Alvin menghembuskan nafasnya perlahan seraya mendongak menatap langit sore yang mulai menggelap. Sementara di tangan kanannya tergantung memegang ponsel yang sedang ia tempelkan di telinga kanannya. “Bagaimana Vin? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?” “Ma ... .” Suara Alvin tercekat, ia menarik nafas panjang kembali. Setelah itu ia diam selama beberapa saat. Elina menghela nafas. “Tak apa sayang ... tak apa. Nanti kita coba lagi ... ya? Mama nanti akan menemanimu untuk datang dan ... .” “Aku diterima Ma ... .” “Apa?” Bibir Alvin tertarik menampakkan senyuman lebar yang seolah akan merobek wajahnya, sebuah senyuman pertanda meluapnya kebahagiaan yang tengah ia rasakan. “Bunda mengijinkan Alvin untuk menikah dengan Jihan.” . . . Susana tegang yang

