“Fanya maaf babe, aku gak bisa anterin kamu ke apart, aku ada urusan mendadak yang gak bisa aku tinggalin.”
Kening Fanya mengerut. “Urusan apa? Yaudah aku tunggu di café.”
“Gak bisa. Café-nya tutup.”
“Kok tutup?”
“Ya karena aku ada urusan ... udah dulu ya Fan, aku beneran buru-buru see you tomorrow babe.”
.
.
.
Fanya mendengus, kesal. Sudah satu jam ia menunggu Gibran di parkiran dekat kantin tapi pemuda itu dengan sesuka hati membatalkan janji temu mereka. Seenaknya bilang tak bisa datang dan meninggalkannya begitu saja. Kenapa coba tidak mengatakan padanya sejak tadi? Kenapa baru sekarang? Kalau tahu hari ini Gibran akan sibuk ia isa membawa kendaraan sendiri, atau bisa saja ia juga ikut bersama Dania, ataupun dengan Kevin. Kalau sudah begini bagaimana? Mau pulang dengan siapa?
Fanya mendengus, terpaksa ia harus memakai taksi.
“Gak nyangka sih Alvin sebucin itu kalo udah pacaran. Kemana-mana tuh cewek di pantau, di anterin. Dia ... beneran naek kasta, dari rakyat jelata jadi ratu.”
“Bukan lagi anjir, yang hebatnya kok bisa Alvin takluknya sama cewek kayak dia? Lo tau Kak Angel yang sempet Alvin tolak? Senior kita. Dia punya segalanya woy, dia lebih cantik, bodynya seksi, berkelas lagi, dia juga mantan Miss kampus, semua orang suka sama dia. Tapi Alvin? Malah pilih cewek gak jelas kayak cewek itu. Heran sih, si Jihan punya pelet apa sampe Alvin bisa nerima dia dan ngerubah Alvin sampe sederastis itu.”
Fanya menggeram dengan kedua tangan yang mulai mengepal kesal begitu mendengar gibahan dua orang perempuan yang melewatinya. Hatinya yang sedang panas mendadak semakin panas setelah mendengar kalimat itu. benar-benar membuat emosinya memuncak, meletup panas tak tertahankan lagi.
“HEH!” seru Fanya seraya memutar badan. “Lo berdua berhenti!” seru Fanya lagi yang membuat dua orang perempuan itu berbalik menatapnya.
“Apa lo? Yang sopan kalo sama senior.” Seru salah satu perempuan dengan rambut bergelombang.
“Sis dia temennya si Jihan.” Ujar perempuan lain yang berambut lurus.
“Ahh pantesan. Lo juga yang lagi deketin Gibran kan?” Perempuan itu tersenyum meremehkan seraya menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Hebat ... circle pengincer cowok kaya raya.”
Fanya menatap bengis dua orang itu tanpa rasa takut tak lama kemudian menarik ujung bibirnya, menertawakan dua orang itu. “Emang kenapa? Iri? Bilang boss. Atau ... jangan bilang sebenernya kalian gak mampu deketin mereka dan kalian iri liat gue sama temen-temen gue yang bisa masuk circle pertemanan mereka.” Fanya menyeringai. “Gak usah banyak bacot, karena sekalipun mereka gak deket sama kita. Mereka gak mungkin deket sama manusia toxic kayak kalian.”
Kedua perempuan itu saling berbisik, kemudian menatapnya lagi sebelum beranjak pergi begitu saja.
“HEH! Beraninya lo malah kabur!” seru Fanya.
“Fan ... ada apa ini?”
Fanya terjengit, lalu menoleh ke arah kanan ketika Jihan yang tiba-tiba muncul, memegang lengan kanannya. Jihan datang bersama Alvin yang kini tengah mengamati mereka di samping mobil mewahnya. “Gak ada apa-apa.” Jawab Fanya santai.
“Terus mereka siapa?”
Fanya mendelik kemudian mendengus kesal. “Orang gak penting!”
“Orang gak penting kok kesel banget sih?” Tanya Jihan lagi. “Kenapa? Ada masalah apa? Dan ... Lo tadi bukannya bilang mau pulang bareng Kak Gibran ... kok masih di sini aja?”
“Taulah gak usah bahas dia. Gue balik bareng Kak Alvin deh ya? Boleh gak?”
Jihan terkekeh kecil. “Bolehlah, ayo. Tapi rencananya kita mau jalan dulu. Ikut aja sama kita, daripada suntuk.”
“Sepet banget muka lo Fan.”
“Gimana gak sepet? Temen lo buat gue nunggu satu jam dan dia malah bilang ada acara mendadak. Aturan dia anterin gue dulu atau gimana, dia maen ninggalin gitu aja. Mana dia kayaknya lupa lagi sama ulang tahun gue. Gue ngarepin surprise dari dia begitu ketemu. Taunya bahas aja kagak.” Omel Fanya berapi-api.
“Eh ... emang ini tanggal berapa?” tanya Jihan seraya membuka ponselnya untuk melihat kalender. “Astaga!!! Sorry Fan, padahal udah gue set alarm tapi kok gak nyala ya?” ujar Jihan lagi dengan penuh penyesalan.
Fanya menekuk wajahnya semakin dalam. “Kayaknya beneran gak ada yang inget ulang tahun gue. Sahabat gue aja gak inget.”
“Sorry ... .” Jihan memeluk Fanya dengan erat. “Gue beneran gak inget Fan, lo tau sendiri gue lagi sibuk-sibuknya, ini alarm juga bisa-bisanya kok gak nyala. Sorry ... gue beneran minta maaf.”
“Udah daripada lo ngambek mendingan belanja yuk, gue traktir sebagai hadiah ulang tahun lo.”
Fanya mengangkat wajahnya, menatap Alvin yang menatapnya dengan santai. “Mau gak lo? Kalo gak mau yaudah gue anterin pulang aja abis itu gue jalan berdua sama Jihan.”
“Gue gak enak ... masa baru akrab sama lo, lo udah mau belanjain gue?”
“Alah gak usah banyak mikir.” Alvin membuka pintu belakang. “Masuk. kita shopping, lo harus bahagia di hari ulang tahun lo.” Ujar Alvin.
Setelah Fanya memasuki kendaraan itu Alvin dan Jihan pun masuk, duduk di kursi depan. Tanpa Fanya sadari Alvin dan Jihan saling melirik kemudian saling melemparkan senyuman penuh arti.
.
.
.
Selama empat jam mereka berkeliling di mall, berpindah dari satu tempat ke tempat lain mencari berbagai kebutuhan yang Fanya butuhkan. Fanya benar-benar dimanjakan oleh Alvin dengan dibelikan pakaian, lengkap dengan seluruh aksesoris dan juga tas. Tak ada kesempatan menolak bagi Fanya, semuanya Alvin dan Jihan pilihkan begitu saja.
Pemandangan romantis pun tak luput dari perhatian Fanya, ia begitu memperhatikan bagaimana dalamnya tatapan Alvin pada Jihan dan juga bagaimana lembutnya sikap Alvin pada Jihan, banyak sekali hal sederhana tapi begitu memperlihatkan rasa sayang Alvin pada Jihan. Saat Alvin mengusak kepala Jihan, saat merangkul pinggang Jihan dan saat bagaimana Alvin tak melepaskan genggamannya pada tangan Jihan ketika mereka berjalan di tempat itu. Ia benar-benar menyaksikan hubungan tak biasa dari mereka berdua.
“Beli apa lagi Fan? Mau sekalian kalung? Atau ... jam tangan?” tanya Alvin seraya menoleh ke arah Fanya yang berada di sebelah kanannya Jihan.
“Gak usah. Ini udah cukup kok. Sekarang mendingan kita makan deh, gue laper atau ... gue bisa makan sendiri kalian jalan aja berdua, kalian mau ngedate kan tujuannya?” Ujar Fanya. “Gue makannya gak jauh kok di lantai tiga doang, nyari makanan ringan.” Lanjut Fanya seraya tersenyum dan menaik turunkan alis, bermaksud menggoda sahabatnya itu.
“Kita udah jalan berjam-jam, gue juga capek mau makan.” Sergah Jihan, sebelum Fanya semakin menggodanya.
“Yaudah kita makan.”
“Tapi gue mau ketoilet dulu, kalian duluan aja entar gue nyusul.” Ujar Jihan.
“Gue anterin.”
“Gak usah Kak, deket kok toiletnya, gue janji gak bakalan lama. Gak etis banget ke toilet cewek di anterin.” Lanjut Jihan seraya terkekeh kecil.
“Yaudah kita tungguin di sini.” Ujar Alvin tegas. Jihan hanya bisa mengangguk pasrah kemudian beranjak pergi meninggalkan Alvin bersama Fanya.
“Kak.”
“Hm?” Alvin melirik Fanya sesaat sebelum menatap punggung Jihan lagi yang hendak memasuki toilet.
“Gue liat lo makin posesif sama Jihan. Kalian udah jadian?”
Alvin menoleh ke arah Fanya dengan cepat. “Gue gak posesif.”
“Gak kerasa kali. Gue liat dari tadi lo pegangin tangan Jihan mulu. Kenapa? Kalian lama-lama kayak pacaran beneran tau Kak, gue sampe heran dan bingung aja. Padahal gue tau semuanya dari awal, tapi gue ngerasa kalian senyata itu. Apalagi hari ini. Kemaren kalian bucin, tapi hari ini kalian lebih bucin.” Jelas Fanya yang membuat Alvin mengalihkan pandangannya.
Alvin menarik nafas panjang seraya menumpukan lengan pada pagar pembatas, kemudian menghembuskannya lagi lalu melirik Fanya sekilas, setelahnya kembali termenung.
Alvin tak tahu kenapa ia bersikap seperti itu. Akan tetapi ia sangat menyadari hari ini ia memang terlalu banyak memperhatikan Jihan bahkan dari gadis itu keluar kost, ia pun untuk kedua kalinya menunggu kelas Jihan selesai, menunggu Jihan tepat di depan kelas gadis itu. Lalu skinship. Ia juga sangat menyadari itu, mereka terlalu banyak skinship padahal sebenarnya ia tak begitu menyukai melakukan hal itu. Tapi bersama Jihan, rasanya ... minimal mengusak kepala Jihan adalah rutinitas biasa ketika mereka bertemu dan merangkul pinggang ramping Jihan mungkin akan menjadi kebiasaannya lain.
“Lo cemburu sama Kak Erlangga ya Kak?”
Alvin menatap ke arah Fanya lagi.
“Jihan cerita ke gue semalem si Erlangga kasih Jihan bunga, tapi bunganya lo buang.”
Alvin memalingkan wajah, menghindar dari Fanya.
Semalam memang menjadi malam yang sangat menyebalkan untuknya. Selepas memberikan bunga, Erlangga tak pergi begitu saja, dia dengan tak tahu diri meminta untuk berbicara dengan Jihan beberapa saat, sampai mau tak mau ia pun memberikan waktu, ia tak mau mengundang keributan.
Jihan berbicara hampir lima belas menit bersama Erlangga, pembicaraan yang sampai saat ini tidak ia ketahui topiknya seperti apa, yang jelas ia sangat benci ketika Erlangga menatapnya saat masih berbicara dengan Jihan, bahkan menyeringai seolah menantangnya melakukan keributan. Beruntung ia bisa menahan emosi sampai pembicaraan mereka selesai, dan Jihan meninggalkan pemuda itu kemudian menghampirinya, begitu mereka mendekat untuk pertama kalinya ia merangkul pinggang Jihan dengan erat, hingga mereka tak berjarak sama sekali. Alvin kembali menatap Erlangga kemudian mengambil alih bunga di tangan Jihan lalu tanpa banyak berpikir membuang buket bunga itu ke dalam tong sampah, setelahnya membawa ia Jihan pergi.
Alvin menghela nafas lalu menatap Fanya. “Gue gak mau kasih kesempatan buat orang yang bikin Jihan gak nyaman semakin mendekat. Gue buang bunganya buat mempertegas kalo dia gak bisa deketin Jihan. Jihan pacar gue. She’s mine.”
Fanya tersenyum. “Emang gak salah gue saranin Jihan buat pacaran sama lo. Lo peka banget Kak. Thanks ya udah mau jagain sahabat gue.” Ujar Fanya yang membuat Alvin berdehem kecil lalu mengalihkan pandangan ke arah lain, salah tingkah.
“Anyways Kak, lo mau tau gak dua cewek yang tadi ribut sama gue?”
Kening Alvin mengerut. “Emang penting?”
“Mereka berdua gibahin kalian. Mereka jelek-jelekin Jihan tepat di deket daun telinga gue. Mereka bilang Jihan naek kasta dari rakyat biasa jadi ratu sejak pacaran sama lo.” Ujar Fanya diperhalus.
“Kalo Jihan gak naek kasta sejak pacaran sama gue rugi dong Jihan.” Ujar Alvin. “Masa iya gue perlakuin pacar gue sendiri kayak rakyat biasa, udah pastilah gue jadiin dia ratu.”
“Kak ih! Serius!”
“Gue serius Fan. Setiap cowok pasti akan memperlakukan pasangannya seperti ratu, kalo lo diperlakuin biasa aja, itu patut di pertanyakan perasaan cintanya, beneran cinta apa enggak?” ucap Alvin kemudian menegakkan posisi berdirinya ketika melihat Jihan yang sudah kembali berjalan ke arah mereka.
“Udah lega?” tanya Alvin begitu Jihan sampai di depannya.
“Udah.” Jawab Jihan kemudian tersenyum lebar. “Ayo makan.”
.
.
.
Di sisi lain tepatnya di café, Gibran, Dafi dan Kevin sedang duduk memperhatikan letak lampu-lampu yang berada di sekeliling tempat itu. Ternyata desain yang Gibran inginkan untuk kejutan ulang tahun Fanya tak begitu rumit. Mereka hanya perlu memasang tambahan lampu tumbler pada pohon kering lalu memasangkan banyak polaroid bergambar Fanya dan Gibran pada lampu tersebut, sehingga tak perlu memakan waktu lama sampai semuanya sudah siap lebih cepat.
“Sepertinya mereka beneran bersenang-senang.” Ujar Gibran.
“Kenapa Bang?” tanya Kevin. Gibran kemudian menunjukan laporan keuangannya di rekening bank yang menunjukan sebuah pengeluaran yang cukup besar. “Alvin sama Jihan bener-bener bawa Fanya belanja. Tau deh belanja apaan.”
“Gapapa lah sekali ini aja. Lagian lo kerja buat apa sih? Uang lo juga banyak, gak perlu mikirin abis.” Ujar Dafi.
Gibran terkekeh kecil. “Iya bener, gue kerja buat apa sih kalo bukan buat bahagiain orang yang gue sayang?”
“Nah itu lo tau.” Timpal Dafi lagi. “Jadi lo gak usahlah banyak mikir. Biarin aja.” lanjut Dafi sebelum mengambil ponselnya yang mendadak berdering. Ternyata Laura yang memanggilnya.
"Hallo Ra, ada apa?" tanya Dafi yang membuat Kevin menoleh dengan cepat.
"Daf nanti jemput gue ya, gue entar kirim alamatnya. Mobil gue mendadak mogok, ini aja gue ke tempat meeting pake taksi."
"Kenapa gak bilang daritadi? gue bisa anterin lo Ra."
"Gak sempet. Untungnya langsung ada taksi."
"Yaudah kabarin aja kalo meeting lo udah beres. entar gue jemput."
"Ok. thanks Dafi. Bye."
Dafi hanya bergumam kecil menanggapinya kemudian mengakhiri panggilan.
"Siapa? Laura?" tanya Kevin.
Dafi mengangguk kecil. "Dia minta gue jemput." ujar Dafi lagi yang membuat Kevin terdiam seraya menatap Dafi yang kini mulai beranjak kembali untuk memasang polaroid tersisa.
Kevin menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, melepaskan beban berat yang mendadak menghimpit dadanya.
.
.
.
Setelah makan, Jihan memaksa Fanya untuk ke salon dengan alasan ia dan Alvin ingin Fanya tampil cantik di hari ulang tahunnya ini. Beruntung Fanya tak seperti Dania yang selalu peka dengan tingkah mencurigakan mereka. Fanya hanya mengikuti mereka, bahkan ketika Jihan menutup mata Fanya dengan sebuah kain hitam begitu Fanya memasuki mobil kembali setelah selesai berdandan.
“Ini apaan sih pake di tutup mata segala? Jangan bilang kalian mau skidadap depan gue makanya mata gue di tutup.” Sergah Fanya random.
“Iya, kita jadi gak bebas kalo lo liatin.” Timpal Alvin.
“EMANG KALIAN MAU NGAPAIN?!” seru Fanya.
Jihan menahan tawa mendengar pekikan itu. membiarkan drama ini berlangsung, menghibur perjalanan mereka sampai di Bapers Café.
“Jihan jawab kalo gue tanya.” Ucap Fanya lagi. “Kalian gak lagi ngapa-ngapain kan? Jihan!”
“Tenang aja Fan, mobil gue bisa nyetir sendiri dengan aman kok, lo gak perlu takut.”
“Kak Alvin sialan! Jangan macem-macem lo!!!”
“Buka aja kalo lo berani. Palingan lo merem juga.”
“Kak Alvin!!!!”
Jihan semakin menahan tawa hingga menutup mulut dengan kedua tangannya. Fanya benar-benar menggemaskan. Dia sangat mudah di jahili, jadi sangat menyenangkan ketika menggodanya.
Tak lama setelah itu mobil yang Alvin kendarai sampai di café, Jihan segera turun, lalu membuka pintu untuk Fanya. Setelah itu di susul Alvin yang membantu Jihan menuntun Fanya.
“Kita mau kemana sih? Kayak mau bikin surprise aja buat gue pake ribet kayak gini segala.”
“Emang.” Jawab Jihan kemudian menyunggingkan senyumannya. “Lo pasti suka kejutannya Fanya.” Lanjut Jihan sebelum membuka ikat kain itu.
.
Happy birthday to you ...
Happy birthday to you ...
Happy birthday, happy birth day ...
Happy birthday to you ...
.
Jihan tersenyum lebar begitu melihat Fanya yang juga tersenyum lebar. Ia turut bahagia melihat kebahagiaan yang di rasakan sahabatnya itu. Ia kemudian melirik Alvin yang tanpa di duga tengah menatap ke arahnya, lalu tersenyum dengan begitu tampan.
Setelah melakukan make a wish, Fanya kemudian meniup lilin di atas sebuah cake yang dibawa langsung oleh Gibran.
“Dimana pisaunya? Emang gak mau makan-makan ini kue?” tanya Fanya saat tak ada satu pun yang memberinya pisau, seperti layaknya pesta ulang tahun pada umumnya.
“Bukannya lo harus singkirin dulu lilinnya Fan? Coba deh lo tarik dulu lilin happy birthday-nya.” Ujar Kevin.
Fanya tak membantah, ia kemudian menarik lilin itu. Namun tanpa di duga begitu ia menarik lilin tersebut di dalamnya ada sebuah kertas memanjang yang menyatu dengan lilin tersebut. “Apa ini? biasanya isinya uang. Ini kok kertas?” ujar Fanya yang membuat Gibran terkekeh kecil.
“Coba aja kamu tarik, kamu bakalan tau sendiri.”
Fanya menarik benda itu. Ternyata ada sebuah tulisan, semakin ia tarik semakin memperjelas rangkaian kalimat yang berada dalam kertas itu, hingga membentuk sebuah pertanyaan yang selama ini sangat ia tunggu.
.
Fanya ... Will you be my girlfriend?
.
Fanya kembali mendongakkan wajah menatap ke arah Gibran lagi dengan bola mata yang mulai berkaca-kaca. “Kak ... masih nanya? Gue udah nunggu ini sejak lama.” ujar Fanya dengan sangat jujur.
“Jadi? Jawaban kamu?”
Fanya tersenyum bersama dengan air mata kebahagiaan yang meluruh, membasahi kedua belah pipinya. “Iya Kak ... Aku mau.”
Gibran segera menyimpan cake di tangannya ke atas meja lalu memeluk Fanya. Melampiaskan kebahagiaan dalam hatinya yang begitu membuncah. “Thank you babe, thank you so much. Aku berharap aku bisa jadi pasangan yang bener-bener kamu impikan sayang.”
Fanya hanya mengangguk dengan cepat seraya mengeratkan pelukannya juga. Tak lama setelah itu Gibran mengurai pelukan mereka lalu mencium kening Fanya selama beberapa saat.
“Udah cukup mesra-mesraannya. Mendingan langsung pesta. Ayo naik.” Ujar Laura. Bukannya marah kegiatannya di ganggu, Gibran justru terkekeh lalu memeluk Fanya lagi.
“Ayo kita naik. Pestanya di atas.” Ujar Gibran yang di angguki oleh Fanya.
Gibran memimpin barisan dengan Fanya yang berada dalam rangkulan tangannya. kemudian diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Sementara itu Alvin yang melihat Jihan hendak beranjak mengikuti teman-teman mereka, justru menarik lengan Jihan hingga gadis itu kembali berputar, berbalik ke arahnya.
“Kenapa kak?”
Alvin tak menjawab, ia justru menjulurkan tangan kanannya, naik meraih tengkuk Jihan mendekat sebelum ia maju satu langkah semakin mendekat ke arah gadis itu. Lalu membubuhkan sebuah ciuman yang begitu dalam tepat di kening gadis itu.
Jihan membulatkan matanya terkejut mendapatkan ciuman mendadak itu. Jantungnya serasa berhenti beberapa detik sampai kemudian berdegup kencang, diiringi dengan desiran hangat yang menjalar dari kening hingga ke dalam hatinya. Ketika Alvin menjauhkan wajah mereka, ia mendongak menatap wajah Alvin yang kini memberinya sebuah senyuman tipis. Senyuman yang semakin membuat dadanya menghangat, nyaman.
Sampai Alvin kembali menariknya, kali ini memeluknya dengan sangat erat. “Jihan ... .”
Aku sayang sama kamu.