11. Sebuah Ciuman

2143 Kata
  Some people want it all But I don’t want nothing at all If it ain’t you, baby If I ain’t got you, baby Some people want diamond rings Some just want everything But everything means nothing If I ain’t got you, yeah   . . .   Sepanjang lagu yang dinyanyikan secara langsung oleh Dania dan iringan piano yang dimainkan oleh Bastian, Alvin hanya menatap pada satu titik yang sama, Alvin hanya memandang satu orang yang sama tanpa terganggu siapapun, tanpa teralihkan pada siapapun. Tatapannya benar-benar hanya tertuju untuk satu titik, hanya untuk satu orang yang kali ini ia akui betapa pentingnya keberadaan orang itu dalam hatinya.   Siapa orang itu? Siapa lagi kalau bukan Jihan. Sosok gadis manis dengan personality yang begitu unik, seorang gadis pemilik rambut bergelombang yang begitu khas. Sosok gadis yang secara tidak sopan datang dalam kehidupannya tapi dengan sangat sopan masuk ke dalam hatinya.   “Diliatin mulu, samperin sana.” ujar Laura yang baru saja duduk di sampingnya.   Alvin menarik ujung bibirnya, tersenyum begitu lembut tanpa mengatakan apapun pada Laura, bahkan tanpa menoleh sedikitpun pada sahabatnya itu.   “Vin ... gimana perasaan lo sekarang?”   “I’m fine.”   “Perasaan lo buat Jihan?”   Senyuman Alvin menghilang, ia kemudian menoleh ke arah Laura “Sorry Vin, tapi gue rasa ini saatnya lo berhenti main-main. Ini saatnya lo lepas Jihan.”   Alvin memalingkan wajahnya. Tak suka dengan gagasan yang dikatakan oleh Laura.   “Gue gak mau kalian berdua pada akhirnya saling menyakiti Alvin.” Ujar Laura lagi dengan suara yang lebih lembut.   Akan tetapi Alvin masih saja diam, masih menghindari tatapan Laura dengan menatap Jihan yang sedang tertawa bersama sahabat-sahabatnya.   “Gue liat Vin.” Ujar Laura seraya menatap Alvin yang tampak tak terganggu dengan ucapannya. “Gue liat lo cium Jihan, lo juga peluk dia ... erat banget. Gue sebenernya bahagia, gue seneng banget liat lo akhirnya hidup kayak manusia pada umumnya setelah lo kenal sama Jihan, Vin. Gue juga selalu berharap kalian bisa bersama selamanya. Ya ... seseneng itu ... gue liat lo bahagia. Gue seneng banget liat lo banyak senyum, banyak ketawa. Lo ... beneran Alvin yang baru, beda dari yang biasa gue kenal. Gue seneng Vin, gue juga ikut bahagia banget.”   “Tapi Vin ... .” Laura meraih punggung tangan Alvin, merematnya sesaat. “Gue denger dari Om Baskara—.”   “Gue sayang sama Jihan, Ra.” Ujar Alvin kemudian menoleh ke arah Laura yang kini tampak termenung setelah mendengar jawaban darinya. Alvin meraih tangan Laura kemudian membalas genggaman tangan itu. “Gue sayang banget sama dia. Ijinin gue buat bisa rasain perasaan ini dan kebahagiaan ini lebih lama.”   “Vin ... .”   “Please Ra. Jihan ... satu-satunya orang yang gue sayang.”   Laura menatap Alvin dalam diam. Begitu pula dengan Alvin yang tengah menatap Laura tanpa kata, hanya sebuah tatapan penuh permohonan yang pemuda itu berikan pada sang sahabat.   Laura menarik nafas panjang. “Ok. Terserah. Apapun keputusan lo, gue bakalan hormatin itu Vin ... yang terpenting gue udah ingetin lo dan ... Vin ... .” Laura menepuk pundak Alvin sesaat, lalu merematnya. “Apapun yang terjadi lo harus cerita ke gue. Gue ... akan selalu berusaha ada buat lo, jadi tempat lo bersandar.”   “Thanks Ra. Cuma itu yang gue butuhin.”   . . .   Sementara itu di sisi lain tanpa Alvin sadari Jihan melihat interaksi keduanya. Semua moment dimana Alvin dan Jihan saling bergenggaman tangan, saling bertatapan dan saling melemparkan senyuman tak luput dari pandangannya. Membuat hatinya terasa sedikit sesak, sekalipun ia tahu mereka hanya sekedar sahabat.   “Serasi ya Han?”   Jihan menoleh ke arah Dania yang duduk tepat di sampingnya setelah menyelesaikan satu lagu yang baru saja dia nyanyikan. Sementara di stage sekarang tersisa Bastian dan Gibran yang sedang melakukan pertunjukan kejutan lainnya.   “Sahabatan dari kecil, setiap saat bersama, interaksi yang gak biasa.” Lanjut Dania. “Lo masih yakin mereka cuma sahabatan?” tanya Dania.   Jihan merasa tertampar mendengar penuturan Dania. Sekalipun ucapan Dania terkadang begitu menyakiti hatinya, tapi setiap ucapan Dania selalu masuk akal, selalu logis. Tapi ... kalau mereka lebih dari sahabat, kenapa Alvin tadi menciumnya? Ok. Memang hanya sebuah ciuman di kening. Tapi ... bukankah ciuman di kening juga bermakna begitu dalam? Bukankah sebuah ciuman di kening juga memiliki arti yang sangat penting?   “Jangan mempengaruhi siapapun dan mengeluarkan pendapat cuma berdasarkan opini Dania.” Ujar Kevin yang duduk di samping Dania. Pemuda itu menatap Dania dengan tatapan yang begitu tenang. “Lo harus tau. Gak selamanya semua yang lo liat itu sesuai dengan fakta yang ada. Bang Alvin sama Kak Laura sama aja kayak lo sama Bang Dafi. Lo juga deket banget kan sama Bang Dafi? Kalian bahkan gak sungkan buat tinggal di tempat satu sama lain. Terus ... apa kalian lebih dari temen? Lo anggap Bang Dafi lebih dari temen?”   “Beda Kevin!” tegas Dania setengah menggeram, menahan seruannya. “Gue? Hopeless romance, gue emang gak pernah tertarik buat pacaran sama siapapun lagi. Jadi ... ya gue emang temenan aja sama Bang Dafi, gak ada perasaan aneh dan gak pernah ada niat pacaran sama dia.”   “Terus lo pikir Kak Laura gimana? Dia itu sangat sibuk, jangankan mikirin buat pacaran atau suka sama seseorang. Dia bahkan hampir gak punya waktu buat diri dia sendiri.”   “Jangan bicara seolah lo kenal sama dia padahal lo juga cuma menduga Kevin!” Desis Dania, tak terima dengan statement yang Kevin berikan.   “Gue emang kenal dia.”   “Udah. Jangan berantem.” Ujar Dafi yang duduk di depan Dania. “Gak enak sama yang punya acara. Dan ... tahan emosi lo. Lo juga Kev ... jangan malah sama aja.”   “Gue cuma gak suka cara Dania berspekulasi.”   “Gak usah dijawab.” Tegas Dafi. “Udah ... diem. Nikmatin pestanya.” Lanjut Dafi lagi membuat dua orang itu kemudian berhenti berdebat lalu mengalihkan pandangan ke arah Fanya yang sedang tersenyum bahagia bersama Gibran di atas panggung kecil di lantai dua café itu.   Jihan pun kembali menikmati lantunan musik, dengan isi kepala yang mulai berkecamuk setelah mendengarkan perdebatan dua orang itu. Hati dan pikirannya serasa terbelah dua, hatinya merasakan keinginan sesuai dengan yang Kevin ucapkan tapi pikirannya terus membenarkan cara berpikir logis yang baru saja Dania lontarkan. Entahlah ... ia tak tahu pada akhirnya isi hati atau isi kepala yang menang, yang jelas sekarang ... ia sedang tak bisa berpikir lebih jauh.   . . .   Tanpa terasa pesta pun usai. Mereka semua membantu Gibran membereskan banyak sampah bekas makanan dan merapihkan piring juga gelas bekas pakai. Setelah itu mereka mulai bersiap untuk pulang.   “Ra ... pulang sama siapa?” tanya Alvin. “Gue anter?”   “Gak perlu Vin, gue bisa sendiri. Mendingan lo cepetan anterin Jihan, keburu kost-nya di kunci.”   “Kost-nya Jihan udah di tutup. Jihan pulang ke Anandamaya.” Jawab Alvin.   “Hah?”   Fanya terkekeh kecil melihat keterkejutan Laura. “Ke apart gue kak. Bukan ke apart Kak Alvin.” Ujarnya.   “Oh. Oke.” Ucap Laura seraya mengangguk-anggukan kepala. “Yaudah kalo gitu gue mau pesen taksi dulu. Kalian duluan aja.”   “Bareng gue aja Kak. Kita searah.” Ujar Kevin.   “Yaudah kalo Laura mau bareng lo gue sama Dania duluan ya?” Ujar Dafi yang kemudian mereka berdua berpamitan pada semua orang, setelahnya berlalu diiringi tatapan Laura yang menatap kepergian mereka dengan tatapan yang begitu sendu, juga helaan nafas panjang.   “Gue pake taksi aja.”   “Ra, bareng Kevin aja. Lebih aman.” Ujar Alvin yang di angguki oleh Gibra.   Laura menarik nafas panjang kemudian mengangguk kecil. “Kalo gitu ayo, gue pulang ya ... sekali lagi selamat buat kalian berdua. Bye ... .”   Setelah dua orang itu memasuki satu mobil yang sama Alvin pun kembali berbicara pada Gibran. “Biar Fanya bareng gue sama Jihan aja. Kalo lo anterin bolak-balik.”   “Eits gak bisa ... masa iya malem pertama gue pacaran sama Fanya, Fanya gue titipin ke lo Vin? Gak etis banget.” Ucap Gibran yang diiringi dengan tawa renyah penuh kebahagiaan. Semetara Fanya hanya mampu tersipu malu.   “Jalan masing-masing aja entar ketemu di apart Fanya.” Lanjut Gibran yang segera Alvin angguki.   “Ok. Ayo.” Alvin merangkul Jihan, menggiring gadis yang lebih pendiam itu memasuki mobil putihnya.     Selama perjalanan Jihan hanya memandangi keluar jendela, menatap jalanan ibu kota yang masih padat, dengan bibir yang menekuk, tanpa senyuman. Sesekali Jihan hanya menghela nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, tanpa melakukan apapun. Jihan benar-benar hanya diam, bahkan hingga tidak menatap ke arah Alvin sama sekali.   “Jihan ... .” panggil Alvin. Tapi Jihan tak menyaut sampai kemudian Alvin meraih tangan kanan Jihan, menggenggamnya dengan erat dan mengelus punggung tangan itu dengan ibu jarinya. Barulah Jihan menoleh.   “Kenapa?” tanya Alvin dengan begitu lembut. “Apa ada yang salah?”   “Gak ada.” jawab Jihan seraya menarik tangannya lagi, tapi Alvin lebih cepat mengeratkan genggaman tangannya. Jihan kembali menatap Alvin yang sedang menyetir dengan satu tangan.   Tanpa banyak berbicara Alvin menarik tangan Jihan lebih dekat ke arahnya lalu mengecup pungung tangan itu lamat. Satu kali ... dua kali ... hingga pasa ciuman ketiganya Alvin pada punggung tangannya itu, Alvin menatapnya, begitu dalam.   Desiran halus kembali Jihan rasakan, merambat masuk semakin jauh hingga bagian terdalam dadanya, terasa menghangat, terasa begitu penuh sampai menjalar menuju perut  yang mulai serasa tergelitik oleh kupu-kupu tak kasat mata. Ciuman itu dan tatapan tajam Alvin, benar-benar memberikan sensasi baru yang terasa aneh namun menyenangkan secara bersamaan, sebuah sensasi yang membuat sekujur tubuhnya meremang dan bulu kuduknya berdiri, merinding.   “K—Kak.”   Alvin menjauhkan tangannya tanpa melepaskan genggaman tangan mereka, kemudian tersenyum tipis begitu lembut. “Merasa lebih baik?”   Jihan membasahi bibirnya sesaat kemudian mengangguk kecil.   Alvin kembali memberinya senyuman dengan sesekali melihat ke arah jalan raya lalu menatapnya lagi. “Sebenarnya aku sangat penasaran dengan isi kepalamu Jihan. Beberapa kali aku melihatmu selalu seperti ini dan menghindariku. Tapi aku tenang aja, aku gak akan maksa kamu buat cerita kalo emang kamu gak mau ... tapi kalo emang kamu udah siap bercerita, aku akan pasti dengerin.”   Jihan tak langsung berbicara, mereka kembali diam selama perjalanan dengan tangan yang masih bertautan. Memang genggaman itu tak seerat sebelumnya, tapi rasa hangat dari telapak tangan Alvin membuatnya masih terasa mengalir, menghangat hingga ke dalam dadanya. Terasa begitu nyaman dan membuat perasaannya menjadi lebih tenang. Akan tetapi masih tak ada kata yang keluar dari mulutnya, ia masih diam belum berniat membuka mulutnya.   Perjalanan mereka pun usai ketika kendaraan yang mereka tumpangi sampai di basement. Namun ketika Alvin hendak keluar dari kendaraan tersebut, Jihan menahannya.   Alvin dan Jihan saling bertatapan kembali dengan sabuk pengaman yang sudah terlepas, sehingga kini mereka saling berhadapan, saling bertatapan dengan serius.   “Kenapa Han?”   Jihan menghindari tatapan Alvin setelah mendengar pertanyaan itu, ia menggigit bibirnya sesaat sebelum menghembuskan nafas panjang lalu menatap Alvin lagi. “Kak ... .”   “Hm?”   “Apa ... teman-teman Kak Alvin membicarakan hubungan kita?”   Alvin terdiam beberapa saat, hanya memberinya sebuah tatapan lembut dan senyuman yang terasa begitu hangat. Masih setenang sebelumnya, seolah tak ada rasa khawatir seperti yang sedang ia rasakan saat ini.   Setelah itu Alvin meraih tangannya yang lain, menggenggam keduanya dengan erat. Alvin tersenyum dengan kedua ibu jari yang mengelus punggung tangannya.   “Apa teman-temanmu mempermasalahkannya?” tanya balik Alvin, tapi tidak ia jawab sama sekali. Jihan hanya kembali termenung memikirkan pendapat Dania yang begitu mengganggunya. Apalagi tentang hubungan Alvin dan Laura yang benar-benar terlihat tak biasa. Cara Alvin memperhatikan Laura, cara Alvin berinteraksi dengan Laura. Semuanya benar-benar terasa mengganggunya.   Tangan kanan Alvin merambat naik, mengelus kepala Jihan dengan tangan kanan yang masih menggenggam kedua tangannya. Setelah itu Alvin menariknya, membuatnya semakin mendekat hingga tanpa Jihan sadari Alvin sudah mencium keningnya lagi.   Jihan diam lalu memejamkan mata, saat Alvin mencium keningnya dengan begitu lamat, terasa begitu dalam hingga ia merasakan gejolak aneh, perasaan aneh yang semakin melingkupinya. Desiran halus itu kembali ia rasakan dalam dadanya, perasaan hangat, dan juga buncahan perasaan lain yang mengiringinya. Perasaan nyaman serasa dicintai, dan disayangi yang terasa begitu dalam.   Ciuman itu beralih menuju kedua kelopak matanya secara bergantian, ciuman yang lebih ringan namun dengan rasa yang masih sama. Sampai Jihan kemudian membuka mata ketika merasakan Alvin menjauh. Namun ternyata Alvin kembali mendekatkan wajah, sedikit memiring hingga sebuah ciuman pada puncak hidungnya ia rasakan.   Setelah itu Alvin kembali menjauh, lalu menatapnya dengan begitu dalam tepat pada iris matanya. Alvin tersenyum simpul dengan tangan kanan yang kembali mengusak kepalanya kemudian mengelus pipinya dengan lembut.   “Jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain. Cukup percayalah pada semua yang kamu rasakan, Jihan. Karena ... apapun yang kamu rasakan, aku juga merasakannya.”   Deg!   Jihan tertegun. Benarkah? Jika seperti itu ... Apakah ketika ia mencintai Alvin ... Alvin juga mencintainya?      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN