17. Kencan Ketiga (1)

2161 Kata
Kerisauan kembali merasuk dalam diri Jihan ketika keesokan harinya tepat jam 7 Alvin tak kunjung datang menjemputnya. Bayangan dimana Alvin menghilang selama dua hari kembali menghantuinya, membuatnya semakin merasa khawatir dan takut. Sekalipun ia berusaha untuk tetap berpikiran positif tapi rasanya kerisauan yang bersarang dalam dadanya tak bisa ia elakan. Ia tetap merasakan hal itu, ia tetap ketakutan.   Jihan menatap ke arah pintu kamar kost-nya yang terbuka, berharap Alvin segera datang. Tapi harapan tinggal harapan ketika Alvin tak kunjung tiba. Tak berapa lama ia kemudian mengalihkan pandangan ke arah ponsel, berharap setidaknya Alvin memberinya kabar, entah melalui Bastian ... atau siapapun. Tapi apa yang ia dapatkan? Tak ada. Alvin lagi-lagi menghilang tak memberinya kabar.   Jihan menghembuskan nafas berat ketika dadanya kembali terasa sesak, ia kemudian menunduk, membenamkan kepala pada lipatan tangan yang ia simpan pada kedua lutut yang ia tekuk. Berusaha menenangkan hatinya yang mulai bergejolak, kecewa.   Kak ... kali ini apa lagi? kalo emang gak bisa seenggaknya lo gak usah kasih janji-janji. Batin Jihan. Jangan buat gue berharap Kak, seolah gue punya kesempatan.   Kedua tangan Jihan terkepal, menahan sesak yang tak tertahankan dalam dadanya. Sakit ... sungguh sakit. Apakah ia terlihat semudah itu sampai Alvin tega melakukan hal ini la—    “Jihan!”   Jihan terkesiap, ia kemudian dengan cepat menoleh ke arah pintu masuk. Menatap sesosok pemuda yang sedang ia tunggu tengah memegangi lutut dengan nafas yang tersengal.   “Kak Alvin?” Jihan segera berdiri kemudian memeluk Alvin diiringi dengan air mata penuh emosi yang mulai tumpah.   Sementara di sisi lain Alvin yang masih terkejut mematung di tempat dengan tangan yang masih menggantung, bingung.   “Bisa gak sih lo bikin gue berhenti khawatir Kak? Kalo mau telat dateng tuh bilang! Bukan kayak gini.” Seru Jihan dengan kedua tangan yang memukuli punggung Alvin dengan begitu sadisnya.   Alvin tak melawan, ia justru membalas pelukan itu, memeluk Jihan, mengelus punggungnya, berusaha menenangkan Jihan hingga tangisnya mereda dan juga pukulannya memelan, berubah menjadi pelukan lagi.   “Maaf ... .”   Jihan menguraikan pelukan itu, lalu menyeka air matanya dengan kasar kemudian mentap Alvin dengan tatapan mata tajam dan delikan yang mematikan. “Gak usah minta maaf! Udah terlanjur bikin kesel.”   “Maaf ... .”   Jihan menepis tangan Alvin yang hendak memegangi lengannya. “Gak gue maafin.”   “Jihan ... .” Panggil beberapa orang dengan kompak.   Jihan mengerutkan kening lalu menatap ke arah tangga, tepat dimana teman-teman mereka berdiri, tampak begitu panik dengan nafas yang juga tampak memburu. “Ngapain kalian di sini? Capek banget. Abis lomba maraton apa gimana?”   Fanya mengangkat tangan kanan, membuat Jihan menghentikan ucapannya. “Kita nunggu dibawah, tapi kita panik pas denger suara perdebatan kalian jadi kita lari.” Jelas Fanya dengan nafas tersengal.   “Jihan ... jangan salahin Alvin ... Sorry ... ini salah kita.” Kali ini Bastian yang membuka suara. “Pertama gue bangun kesiangan, dan gue lupa harus jemput Dania dulu. Makanya kita  dateng telat.”   Kening Jihan mengerut heran dengan penjelasan itu. ia kemudian menoleh ke arah Alvin yang menatapnya dengan memelas. “Ini ada apa sih?”   “Jadi gini, semalem Kak Alvin bilang ke Kak Bastian kalo kalian mau jalan. Jadi Kita sebagai sohib lu harus memastikan Alvin gak ilang lagi, jadi kita putusin buat ikut.” tegas Dania dengan penuh tekanan. “Tapi dua orang itu malah bangun kesiangan padahal udah janji mau jemput gue jam enam pagi. Lucunya ... .” Dania menatap ke arah Fanya, Gibran, Dafi dan Kevin secara bergantian dengan tatapan tajam. “Itu orang-orang ... temen lo dengan bodohnya malah nunggu lo di bawah, padahal gue minta Fanya sama Kak Gibran duluan ke kost lo itu biar nemenin lo dulu.” Tambah Dania lagi.   “Tapi gue chat Jihan kok.” Bela Fanya. “Kayaknya Jihan aja yang gak baca chat dari gue.”   Jihan mengerjapkan matanya beberapa kali lalu membuka chat room. Beberapa detik kemudian semua chat dari teman-temannya masuk, termasuk chat dari Alvin melalui ponsel Bastian. Jihan mengerjapkan matanya lagi, baru teringat bahwa setelah ponselnya selesai di isi daya ia belum membuka chat room sama sekali.   Sebuah usakan Jihan dapatkan, ia menoleh ke arah kanan, ke arah Alvin yang mengusak puncak kepalanya sesaat sebelum tersenyum.   Jihan menghembuskan nafas, lalu menunduk seraya menggigit bibir, malu, menyesal dan juga merasa bersalah. “Maaf ... .”   Alvin kembali tersenyum dengan tangan yang masih mengusak kepala Jihan. “Gak usah dipikirin. Gue gapapa ... .” ujar Alvin kemudian menyeka jejak air mata yang mengalir di kedua belah pipi Jihan.   “Lo pasti udah parno banget ya Han?” tanya Fanya. “Sorry gue juga salah gak nyamperin lo dulu.”   Jihan menghembuskan nafas lalu menatap teman-temannya satu persatu. “Gue yang salah, kalian gak perlu minta maaf. Lain kali gue bakalan buka chat atau coba nelpon, bukannya panik gak jelas, takut kayak tadi. Sorry ya ... .” Jihan mendongak kembali menatap Alvin. “Maaf ya Kak, gue beneran jahat udah nuduh lo macem-macem.”   “Gapapa. Yaudah ayo kita berangkat.”   Jihan mengangguk, ia kemudian mengunci pintu kamar kost-nya terlebih dulu sebelum beranjak pergi mengikuti langkah teman-temannya yang berjalan lebih dulu dari mereka.   Alvin dan Jihan berada di mobil Bastian bersama Dania juga. Fanya bersama dengan Gibran lalu Dafi bersama Kevin. Laura? Jangan di tanya, dia sangat sibuk bekerja.   “Lo gak bawa mobil sendiri Kak?” Tanya Jihan pada Alvin yang tengah menyetir mobil Bastian. Padahal biasanya Alvin selalu membawa mobil seri X5-nya.   “Gue sekarang melarat Han, gak ada mobil, gak ada uang, baju aja minjem punya Bastian.” Ujar Alvin seraya terkekeh kecil. “Fun fact-nya kita jalan aja mereka yang modalin. Gue gak ngeluarin uang sepeser pun.”   Jihan menoleh ke arah Alvin yang tampak bahagia dan bangga setelah mengatakan hal itu, padahal biasanya orang tak memiliki uang akan terlihat sangat stress atau bingung. Tapi kenapa Alvin justru sebaliknya? Pemuda yang hidupnya selalu penuh dengan kemewahan itu justru tampak sangat amat bahagia ketika mengatakan tak memiliki uang. Apa yang terjadi? Kenapa setelah dua hari menghilang Alvin berubah sangat derastis seperti ini?   Jihan menghela nafas panjang kemudian melirik ke arah Diana dan Bastian yang duduk di jok belakang. “Emang kita mau kemana sampe pake modal?”   “Hey Beach.” Jawab Dania.   Jihan menarik nafas panjang lalu menatap ke arah Alvin yang masih tampak tersenyum, bahagia seolah dia tak memiliki masalah apapun. Padahal ia sangat yakin ... Alvin sedang tak baik-baik saja.   “Gak usah Kak, kita gak usah kemana-mana aja. Kita bisa nongkrong di Bapers atau diem aja di kost. Jangan maksain pergi.” Ujar Jihan.   Bukannya menyetujui usulannya, Alvin justru hanya mengusak kepalanya sesaat sebelum menggenggam tangannya. “Tenang Han, abis ini gue bakalan cari kerja biar banyak uang lagi. Atau ... lo udah gak mau sama cowok kere kayak gue?”   Jihan terdiam beberapa saat kemudian menoleh ke arah Alvin seraya menyeringai. “Emang kalo lo kaya raya gue bakalan suka gitu sama lo?”   “Jadi maksud lo ... lo mau nerima gue apa adanya?”   BUK!   “GUE GAK BILANG GITU YA!” seru Jihan kesal. Bisa-bisanya di saat ia ingin menggoda pemuda itu, dia justru berbalik menggodanya. Padahalkan bukan begitu maksudnya!   “Ya ... secara tersirat lo ngomongnya ke arah sana Han.”   “IH!” Jihan mencebik lagi, kesal dengan tanggapan Alvin yang di luar dugaannya.   Alvin sendiri justru terkekeh, lalu mengusak puncak kepala Jihan lagi dengan gemas.   Sementara itu di belakang Dania memutar bola matanya. “Kenapa kok gue lebih muak liat mereka ya daripada Fanya sama Kak Gibran?” sindir Dania yang hanya di respon sebuah kekehan kecil oleh Bastian.     . . .   Hembusan angit yang terasa begitu segar di sertai dengan sinar matahari yang memancar hangat menerpa wajah mereka, menyambut semua orang penuh suka cita.   “Akhirnya gue bisa menikmati Hey Beach dengan tenang.” Ujar Fanya seraya merentangkan tangannya.   “Baby ... jangan ngomong begitu.” Ujar Gibran yang merasa tak enak oleh Jihan, Alvin dan satu orang lain yang menatap Fanya dengan tatapan datar, penuh rasa bersalah, bahkan tak lama kemudian orang itu berlalu pergi tanpa berpamitan sama sekali.   “Hm?” Fanya menoleh ke arah Gibran kemudian mengerjapkan mata setelah Gibran memberikan kode dengan matanya. “Ah! Itu ... maksud gue ... gue seneng akhirnya bisa ke sini. Apalagi sama kalian semua, gue juga seneng bisa ke sini bareng sama lo Han.”   Jihan mengulas senyumannya. “Setelah dua hari lalu gagal gara-gara gue ya?”   “Ih gak gitu maksudnya ... .” Sangkal Fanya.   “Sorry ya Fan? Gue ngacauin liburan kalian semua.” Ujar Alvin. “Gue janji kalo nanti gue sukses, gue bakalan traktir lo semua liburan bareng. Kemanapun ... gue bayarin.”   “Eh gak gitu Kak maksudnya ... .” ujar Fanya tak enak kemudian menghembuskan nafas. “Maaf ... bikin suasana jadi gak nyaman.”   “Udah gak usah dipikirin, mending kita mulai jalan aja. Nyari tempat-temat indah gitu.” Saran Dania.   “By the way. Kevin kemana?” tanya Jihan ketika menyadari salah satu temannya menghilang. “Perasaan tadi di belakang gue. Kok ngilang?”   “Mungkin ke toilet Han.” Ujar Dafi.   Jihan mengangguk-anggukkan kepalanya sesaat sebelum kembali berujar pelan. “Sejak ketemu, dia aneh banget, dia kayak ngehindari gue gak sih? Dia juga gak ada ngomong sama sekali ke gue.” Ujar Jihan lagi. “Ada apa ya? Apa gue nyinggung dia?”   “Gak cuma ke lo kok, ke gue juga gitu Han.” Ucap Fanya. “Jadi gak perlu lo pikirin, mungkin dia lagi suntuk aja atau mungkin ada masalah.” Lanjut Fanya yang hanya di angguki oleh Jihan.   “Tuh Kevin.” Ucap Gibran yang membuat ketiga gadis itu menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Gibran. Benar saja ... Kevin ada di sana tengah berjalan ke arah mereka dengan langkah bak model papan atas.   “Masih di sini? Cari tempat lain yang lebih enak yuk.” Saran Kevin tiba-tiba, tapi kemudian di setujui oleh semua orang.   . . .   Di sisi lain Alvin tak banyak berbicara. Bukan tak ingin, tapi ia tengah mewaspadai situasi saat merasakan ada orang asing yang sangat ia sadari seperti tengah mengikutinya.   Alvin melirik ke arah seorang lelaki yang mengenakan topi berwarna hitam dengan ujung matanya, memperhatikan dalam diam pergerakan lelaki itu yang tampak benar-benar mencurigakan. Siapa dia?   “Kak ... hei, ayo ... ada apa?” Jihan menatapnya dengan kening mengerut, aneh.   Alvin terkekeh kecil, mengabaikan perasaan anehnya lalu menyentuh kening gadis itu. “Jangan keseringan ngerutin kening, entar cepet tua.”   “Kak Alvin! Ih! Aku nanya malah dijawab gitu.”   Alvin kembali terkekeh dengan tangan yang mengusak puncak kepala Jihan lalu mencuri sebuah kecupan di kening gadis itu. “Gak ada apa-apa sayang ... aku cuma menikmati kebersamaan kita.”   Jihan mengerjapkan mata mendengar ucapan Alvin. Terkejut dengan panggilan yang diberikan oleh yang lebih tua. “Ih! Apaan sih? Geli. Gak usah aku-kamu juga.”   Alvin menyeringai. “Tapi siapa tuh tadi yang duluan pake aku-kamu?”   “Hmm itu ... keceplosan! Iya! Cuma keceplosan doang!”   Alvin terkekeh lalu merangkul Jihan, membawa tubuh gadis itu menjadi lebih dekat dengannya, juga berjalan beriringan dengannya.   “Keceplosan itu biasanya dari hati loh Han. Kalo kamu emang mau aku-kamu gapapa kok. Beneran.”   “Gak usah ya! Geli!” seru Jihan seraya menepis tangan Alvin yang berada dibahunya.   Ketika Jihan hendak meninggalkan langkahnya ia meraih lengan gadis itu hingga Jihan jatuh terjerembab dalam pelukannya, Alvin kemudian tersenyum kecil melihat bagaimana wajah terkejut Jihan begitu tubuh mereka saling berimpitan begitu dekat.   “Kak ... .”   “Sshh ... .”   Jihan terdiam mendengarkan intruksi tersebut, iris matanya menatap iris mata Alvin yang menatapnya dengan begitu dalam. Lelaki itu bahkan perlahan mendekatkan wajahnya semakin dekat dan semakin rapat hingga tanpa jarak ketika Alvin perlahan mengecup ujung hidungnya.   Jepret!   Alvin segera menjauhkan wajah mereka, kemudian menoleh ke arah kanan saat melihat seseorang tengah berusaha menangkap gambarnya. Ternyata benar ... orang itu tengah mengintainya.   “Kak ... .”   Alvin melepaskan Jihan dari dalam pelukannya. “Han ... aku ke toilet bentar ya ... kamu pergi sama yang lain dulu, nanti aku nyusul.” pamit Alvin kemudian melangkah dengan lebar, setengah berlari berusaha mengejar lelaki asing itu. Namun ketika lelaki asing itu berbelok ke arah kerumunan orang-orang, ia kehilangan jejak. Lelaki itu menghilang begitu saja bagaikan bayangan dalam ruangan gelap.   Sialan! Hampir aja!   Alvin mendengus, ia kemudian melangkah mundur setelah mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat, meninggalkan tempat itu. Awas aja, kalo sampe lo gue dapetin. Abis lo di tangan gue. Batin Alvin lagi.   Alvin mengepalkan tangan kemudian berbalik lalu melangkah dengan cepat.   Duk!   “Ah!”   Alvin tanpa sengaja menabrak seorang perempuan hingga perempuan itu terjerembab jatuh ke atas pasir putih.   “Maaf ... maaf banget. Gue gak sengaja.” Ujar Alvin kemudian segera berjongkok. Hendak membantu perempuan itu. Namun ketika perempuan itu mendongakkan kepalanya, Alvin terdiam selama beberapa saat. Mematung di tempat dengan mata yang menatap perempuan di depannya hampir tanpa berkedip.   Agatha?   ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN