Jihan mengulum senyumannya, malu ketika Alvin masih menggenggam tangannya begitu mereka sampai tepat di depan pintu unit apartemen milik Fanya. Tak hanya menggenggam, Alvin bahkan menatapnya dengan sangat intens, dengan begitu lembut dan terasa begitu hangat sekalipun tak ada senyuman di wajah pemuda itu.
“Udah sampe Kak.” Ujar Jihan.
Alvin mengangguk kecil. “Yaudah, masuk sana.”
Jihan menunduk menatap tangan Alvin yang masih menggenggam tangannya kemudian mendongak kembali, menatap Alvin. “Tangannya Kak.”
Alvin tersenyum tipis lalu mengurai genggaman tangan itu perlahan, seolah pemuda itu tak rela melepaskan genggaman tangan mereka.
“Yaudah ... aku masuk ya Kak ... .”
“Sebentar ... Jihan.” Alvin meraih tangannya lagi, membuatnya kembali berbalik menatap Alvin.
Tangan Alvin terulur naik membelai kepalanya sesaat diiringi dengan sebuah senyuman yang begitu tampan. Jihan terdiam menikmati sentuhan halus itu, menikmati desiran hangat yang masih mengalir, seolah tak berhenti untuk berlomba memasuki dadanya.
Alvin melangkah, mendekat ke arahnya dengan tangan kanan yang terasa menekan belakang kepalanya lagi, seperti yang beberapa saat lalu di dalam mobil.
Clek!
“Jihan lo lama bener sih?” Fanya mematung ditempat, menatap ke arahnya dengan mata yang mengerjap. Tampak sangat terkejut. “Eh? Kak Alvin. Sorry ... gue gak tau. Yaudah gue tinggal ya? Atau mau masuk? ngobrolnya di dalem?” ucap Fanya dengan cepat.
Alvin mundur satu langkah. “Gak perlu Fan.” Ujar Alvin lalu menunduk menatapnya lagi. “Good night Jihan ... .”
“Good night Kak ... hmm kalo gitu, gue masuk sekarang ya? Sampai ketemu besok.” Ujar Jihan sebelum memasuki unit apartemen itu, meninggalkan Alvin yang masih berdiri di depan pintu, sampai pintu tersebut terkunci rapat.
...
“Ngaku lo! Mau ngapain lo tadi? Anjir! Gila ya. Gue yang jadian sama Kak Gibran tapi malah lo berdua yang romantis-romantisan?! Gak bisa gue biarin!!!” Seru Fanya heboh setelah berhasil menarik tubuh Jihan duduk di atas sofa.
“Gue gak ngapa-ngapain.” Ujar Jihan dengan bola mata yang melirik ke kanan dan ke kiri, menghindari tatapan Fanya. “Itu tadi Kak Alvin cuma benerin rambut gue aja. Iya benerin rambut. Soalnya kata dia tadi keliatan ada sesuatu di rambut gue.” Lanjut Jihan dengan sangat cepat, panik sekaligus salah tingkah.
Fanya justru menyeringai setelah mendengar jawabannya. “Sebenernya terserah sih kalian mau ngapa-ngapain juga. Lo mau nginep di tempat Kak Alvin juga boleh.”
“Fanya! Tapi gue serius. Kita gak ngapa-ngapain!”
“Gak ngapa-ngapain tapi muka lo merah.”
“Fan!!!”
Fanya terkekeh kecil selama beberapa saat. “Iya iya ... kalian gak ngapa-ngapain kok iya ... .” ujar Fanya setengah meledek.
“Fan, gue seserius, kita emang gak ngapa-ngapain kok. Beneran.”
“Iya Jihan ... gue tau kok. Kalian gak mungkin ngapa-ngapain.” Fanya mendekatkan posisi duduknya. “Tapi Han ... jujur aja, gue ikut seneng liat perkembangan hubungan kalian. Kalian makin hari makin deket aja. Makin lengket ... apalagi barusan. AAAAA so sweet banget Han. Cara Kak Alvin natap lo, bicara sama lo. Itu tuh beneran lain. Rasanya bener-bener dia tuh sayaaaaaang banget sama lo.”
“Fan ... jangan ngomong gitu ah, gue takut gue jadinya kepedean dan baper.”
“Loh emang kenapa? Toh yang gue bilang itu kenyataan. Gue yakin Kak Alvin juga sayang banget sama lo. Gak usah takut baper. Dari yang gue liat Kak Alvin pun sebenernya udah baper Han.”
“Gitu ya?”
Fanya mengangguk seraya bergumam.
Jihan hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Termenung sesaat memikirkan dua pendapat sahabatnya yang saling bertentangan. Jihan mengatakan sesuai dengan isi hatinya, tapi di sisi lain ia masih ingat ucapan Dania yang sangat masuk akal baginya.
Jihan menghembuskan nafas. “Fan ... please jangan ngomongin ini di depan Dania ya? Apapun yang lo liat barusan biar lo simpen sendiri aja. Lo tau sendiri gimana Dania kan?”
Fanya mengangguk. “Tenang aja ... rahasia lo aman Han. Tapi inget Han ... lo gak bisa terus menerus berpatokan sama ucapan Dania. Lo terima semua yang dia omongin tapi gak perlu terlalu mikirin pendapat dia. Lo jalanin aja yang lo suka, yang ngebuat lo bahagia. Buktinya sekarang ... gue sampe juga kan jadian sama Kak Gibran? Padahal Dania juga nentang hubungan gue sama Kak Gibran dari awal. Dia bahkan ngomongin banyak hal yang terkadang bikin gue overthinking.” Fanya menepuk paha Jihan sesaat. “Ambil hikmahnya aja, Dania kayak gitu ke kita karena dia peduli sama kita dan sayang sama kita.” Lanjut Fanya diiringi dengan senyuman yang begitu lebar.
Benar ... ia tak perlu memikirkan terlalu banyak tentang pendapat orang, yang terpenting ia senang dan bahagia menjalani apapun yang sekarang sedang ia jalani. Itu ... sudah cukup bukan?
“Han tuh liat HP lo bunyi. Bucin banget baru juga beberapa menit pisah udah ditelepon lagi.” ujar Fanya sarkas.
Jihan terkekeh kecil seraya meraih ponselnya. “Seperti yang lo bilang Fan. Gue bakalan jalanin semuanya dengan suka cita dan bahagia. Gue angkat dulu teleponnya ya? Lo kalo mau tidur duluan gapapa kok.”
Fanya mendesis seraya menggelengkan kepalanya. “Dulu aja ledekin gue bucin, sekarang siapa yang paling bucin?”
“Tetep lo sih yang paling parah.” Balas Jihan.
“Sialan!” Umpat Fanya disertai kekehan kecil.
.
.
.
Sunyi terasa sepanjang perjalanan yang dilewati oleh Kevin dan Laura. Tak ada suara, tak ada pula percakapan yang terlibat di antara keduanya. Laura hanya menatap ke arah jalan raya dengan tangan kiri yang bertumpu pada jendela sementara Kevin fokus menyetir melihat ke arah jalanan meski dengan sesekali melihat ke arah Laura.
Melihat Laura yang mengabaikannya, Kevin hanya menghela nafas panjang seraya mengeratkan genggamannya pada stir dengan rahangnya mulai mengatup dan nafas yang memberat. Hingga tanpa terasa sampailah mereka ke basement apartemen.
“Thank you tumpangannya.” Ujar Laura seraya melepas sabuk pengaman saat mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti dan terparkir dengan rapih.
“Laura.” Kevin meraih tangan Laura yang hendak beranjak pergi. Kevin bahkan mengeratkan genggaman tangannya, menahan gadis itu untuk pergi.
“Lepas Kev, gue capek. Gue mau istirahat.”
“Lo kenapa sih Ra hindarin gue terus? Udah mau tiga tahun dan lo ... mau terus kayak gini?” Tanya Kevin.
“Gue gak hindarin lo Kevin.”
“Bohong! Sejak gue mutusin buat kuliah di tempat yang sama kayak lo, lo berubah Ra. Lo kayak anggap gue orang asing banget padahal kita saling kenal, kita akrab banget. Lo bahkan selalu dengan terang-terangan hindarin gue, lo sering ambil jalan lain saat kita mau papasan. Lo juga sering nyuekin chat dari gue. Sebenernya kenapa sih? Jangan jawab gak ada apa-apa karena lo pasti punya alesan lakuin ini ke gue.”
Laura menarik nafas panjang kemudian menoleh ke arah Kevin, lalu menghembuskannya kembali. “Lo mau tau alesannya?” tanya Laura seraya menatap Kevin dengan intens. “Karena gue tau lo suka sama gue Vin, dan gue gak bisa bales perasaan lo. Makanya gue hindarin lo biar lo bisa cari cewek lain yang bisa lo cintain.”
Kevin tertegun, ia menatap Laura yang masih menatapnya dengan tatapan tajam. Apakah perasaannya terlihat begitu jelas? Padahal ia tak pernah mengatakan hal ini pada siapapun. Selama ini ia menyimpan perasaan ini sendiri, bahkan ketika ia mengungkapkan kekaguman di depan sahabat-sahabatnya pun mereka menganggap ia menyukai Laura hanya sebuah lelucon.
“Ra ... .”
“Gue harap pembicaraan kita udah cukup jelas Vin. Jadi gue mohon lo berhenti. Gue gak mau ngerusak hubungan gue sama Alvin cuma gara-gara perasaan lo ke gue. So please ... lo ngertiin gue. Kalo lo udah bisa ngendaliin perasaan lo, gue yakin kita bisa temenan kok. Sama seperti sebelumnya.” Laura menarik nafas panjang lalu menatap ke arah Kevin lagi. “Gue bakal anggap kejadian ini dan perasaan lo gak pernah ada.”
Kevin menarik ujung bibirnya, tersenyum masam. “Gara-gara Bang Alvin atau Bang Dafi?” tanyanya seraya menatap Laura dengan sendu.
Laura semakin menatapnya dengan tajam, dengan rahang yang juga semakin mengatup. Tampak begitu keras. “Jangan melebihi batas Kevin!”
“Gue cuma pengen gue juga punya kesempatan buat bisa sama lo Ra! Lo ngerti gak sih? Buat apa lo suka sama Bang Dafi yang belum tentu suka juga sama lo? Gue di sini ... udah jelas sayang sama lo.”
“Gue bilang stop! Lo bener-bener udah ngelewatin batas Kevin. Asal lo tau ... ini juga salah satu yang bikin gue gak bisa sama lo. Lo belum dewasa. Lo bahkan belum mengerti yang mana yang bisa lo urusin yang mana yang merupakan privasi gue. Lo belum bisa hargain perasaan orang lain, lo pemaksa, egois, lo cuma mementingkan kepentingan lo sendiri. Lo cuma mentingin persaan lo tanpa mau ngerti posisi gue!” Laura menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. Berusaha menyetabilkan emosinya kembali.
“Gue harap pembicaraan ini stop sampai di sini, jangan ada pembicaraan ini lagi dan jangan sampai ada yang tau kejadian ini. Gue gak mau memperburuk hubungan kita di saat kita sekarang berada di lingkar pertemanan yang sama, dan seperti yang udah gue bilang, gue gak mau hubungan gue sama Alvin rusak cuma gara-gara perasaan lo ini. Bukan karena hal lain lagi kayak yang lo tuduhin ke gue.”
“Tapi Ra ... .”
Laura melepaskan tangannya dari genggaman tangan Kevin. “Sekali lagi thanks buat tumpangannya.” Ujar Laura kemudian keluar dari dalam mobilnya, kemudian berlalu berjalan lurus ke arah lift tanpa berbalik sama sekali.
Kevin menghembuskan nafas seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, lalu meremat rambutnya itu, kesal. Ya ... ia sangat kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa menahan seluruh emosinya. Setelah tiga tahun berlalu, baru hari ini ia bisa bertatapan langsung dan berbicara banyak lagi dengan Laura. Tapi mengapa ia justru mengacaukannya? Kenapa ia tak bisa berbicara dengan tenang jika bersama Laura? Padahal mungkin ... jika ia bisa bersikap lebih tenang, mungkin saja hubungan mereka bisa sedikit membaik. Tapi ... sayang semuanya sudah terlanjur dan kenyataannya ia tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
“ARGH!!! SIAL!!!”
.
.
.
Keesokan harinya ... di pagi yang sangat cerah ditambah dengan hangat yang terpancar dari matahari matahari Alvin dan Jihan sudah kembali bersama. Keduanya sudah berjalan-jalan di halaman apartemen yang tampak begitu aesthetic dengan tangan yang saling bergandengan. Jihan beberapa kali terperangah kagum ketika menemukan banyak hal baru. Sebab selama tiga tahun ia terkadang bolak-balik ke gedung ini tapi untuk pertama kalinya ia jalan-jalan seperti ini. Fanya terlalu malas untuk mengajaknya jalan-jalan.
“Tempat ini benar-benar mendukung keinginan setiap orang.” ujar Jihan. “Gue suka banget sama suasana ini.”
“Lo mau tinggal di sini Han?”
“Maulah siapa yang gak mau tinggal di tempat nyaman begini?”
“Yaudah entar gue ikut liat-liat tempatnya.”
Jihan menoleh dengan cepat ke arah Alvin. “Ya ... gak bener-bener tinggal di sini jugalah Kak! Ngadi-ngadi. Emang lo kira gue mampu belinya?”
Alvin terkekeh pelan mendengar seruan Jihan. “Gak gitu, kebetulan gue ada tempat kosong. Kali aja lo mau nempatin, itung-itung ikut bantu nguruskan?”
“Dih tambah aneh aja ni laki. Enggak. Ngapain tinggal di sini? Emang gue siap? Gak usah aneh-aneh Kak. Ngide banget sih lo.” Ujar Jihan dengan cepat seraya melangkahkan kaki berbelok menuju sebuah tangga. “Lo tuh ya kak, kayaknya kalo gue minta ini satu gedung juga lo bakalan kasih ya?”
“Lo mau?”
Jihan membulatkan matanya. “Gila. Beneran udah gila.” Ujar Jihan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Alvin terkekeh pelan melihat tingkah Jihan. Sampai mereka kemudian tiba di sebuah tempat yang sangat sepi dengan tempat duduk yang sangat strategis memandang ke arah hiruk pikuk ibu kota yang sangat padat sekalipun di hari libur.
Jihan duduk di tempat itu dengan kaki berselonjor lurus. “Gue gak habis pikir, bagaimana arsitekturnya berpikir merancang ini semua menjadi seindah ini? Dari taman dengan rerumputan hijau, pemandangan kota yang terlihat indah kayak yang gue liat sekarang. Padahal biasanya males banget liat pemandangan kota.” Ucap Jihan yang lagi-lagi mendapatkan kekehan dari Alvin.
“Udah gue bilang. Kalo lo emang suka lo bisa tinggal di sini Han.”
“Gue bilang enggak ya enggak kak! Lo tuh ih! Nyebelin banget. Emang gue keliatan kampungan banget ya sampe-sampe lo ngira gue mau banget tempat ini?”
“Gak gitu. Gue cuma nawarin loh. Kali aja lo kepikiran tiap pagi jalan-jalan gini sama gue. Tiap sore nikmatin teh anget, atau kita bisa olah raga bareng, renang bareng juga boleh.” Goda Alvin seraya menaik turunkan alisnya.
Bola mata Jihan membulat melihat yang Alvin lakukan. Pikirannya mendadak melayang kemana-mana melihat godaan itu. Apa katanya? Renang bersama? Di sini?
Buk!
Jihan memukul lengan Alvin dengan sangat kencang. “m***m!”
“Siapa yang m***m? Gue cuma nawarin renang bareng kok m***m?”
“Ekspresi lo yang m***m! Ngeselin banget ih! Bisa gak sih gak usah ngeselin kalo lagi berdua? Di deket orang lain aja lo romantis. Giliran berdua lo terus-terusan bikin gue marah.”
“Ohh ... jadi lo mau kita romantis walaupun berdua?”
Buk!
“GAK GITU!”
Alvin kembali tergelak melihat wajah kesal Jihan yang tampak menggemaskan. Tak berapa lama Alvin merebahkan kepalanya tepat di atas paha Jihan. Beruntung Jihan tidak menggulingkannya, Jihan justru mulai mengelus kepala Alvin.
“Kok lo gemesin banget sih Han.”
“Gue gak gemes.”
“Itu pipinya bulet, kalo ngambek idungnya ngembang kempis. Terus bibirnya gini, manyun. Kayak minta di cium.”
“Kak Alvin!!! Lo beneran m***m ya?! Rasain nih! Rasain!!!” seru Jihan seraya mencubiti lengan Alvin dengan sadis.
Alvin tergelak, bukannya sakit tapi cubitan itu malah seperti gelitikan untuknya. Ketika Jihan hendak mencubit kedua pipi Alvin, Alvin justru lebih cepat meraih kedua tangan itu, menggenggamnya dengan erat lalu mencium punggung tangan itu dua kali, membuat Jihan menghentikan gerakannya. Tampak mematung hanya menatap ke arahnya.
Alvin menyunggingkan senyumannya lagi. “Pikirin aja Han. Kalo berubah pikiran tinggal bilang. Tapi jangan minta satu gedung dulu, gue harus nabung beberapa tahun buat beli semuanya.” ujar Alvin diiringi kekehan ringan.
Jihan mendengus, mencebikkan bibir. Malas berbicara dengan pemuda setengah gila seperti Alvin. Ya ... gila ... pemuda itu sangat gila. Mana ada yang mau memberikan apartemen begitu saja? Meskipun cuma numpang. Apalagi apartemen semewah ini. Alvin benar-benar sudah gila atau mungkin terlewat kaya? Atau ...
“Secinta itu ya lo sama gue?.”
“Iya.”