut pipiku. Hingga ujung jarinya pun menyentuh telingaku. Sungguh, situasi yang sangat berbeda dengan yang ada di dalam mimpiku. Sungguh gambaran yang sangat berbeda dengan Andrew yang sedang mencekikku dengan sekuat tenaganya. Siapa sebenarnya laki-laki ini? Siapa sebenarnya Andrew yang ada di dalam hatiku ini? Mengapa aku merasa dirinya ini memiliki dua kepribadian yang sangat berbeda? “Deg.” Tiba-tiba, jantungku berhenti setelah mendapatkan sebuah sentuhan lain dari laki-laki ini. Jari jemarinya sudah mulai asyik menyentuh setiap bagian bibirku. Aku yang terkejut, namun tidak melarang tangan nakalnya untuk melakukan hal itu. Karena, aku sendiri pun merasakan kerinduan yang sangat kepada sosok di depanku ini. Orang yang sempat aku rasakan sebagai orang asing. Kini seperti muncul kembali di depanku. “Aku... aku sangat rindu kamu, Ajeng.” Kata-kata manis itu pun keluar dari mulutnya. Matanya yang teduh mengatakan bahwa yang dia ucapkan itu bukan hanya bualan belaka. Bahkan, aku tidak juga merasakan, bahwa yang laki-laki ini lakukan hanya tipuan belaka. Aku pun mulai sadar, wajahnya ini sedikit demi sedikit mulai mendekati diriku. Aku yang biasanya langsung mendorongnya, hanya terdiam bagaikan patung. Mataku ini pun tidak mau sedikit saja berpaling dari wajahnya yang lembut. Sampai, tiba-tiba Andrew pun menghentikan apa yang ingin dilakukannya. Matanya yang tadi terlihat teduh, mendadak berubah menjadi dingin dan kosong. Entah mengapa, aku merasa dia sedang memikirkan sesuatu yang sangat jauh. Namun, apa itu. Aku pun tidak mengetahuinya. Tanpa perlu waktu lama untuk berpikir, Andrew sudah mulai beranjak dari hadapanku. Jarak kami yang tinggal lima centi lagi, sekarang terpisahkan sangat jauh. Dan bahkan, dia tidak mau lagi melihat ke arah diriku. Laki-laki yang hanya sejak tadi hanya mengenakan jubah mandi itu pun, langsung pergi ke arah lemari. Dia dengan sangat tergesa-gesa mencari pakaian yang hendak dia kenakan. Dia tidak memikirkan tentang penampilannya dengan apa yang akan dipakainya. Apa saja yang pertama kali dia ambil dari dalam sana, itu juga yang langsung dia lekatkan di tubuhnya. Tanpa kata atau pun sekedar menoleh ke arahku, dia pun mulai berjalan menuju pintu keluar. “Kamu mau ke mana?” Aku pun memberanikan diri untuk bertanya. “Maaf. Aku tidak bisa melanjutkannya.” Jawaban yang sangat tidak ingin aku dengarkan. “Maksudnya?” Meski, aku sudah tahu maksud dari ucapannya itu. Aku tetap ingin mendengarnya langsung dari mulutnya. “Kamu boleh tidur di sini sesukamu. Aku pergi,” jawabnya dengan dingin. “Kamu mau ke... mana?” belum selesai aku menanyakan hal itu, dia sudah keluar dari balik pintu tebal itu. Tanpa mau mendengar atau pun melihat kembali sosokku yang masih terpaku di tempat ini. Dia tetap melangkahkan diri keluar dari ruangan ini. Tinggallah diriku yang masih bingung dengan keadaan yang ada. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apa dia sedang buru-buru karena teringat janji dengan seseorang? Tapi, dari cara dia berpakaian. Sepertinya, itu tidak mungkin. Penampilannya itu sangatlah bertolak belakang dengan cara berpakaian Andrew selama ini. Dengan keadaan seperti itu, tidaklah mungkin dia pergi menemui seseorang. Atau... Pikiranku ini tidak henti-hentinya memikirkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Aku yang masih bingung akan hal ini, mulai merasakan kehampaan yang tiba-tiba datang mengusik hati ini. Rasa debaran yang menegangkan itu pun, sedikit demi sedikit pun menghilang. Aku baru sadar, bahwa aku ini bagaikan orang yang sedang dicampakan begitu saja. Tanpa penjelasan, dia pun pergi meninggal diriku yang sedikit mulai berharap yang tidak-tidak. “Sadar, Jeng. Sadar. Dia itu bukan pasangan halalmu. Bagaimana bisa, kamu diam saja,” gumamku saat aku tersadar dengan apa yang baru saja terjadi. Aku jadi sedikit bersyukur, bahwa Andrew tidak melanjutkan apa yang sedang menggoda kami. Walau, jujur saja. Aku tetap merasakan kekecewaan saat dia meninggalkan diriku begitu saja. Tapi, hati kecil ini tetap merasakan senang, karena bisa terselamatkan dari perbuatan yang terlarang itu. Sungguh, aneh. Aku yang sudah mulai sadar dengan kesendirian ini pun, masuk ke dalam selimut yang tadi sempat menutupi diriku. Aku yang baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk, kemudian mengalami kejadian aneh lainnya. Tentu akan kesulitan untuk kembali terlelap di dalam tidur malam ini. Aku pun merasa tidak bisa menemukan posisi tidurku yang nyaman. Seluruh sudut tempat tidur ini sudah aku jelajahi, untuk menemukan tempat yang bisa membawaku kembali ke alam mimpi. Namun, aku masih sangat khawatir akan mimpi yang lainnya. Aku masih belum bisa juga memejamkan mata ini. Dari posisi seluruh tubuh ditutupi selimut. Sampai sengaja membuang kain tebal yang membungkus diriku itu dari tubuh ini. Namun, aku masih juga tidak bisa menemukan cara pas untuk terlelap. Akhirnya, aku putuskan untuk bangun dari tempat tidur ini. Aku lihat jam yang ada di atas nakas. Terlihat, jarum pendeknya sudah menunjuk ke arah angka sebelas. Ini sudah cukup malam untuk sekedar berjalan-jalan keluar. Aku pun berjalan mendekati jendela besar yang ada di kamar ini. Jendela yang diingatanku, aku akan terjatuh dari salah satu lubang yang bisa terbuka. Kemudian, setelah aku berdiri sangat dekat dengan jendela itu. Aku pun membuka tirai yang menutupinya. Sebelumnya, aku pun sengaja meredupkan penerangan yang ada di ruangan ini. Aku tidak mau, orang di luar sana melihat diriku dengan sangat jelas. Bagaimana pun, seperti itulah yang biasanya terjadi di saat malam hari. Jika cahaya lebih terang dari dalam ruangan, maka orang yang ada di luar sana akan bisa melihat kita dengan sangat jelas. “Kemana dia pergi malam malam seperti ini,” kataku sambil melihat kota yang dipenuhi dengan lampu lampu jalan. Aku tidak bisa melihat jelas, apa yang sedang ada di jalanan kota itu. Tempat ini yang berada sedikit di pedalaman dan berada di tempat yang sangat tinggi. Hanya bisa melihat atap-atap rumah dengan berbagai bentuk. Dan juga, kelap kelip cahaya yang ikut menghiasinya. Sangat cantik pemandangan malam ini. Namun tetap saja, itu tidak bisa merubah kegundahan yang sedang aku rasakan. Ditinggal seorang diri oleh orang yang membuat hati ini hangat. Tetapi, orang itu pula yang sudah membuat hariku suram dengan membayangkan hal menakutkan lainnya. “Andrew. Sebenarnya, kamu kenapa?” Aku hanya bisa bertanya pada dinding yang bisu ini. Namun, begitu beratnya mulut ini untuk langsung menanyakan hal ini pada yang bersangkutan. Lidahku ini seketika akan terasa kaku, saat berada di depannya. Sungguh beratnya, diriku untuk langsung mengucapkan kata ‘kenapa?’ ‘ada apa?’ ‘mengapa?’. Entahlah. Di sudut hati ini, ada rasa takut jika aku mendengar kenyataan dari semuanya. Aku merasa belum sanggup mendengar semua jawaban yang akan dikatakan lelaki itu. Namun begitu, aku tetap mengumpulkan keberanian untuk melakukannya. Aku tidak mungkin terus berada di dalam situasi seperti ini. Kegelisahan yang terus menghantui diriku. Apalagi, aku juga tidak bisa menghilangkan sosok laki-laki yang terlanjur mengisi hatiku. Meski, dia masih belum masuk terlalu dalam. Namun, lelaki itu juga tidak bisa begitu saja menghilang dari sana. Terlalu banyak bekas yang dia tinggalkan. Terlalu banyak kenangan yang sulit untuk dilupakan. Terlalu banyak kejadian yang baru pertama kali aku rasakan, dan itu pun hanya dengan dirinya seorang. Itulah mengapa, terlalu sulit untuk diriku membuang semua itu. Meski dengan semua yang sudah dia lakukan. Tapi, aku tetap merasa bahwa malam itu sebenarnya bukanlah Andrew yang asli. Tetapi, bagaimana pun aku mengelaknya. Orang yang sudah membuat bekas di leherku ini, memang benar-benar Andrew Alexander. Orang yang selalu ada di sampingku malam itu. Tentu, tidak akan bisa sempat bertukar peran dengan yang lainnya. “Apa yang harus aku lakukan sekarang?” tanyaku sambil memandangi pemandangan indah ini seorang diri. “Apa... aku harus mencari Farale dan memaksa dia untuk mengatakannya?” Tiba-tiba, ide yang sempat terpikirkan itu muncul lagi. “Ah, tidak tidak. Farale tidak akan mungkin mengkhianati bosnya.” Dalam waktu sekejap, aku pun langsung berubah pikiran. Bagaimana pun, aku sudah pernah mencoba memancing bawahan setianya itu untuk buka mulut. Namun berkali-kali juga, dia terus menghindar untuk menjawab semua pertanyaanku. Entah, karena dia memang tidak tahu. Atau, dia memang tidak ingin. Lalu, untuk apa aku jauh-jauh mengejar dia sampai sini? Kedatanganku ke kota ini, bukanlah untuk liburan. Namun, aku harus mencari tahu dengan jelas apa yang sebenarnya sedang terjadi. “Baiklah. Aku harus berani menanyakan langsung kepada orang itu,” kataku dengan tekat yang bulat. Aku kumpulkan semua keberanian yang aku miliki. Aku harus sanggup mendengar semua kemungkinan yang akan dia sampaikan. Mau itu hal yang buruk sekali pun, aku harus siap.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN