Alvin mengikuti langkah Jihan menyusuri setiap jalanan kecil di tengah gundukan tanah dan nisan sepanjang area pemakaman tersebut. kakinya melangkah tenang, mengikuti langkah Jihan yang tampak begitu berat, terasa begitu kelabu. Tak lama setelah itu Jihan menghentikan langkah kemudian berbalik, menatapnya sendu lalu tersenyum tipis. “Ini makam mendiang ayah.” Alvin segera berjongkok kemudian menyimpan satu buket bunga di atas gundukan tersebut, diikuti oleh Jihan yang kemudian berjongkok di sampingnya mengusap batu berukirkan nama sang ayah. “Ayah ... Jihan datang. Maaf Jihan sudah lama sekali tidak mengunjungi Ayah ... Jihan benar-benar anak yang buruk. Maafkan Jihan Ayah ... .” Jihan menjeda ucapannya kemudian menghela nafas panjang sebelum kembali berujar. “Ayah ... Jihan

