Alvin mendorong pelan Jihan yang sedang duduk di atas sebuah ayunan kayu dengan sesekali menceritakan kisah masa lalu tentang pertemuan pertama mereka. “Dulu aku memiliki saudara di daerah sini. Hanya saja beda kecamatan.” Kening Jihan mengerut. “Beda kecamatan bisa sampe ke sini? Kak ... ke kecamatan sebelah jauh. Bagaimana bisa Kakak sampai sini?” “Kabur?” Alvin terkekeh kecil. “Saat itu bosan ikut kumpul keluarga bersama keluarga dari Mama, mereka terus membanding-bandingkan anak mereka, satu anak dan lainnya. Hingga membuat kami para saudara tidak pernah akur, saudara sebayaku pun selalu membangga-banggakan diri mereka bisa ini dan itu. Persis seperti orangtua mereka. Aku merasa muak, karena itulah aku pergi menggunakan taksi hingga sampai di taman ini dan akhirnya bertem

