16. Melepas Rindu

2122 Kata
  Apa yang akan kamu lakukan jika berada di pihak Jihan? Dua hari menunggu tanpa kepastian dengan perasaan dongkol penuh pertanyaan. Marah? Ya ... tentu saja. Jika aku adalah Jihan, tentu saja aku pasti akan marah, aku akan mendorongnya, mengusirnya dan tak akan pernah membiarkannya mendekat. Aku tak akan pernah mau berbicara dengannya lagi sampai dia memohon maaf dan menjelaskan semua hal yang telah terjadi.   Tapi sayang sekali Jihan tetaplah Jihan. Jihan bahkan sudah melupakan semua yang bersarang dalam dadanya ketika melihat Alvin berdiri tepat di depannya. Rasa marah, sakit hati, cemburu, rasa curiga, jengkel dan juga khawatir ... semua perasaan itu mendadak hilang, menguap begitu saja seiring dengan pelukan yang Alvin berikan padanya.   Satu jam berlalu ... tapi tak ada kalimat apapun yang keluar dari mulut Alvin. Pemuda itu hanya diam, masih dengan memeluk tubuhnya yang duduk bersandar pada dinding di atas single bed yang berada di kamar itu. Jihan pun tak mengatakan apapun, ia hanya diam dengan tangan yang membalas pelukan Alvin, memberi pemuda itu elusan di punggung lalu tepukan kecil pada belakang kepala yang bersandar pada bahunya, juga lengan yang memeluknya begitu erat.   Kepala Jihan menunduk, menatap Alvin yang tengah memejamkan mata, terlihat begitu tenang, berbeda sekali jika dibandingkan dengan saat Alvin datang. Pemuda itu menatapnya dengan raut wajah yang begitu kusut, tampak sangat kacau.   Kak ... sebenernya lo kenapa? Apa yang salah? tanya Jihan seraya menatap wajah itu dengan sendu.   Jihan menghela nafas lagi ketika tak ada pergerakan dari pemuda itu. Ia menggeserkan tubuhnya sedikit ketika pegal melanda, tapi tangan Alvin kembali mengerat, tak membiarkannya menjauh. Jihan kembali menatap Alvin yang masih memejamkan mata, masih tampak begitu lelap. tangannya kemudian terangkat, mengelus kepala Alvin lalu mengecup ringan puncak kepalanya.   “Gue di sini kak, gue gak bakalan kemana-mana.” Ujar Jihan setengah berbisik, membuat pelukan itu sedikit lebih mengendur. Jihan menyunggingkan senyumannya kemudian mengelus wajah pemuda itu lagi sebelum membalas pelukannya.   Ketika Jihan pun hendak memejamkan mata, ponselnya yang tergeletak di lantai berdering pertanda sebuah panggilan masuk. Begitu ia melihat layar ponselnya, ternyata itu sebuah panggilan dari Laura.   “Hallo Kak Laura?” tanya Jihan setelah menyentuh tombol hijau di layar.   “Alvin di sana Han? Soalnya gue cari di apart dia gak ada.”   “Iya Kak, satu jam lalu kak Alvin dateng. Sekarang dia lagi tidur.”   Helaan nafas panjang terdengar dari ujung panggilan. Membuat Jihan kembali berbicara, mengajukan pertanyaan. “Kak Laura mau ngomong sama Kak Alvin? Biar aku bangunin Kak Alvin-nya.”   “Gak perlu Han, gue udah lega kalo dia ada di sana.” Helaan nafas kembali terdengar. “Oh ya Han ... .”   “Iya kak ... .”   “Jaga Alvin ya Han ... Kayaknya tugas gue jaga dia udah selesai ... sekarang giliran lo jagain dia. Gue titip Alvin ya Han ... Kalo bisa ... lo tetep di samping dia apapun yang terjadi. Karena ... meskipun dia terlihat kuat, tapi dia gak sekuat itu Han. Dia sangat rapuh. Dia bahkan hampir gak pernah bisa hadapin masalahnya sendiri. Harus selalu ada seseorang yang kuatin dia. Sekarang ... orang itu bukan gue lagi Han, tapi lo ... Karena itulah gue bener-bener berharap lo tetep ada di samping Alvin, apapun yang terjadi. Percaya sama Alvin Han, dia gak akan nyakitin lo.”   Jihan terdiam, bingung. Apa yang sedang Laura katakan ini? Apa maksud dari semua kalimat yang gadis itu katakan? Kenapa ia harus menjaga Alvin? Ada apa sebenarnya?   “Han? Lo dengerin gue kan?”   Jihan membasahi bibirnya seraya mengangguk kecil. “Iya Kak, gue dengerin kok.”   “Yaudah, cuma itu yang mau gue omongin. Sekali lagi ... jaga Alvin ya Han ... kalo lo masih belum ngerasa perlu ngejaga Alvin buat diri lo, gue nitip jagain Alvin buat gue. Kalo ada apa-apa kasih tau gue ya Han. Bye.”   Jihan masih termenung dengan tangan kanan yang masih menggantung di telinga. Sampai panggilan itu berakhir ia masih memikirkan maksud dari ucapan itu, akan tetapi sayang sekali ia tak bisa mengerti apapun, ia tak mendapatkan jawaban sama sekali. Sampai pikirannya kembali berkelana. Sebenarnya ... apa yang terjadi pada Alvin sampai Alvin menjadi kacau begini? Masalah sebesar apa yang sedang Alvin hadapi?   Jihan menunduk lagi menatap ke arah Alvin yang masih terlelap sebelum mengelus punggung lebar itu kembali seraya memejamkan matanya. Hanya berusaha menikmati kebersamaan mereka yang tak ia dapatkan dua hari ini dalam diam, berusaha melepas rindu dan menghapus dahaga yang ia rasakan dalam dadanya.   . . .   Beberapa waktu kemudian Alvin terjaga, kali ini Alvin yang meraih Jihan, membawa tubuh kurus itu berbaring dengan benar lalu memandang wajah Jihan, mengelusnya lagi seraya menepikan anak rambut yang menutupi wajah manis gadis itu.   Helaan nafas terdengar begitu berat keluar dari hidung Alvin, di iringi dengan tatapan sendu, penuh rindu. Tangan Alvin kembali membelai wajah itu sebelum membubuhkan sebuah ciuman di kening yang begitu dalam. Setelahnya ia memeluk tubuh ringkih itu lagi, membenamkan kepala Jihan tepat di dadanya.   “I miss you so bad ... I’m sorry ... .” ujar Alvin setengah berbisik.   “I miss you too Kak ... .”   Alvin terjengit mendengar jawaban itu, ia kemudian menunduk, menatap Jihan yang kini membuka mata, menatapnya dengan tatapan yang tak kalah sendu diiringi dengan senyuman tipis yang begitu ia rindukan.   “No need to say sorry ... I’m fine.”   Alvin membalas senyuman itu kemudian memeluk tubuh Jihan kembali. Gadis itu pun membalas pelukannya, mengelus punggungnya beberapa saat sebelum mengeratkan pelukan pada punggungnya.   “Han ... .”   “Hm ... Aku di sini Kak.” Ujar Jihan dengan tangan yang kembali mengelus punggung serta belakang kepalanya.   I’m really love you ... I love you more than anything I have. You’re the most precious I’ve ever had. I love you ...   “Jihan ... Please ... stay with me until the end.” Ujar Alvin dengan tangan yang semakin mengeratkan pelukannya, juga memperdalam ciumannya pada puncak kepala Jihan.   “Of course, I’ll be by you’re side until the end.”   Segala beban yang bersarang dalam d**a Alvin seketika terangkat, melebur, menguap seolah tak pernah ada setelah mendengar kalimat tanpa keraguan yang ia dengar dari mulut Jihan. Membuatnya semakin sadar bahwa hanya Jihan yang ia inginkan, dan hanya Jihan yang ia butuhkan sepanjang hidupnya.   . . .   Jihan dan Alvin masih di posisi yang sama, berbaring saling berhadapan di atas single bed sempit itu. Masih saling menatap, saling memberikan senyuman juga saling memeluk. Jihan menyentuh wajah Alvin, Alvin pun tak menjauhkan tangannya dari wajah Jihan. Masih mengelusnya dengan lembut dengan sesekali menecup ringan kening Jihan.   “Lo gak mau nanya sesuatu?” tanya Alvin setelah mengecup kening Jihan lagi.   Jihan menarik ujung bibirnya kemudian sedikit mendongak menatap ke arah Alvin lagi. “Haruskah?”   “Kalo emang ada yang mau lo tanyain, tanyain aja Han ... gue di sini ... sekarang gue bisa jawab semua pertanyaan lo.”   Jihan kembali tersenyum, dengan tangan yang masih berada di pipi Alvin. Mengelus pipi itu, berusaha merekam setiap jengkal wajah tampan Alvin dalam benaknya. “Sebenernya banyak banget pertanyaan yang ada di kepala gue Kak. Tapi ... gue di sini bukan petugas introgasi yang akan banyak nanya lo atau maksa lo cerita. Di sini ... gue ... berusaha ada di samping lo, buat lo nyaman dan dengerin semua keluh kesah lo. Bukan mau introgasi atau gue paksa lo buat ngomong.” Ujar Jihan berhati-hati, Jihan kemudian tersenyum lagi. “Kalo lo ngerasa siap cerita ke gue, lo ... tinggal cerita aja. Kapanpun itu gue pasti dengerin. Tapi gue ... gak bakalan nanya apapun. Karena gue tau ... mungkin ada pertanyaan dari gue yang akan bikin lo gak nyaman.”   Alvin kembali memeluk Jihan, membenamkan kepalanya pada ceruk leher Jihan, menyamankan dirinya di sana. “Thank you ... Thank you Jihan ... .”   “I know you’d do the same for me, Kak Alvin.”   Alvin kembali tersenyum seraya menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya lagi. Setelah itu ia mengurai pelukannya lalu menatap Jihan yang kini membalas senyumannya juga.   “By the way Han ... .”   “Hm?” Jihan menatap Alvin dengan penuh antisipasi.   “Gue laper.”   Seketika Jihan tertawa mendengar kalimat itu, ia menepuk d**a Alvin satu kali kemudian bangkit, tapi Alvin kembali menarik lengannya hingga terjatuh.   “Kak ... katanya laper. Biar gue beliin dulu. lo tunggu aja di sini.”   Alvin menghembuskan nafas. “Apa gunanya teknologi kalo gak di manfaatkan?” tanya Alvin seraya meraih ponsel Jihan. “Pesen online aja. Jadi kita tinggal tunggu.”   Jihan mendesis. “Bilang aja lo gak mau lepasin gue.”   Alvin melirik Jihan sesaat seraya menyeringai. “Tuh tau ... jadi udah. Diam aja di sini.”   . . .   Jihan menatap Alvin yang sedang menikmati makanannya dengan sesekali tersenyum dan terkekeh kecil. Pemuda itu tampak begitu lahap padahal yang ia beli hanya makanan sederhana dari warung makan depan yang murah meriah.   “Gue gak tau ada makanan seenak ini, mana banyak lagi.”   Jihan kembali terkekeh. “Makanya jangan keseringan makan di resto. Warung Bu Sari depan kampus juga enak. lo jajan setengah juta di resto bisa dipake makan di warung selama satu bulan.”   “Tapi jarak warung Bu Sari ke tempat gue jauh Han.” Balas Alvin lagi seraya melahap suapan terakhir dari makanannya.   “Ah! Kenyang!”   Jihan terkekeh kecil. “Abis makan tuh do’a”   Alvin tersenyum lebar kemudian mengatupkan tangan, berdo’a sesuai dengan perintah Jihan.   Selepas selesai makan, Jihan membereskan piring bekas makanan mereka, mencucinya sebentar lalu kembali ke kamar, duduk di samping Alvin yang kini sedang mengotak-atik ponselnya.   “HP lo kemana Kak?”   “Ada. Mati.”   “Oh ... terus ngapain pake HP gue?”   “Chat Bastian, suruh jemput gue.” Alvin kemudian mengembalikan ponselnya. “Gak mungkinkan gue nginep di sini? Jadi gue putusin nginep di tempat Bastian.”   “Gak ketempat Kak Laura lagi?” tanya Jihan.   “Gak. Entar ada yang cemburu lagi.”   Jihan mendelik, menatap ke arah Alvin yang sedang menatapnya diiringi seringaian menyebalkan. “Siapa yang cemburu? Gue gak pernah cemburu ya! Gak usah kepedean!”   “Gue gak bilang lo cemburu loh Han ... .”   Jihan bungkam kemudian mengalihkan pandangan ke arah lain.   “Tapi gue serius, gue gak mau bikin lo cemburu Han.”   “Gue bilang gue gak cemburu!”   “Oke, oke ... gak cemburu. Gue ralat.” Alvin meraih tangan Jihan, menyelipkan jemari mungil Jihan pada sela jarinya. “Gue gak tau perasaan lo kayak apa Han, tapi gue cuma mau jaga perasaan lo aja. Entah itu lo suka sama gue atau enggak ... tapi gue gak mau bikin lo ngerasa aneh aja, atau curiga sama hubungan gue dan Laura.”   “Han ... .”   “Hm.”   “Gue sama Laura gak ada hubungan apapun selain sahabat, gue selalu sama Laura dan ada apapun selalu nyamperin dia dulu bukan karena apapun. Tapi karena kita udah kenal dari kecil dan Laura yang paling ngerti semua hal tentang gue. Dia bahkan yang paling tau akar permasalahan yang gue hadapin. Makanya ... gue selalu dateng ke Laura saat ada masalah. Bukan maksud gue anggep lo gak ngerti gue Han ... bukan kayak gitu. Tapi di saat kayak gini bukan saatnya gue ceritain semuanya dari awal, gue butuh seseorang yang udah tau semuanya sejak awal.” Alvin menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya lagi. “Maaf ... gue bener-bener minta maaf gue ngilang gitu aja tanpa kabar. Maaf Jihan ... gue gak maksud buat PHP-in lo. Gue beneran udah siap buat nemuin lo tapi ... sesuatu terjadi. Hari itu ... .”   Jihan menatap Alvin yang menghindari tatapannya, tampak begitu bingung ketika ingin bercerita. Ia kemudian menghembuskan nafasnya lalu menepuk punggung tangan Alvin dengan tangannya yang lain. “Udah Kak ... .” ia menyunggingkan senyumannya. “Gak usah maksain buat cerita kalo lo belum siap. Gue bisa nunggu.”   Alvin kembali tersenyum. “Thank you Han ... .”   Jihan terkekeh, geli melihat tingkah Alvin. “Hari ini lo terlalu banyak bilang sorry sama thank you Kak. Udah ... gak usah bilang gitu lagi.”   “Berarti lo gak marah kan Han?”   Kening Jihan mengerut. “Emang kapan gue marah?”   “Kalo gitu besok kita jalan, ya? Gue bakalan nebus kesalahan yang gue lakuin ke lo dua hari lalu. Besok ... seharian ... gue cuma milik lo. Gue bakalan sama lo.”   “Entar ngilang lagi ... .”   “Enggak! Gue janji. Besok gue jemput lo jam 7, gimana?”   Jihan terkekeh kecil kemudian menganguk. “Oke. Jam 7.”   Sebenarnya Jihan sedikit kapok setelah Alvin menghilang dua hari lalu. Tapi ... setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua bukan?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN