Pagi hari Jihan begitu semangat, gadis itu bahkan terjaga sejak sebelum fajar dengan senyuman yang begitu cerah dan rona wajah yang tampak begitu bersinar. Gadis itu terus bersenandung, memutar tubuh seperti berdansa kemudian tertawa kecil saat melihat dirinya sendiri di depan cermin.
Hari ini ... ia begitu bahagia. Ya ... tentu saja. memang siapa yang tidak bahagia diajak berkencan oleh seseorang yang di sukai? Padahal biasanya tanggal merah begini akan ia gunakan untuk beristirahat sampai tak pernah mau di ganggu siapapun. Tapi kali ini ... rasanya begitu berbeda. Ia begitu bahagia, sangat bahagia meskipun hari liburnya terganggu.
Jihan masih bersenandung ketika dirinya menepuk-nepuk wajahnya saat menggunakan skincare. Gadis itu sesekali memekik senang seraya memegangi wajahnya yang mulai memerah. Malu membayangkan bagaimana manisnya Alvin ketika mereka bersama.
“Tenang Jihan ... tenang. Tarik nafas ... .” Jihan menarik nafas panjang kemudian membuangnya lagi, berusaha menahan gejolak penuh kebahagiaan yang menguasai dadanya. Tapi setelah itu ia kembali mengembangkan senyumannya begitu lebar.
“Jihaaaaan ... stop senyum! Oke. Tahan ... .” Jihan menarik nafas lagi kemudian membuangnya. “Lo harus tenang Jihan lo harus tenang kayak lo yang biasanya. Jangan kayak gini. Lo juga jangan kegeeran. Kak Alvin cuma ngajakin lo jalan oke? Cuma ngajakin jalan, bukan ngajakin kencang.” Jihan berdehem sesaat. “Oke ... lo harus bersikap biasa Jihan. Lo harus bersikap biasa. Inget ... kita cuma pacar bohongan, hubungan kita cuma sebatas hubungan palsu.”
Jihan tersenyum pada pantulan dirinya sendiri yang tampak mulai tenang. Rona wajahnya pun perlahan mulai berkurang, ketika gadis itu mulai bisa mengendalikan dirinya sendiri. setelah itu ia melanjutkan aktivitasnya, membubuhkan beberapa skincare lalu make up yang sangat sederhana, tidak berlebihan sama sekali, tampak begitu natural.
Setelah selesai rutinitasnya ia kemudian memakai pakaian yang sudah ia siapkan sejak semalam, inner berwarna putih dengan cardigan berwarna senada, lalu jeans kulot serta sneakers berwarna kuning kebanggaannya. Memang ... tak akan sebanding dengan penampilan Alvin, tapi setidaknya ia sangat percaya diri dengan penampilannya ini.
Jihan menatap pantulan dirinya sendiri lalu tersenyum puas setelah melihat hasilnya. Meskipun tak mewah tapi ia sangat puas dengan penampilannya itu. Jihan menghela nafas panjang kemudian meraih ponselnya yang berdering ketika sebuah pesan masuk. Dari Alvin.
.
.
.
Jihan siap-siap.
Aku berangkat sekarang.
Gak perlu sarapan kita sarapan bareng di luar.
.
.
.
Jihan menyunggingkan senyumannya sebelum membalas pesan tersebut.
.
.
.
Udah siap kok Kak, tinggal nunggu Kak Alvin dateng [delete]
Iya Kak Alvin. Aku udah siap kok tinggal berangkat. [delete]
Aku tunggu Kak. Tinggal berangkat kok [delete]
Bawel, cepetan aja dateng, telat lima menit gak ngomong lima hari [send]
.
.
.
Jihan tersenyum puas melihat pesan balasan yang ia kirimkan. Hmm, tentu saja ia tak boleh terlihat terlalu berharap bukan? Ia tak boleh terlihat terlalu semangat! Ingat! Ia harus tetap terlihat biasa saja. Titik.
“Oke Jihan, pas ketemu pokoknya jangan berlebihan. Tahan bibir lo jangan sampe senyum terlalu lebar. Inget! Jangan malu-maluin.” Pesan Jihan pada dirinya sendiri.
Perlahan waktu bergulir detik demi detik, menit demi menit hingga dua jam berlalu tapi Alvin tak kunjung datang. Dari mulai ia menunggu Alvin dengan mengerjakan tugas, hingga merapihkan buku yang berserakan, sampai membuat kamarnya bersih dengan menyapu dan mengepelnya. Tapi Alvin belum juga menunjukan batang hidungnya. Entah sudah keberapa kalinya ia melirik jam dinding, lalu keluar ke arah balkon untuk memastikan kedatangan Alvin, tapi pemuda itu tak kunjung datang.
Jihan kembali masuk ke dalam kamar kost, melihat ke arah jam yang menggantung di dinding itu lagi lalu menghela nafas panjang. Jihan memutuskan untuk duduk bersila di depan laptop kesayangannya, memutar sebuah film demi membunuh jenuh yang ia rasakan.
Akan tetapi hal itu tidak berpengaruh, hingga seperempat film itu di putar pikirannya kembali terarah pada Alvin. Ia menatap kosong layar lalu mematikan film itu lagi sebelum meraih ponselnya, berharap ada secercah petunjuk tentang keberadaan pemuda itu. Tapi ternyata Alvin tak ada menghubunginya sama sekali.
Seingatnya jarak antara apartemen Alvin dengan kost-nya tidak sampai setengah jam. Tapi mengapa hingga hampir tiga jam seperti ini Alvin tak juga datang? Apa yang terjadi?
Ponsel Jihan kembali berdering, membuat Jihan terperanjat kemudian segera membaliknya. Menatap layar. Ternyata sebuah panggilan masuk itu bukan dari Alvin, melainkan sebuah panggilan Video dari Dania. Jihan segera menjawabnya.
“Rapih amat lo, mau kemana? Tau ya kita mau jemput?” tanya Dania begitu panggilan itu tersambung. “Lah iya Han, tumben banget dah rapih.” Itu suara Dafi yang sedang menyetir.
“Mana-mana? Masa iya Jihan rapih pagi gini, mana libur.” Itu suara Fanya yang kemudian muncul dari bangku belakang mobil yang Dafi kendarai. “Anjir Han, lo mau kemana? Tumbenan banget? Biasanya mager lo kalo libur.”
“Gue mau jalan sama Kak Alvin. Kemaren udah janjian mau jalan.”
“Pantesan.” Ujar Dafi. “Jadi lo gak mau ikut? Kita mau maen ke Hey Beach.”
“Hey Beach?” Tanya Jihan antusias. “Ih ... Mau baget ... tapi gue udah janji duluan sama Kak Alvin, gak enak batalinnya Bang. Coba deh ngajaknya dari kemaren.” Ujar Jihan dengan penuh penyesalan.
“Han, Fanya aja ikut loh yang notabennya pacaran sama Kak Gibran. Masa lo enggak?” tanya Dania.
“Bukan masalah pacar atau bukan Dan, tapi ini janji. Janji harus di tepatin. Kalo belom janji gue juga pasti ikut kalian kok.”
“Emang lo janjian jam berapa?” tanya Fanya.
Jihan menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu. “Jam delapan.”
“Seriously? Han ... Lo liat ini jam berapa? Hampir jam sebelas dan lo masih mau nungguin dia? Udahlah ikut kita aja. Kita jemput lo sekarang.” Ucap Dania dengan nada yang terdengar mulai kesal.
“Gak perlu ... kali aja sebentar lagi dia dateng. Gue gak mau entar pas dia dateng gue gak ada. gak enak kan jadinya?”
“Yaudah gak masalah Han, kapan-kapan kita maen ke sana lagi bareng lo. Lo have fun ya sama Alvin. Atau ... lo nyusul aja sama dia entar. Gimana?” saran Dafi.
“Hmm gue gak tau Bang, entar deh gue omongin ke dia.”
“Itu pun kalo dia dateng.” Tambah Dania sarkas.
“Dania!” tegur Dafi.
Dania menghela nafas panjang. “Kan bener? Kalo dia dateng. Kalo enggak yaudah ... tapi Han ... kalo dia gak dateng lo harus langsung telpon kita. Pokoknya lo harus hubungin kita.”
“Thanks kalian ... tapi gue gapapa kok. Kalian seneng-seneng aja di sana jangan mikirin gue.” Ujar Jihan seraya menyunggingkan senyuman. Berusaha untuk tidak membuat sahabatnya khawatir.
“Jangan bilang gapapa Han. Jam dua gue telepon lo lagi. Kita juga gak bisa seneng-seneng kalo lo sendirian. Kita sahabat lo. Kalo kita mau seneng-seneng harus seneng-seneng bareng.” Ujar Dania lagi, kali ini dengan sedikit lebih lembut.
“Thanks Dan, yaudah kalian have fun ya ... .”
“Inget buat telepon kita Han.” Pesan Fanya.
“Iya iya ... gue pasti langsung telpon kalian.”
“Yaudah, kita langsung cus ke Tangerang ya kalo gitu. Inget buat telpon. Bye Han ... .” ujar Dania seraya melambaikan tangannya ke arah kamera.
Jihan menarik nafas panjang begitu panggilan itu berakhir. Kemudian menghembuskannya lagi lalu melihat jam yang berada di layar ponselnya.
Kak Alvin ... lo kemana sih? Kok ngilang gini? Harusnya lo bilang kalo dateng telat. Batin Jihan.
***
“Gue kok curiga acara mereka bakalan gagal ya?” ujar Dania.
“Jangan gitu Dan, omongan adalah do’a.” tegur Dafi dengan pandangan yang masih fokus pada jalan raya.
“Tapi Bang, gue pun mikir kayak gitu.” Kali ini Fanya yang menimpali. “Ini udah hampir tiga jam dan Kak Alvin gak dateng. Perlu gak ya gue telpon? Gue yakin Jihan pasti gak berusaha hubungin Kak Alvin. Atau gue tanya Kak Gibran”
“Mungkin aja ban mobilnya bocor atau tiba-tiba di jalan ada sesuatu. Kan kita gak tau ... jangan berpikiran buruk dulu, dan jangan juga terlalu manas-manasin Jihan. Biarin Jihan milih apapun yang dia mau, dia juga berhak bahagia. Kita sebagai sahabat cuma perlu ada di deket dia saat dia butuh kita. Jangan terlalu ikut campur atau bahkan manas-manasin, yang ada Jihan malah makin gak enak hati.” Dafi melirik Dania dan Fanya sesaat. “Jangan sampe kita bikin Jihan gak nyaman deket kita, kalo udah kayak gitu yang ada dia gak bakalan terbuka lagi sama kita. Kalian ngertikan maksud gue?”
Dania dan Fanya mengangguk.
“Sekarang telpon Kevin Dan, tanyain dia jadi ikut gak?”
Dania mengangguk kemudian mendial nomor Kevin sesuai keinginan Dafi. Deringan terdengar tapi tak ada jawaban hingga operator yang menjawab panggilannya. Dania mencoba sekali lagi, tapi yang ia dapatkan sama. Tak ada jawaban dari Kevin.
“Gak ada Bang, mulai deh dia ngilang kayak gini.” Ujar Dania. “Heran gue, sering banget ini anak ilang gak jelas kayak gini, udah kayak setan aja.”
“Tau sendirilah si Kevin teledor, tau-tau dia udah sampe tanpa bawa hape. Lanjut aja deh.” Ujar Fanya. “Jangan sampe kita gagal ke sana. gue udah bela-belain gak ngedate sama Kak Gibran.” Lanjutnya lagi.
Dania memutar bola matanya, malas mendengar hal itu lagi. “Emang beda ya kalo udah ada pacar tuh sama temen udah kayak gak penting lagi.”
“Ih gak gitu Dan ... tapi kan lo tau sendiri ... gue baru jadian dan pengen aja bareng dia terus.” Ujar Fanya seraya mencebikkan bibirnya.
“Yaudah sih yang penting Fanya di sini dan kita jadi ke Hey Beach. Dah jangan berantem terus.” Lerai Dafi yang memuat kedua gadis itu berhenti berdebat.
***
Jam 4 sore dan Jihan masih di tempat yang sama, di kamar kost-nya tanpa ada kepastian. Berulang kali ia menghidupkan layar ponsel berharap yang di tunggu setidaknya ada menghubunginya, tapi yang ia dapati masih sama. Tak ada pesan maupun panggilan dari Alvin. Berjam-jam sudah berlalu, ia pun masih menunggu tanpa makan sama sekali, ia hanya meminum satu gelas sereal saja sebagai pengganjal rasa lapar. Bukannya di sana tak ada makanan, tapi ia hanya takut ketika ia makan Alvin datang lalu mengajaknya makan lagi.
Dalam benaknya ingin sekali ia menghubungi Alvin. Ia pun berulang kali hampir mendial nomor ponsel pemuda itu, akan tetapi ia selalu mengurungkan niatnya lagi dan lagi. Jujur saja, sebenarnya ia sangat khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Alvin ketika di perjalanan saat menuju kost. Namun di satu sisi ia pun sungkan, ia takut jika ia menghubungi pemuda itu ia justru akan mengganggu. Hingga pada akhirnya ia memutuskan hanya diam, menunggu. Sekalipun tanpa ada kepastian.
Tok tok tok!
Jihan terperanjat kaget, ia pun segera berdiri kemudian membuka pintu kamarnya. Berharap sosok yang ia tunggu datang menjemput. Tapi ternyata yang datang justru Dania, Fanya dan juga Dafi.
“Alvin-nya ada?” tanya Dania dengan iris mata yang menatapnya dengan tajam, menusuk begitu dalam. Namun terlihat begitu jelas, ada kecewa dan rasa khawatir dalam tatapan itu.
Jihan menggeleng pelan. “Dia gak dateng.”
Tanpa banyak bicara Dania memeluk Jihan, menepuk-nepuk punggungnya, mengelusnya selama beberapa saat. Fanya pun ikut bergabung memeluknya dari sisi lain lalu melakukan hal yang sama sementara Dafi hanya menepuk kepala mereka satu persatu. Hatinya yang merasa risau, dan kecewa perlahan serasa lebih baik, rasa sesak yang sebelumnya hampir membelenggu kini perlahan terkikis karena kasih sayang yang secara langsung ia rasakan dari sahabat-sahabatnya itu.
Tak lama kemudian pelukan mereka terurai.
Dania tersenyum dengan tangan kanan mengelus pipi Jihan. “Gapapa, ada kita. Yuk makan, tadi di jalan kita beliin makanan buat lo.” Ujar Dania seraya menarik lengan Jihan.
Jihan pun ikut tersenyum, meskipun tak benar-benar lega. Mereka duduk berempat, mengelilingi makanan yang sudah Dafi buka.
“Kalian kok malah ke sini? Gue kan udah bilang kalian harusnya have fun di sana, sampe tempatnya tutup kalo perlu.”
“Gue udah bilang kan jam dua lo harus telpon gue. Tapi lo gak lakuin. Kita khawatir sama lo, kita juga udah feeling Kak Alvin gak dateng. Dan ternyata bener ... .” ujar Fanya. “Lain kali lo jangan gini dong Han, kita sahabat. Lo harus bilang apapun ke kita.” Lanjutnya lagi.
“Thanks banget ... kalian emang yang terbaik. Tapi jujur, gue bingung, gue pikir seenggaknya dia bakalan dateng siang atau sore. Soalnya Kak Alvin gak pernah ngilang tanpa pamit kayak gini. Dia pasti pamitan mau kemanapun itu. Bahkan mau makan atau mandi pun dia ngasih tau.”
“TMI banget.” Ujar Dania. “Tapi yaudah ... gak usah di pikirn Han. Mendingan kita makan. Yuk kita abisin makanannya. Nih, nasi goreng perempatan kesukaan lo.”
Jihan menerima bungkusan dari tangan Dania lalu menyantap makanan itu meskipun dengan setengah hati, pikirannya masih mengawang, mengkhawatirkan Alvin yang tak jelas keberadaanya. Tapi di sisi lain ia sadar, ia tak boleh terlalu banyak melamun, ia tak boleh tidak menghargai teman-temannya ini, sahabatnya.
“Han, udah coba telpon Alvin?” tanya Dafi.
“Belum. Gue takut gue ganggu.” Ujar Jihan.
“Sekali nelpon gak akan masalah kali Han. Coba telpon dulu kali aja ada kejelasan.” Ujar Dania.
Jihan menarik nafas panjang, mengumpulkan keberanian untuk menghubungi Alvin, beruntunglah ada ketiga sahabatnya itu yang memberinya dukungan, sehingga akhirnya ia berani menghubungi Alvin.
Tapi sayang ... suara operator yang menjawab. Pertanda bahwa Alvin mematikan ponselnya. Jihan menatap ketiga sahabatnya kemudian menggeleng pelan.
Dafi menghembuskan nafas kecil lalu mengalihkan pandangan pada Fanya. “Fan tanyain Gibran deh, kali aja Alvin sama dia.”
Fanya mengangguk kecil lalu menghubungi Gibran dan menghidupkan speaker.
“Hallo Baby ... gimana liburannya sayang? Seru?”
“Hi Babe ... Ya ... gitu deh. Sekarang aku udah di kost Jihan lagi.”
“Loh kok?”
“Jihan sendirian, jadi kita putusin balik cepet.”
“Bukannya Jihan ada acara juga sama Alvin?”
Bola mata Jihan bergetar, sedikit terkejut ketika mendengar jawaban pemuda itu.
“Kak Alvin gak dateng Kak.” Ujar Dania. “Gue kira mungkin dia sama lo.”
“Gak ada. Dari pagi gue sendiri. Bastian juga gak dateng.”
“Kak.” Panggil Jihan dengan suara yang terdengar begitu sendu. “Kak Alvin ada ngabarin gak?”
“Gak ada juga. Coba telpon Bastian. Biasanya Alvin sering bareng Bas.”
Fanya mendongak menatap ke arahnya, lalu menghela nafas. “Kalo gitu udah dulu ya Kak, aku hubungin Kak Bastian dulu.” ujarnya.
“Hm ... see you Baby.”
“See you too ... .”
Tanpa menunggu intruksi yang lain Jihan segera menghubungi Bastian. Tak langsung menjawab, membutuhkan beberapa waktu sampai suara pemuda itu terdengar.
“Hallo Han.”
“Kak Bas ada Kak Alvin?”
“Hm Alvin? Enggak. Gue sekarang lagi di Lombok sama nyokap. Emang dia gak ada nemuin lo? Kemaren dia bilang dia mau jalan kan sama lo?”
Jihan menghembuskan nafasnya lagi. “Gak ada Kak, kalo gitu yaudah. Thanks ya Kak Bas, sorry banget ganggu waktu lo.”
“Oke Han. Santai. Han udah coba telpon Laura?”
“Belum Kak.”
“Coba deh telpon, biasanya mereka sering banget hangout bareng.”
“Oke. Sekali lagi makasih ya Kak. Bye.”
Jihan mematikan panggilan tersebut setelah mendapatkan jawaban dari Bastian. Tanpa berpikir panjang lagi ia segera menghubungi Laura, harapan satu-satunya untuk mendapatkan petunjuk tentang Alvin.
“Hallo Han? Nyari Alvin?”
Jihan membasahi bibirnya, gugup. Ia kemudian meneguk ludahnya kasar sebelum menjawab pertanyaan itu. “Iya Kak, Kak Laura lagi sama Kak Alvin?”
“Dia ada di sini. Di apartemen gue. Gue harap lo jangan dulu hubungin Alvin, Jihan. Sampai dia sendiri yang hubungin lo.”
Deg!
Kenapa? Kenapa ia tak boleh menghubungi Alvin? Ia hanya ingin kejelasan. Kenapa dia tak datang menemuinya? Padahal dia sudah berjanji, ia bahkan menjaga janji itu dengan baik. Kenapa dia justru datang menemui Laura? Kenapa dia menemui gadis lain dan mengabaikannya begitu saja? Kenapa? Apa hubungan Alvin dengan Laura? Kenapa Alvin lebih memilih Laura daripada dirinya? Apa salahnya?
Tangan kiri Jihan terkepal, menahan kekesalan yang perlahan mulai bercokol dalam dadanya. Dari sisi kiri Fanya menggenggam tangannya itu, sementara dari sisi kanan Dania mulai mengelus punggungnya.
“Tapi ... Kak Alvin baik-baik aja kan?” tanya Jihan dengan suara tercekat.
“Lo gak perlu terlalu khawatir, dia baik-baik aja. Besok atau lusa dia pasti hubungin lo.”
Nafas Jihan tercekat, oleh sesak yang mulai memenuhi dadanya. “Oh? Oke Kak. Kalo gitu gue tutup. Bye.” Laura hanya menanggapinya dengan sebuah gumaman kecil sebelum mematikan sambungan telepon tersebut.
Jihan memejamkan mata dengan nafas yang mulai memburu dan terputus-putus akibat menahan luapan emosi yang menguasai dirinya.
Apa salahnya? Kenapa Alvin melakukan ini padanya?