BAB 9

1751 Kata
Malam ini, aku benar-benar tidak bisa memejamkan mata. Aku habiskan waktu dengan memandangi pemandangan di luar jendela. Walau sesekali, aku juga duduk di depan layar kaca yang menampilkan acara dengan bahasa yang kurang aku kuasai. Aku juga sesekali melihat ke arah pintu masuk. Aku berharap laki-laki yang tadi meninggalkanku, kembali lagi ke ruangan ini. Walau, aku sudah mendengar sangat jelas dari mulutnya. Bahwa, dia tidak akan kembali lagi ke sini. Aku disuruh menghabiskan waktu seorang diri di tempat yang sangat asing ini. Lagi lagi, aku melihat benda yang sejak tadi tergeletak di sampingku. Hampir beberapa menit sekali, aku melihat layar kecilnya itu. Namun, tidak juga ada notifikasi yang keluar di sana. Baik itu sebuah pesan singkat. Atau pun, sebuah panggilan yang tidak terjawab. “Sudah jam dua pagi,” gumamku sambil melihat angka yang tertera di sana. “Apa aku telepon Farale aja ya?” Aku semakin gelisah dengan keadaan laki-laki itu. Meski, dia sudah tinggal di tempat ini dalam waktu yang cukup lama. Tetapi. Aku tetap ingin mendengar bagaimana keadaannya. Bagaimana pun, ruangan tempat aku berada sekarang, adalah tempat tinggal dia selama dia di sini. Kemana lagi dia akan pergi selain tidak ke tempat ini. Ya, walau dia dengan sangat mudah membuka kamar hotel lain untuknya. Apalagi, asistennya itu juga berada di negara ini. “Kemana dia pergi ya?” Meski begitu, aku tetap saja khawatir dengan dirinya. Ada perasaan yang membuat aku tidak nyaman. Dengan gaya hidupnya dulu, Andrew sering sekali pergi ke tempat-tempat yang berbau alkohol. Meski, setelah aku menjadi istrinya, kebiasaan itu sudah tidak pernah lagi aku lihat. Walau hanya dengan status istri palsu, aku masih merasa bangga bisa membuat dia meninggalkan hal itu. Tetapi perasaan dia sedang menyentuh minuman itu lagi, kini mulai menghantui diriku. Di negeri orang, dia melakukan hal itu. Lalu, dengan siapa dia menghabiskan waktu tidak sadarnya malam ini. Apakah Farale ikut menemaninya. Pikiranku ini semakin kacau membayangkan kemungkinannya. “Lebih baik, aku telepon Farale.” Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menghubungi nomor Farale. Tetapi, ternyata menelepon di luar negeri tidak semudah itu. Berkali-kali, aku mencoba menghubunginya. Tetap saja, nada dialihkan yang berbunyi. Namun setelah itu pun, laki-laki yang sedang aku hubungi itu tidak langsung menerima panggilanku. Aku semakin gelisah. Perasaan bersalah semakin menyelimutiku. Aku jadi merasa kedatanganku ke tempat ini hanya sebagai pengganggu. Andrew jadi kehilangan tempat tinggal karena diriku. Dia juga terlihat tidak nyaman saat bersamaku. Bahkan, dia juga harus kembali ke dunia gelapnya. Itu pun karena aku. “Apa, kalau aku tidak pergi ke sini, dia tidak akan seperti ini?” pikiran jelek lainnya mulai menggerogoti otakku. Aku memang belum terlalu mengenal laki-laki itu. Bahkan, pertemuan pertama kami memang seperti pikiran yang sedang membebani diriku. Saat itu, akulah yang berada di samping Andrew dalam keadaan sama-sama tidak sadarkan diri. Jika saat ini dia melakukannya lagi, maka siapa orang yang akan berada di sampingnya. Andrew juga pernah mengatakan, bahwa kejadian yang dia alami seperti malamku bersamanya. Itu bukanlah kejadian pertama kalinya. Dia sudah berkali-kali terbangun dengan berbagai perempuan di sampingnya. Tetapi, dia tetap menyakinkan diriku bahwa dia tidak pernah berhubungan layaknya suami istri dengan perempuan mana pun. Walau dia tidak sadarkan diri, tetapi dia tidak pernah ada keinginan untuk melakukan hal itu terhadap perempuan mana pun. Tapi itu adalah kejadian sebelum dia bertemu dengan diriku. Setelah dia bersama denganku, itu semua berbeda. Sering kali, dia mengajak aku untuk melakukan hubungan terlarang itu. Dia dalam keadaan sadar sewaktu memintanya. Saat itu, aku masih sanggup menolaknya. Karena, aku hanya ingin melakukan hal itu dengan suamiku. Atau lebih tepatnya, suami halalku. Tidak pernah terbayangkan olehku, bahwasannya prinsipku itu bisa luntur malam ini. Jika beberapa saat lalu Andrew tidak memutuskan untuk berhenti dan pergi. Mungkin saat ini, aku sudah melakukan hal itu dengan laki-laki itu. Aku memang sudah mulai menyukai lelaki itu. Tetapi, rasa suka itu belum sampai taraf mencintainya. Aku masih membutuhkan banyak waktu untuk lebih mengenalnya. Namun, waktu berbulan-bulan ini membuat aku sangat tertekan dan ingin melepaskannya bersama dengannya. Meski, aku tidak berharap memuaskan rasa keputusasaanku dengan menghabiskan waktu di tempat tidur dengannya. Walau begitu, aku hanya manusia biasa. Ada kalanya, di saat-saat seperti tadi imanku sedikit tergoyahkan. Orang yang lama tidak aku temui, kini dia muncul dengan mengatakan bahwa dia kangen kepadaku. Saat itu pula, tubuh ini menjadi semakin lemah. Aku semakin menginginkan lebih dari semua sentuhannya. Padahal sesaat sebelumnya, aku merasa ketakutan yang sangat kepada dirinya. Namun, dalam waktu sekejap rasa itu pun hilang. Aku memang sangat bimbang. Mana yang harus aku yakini. Andrew yang sangat lembut dan selalu menggodaku. Atau, Andrew yang kasar dan selalu ingin membunuhku. Aku masih belum bisa memilih di antaranya. Dan aku juga tidak ingin memilih untuk menjauh darinya. Karena, ada perasaan aneh yang selalu mencegah diriku untuk menjauhi laki-laki itu. Tetapi saat ini, kegelisahan yang lain semakin melandaku. Aku merasa malam panas antara aku dan Andrew, akan dia lalui bersama perempuan lain. Apalagi, setelah aku mencoba menelepon dia atau pun asistennya. Tidak satu pun dari mereka yang bisa aku hubungi. Pikiranku ini pun semakin tidak menentu. Saat ini, tidak ada yang bisa aku lakukan. Aku hanya bisa mondar mandir tidak jelas arah tujuannya. Kuku ibu jadiku ini, rasanya pun sudah sangat perih. Karena, jika aku sedang gelisah seperti ini, bagian tubuhku itulah yang menjadi sasaran gigi putihku. Dia tidak akan henti-hentinya menyiksa bagian kukuku itu. Kegelisahan yang tidak berujung ini, benar-benar sangat tidak nyaman. Bagaimana ini? *** “Hah? Udah jam berapa ini?” Aku tersentak kaget, saat melihat jendela kamar yang tirainya tidak aku tutup itu sudah terlihat sangat terang. Tanganku ini pun langsung meraih benda kotak kecil yang sejak malam selalu aku lihat itu. Di sana, waktu yang tertera sudah menunjukkan jam lima lewat lima puluh. Tanpa sadar, ternyata aku pun tertidur di atas kursi panjang ini. Lelah memikirkan sesuatu yang tidak tahu jalan keluarnya, Akhirnya, tubuhku ini pun tidak sanggup menahannya. Hingga, aku bisa sedikit memejamkan mata ini beberapa jam yang lalu. Tanpa pikir panjang, aku pun langsung lari ke kamar mandi. Ini sudah cukup pagi untuk bisa keluar mencari tahu. Meski, aku harus melakukan semua kewajibanku di pagi hari. Aku melakukan semua rutinitasku dengan sangat terburu-buru. Aku yakin, aku bisa menemukan kamar Farale, jika aku menunggunya di lobi. Tidak mungkin, dia akan terus ada di kamar. Dia pasti harus mengurus keperluan bosnya itu. Kalau pun tidak, aku pasti masih bisa melihat sosok yang menghindari diriku keluar dari hotel ini. Bagaimana pun, dia pasti masih berada di hotel yang sama. Saat dia keluar dari sini, sudah cukup malam untuk dia harus pindah hotel. Apalagi, semua keperluannya ada di kamar ini. “Ting... nung.... Ting... nung.” Baru saja, aku selesai merias diri. Tiba-tiba, suara bel kamar berbunyi. “Andrew?” Nama itu yang pertama kali langsung keluar dari mulutku. Tapi, pikiranku langsung berubah. Mana mungkin itu Andrew. Buat apa dia menekan bel untuk masuk ke ruangan ini. Dia punya kuncinya. Atau, dia memang tidak membawa kartu untuk masuk ruangan ini? Lalu, bel itu pun kembali berbunyi. Karena, aku tidak langsung membuka pintunya. Maka, aku putuskan untuk membuka pintu tersebut. Setelah aku melihat sosok di baliknya. Orang yang aku lihat, bukanlah orang yang sedang aku pikirkan. Bahkan, dia juga bukan asistennya yang membawa aku ke tempat ini. Laki-laki yang berdiri di depanku, berpenampilan sangat rapih. Dengan setelan bagus dan sebuah kain merah bentuk segitiga melilit di pinggangnya. Tubuhnya juga sangat tinggi. Serta wajahnya yang sangat terlihat jelas bahwa dia adalah orang asing. Apalagi, warna rambutnya yang kuning keemasan. Aku yakin, itu bukanlah warna rambut yang di cat. “Buenos dias Senora,” sapa laki-laki bule itu. “Mmmm... ya.” Tentu aku tidak tahu cara membalasnya. Namun, aku tahu bahwa dia sedang mengucapkan kata ‘selamat pagi’. “Lu siento, mom. Este es tu pedido,” lanjutnya lagi. Dia pun menyodorkan nampan yang sejak tadi dia pegang. Dia atasnya, ada sepotong roti dengan selai berwarna ungu pekat. Dan di sampingnya, ada segelas s**u putih. Laki-laki ini, pasti seorang pengantar makanan yang ada di hotel ini. Tapi, siapa yang sudah memesankan makanan ini untukku. “Mmmm... gracias,” jawabku sambil mengambil benda yang ada di tangannya itu. Tanpa merasa bahwa itu mungkin saja pesanan kamar lain. Aku pun mengambil sesuatu yang dia berikan itu. Aku pun juga sempat berpikir, bahwa Farale lah yang sudah memesankan makanan ini untukku. Bagaimana pun, makanan ini terlihat sangat sederhana untuk yang ada di hotel mewah ini. Hanya mereka berdua yang tahu, bahwa lidahku ini memang tidak biasa dengan makanan-makanan yang aneh. Setelah menutup kembali pintu itu, aku pun masuk dengan membawa makanan itu dan meletakannya di atas meja yang ada di depan televisi. Aku tidak langsung memakan makanan tersebut. Karena, aku juga sempat berpikir bahwa bisa jadi ini sarapan yang akan dimakan oleh Andrew. “Krryyuuukkkk....” Namun tiba-tiba, perut ini pun langsung bereaksi setelah melihat makanan ini. “Mmmm... ternyata, kamu lapar ya?” Aku menanyakan sesuatu yang sudah pasti pada tubuhku itu. Bagaimana tidak, semalam aku langsung tertidur di tempat tidur. Bahkan, malamnya aku terbangun karena mimpi buruk itu. Keadaan perut kosong, mataku harus terjaga di malam hari. “Mmmm... apa kita makan saja ya? Lagi pula, dia bilang tidak akan balik lagi ke sini. Jadi, pasti makanan ini buat aku,” kataku dengan sangat percaya diri. Tanpa perlu berpikir lama lagi, aku pun langsung melahap habis isi dari piring dan gelas itu. Aku tidak memperhatikan bagaimana cara aku makan. Lagi pula, di kamar ini hanya aku sendiri. Di tambah lagi, aku memang sudah sangat lapar. *** Beberapa menit setelah aku rasa perutku ini sudah mulai mencerna semua makanan. Aku pun langsung keluar dari kamar. Aku berdiri di depan pintu eskalator yang akan membawa diriku ke bawah. “Ting....” tidak lama saat aku berdiri di sini, pintu ini pun terbuka. Namun, aku tidak langsung masuk ke ruangan sempit itu. Mataku menatap kotak bergerak itu yang kosong tanpa siapa-siapa di dalamnya. Tiba-tiba, aku ragu untuk segera turun ke bawah sana. “Mmmm... apa Farale udah keluar atau belum ya?” gumamku. Karena ragu, aku pun membiarkan lift itu tertutup dan pergi. Aku memutuskan untuk naik di putaran selanjutnya. Setidaknya, aku bisa membuang sedikit waktu untuk tidak segera menunggu di lobi. Aku khawatir akan menunggu terlalu lama di sana. “Klik...” Tiba-tiba saja, pintu kamar yang berada di samping lift ini pun terbuka. Seorang laki-laki juga keluar dari dalam sana. Sosok yang berpenampilan sangat berantakan itu, membuat aku membeku dalam seketika. Dan yang membuat aku semakin terkejut adalah orang yang ada di belakangnya. Aku sungguh tidak menyangka melihat pemandangan seperti ini di pagi hari. Sungguh....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN