17. Kencan Ketiga (2)

2474 Kata
  Jihan kembali risau, sudah lima belas menit Alvin berpamitan untuk ke toilet tapi sampai saat ini pemuda itu tak juga kembali. Ia mengalihkan pandangan ke arah Fanya dan Gibran yang sedang menikmati waktu berdua di bawah sebuah pohon. Dania bersama Bastian tengah bermain gitar. Dafi dan Kevin berpamitan pergi untuk menikmati satu batang rokok di area lain. Jihan kemudian menarik nafas panjang, bosan, ia sangat kesepian. Memang baru beberapa menit lalu Alvin pergi, tapi rasanya ... ini sudah terlalu lama. Ia jadi tak sabaran, ingin segera bertemu dengan Alvin lagi agar ia tak harus kesepian seperti ini.   Jihan kemudian bangkit, awalnya ia hendak berpamitan pada sahabat-sahabatnya itu untuk mencari Alvin, tapi kemudian ia urungkan. Sungkan untuk mengganggu mereka. Jihan memutuskan untuk beranjak pergi begitu saja meninggalkan tempat tersebut tanpa berpamitan, dengan tujuan mencari keberadaan Alvin ke arah toilet yang sebelumnya menjadi tempat tujuan Alvin pergi.   “Kak Alvin.”   Senyuman Jihan terbentuk ketika melihat sosok Alvin yang tengah berdiri tak jauh dari sebuah kedai. Langkahnya pun perlahan melebar hendak mengejutkan pemuda itu, akan tetapi niatnya urung ketika iris matanya melihat sosok lain tepat di hadapan Alvin. Ia bahkan menghentikan langkahnya ketika tersisa beberapa langkah lagi ia menggapai pemuda itu.   “Mereka bilang akan melakukannya malam ini Vin.”   Jihan tak mengerti dengan obrolan mereka, tapi setelah beberapa saat percakapan mereka terhenti, Alvin kemudian berbalik lalu tersenyum padanya.   “Kenapa berdiri di situ? Sini ... .” ajak Alvin yang kemudian melangkah mendekat ke arahnya, menarik lengannya mendekat.   “Agatha ini Jihan. Han ... ini Agatha ... temen gue, teman Laura juga.”   Jihan tersenyum kemudian menjabat tangan perempuan itu. “Jihan, Kak.”   “Agatha. Seneng kita bisa kenalan, semoga kita bisa temenan ya kayak gue, Laura sama Alvin.” Ujar Agatha diiringi dengan senyuman yang tampak begitu anggun. “Kalo gitu gue pergi dulu ya Vin. Han ... selamat menikmati liburan kalian. Bye ... .” Agatha pun kemudian beranjak meninggalkannya bersama Alvin.   Jihan menyunggingkan senyumannya kemudian menoleh ke arah Alvin setelah Agatha pergi menyisakan mereka berdua. “Kak Agatha cantik ya? Anggun banget lagi. Tapi kayaknya gue pernah liat deh ... dimana ya?”   Alvin menarik ujung bibir lalu menoleh ke arah Jihan. “Agatha itu model, sering banget wara wiri di TV atau di majalah Han.”   “Ah! Ya ... iklan di televisi. Pantesan berasa gak asing.” Ujar Jihan setengah exited. Ia kemudian menoleh ke arah Alvin lagi. “Kak circle pertemanan lo hebat banget ya? Orang-orang keren semua.”   Alvin tersenyum masam. “Gak juga sih. Agatha gak begitu deket sama gue. Dia cuma deket sama Laura.”   Jihan mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ohh gitu ya?”   Alvin mengangguk kecil. “Udah yuk jalan, kita cari tempat enak buat ngobrol.” Ujar Alvin lagi kemudian merangkul pinggang Jihan, menggiringnya berjalan meninggalkan tempat itu.   . . .   Ada yang aneh. Jihan merasakan ada keanehan dalam diri Alvin yang mendadak terasa begitu posesif. Alvin tak melepaskan rangkulan tangan pada pinggangnya. Alvin pun tak berhenti mengelus punggung dan memberikan usakan pada puncak kepalanya, bahkan Alvin terus menggenggam tangannya dengan tangan lain dan yang teraneh adalah ketika Alvin  tak membiarkannya pergi sendiri kemanapun, termasuk toilet. Alvin terasa seperti ingin mengikatnya, seolah jika dia lengah ia akan menghilang begitu saja.   “Kak Alvin ... Jihan gak akan ilang kali.” Sindir Dania lagi setelah sindiran lain yang sahabatnya itu layangkan sebelumnya.   Saat ini mereka tengah menikmati makan siang yang sudah lewat beberapa jam karena terlalu asik menikmati pemandangan di tempat itu. semua orang berkumpul di meja memanjang, berkumpul bersama.   “Emang kenapa?” tanya Alvin dengan begitu polos tanpa melepaskan rangkulanya sama sekali.   Dania memutar bola matanya sesaat. “Lo pegangin terus kayak Jihan bakalan ilang aja kalo lo gak pegang.” Lanjut Dania lagi.   “Udahlah Dan, lo tuh ya apa-apa di permasalahin. Hak dia mau ngapain juga yang terpenting gak berbuat m***m depan kita aja.” Balas Kevin.   “Kak Alvin aja gak sewot gue sindir. Kok lo nyolot sih? Apa urusannya sama lo?” balas Dania pada Kevin.   “Gue yang risih. Kenapa? Masih gak ada hak gue risih sama omongan lo?” Balas Kevin lagi.   “Kev lo tuh!”   “Dan ... udah, kok kalian malah debat?” lerai Jihan. “Kevin udah ... gapapa.” Lanjut Jihan seraya menarik nafas panjang lalu menoleh ke arah Alvin.   “Lepasin dulu bentar deh Kak, gue janji gak bakalan kemana-mana kok. Duduk di sini doang sama lo.”   Alvin mengabaikannya. Pemuda itu tak menggeser tangannya sama sekali. Jihan tak bisa melakukan apapun, ia hanya mampu menghela nafas lagi kemudian duduk menghadap ke arah Alvin, menatap sempurna ke arah Alvin yang sedang menikmati makanannya dengan tangan kiri.   “Kenapa, hm? Ada apa Kak? Lo yang sering ngilang loh, gue padahal gak pernah kemanapun, gue gak pernah ngilang gak jelas, tapi kok lo kayak takut gue pergi? Hm?” tanya Jihan, karena ia sudah sangat gemas dengan tingkah Alvin yang terlewat aneh.   Alvin bergeming, pemuda itu seolah tak mendengarkan semua ucapannya sama sekali. Setelah ia bertanya, Alvin hanya sibuk dengan makanannya, bahkan tak menatapnya sama sekali. “Gue janji kok gue gak akan kemanapun. Gue janji Kak Alvin. Lo gak perlu segininya.”   Bastian dan Gibran saling bertatapan sesaat kemudian menghembuskan nafas bersamaan, turut bingung dengan tingkah sahabatnya yang sungguh sangat ajaib. Sangat berbeda dengan Alvin yang selama ini mereka kenal.   “Kak mending kalian ngobrol berdua deh sana, tempat yang lebih private. Kayaknya kalian butuh ngobrol berdua.” Saran Fanya yang juga tak kalah bingung dengan yang lainnya. Apalagi kali ini Alvin mengabaikan ucapan Jihan, padahal biasanya ucapan Jihan selalu saja pemuda itu tanggapi dengan benar.   “Sebaiknya kalo ada sesuatu omongin yang jelas Vin, jangan gantungin Jihan. Apalagi pergi tanpa kejelasan. Jihan bukan jemuran yang bisa lo gantung.” Kali ini Dafi yang memberi saran.   Alvin tiba-tiba terkekeh kecil, seraya menatap dengan geli pada satu persatu orang yang ada di meja itu. Berubah begitu derastis dalam beberapa detik. Dari Alvin yang diam tanpa ekspresi menjadi tertawa kecil, menertawakan teman-temannya. “Kalian tuh ya emang kenapa gue kalo clingy begini? Gue cuma lagi males ngomong banyak dan pengen aja nempelin Jihan. Kenapa kalian malah ngomong seolah gue lagi ada masalah gede? Santai aja ... gue cuma lagi pengen aja kayak gini. Dua hari gak ketemu, kalian kira gue gak kangen sama Jihan?”   “Dua hari gak ketemu? Becanda lo?” sanggah Bastian. “Terus kemaren dari jam 3 sore sampe jam 8 malem kalian ngapain aja di kost-an berdua? Emang gak ketemu?” Tambah Bastian.   Blush   Wajah Jihan memanas setelah mendengar kalimat itu. Jantungnya pun mendadak berdebar dengan kencang, gugup sekaligus malu saat Bastian membongkar kebersamaan mereka kemarin. Ia jadi ingat lagi tingkah Alvin kemarin yang terus menerus memeluknya sepanjang sore hingga Alvin pulang ke rumah Bastian. Alvin benar-benar nempel, sangat manja. Kenapa ia baru ingat sekarang?   “Jadi gara-gara ada Alvin lo larang gue anter makanan?” kali ini Dafi yang bertanya.   “Kapan lo ngomong mau ke kost? Perasaan gue gak dapet chat atau telpon.” Balas Jihan. “Jangan bikin gue sama Kak Alvin kayak abis ngelakuin yang enggak-enggak ya Bang.”   “Dih kemaren gue chat!”   Alvin terkekeh kecil. “Gue yang bales Daf. Tapi emang bener kita abis makan dari warung Bu Sari makanya gue larang lo bawa makanan.”   “Tapi lo gak bilang lo yang bales chat gue Vin. Ngaku lo! Abis ngapain lo berdua di kost dari jam 3 sampe jam 8 malem? Kangen-kangenan macam apa kalian?”   “Bang beneran kita gak ngapa-ngapain kok. Kita cuma ngobrolin ini itu aja. Jangan nuduh kita yang enggak-enggak.”   “Make sense sih Dafi mikir yang enggak-enggak. Depan umum aja kalian nempel begini, gimana kalo berdua?” Tambah Dania yang membuat wajah Jihan semakin memerah.   “Gibran-Fanya dari tadi rangkulan loh. Kok gak lo komentarin?” ujar Jihan tak terima. Membuat Dania menoleh ke arah Fanya.   “Tapi mereka pacaran. Bener-bener pacaran, wajar aja mereka kayak gitu. Tapi kalian ... pacaran bohongan aja tingkahnya kayak mau nikah besok. Bilang kangen padahal kemaren ketemu.”   “Daniaa ... .”   “Apa? Emang bener kan? Gue jadi penasaran kalian kalo berduaan ngapain aja?”   “Dania stop! Lo pikir kita ini m***m apa gimana?”   “Tingkah kalian yang bikin orang-orang mikir mesum.”   Jihan mencebikkan bibir lalu menghadap ke arah Alvin yang tidak membantunya sama sekali. Pemuda itu hanya diam, menatapnya seraya tersenyum simpul. “Bantuin kek! Malah liatin doang!”   Alvin menarik nafas panjang lalu merangkul Jihan lagi sebelum menatap ke arah teman-temannya. “Sejak awal kita niatnya ngedate berdua loh. Kalo kalian keganggu sama gue yang clingy, ya salah kalian sendiri kenapa ikutin kita? Sejak gue ketemu sama Jihan kemaren gue emang gak banyak ngomong, gue lebih seneng nikmatin waktu berdua aja. Kayak yang kalian liat.”   “Udah. Jangan kayak gitulah. Alvin sama Jihan bukan bocah ingusan lagi yang gak tau batasan. Mereka udah dewasa. Mereka pasti tau mana yang bener atau enggak.” Kali ini Gibran yang menengahi.   “Nah ... itu.” ujar Alvin. “Kita pastiin, kita tau batasan kok.” Lanjutnya.   ***   “Temen-temen lo beneran posesif ya? Terutama Dania.” Ujar Alvin ketika mereka berpisah dengan teman-temannya yang lain. Saat ini mereka sedang duduk menghadap ke arah matahari yang hampir tenggelam di sisi tempat yang sepi, hampir tak ada orang.   “Dania ... .” Jihan tersenyum. “Dania emang perhatian banget kok. Dia peduli banget sama gue.”   “Gue seneng lo ada temen kayak gitu.” Ujar Alvin. “Gue lega liatnya.”   Setelah mengatakan hal itu mereka diam beberapa saat dengan tangan yang saling bertautan, saling berbagi kehangatan.   “Indah banget ya?” ujar Jihan. “Gue paling suka sama sunset Kak, seneng banget kalo udah di ajakin ke pantai. Tapi sayang ... gue jarang banget punya waktu buat berlibur.” Ucap Jihan lagi seraya menyunggingkan senyumannya. Tak lama kemudian ia menoleh ke arah Alvin yang sedang menatapnya. “Kalo lo ... lebih suka sunset atau sunrise? Pantai atau gunung?”   Alvin menarik ujung bibirnya lalu menatap ke arah matahari yang hampir terbenam itu. “Gue gak tau apa yang gue suka Han.”   “Hm?”   Alvin menoleh ke arahnya seraya tersenyum tipis. “Tapi gue tau ... apa yang lebih gue suka dari pilihan itu.”   “Apa?”   “Gunung atau pantai ... dalam suasana apapun ... entah liat sunset atau sunrise, bahkan saat badai sekalipun. Selama ada lo di samping gue ... gue pasti suka Han. Apapun yang gak gue sukai selama ada lo, selama lo di samping gue. Pasti gue suka.”   Kedua tangan Alvin merambat naik, membelai kedua belah pipinya dengan begitu lembut. “Apapun yang terjadi ... selama lo ada di samping gue. Gue ... pasti bisa hadapin itu semua Han. Sesulit apapun yang gue hadapi, gue pasti bisa bertahan hidup.” Alvin tersenyum tipis. “Selama ada lo ... selama lo juga bertahan di sisi gue.”   Jihan terdiam dengan iris mata yang menatap ke arah Alvin. Terkunci begitu rapat di sana. Tak ada canda, tak ada godaan dalam tatapan dan ucapan itu, yang ia rasakan ... yang ia lihat ... hanya ketulusan. Ketulusan yang Alvin berikan di setiap kalimatnya. Ketulusan ... dan kehangatan yang perlahan mulai merambat masuk memenuhi dadanya.  Bersamaan dengan itu Alvin memiringkan wajah, mendekat ke arah wajahnya hingga bibir itu bersentuhan dengan lembut pada permukaan bibirnya.   Jihan memejamkan mata dengan kedua tangan yang terkepal meremat kedua sisi baju Alvin ketika merasakan sengatan yang tak biasa menjalar di sekujur tubuhnya melalui sentuhan itu. Sentuhan yang benar-benar hanya sentuhan ringan, tanpa ada tekanan atau bahkan lumatan. Tak lama kemudian Alvin menarik wajah lalu berpindah mengecup keningnya sebelum memeluk tubuhnya seraya menghujani puncak kepalanya dengan kecupan-kecupan lembut. Ketika Alvin hendak menciumnya kembali, ponsel Jihan berdering, pertanda sebuah pesan masuk.   Jihan merenggangkan pelukan itu sesaat sebelum merangkul lengan Alvin seraya membaca pesan tersebut. Dari pelatih vocal-nya.   “Siapa?” tanya Alvin.   “Bu Ira. Ingetin aku biar gak makan gorengan sama es, soalnya tiga hari lagi aku mau kompetisi.” Jihan mendongak menatap Alvin. “Kak Alvin dateng ya? Lo harus dateng pokoknya. Ini ... kompetisi penting banget buat gue. Beneran kompetisi di level yang lebih tinggi. Sampe di siarin di TV sih katanya.”   Alvin tak menolak atau menyetujuinya. Ia membalas ucapan Jihan hanya dengan sebuah senyuman tipis.   Setelahnya mereka kembali duduk menghadap ke arah sunset, menikmati hangatnya matahari yang hampir tenggelam.   Sementara itu, tanpa Jihan sadari Alvin menoleh, menunduk menatap Jihan yang menyandarkan kepala pada bahunya dengan tatapan yang begitu sendu. Tatapan yang sarat akan luka yang teramat dalam dan juga sesak dalam d**a yang begitu menghimpit.   Alvin sadar, semua yang ia lakukan saat ini hanya akan menambah luka di hati mereka. Ia tahu bahwa semua yang baru saja mereka lalui hari ini hanya akan membuat luka yang mereka dapatkan semakin dalam. Tapi ... ia tak bisa menahan diri. Ia pun ingin bahagia, ia pun ingin bersama dengan orang yang ia cintai.   Karena itulah ... untuk malam ini saja. Untuk malam terakhir sebelum penderitaan hidupnya di mulai. Ijinkanlah ia egois. Ijinkanlah ia merasakan kebahagiaan ini walaupun hanya sesaat dari sepanjang hidupnya yang terasa penuh dengan duri tajam dan mungkin akan seperti itu lagi setelah ini. Namun saat ini ... ijinkanlah ia bahagia, ijinkanlah ia memilih jalan hidupnya sendiri, memilih keinginannya sendiri, mengikuti isi hatinya, meskipun hanya sementara, hanya sesaat. Hanya malam ini saja ...   Malam terakhir sebelum ia kehilangan Jihan ... kehilangan satu-satunya kebahagiaan yang ia miliki.   “Jihan ... Thank you for today and good luck for your competition.”   Jihan mendongak menatap ke arahnya dengan tatapan mata berbinar, penuh harapan. “Pastiin lo harus hadir ya Kak?”   Lagi, Alvin hanya bisa tersenyum mendengar permintaan Jihan. Tanpa kuasa untuk menolak keinginan gadis itu.   “Kak ... kenapa? Liatinnya gitu banget.”   Alvin mengerjapkan mata sesaat sebelum tersenyum lagi ke arah Jihan. “Han ... boleh gak gue meluk lo lagi?”   Jihan tampak terkejut selama beberapa saat tapi kemudian Jihan segera memeluknya, seraya mengelus punggungnya beberapa saat. Bersamaan dengan itu pula air mata Alvin terjatuh, meluruh tanpa bisa terbendung lagi.   . . .   Tangisan Alvin berlanjut disertai dengan erangan-erangan keras dan juga tangan yang begitu liar membanting apapun yang berada di kamarnya. Tak lama setelah itu Alvin terduduk, jatuh meringkuk dibawah tempat tidur dengan ponsel di tangan kanan yang menunjukan berbagai berita yang memuat tentangnya.   [NEWS] Putera Mahkota JYN Group, Alvin Jayanegara dikabarkan berkencan dengan Putera Petinggi Partai Kebersamaan, Agatha Ayu Pradipta.   [NEWS] Alvin Jayanegara dan Agatha Ayu Pradipta berkencan. “Baskara Jayanegara serius terjun dunia politik?”   [NEWS] Alvin dan Agatha Berkencan. Baskara Jayanegara bergabung di Partai Kebersamaan?     Miris. Kenapa ... hidupnya harus seperti ini? Kenapa disaat ia mulai mencintai seseorang ia harus kehilangannya secepat itu hanya karena sebuah keegoisan? Apakah dalam hidupnya ia memang tak di takdirkan untuk bahagia?    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN