13. Salah Tingkah

2598 Kata
  “Secinta itu ya lo sama gue?.”   “Iya.”   Jihan terkesiap dengan bola mata yang membulat, ia terkejut mendengar jawaban Alvin yang sangat di luar dugaan.   “Kenapa Ra? Tumben pagi-pagi gini nelpon?”   Jihan mengerjapkan matanya kembali kemudian mengalihkan pandangan, menunduk ke arah Alvin yang tampak konsentrasi mendengarkan sesuatu dari earphone yang pemuda itu gunakan. Jihan mengerjapkan matanya lagi, memaknai hal yang baru saja terjadi.   “Gue lagi sama Jihan. Gak kok, gue gak lagi sibuk. Ok. Entar gue ke sana. Iya! Sendiri. Tumben amat lo manja banget. Yaudah dua jam lagi gue sampe. Bye.”   “Han? Hei. Kenapa? Kok muka lo merah banget?”   Jihan kembali mengerjapkan matanya beberapa kali, “Hah? Gak kok. Gapapa. Di sini mulai panas, mendingan kita balik aja.”   “Eh bentar, tadi lo ngomong apa? Gue gak denger, keburu Laura nelpon.”   Jihan salah tingkah, ia membasahi bibirnya sesaat sebelum menatap Alvin lagi.   “Han?”   “Ah? Itu? Enggak kak enggak! Gue cuma komentar pemandangan aja kok.”   “Ahh gitu?” ujar Alvin seraya mengangguk-anggukan wajahnya.   . . .     Satu hari berlalu tapi rasa malu yang Jihan rasakan masih saja sama. Sampai detik ini ia masih tak habis pikir dengan cara berpikir dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia berpikir bahwa Alvin menanggapi ucapannya? Bagaimana bisa ia berpikir bahwa Alvin mencintainya?   Sumpah ya! Lo tuh kenapa jadi manusia kepedean banget Jihan? Eh! Tapi gue gak salah-salah banget kok! Salah Kak Alvin juga! Kenapa ngangkat telepon pake kata Iya? Aturan pake kata Hallo kayak biasanya. Ini? Iya? Yang bener aja! Tapi tetep aja! Ngapain lo mikir kayak gitu Jihan? Anjir. Untung Kak Alvin gak denger. Kalo Kak Alvin denger lo pasti tambah malu.   “Haish!” Jihan menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.   “Stt ... Han, lo kenapa sih? Aneh banget.” Tanya Fanya dengan perhatian yang tak teralih dari seorang Dosen di depan mereka.   Jangankan menjawab, Jihan justru semakin menutup mukanya. Malu, sangat amat memalukan. Padahal Alvin bahkan tak tahu apa yang dia katakan tapi rasa malu yang timbul dari perasaannya tak kunjung juga hilang. Sungguh, ia masih merasa sangat malu.   Bisa-bisanya lo mikir Kak Alvin beneran suka sama lo Jihan!   . . .   “Han. Lo kenapa sih aneh banget dari kemaren? Gue tanya lo malah bertingkah makin aneh.” Ujar Fanya begitu Jihan, Fanya, Dania dan Kevin duduk di bangku taman yang sama.   “Ah? Eng-enggak kok! Suer deh gak ada apa-apa kok beneran.” Ujar Jihan lagi dengan wajah yang kembali memerah.   “Muka lo merah.” Ujar Kevin. “Pasti ada yang lo sembunyiin kan?”   “Hah? Enggak kok. Gak ada. Gue cuma ... hmm gue ... .”   “Hi Baby ... .” sapaan Gibran mengintrupsi ucapan Jihan. Jihan menghela nafas lega tak perlu berbohong pada sahabat-sahabatnya, akan tetapi rasa lega itu mendadak menghilang lagi ketika melihat Alvin yang tentu saja datang bersama dengan Gibran, juga Bastian.   Jihan mengalihkan pandangannya dengan cepat, menghindari tatapan Alvin yang tersenyum seraya menatapnya dengan intens. Ditatap yang begitu ... sungguh membuatnya semakin malu. Semakin membuatnya merasa ingin menghilang, atau menenggelamkan diri, saat ini juga.   Di sisi lain, Fanya tersenyum lebar, kemudian bergelayut manja pada lengan Gibran dan kemudian menarik pemuda itu hingga duduk di samping kanannya. “Hi Babe ... Kamu bilang kamu bakalan duluan ada di sini? Tapi kok baru dateng? Abis darimana? Gak ngabarin lagi.”   Gibran terkekeh kecil lalu mengsap pipi Fanya dengan sangat lembut. “Maaf sayang ... Tadi nunggu Alvin dulu. jadi lama deh. Maaf ya? Hm? Sebagai permintaan maaf hari ini aku bakalan manjain kamu. Ayo pesen, apa yang kamu mau? Biar aku yang antri.” Ujar Gibran seraya tersenyum lebar dengan tangan yang kini merangkul bahu Fanya.   “Beneran ya? Traktir?”   “Iya sayangku ... mau apa? Hm?”   “Es krim.”   “Sayaang ini saatnya makan siang. Gak ada es krim.”   “Tapi kamu udah janji.” Rajuk Fanya.   Gibran menghela nafas kemudian mengangguk kecil. “Ok. Ok. Janji abis ini makan yang banyak? Ok?   “Ok!” Seru Fanya seraya tersenyum lebar, puas mendengar jawaban sang kekasih.   Sisi lainnya hanya mampu menghela nafas panjang kemudian menggeleng-gelengkan kepala. “Kok gue mendadak gak selera makan ya? Udah mual duluan liat tingkah kalian.” ujar Dania. “Terlalu banyak keju.” Lanjutnya sarkas.   “Sirik aja.” Balas Fanya yang kemudian memperhatikan Gibran lagi.   Dania mendesis seraya memutar bola mata.   “Gue juga ngerasain gitu kok, tenang ... lo gak sendiri.” Balas Bastian seraya saling melirik dengan Dania dan terkekeh pelan. “Lo tau Dan? Kemaren seharian gue liat cowok bucin di bapers yang terus bilang kangen padahal paginya mereka ketemu.”   Dania bergidik. “Geli bangetkan?” tanya Dania yang di angguki oleh Bastian.   “Bukan lagi. Kayaknya ... mulai detik ini kita harus tahan sama tingkah mereka.” lanjut Bastian yang juga di angguki Dania. “Bukan cuma Gibran Fanya. Tuh liat ... Alvin Jihan, makin lengket aja mereka berdua.” Lanjut Bastian lagi.   Dania termenung menatap interaksi Jihan dan Alvin, beberapa saat kemudian ia menghela nafas panjang, sudah terlalu biasa melihat mereka seperti itu.   “Oh iya Kak.” Dania menoleh ke arah Bastian. “Kapan lo mau ajarin gue maen gitar? Lo kan udah janji.”   Bastian terkekeh kecil. “Kapanpun sih gue santai, mau dimana?”   “Di Bapers aja kali ya biar lebih enak?”   “Ok. Kalo lo senggang malem ini di Bapers ya? Gue kebetulan kosong.” Saran Bastian yang di angguki oleh Dania.   Sementara itu Jihan masih berkutat dengan rasa malunya yang tak juga habis. Sungguh ... ia masih sangat malu jika harus berhadapan dengan Alvin. Ia sangat malu ... karena terlalu berharap pada sosok tampan itu.   “Ini.” ujar Alvin seraya memberikan sebuah buku tabungan beserta atm-nya.   Kening Jihan mengerut, lalu mendongak menatap Alvin yang menatapnya dengan intens. Ke—kenapa Alvin memberinya tabungan dan atm? Apa maksud dan tujuan dari pemuda dihadapannya ini? Jangan bilang Alvin ingin memberinya uang—?   “Ini jatah uang BEM selama kita menjabat. Tadi wakil rektor manggil gue dan Beliau ngasih itu. Lo pegang dulu.” ujar Alvin lagi seraya menyerahkan benda itu di atas telapak tangannya.   Jihan mengerjapkan matanya beberapa kali, beriringan dengan wajah yang mulai terasa memanas. Malu. Jihan g****k!!! Ngapain lo mikir kayak gitu Jihan? Anjir! Ngide banget lo mikir Kak Alvin mau ngasih lo duit? Emang lo pikir elo siapa? Pacarnya aja bukan. Ngapain dia ngasih lo duit?   Jihan memundurkan kepala ketika tiba-tiba Alvin mengulurkan tangan, meletakan punggung tangan itu tepat di atas keningnya. “Gak panas kok. Tapi kok aneh Han? Dari kemaren muka kamu merah terus. Perlu ke klinik gak? Atau mau anter ke dokter sekarang?”   “Hah? Enggak! Enggak kok. Gu-aku gak sakit kak, gak perlu ke klinik apalagi dokter. Aku cuma ... kepanasan? Iya kepanasan. Liat deh mataharinya terik banget jadi muka aku gampang merah gini.” Jelas Jihan dengan terbata, gugup. Jihan semakin memundurkan kepala ketika Alvin mulai semakin mendekatkan wajah mereka.   Tangan Alvin terulur, mengusak kepalanya sesaat sebelum menyentuh pipinya lagi. “Kalo kamu sakit mendingan pulang deh. Aku anter ke kost ya?”   “Enggak kok Kak! Gak sakit. Beneran. Lagian kita masih ada rapat kan? Evaluasi bulan ini.”   “Rapat urusan nanti. kesehatan kamu yang paling penting Jihan.”   “Tapi aku beneran gak sakit Kak. Kalo aku sakit aku pasti bilang dan aku pasti langsung pulang.”   “Bener?” tanya Alvin seraya mengusak kepalanya lagi. “Janji ya?”   Jihan meneguk ludahnya kasar ketika debaran jantung yang ia rasakan mulai menggila. Berdebar dengan sangat kencang. “I—iya kak aku janji.”   “Bang ... Kak Laura kemana?” Tanya Kevin pada Alvin. Lagi-lagi Jihan akhirnya mampu bernafas lega setelah ia bisa terlepas dari tekanan pertanyaan Alvin.   “Tadi dia pergi sama Dafi. Gak tau deh kemana.” Jawab Alvin yang hanya di tanggapi oleh anggukan-anggukan kecil oleh Kevin.   “Masih aja lo kepo soal Kak Laura Vin? Lo beneran suka ya?” Tanya Jihan dengan cepat. Berusaha ikut bergabung dengan percakapan itu, menghindari percakapannya dengan Alvin berlanjut kembali.   Alvin mengerutkan kening seraya menatap ke arahnya. “Kevin suka Laura?” tanya Alvin.   Jihan mengangguk semangat. “Iya Kak! Dia selalu bilang dia suka Kak Laura. Terus ya dia yang paling percaya diri bilang kalo Kak Alvin sama Kak Laura gak pacaran.”   Kevin menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. “Enggak kok Bang, gak gitu, gue cuma kagum aja. Lagian di kampus ini siapa sih yang gak kagum sama dia? Cantik, pinter, mandiri lagi. gak ada yang gak kagum sama cewek kayak dia.” Jelas Kevin.   “Ih dulu bilangnya gak gitu!” sangkal Jihan. “Udahlah gak asik. Padahal biasanya Kevin bilang suka banget sama Kak Laura.” Lanjut Jihan lagi, yang membuat Kevin mati kutu. Pemuda itu bahkan hanya bisa melirik ke arah Alvin yang tengah menatapnya dengan intens, sesaat.   “Kayak lo gak seneng nyangkal aja. Lo juga sebenernya suka kan sama Kak Alvin? Makanya mau pacaran sama dia?” balas Kevin.   “Ih! Gak gitu!!!” seru Jihan seraya sesekali melirik ke arah Alvin. “Orang dulu Fanya yang nyuruh, lo juga nyuru! Ngaku lo!”   “Alah alesan. Ngaku aja lo, muka lo merah tuh salting.”   “Gak gitu!!!” Seru Jihan lagi.   “Han ... .”   “Hm?”   Alvin menghadap ke arahnya, menatapnya dengan tatapan yang begitu intens. “Kalo beneran juga gapapa loh. Gue juga suka sama lo.” Goda Alvin.   Jihan mendelik ke arah Alvin. “Gak usah becanda! Gak lucu!”   . . .   “Han ... jangan gini. Jihan ... .”   Alvin meraih tangan Jihan, berusaha menggenggam jemari lentik itu, tapi Jihan lagi-lagi menepisnya.   “Udah dong ngambeknya? Masa ngambek terus.” Ujar Alvin ketika mereka tengah berjalan ke sekretariat BEM. Setelah Ia menggoda Jihan habis-habisan, gadis itu merajuk, tak mau berbicara padanya bahkan menoleh pun tidak sama sekali. Dia hanya berjalan lurus dengan bibir mencebik, tanpa menghiraukannya.   “Han ... sayang ... .”   Jihan mendelik kearahnya beberapa saat kemudian memutar bola mata, lalu beranjak pergi begitu saja mengabaikannya lagi, gadis itu bahkan berjalan cepat ke arah pintu sekretariat BEM yang sudah terlihat, meninggalkannya.   Alvin menghela nafas panjang dengan kaki terus melangkah menyusul Jihan yang kini berhenti tepat di depan pintu masuk yang tertutup.   “Han ... .”   “Mungkin gak sih Jihan kayak jual dirinya gitu? Ngerti gak sih lo? Ya kayak gak mungkin aja mereka pacaran gitu aja. Apalagi liat aja si Jihan hidupnya jadi enak banget. Sepatu branded, baju branded. Siapa lagi coba kalo bukan dibeliin Kak Alvin? Ya ... bayarannya mungkin?”   “Mungkin mereka gak sengaja cinta satu malam terus keterusan? Terlebih Kak Alvin pun gak pernah tuh pamer punya pacar di sosmed. Kalo mereka beneran pacaran harusnya kan minimal instastory lah gak di feed juga.”   “Pasti mantep ya service si Jihan kalo sampe beneran kayak gitu. Alvin langsung bucin begitu. Beneran kayak jadi beda orang anjir.”     Alvin mengeratkan kepalan tangannya dengan bola mata yang memerah menahan marah setelah mendengar kalimat-kalimat itu. Rahangnya mengatup tajam, nafasnya pun mulai memburu, bersiap meluapkan emosi.   Namun ketika Alvin hendak menyentuh daun pintu, lengannya di tahan. Ia menoleh ke kanan, ke arah Jihan yang sedang tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala. “Gak usah marah.”   “Tapi mereka udah hina kamu!” ujar Alvin setengah menggeram.   Jihan menggelengkan kepalanya lagi diiringi sebuah senyuman. “Gak usah marah.”   “Jihan ... .” panggil Alvin dengan jengkel. Bisa-bisanya Jihan tetap diam di saat ada yang menghinanya? “Tapi aku gak suka mereka ngomong gitu.”   “Kak ... .” Jihan mengelus lengannya beberapa saat seraya menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut. Tatapan yang secara perlahan melembutkan hatinya juga. Setelah itu Jihan kembali tersenyum. “Toh semua yang mereka bilang gak bener Kak. Jadi ... udah ya? Jangan marah ... Kalo Kak Alvin marah, aku akan lebih marah lagi sama Kakak.”   Alvin memejamkan mata dengan kepalan tangan yang masih mengerat, kesal. Ya ... bagaimana ia tak kesal jika di saat seperti ini Jihan justru tak marah? Padahal ia akan lebih puas jika Jihan membela diri dengan memarahi mereka. “Han ... aku lebih suka kamu marahin mereka deh. Jangan gini.”   Jihan lagi-lagi tersenyum. “Buat apa? Gak ada gunanya. Udah ya? Inget jangan marah.”   “Ok. Aku gak akan marah. Tapi sebagai gantinya besok kita jalan.”   Kening Jihan bertautan. “Kesepakatan macam apa itu? inget ya aku masih marah.”   “Jadi lebih milih aku marahin mereka sekarang?” ancam Alvin.   “Ih iya iya!!! Besok kita jalan. Ngancem aja bisanya.” Ujar Jihan seraya mencebikkan bibir kembali.   Alvin terkekeh kecil seraya mengusak puncak kepala Jihan. “Gitu dong ... .”   “Vin, Han ngapain masih di luar? Gue kira rapatnya udah mulai.” Seru Bastian yang baru saja keluar datang bersama dengan Dania.   Alvin mendorong pintu itu hingga terbuka lebar, membuat beberapa orang yang berada di ruangan itu terjengit, menoleh ke arahnya.   “Gapapa kok.” Jawab Alvin. “Kita cuma lagi ngomongin jadwal kencan.” Lanjutnya lagi seraya mendelik ke arah beberapa orang yang berada dalam ruangan itu.   . . .   Alvin sungguh tak pernah mengerti dengan cara berpikir Jihan yang ia rasa begitu berbeda dengan cara berpikir gadis lainnya. Jihan benar-benar gadis dengan pemikiran terbuka dan begitu bijak. Selama rapat berlangsung,... Jihan bahkan masih bisa membela mereka ketika ia memarahi orang-orang itu karena pekerjaan mereka yang buruk. Setelah rapat selesai Jihan bahkan masih bisa memberikan mereka semua senyuman, seolah tak terjadi apapun, seolah mereka tak pernah berkata buruk. Ia jadi penasaran, hati Jihan terbuat dari apa? Mengapa dia begitu baik?   “Di liatin mulu bro, tenang aja ... dia gak bakalan ilang kali.”   Alvin menoleh ke arah Gibran yang duduk dihadapannya kemudian menatap ke arah Jihan lagi yang sedang bekerja, bernyanyi dengan suara yang begitu indah.   “Gibran ... .”   “Hm?”   “Apa alesan lo deketin Fanya berbulan-bulan?”   “Hah? Maksud lo?”   Alvin mengalihkan pandangan ke arah Gibran lagi. “Maksud gue pendekatan kalian. Kenapa memakan watu banget?”   Gibran menyunggingkan senyumannya. “Gue udah bertekad gue gak mau main-main lagi Vin, gue mau serius sama Fanya. Makanya gue laluin proses lebih lama buat deketin dia, biar kita sama-sama tahu diri kita masing-masing dan dia bisa nerima gue apa adanya gue.”   “Kalo saat ini gue udah yakin sama Jihan, apa menurut lo ini aneh?”   “Apa?”   Alvin mengalihkan pandangannya lagi pada Jihan yang sedang menghayati nyanyiannya. Tak berniat menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.   “Maksud lo ... lo beneran suka sama Jihan?”   Alvin tak langsung menjawab. Ia masih menatap Jihan dalam diam selama beberapa waktu, menikmati desiran halus yang memenuhi hatinya. “Lebih dari itu.”   “Lo cinta sama dia?”   “Gue pengen dia jadi istri gue, sekarang juga.”   “What?!” seru Gibran heboh. Lalu menarik lengan bajunya. Membuatnya kembali menatap Gibran.   “Alvin! Ini ... gue gak salah dengerkan?” tanya Gibran dengan mata yang mengerjap dan kedua tangan yang memegangi telinganya.   “Gue udah ada rencana bakalan nembak dia besok dan lamar dia secepatnya.”   “Serius lo?!”   Alvin menarik nafas panjang kemudian menghembuskan nafasnya lagi, lalu menatap Gibran tepat di iris mata sahabatnya itu.   “Apa di mata lo sekarang gue lagi becanda?”   Gibran terdiam. Ia menatap iris mata Alvin, menyelami isi pikiran dan perasaan sahabatnya itu dengan seksama. Tak lama setelah itu Gibran tersenyum seraya menepuk-nepuk pundak Alvin.   “Good luck bro. Gue tunggu kabar baiknya.”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN