15. Merindu

2256 Kata
  Dari semua yang ada dalam pikiran Jihan, hanya satu pertanyaan yang sangat membuatnya penasaran. Satu-satunya yang sangat ia ingin tahu dari Alvin. Yaitu ... hanya tentang hubungan Alvin dan Laura. Hubungan macam apa yang mengikat mereka berdua? Mereka mengatakan mereka adalah sahabat yang sangat dekat, ia pun tahu itu. Tapi apakah semua sahabat sedekat Alvin dan Laura? Sekalipun ia mungkin tak pernah seberarti Laura dalam kehidupan Alvin tapi rasanya ... tak etis juga Alvin seperti itu, hingga mengingkari janji untuk bertemu dengannya hanya untuk menemui Laura? Lebih buruknya bahkan sampai saat ini, Alvin tidak menghubunginya sama sekali.   Dua hari sudah berlalu tanpa ada kabar dari Alvin sama sekali. Ia kesal? Iya, tentu saja ia sangat kesal. Tapi lubuk hati terdalamnya tak bisa berbohong, bahwa ia begitu merindukan sosok itu, ia begitu merindukan sosok Alvin. Ia merindukan Alvin dengan segala tingkah yang pemuda itu miliki.   “Sebenernya ada hubungan apa sih Kak Alvin sama Kak Laura?” itu bukan pertanyaannya, tapi pertanyaan Fanya pada Gibran. Saat ini mereka tengah berada di café milik Gibran, menunggu jam kerjanya mulai seperti biasa.   “Sahabat kok. Cuma emang karena Alvin sama Laura kenal dari kecil jadi hubungan mereka lebih deket daripada ke aku atau Bastian.” Jawab Gibran. “Han ... jangan terlalu dipikirin. Alvin emang sering kayak gini, bukan cuma sekali dua kali. Kalo dia udah ngerasa baik dia pasti balik kok.”   “Bukan gitu Kak masalahnya! Tapi dengan begini dia tuh gak ngehargain Jihan banget. Kalo ada kepentingan atau apapun seenggaknya bilang kek? Seenggaknya ngomong dulu sesuatu walaupun singkat. Jangan dikira hidup Jihan cuma berputar di sekeliling dia doang. Jihan bukan kalian yang udah biasa memahami posisi Kak Alvin. Egois banget.” Ucap Fanya dengan berapi-api.   Setelah mendengar kenyataan bahwa Alvin berada di tempat Laura, Fanya memang menjadi seperti itu. Selalu saja emosi jika membahas Alvin dan Laura. Anehnya meskipun selalu saja emosi, tapi Fanya pun tampak sangat penasaran dengan hubungan kedua orang yang katanya sahabat itu. Bahkan mungkin lebih penasaran dari yang ia rasakan.   “Baby ... kok kamu malah marahin aku? Aku kan bukan Alvin.”   “Ya tapi dia sahabat kamu! Harusnya kamu tuh kasih tau kedia! Harusnya kamu bilang kalo semua yang dia lakuin ini salah! Jangan mentang-mentang sahabat, salah tetep di bela!”   “Aku gak bela Alvin Babe ... aku cuma bilang apapun yang aku tau aja. Aku gak pernah menganggap kalo yang Alvin lakuin ini bener. Aku juga pasti tegur dia kok. Tapi gak sekarang. Aku juga belum hubungin Alvin. Aku juga nunggu sampe Alvin sendiri yang muncul.”   “Bela aja terus! Kenapa gak samperin ke tempat Kak Laura? Kalian kan sahabat! Pergi sana kasih tau kalo semua yang dia lakuin itu salah!”   “Kamu gak tau apa-apa Fanya.”   “Iya aku emang gak tau apa-apa!!!”   “Fanya stop, Kak Gibran cukup. Kenapa kalian malah debat di depan gue?” Jihan mengurut keningnya yang mendadak terasa pening. Pandangannya bahkan mendadak berputar mendengar suara-suara perdebatan yang silih berganti masuk ke kuping kiri dan kanannya.   Batinnya sudah cukup merasa tertekan dengan pemikirannya sendiri. Ia tak ingin mendengarkan perdebatan seperti ini. Ia tak ingin mendengarkan apapun lagi. Ia hanya membutuhkan ketenangan, ia hanya membutuhkan waktu untuk menerima semua ini. Tapi kenapa bukannya menenangkan, mereka malah berdebat seperti ini.   “Udah cukup. Gue udah capek banget. Kalian jangan berantem cuma gara-gara gue. Gue gapapa, gue baik-baik aja. Kak Alvin cuma butuh waktu sendiri dan gue bisa nunggu.”   “Tapi Jihan ... gue tau lo juga ... .”   “Biarin kepala gue dingin Fan sampai gue bisa ketemu Kak Alvin dan ngomongin semuanya berdua. Thanks banget kalian semua udah peduli sama gue. Tapi jangan sampe kalian berantem gara-gara gue. Please ... Gue gak mau hubungan kalian jadi buruk cuma karena masalah kayak gini.”   Dafi muncul dari arah pintu masuk, pemuda itu berjalan dengan langkah cepat ketika melihat bagaimana mereka bertiga tampak bersitegang. “Ada apa ini?”   “Bang ... anterin gue pulang. Kak sorry sore ini gue masih gak bisa kerja. Gue capek. Gue pusing pengen istirahat.” Jihan kemudian bangkit, lalu meraih tas. “Gue pulang ya Kak ... gue usahain besok gue mulai kerja. Yuk Bang.” Ucap Jihan seraya meraih lengan Dafi, pergi dari tempat itu.   Sungguh ... ia hanya tak ingin suasana di antara Fanya dan Gibran memanas, hanya karena hubungannya dan Alvin sedang tak baik.   Sepeninggal Jihan, Gibran meraih tangan Fanya, menggenggam tangan Fanya dengan lembut kemudian memberikannya senyuman. “Baby ... I’m sorry ... Tapi aku juga bener-bener belum bisa ketemu sama Alvin. Kalo udah bisa ketemu aku pastikan bakalan marahin dia nanti. Ya? Maaf ya? Jangan marah lagi.”   Fanya menarik nafas panjang kemudian menatap ke arahnya lagi lalu mengangguk kecil. “Pokoknya kamu harus marahin dia. Aku gak suka cara dia permainin Jihan.”   “Iya sayang ... pasti.” ujar Gibran seraya mengelus surai Fanya. “Aku bakalan marahin dia nanti. Udah ya? Jangan marah. Ya?”   Fanya mengangguk lalu menyunggingkan senyumannya. “Oke. Tapi satu cup es krim dulu.”   “Baby ... es krim lagi? Tiap hari makan es krim? No.”   “No?” kening Fanya mengerut. “Yaudah kalo gak boleh. Aku marah.”   “Baby ... iya iya ... aku bawain es krim buat kamu. Tapi jangan marah ya dan besok gak ada es krim.”   “Oke.” Ujar Fanya kemudian tersenyum lebar seraya memeluk lengan Gibran dengan erat. “Sekarang ... ayo beli es krimnya.”   . . .   Sementara itu di lantai dua café ada Dania bersama dengan Bastian yang baru pulang dari Lombok malam tadi. Beberapa saat Dania masih diam, hanya menatap ke arah Bastian yang sedang memainkan gitarnya. Hari ini ia sengaja meminta Bastian datang untuk mengajaknya berbicara tentang Alvin dengan alibi melanjutkan sesi latihan gitarnya. Tapi sampai Bastian menyelesaikan dua buah lagu ia belum juga membuka suara, selain menatap kosong ke arah gitar yang sedang Bastian mainkan.   “Dan ... Dania. Hei. Dania ... Kenapa malah ngelamun?” tanya Bastian.   Dania mengerjapkan matanya sesaat sebelum menatap ke arah Bastian lalu menyunggingkan senyumannya.   “Ada yang dipikirin Dan? Mau cerita ke gue?” tanya Bastian lagi.   Dania menatap Bastian sesaat lalu mengangguk kecil. “Tentang Kak Alvin.”   Bastian menyinglirkan gitar dari pangkuannya, kemudian duduk tegap menghadap ke arah Dania. “Ada yang mau lo tanyain?”   Dania menoleh, menatap ke arah Bastian yang menatapnya intens. “Ada hubungan apa Kak Alvin sama Kak Laura?”   Kening Bastian mengerut. “Tentu saja ... mereka sahabat, kami sahabat. Bedanya hubungan Alvin dan Laura lebih dekat daripada kami.”   “Maksudnya? Lebih deket gimana?”   Bastian menghembuskan nafas lalu tersenyum. “Mereka kenal dari kecil, mereka udah ketergantungan satu sama lain. Mereka bukan sahabat lagi. Tapi keluarga, terlebih keluarga mereka pun bersahabat, orangtua Alvin bersahabat dekat dengan Ayah Laura. Jadi ketika salah satu terluka, satunya akan ikut merasakan, karena itulah hubungan mereka terlihat lebih spesial. Alvin sangat menjaga Laura, begitu juga Laura, dia sangat menjaga Alvin. Meskipun kami berempat bersahabat, tapi aku dan Gibran tak bisa masuk dalam kehidupan mereka lebih jauh. Bukan berjarak, tapi kami paham mereka lebih nyaman untuk menenangkan diri satu sama lain terlebih dulu sebelum mengatakannya pada kami.” Ujar Bastian kemudian kembali tersenyum. “Cuma itu yang bisa gue ceritain Dan, sisanya biar mereka sendiri yang cerita sama kalian nanti, yang jelas ... gue bisa pastiin, mereka emang deket banget, tapi mereka gak ada hubungan lain, selain sahabat.” tambah Bastian lagi.   “Lo tau kan di hari Kak Alvin hilang harusnya Kak Alvin jalan sama Jihan?”   Bastian mengangguk.   “Setelah nelpon lo kita langsung nelpon Kak Laura, dan bener ... Kak Alvin ada di sana.” Dania membasahi bibirnya sesaat. “Gue tau ini bukan ranah gue nyari tau tapi gue sedih aja liat Jihan kecewa banget setelah denger Kak Alvin malah ada di tempat Kak Laura padahal Jihan nunggu dari pagi buta Kak. Gue sedih banget liat Jihan yang kayak gitu tapi dia gak bisa ngapa-ngapain. Gue bisa rasain gimana rasanya jadi Jihan yang ... buat marah aja dia gak ada hak. Lo ngertikan Kak maksud gue?”   Bastian kembali mengangguk. “Gue tau ... gue ngerti Dan ... gue juga sadar hubungan mereka sedikit lebih rumit. Tapi percaya deh sama gue ... mereka cuma sahabat. Seperti yang udah gue bilang, gue pastiin hubungan mereka cuma sahabat, gak lebih dari itu dan gak akan lebih dari itu. Alvin kayak gini pasti ada alesannya, nanti setelah dia muncul gue yakin dia pasti jelasin. Bukan karena ada suatu hubungan lain antara Alvin dan Laura. Tenang ya ... dan gue minta maaf atas nama Alvin buat Jihan. Maaf juga buat  lo ... sahabat gue udah bikin sahabat lo khawatir.”   Dania menghembuskan nafas kemudian mengangguk kecil. “Gak masalah kak, Gue cuma mikir kalo Kak Alvin mempermainkan Jihan, tapi kalo mereka gak ada hubungan khusus gue lega. Seenggaknya mungkin ... masih ada kesempatan buat Alvin sama Jihan bisa bareng.”   Bastian terkekeh seraya mengusak kepala Dania sesaat. “Lo tuh ya di depan Jihan sama Fanya galak banget, kayak gak suka aja mereka kalo bareng temen-temen gue. Tapi di belakang mereka lo khawatir, lo peduli banget.”   Dania tersenyum masam. “Gue tetep berharap mereka bahagia sama pilihan mereka Kak meskipun kadang gue khawatir, di depan mereka gue cuma berusaha terdengar logis supaya bisa kendaliin isi pikiran mereka biar gak terlalu berlebihan saat mencintai seseorang. Sebenernya gue gak nentang hubungan mereka, karena gue juga udah rasain gimana perasaan mereka berbalas. Tapi ... gue cuma khawatir. Khawatir banget Kak.”   “I know ... gue ngerti Dan ... tapi gue bisa pastiin Alvin gak akan pernah permainin perasaan Jihan. Alvin cowok bertanggung jawab, dia pasti akan mempertanggung jawabkan perasaannya sendiri. Kalo pun dia berulah, gue pastiin gue bakalan ingetin dia. Tapi sampai saat ini setelah beberapa tahun kenal Alvin, gue gak pernah liat sikap gak bertanggung jawab dari Alvin. Terlebih ... gue juga yakin, Alvin cinta banget sama Jihan.”   “Lo juga rasain?”   Bastian mengangguk. “Sejak ada Jihan, Alvin banyak berubah. Alvin lebih sering tersenyum dan tertawa. Alvin terlihat lebih bahagia. Apalagi kalo gue liat Alvin yang lagi merhatiin Jihan. Udah kayak Alvin liat dunianya, semestanya dan pusat kehidupannya.”   “Lebay banget.” Ujar Dania seraya mencebikkan bibir.   Bastian terkekeh kecil, sebelum menatap Dania dengan intens kembali. “Tapi emang bener. Sifat Alvin tuh hampir sama kayak gue. Jadi gue rasa, ketika dia jatuh cinta sama seseorang pun akan sama seperti yang gue rasain saat gue liat orang yang gue cinta.”   Dania mengerjapkan matanya beberapa saat kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain, menghindari tatapan Bastian yang terasa mendadak aneh. Tak lama setelah itu Dania bangkit dari tempat duduknya.   “Gue ... ambil makanan dulu Kak.” Pamit Dania tanpa menatap Bastian. Setelah itu ia hanya beranjak pergi meninggalkan tempat itu tanpa berbalik ke arah Bastian sama sekali.   Bastian menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi, seraya menatap punggung Dania yang menghilang dibalik tangga.   . . .   “Thank you Bang.” Ujar Jihan setelah turun dari motor sport milik pemuda tampan itu.   “Han ... .” Dafi menahan lengannya, “Lo yakin gapapa? Gak perlu ke dokter? Atau ... mau gue temenin?”   Jihan menarik ujung bibirnya seraya menggelengkan kepala. “Gue cuma butuh tidur Bang, abis itu gue yakin gue mendingan kok. Gak usah terlalu khawatir Bang. Kalo ada apa-apa gue pasti langsung telpon lo kok. Gue janji. Gue juga janji kali ini bakalan tepatin janji gak kayak hari itu.”   Dafi menghembuskam nafas lalu mengangguk kecil. “Oke. Kalo gitu masuk sana. entar malem gue kirim makanan.”   “Iya Bang. Thank you. Hati-hati di jalan.”   “Siap.” Ujar Dafi sebelum memarkirkan motor sport-nya, berputar lalu meninggalkan halaman kost-nya.   Jihan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi kemudian beranjak masuk, lalu naik menuju kamarnya. Sungguh ia memang hanya butuh tidur. Ia ingin mengistirahatkan kepalanya yang serasa akan pecah, apalagi dua malam itu juga ia tak bisa tidur dengan nyenyak.   Bruk!   Jihan merebahkan tubuhnya ke atas single bed yang tergeletak di lantai kamar. Kemudian menatap langit-langit kamar yang selama dua malam ini selalu menemaninya ketika terjaga dan menjadi tempat curhatnya ketika ia tak bisa menahan gejolak yang bersarang dalam dadanya lagi.   Ia sadar, bahkan sangat menyadari bahwa hubungannya dengan Alvin tak ada yang spesial. Ia tak berhak untuk marah, ia juga tak berhak untuk menuntut apapun pada Alvin, bahkan untuk cemburu pun ia tak memiliki hak sama sekali. Tapi perasaannya sungguh sulit sekali ia kendalikan. Perasaan cemburu, takut kehilangan dan juga perasaan memiliki bercampur menjadi satu, membuatnya merasa wajar untuk merasakan hal itu.   Jihan menarik nafas panjang seraya memejamkan mata. “Jihan ... lo kuat. Inget, Kak Alvin bukan siapapun di kehidupan lo, lo gak ada hak buat marah sama dia apalagi cemburu.” Gumamannya hampir setengah berbisik.   Tok tok tok   Jihan membuka mata, kemudian menghembuskan nafasnya kembali. Pasti Bang Dafi kirim makanan, pikirnya.   Jihan kemudian bangkit lalu membuka pintunya lebar.   “Bang—.”   Jihan terdiam, mematung di tempatnya ketika menyadari bukan Dafi yang berada di hadapannya. Tapi ternyata pemuda yang sedang ia pikirkan, pemuda yang sedang ia khawatirkan dan pemuda yang sangat ... ia rindukan.   “Han ... .”   Jihan mematung, menahan nafasnya beberapa saat ketika jantungnya mulai berdebar kencang hanya karena pemuda itu memanggil namanya secara singkat.   Jihan meneguk ludahnya kasar kemudian membasahi bibirnya yang mendadak terasa mengering, setelah itu menarik nafas panjang setelah itu menghembuskannya kembali, berusaha menahan gejolak yang mulai membuncah dalam hatinya.   “K—Kak Alvin?”          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN