Hari baru cerita baru, tentu saja. Setelah Alvin menyepakati usulannya semalam mereka mulai banyak berbicara sekalipun banyak sekali perdebatan dan juga godaan yang diberikan Alvin. Sungguh, Alvin yang katanya cool justru Alvin dihadapan Jihan hanyalah Alvin yang sangat menyebalkan, apalagi jika lelaki itu sudah menyibakkan poni lalu menyeringai, rasanya ingin sekali ia memukul keras wajah sok tampan itu.
Seperti sekarang Alvin tengah menanggapi ucapan satu persatu dari anggota BEM yang mengusulkan tambahan program kerja, dengan mata yang menatap mereka secara langsung, menyimak dengan tenang yang juga kemudian menanggapinya dengan lembut. Bukan hanya itu yang sangat menyebalkan adalah ketika Alvin masih saja memperlakukan dengan baik anggota yang datang terlambat lebih satu jam. Mending kalau misalkan alasannya masuk akal, ini alasannya karena bangun telat? Please! Apa mereka tak bisa mengatur waktu dengan baik? Mereka sudah dewasa, bukan balita yang terkadang memiliki waktu tidur lebih dari sepuluh jam. Seharusnya Alvin menegur mereka. Apa yang di lakukan Alvin? Dia justru menyambut dengan senyuman lalu berkata dengan sangat tenang.
“Ok. Gak masalah, yang penting lain kali jangan telat lagi. Biasakan untuk selalu disiplin, berkumpul sebelum waktu rapat tiba, kecuali ada hal yang sangat mendesak dan tak bisa di tinggalkan.” Jelas Alvin pada gadis itu diiringi dengan senyuman.
Jihan yang duduk di samping Alvin hanya memutar bola mata melihat kelakuan Alvin. Dasar tukang tebar pesona. Gerutu Jihan. Lihat saja ... pada gadis cantik yang anggun seperti gadis itu Alvin sangat lembut, tapi padanya? Mana ada? cih! Berkata lembut saja sepertinya Alvin lupa caranya.
“Jangan cemburu.”
Jihan terjengit saat mendengar bisikan Alvin tepat di telinga kanannya. Jihan menoleh, lalu memundurkan wajah ketika wajanya di rasa terlalu dekat dengan wajah Alvin.
“Siapa yang cemburu?” tanya Jihan diiringi desisan, setelah itu ia memutar bola matanya. “Gak usah kepedean.”
Alvin terkekeh, lalu mengusak puncak kepalanya.
Deg!
Jihan terkesiap, iris matanya membulat menatap ke arah Alvin yang masih mengusak puncak kepalanya. Untuk pertama kalinya Alvin melakukan hal itu padanya dan Alvin pula lah satu-satunya yang berani melakukan hal itu selain Ibunya.
“Kalo kamu cemburu dan gak suka aku ngelakuin sesuatu bilang aja. Gak usah marah kayak gini.”
Jihan mengerjapkan matanya lagi. Apa katanya? Aku-kamu? Apa ia tak salah dengar?
“Jihan.” Panggil Alvin dengan lembut.
“Hm?” Jihan mengerjapkan matanya lagi, memokuskan pandangannya pada iris mata Alvin yang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam dan terlihat sangat lembut. Sangat berbeda dengan Alvin yang malam sebelumnya ia temui.
Ia jadi heran. Apakah Alvin dihadapannya ini Alvin yang kemarin?
“Akting Jihan. Hanya akting.” Suara Alvin malam itu kembali terngiang di telinganya, membuat mata Jihan lagi-lagi mengerjap, serasa tersadarkan dari keheranan yang berada di benaknya.
Ah! Ya! Hanya akting.ujar Jihan dalam hati.
“Ada masalah lain?” tanya Alvin lagi.
Jihan menggeleng pelan seraya membasahi bibirnya yang mendadak mengering, tiba-tiba terasa begitu gugup. “M—maaf, gu—aku gak bemaksud. Aku—gak ngerasa cemburu kok. Beneran. Kita kan harus profesional kalo lagi kerja. Maaf ... .”
Alvin kembali mengusak puncak kepalanya seraya tersenyum begitu tampan. “Gapapa.” Ujarnya dengan tangan yang belum lepas juga dari surainya.
Alvin kembali mengalihkan perhatiannya pada seluruh anggota yang menatap mereka dengan tatapan sangsi. Alvin kembali berbicara dengan anggota yang lain, yang sebelumnya mengajukan beberapa pertanyaan, tapi tangan Alvin tak juga lepas darinya, kini Alvin justru mengelus surainya dengan lembut, kemudian tangan itu berpindah ke punggung, lalu pinggang, memberinya elusan sesaat sebelum menarik tangan itu lagi.
“Ada saran lain?” tanya Alvin seraya menatap satu persatu anggota yang hadir, “Jika tak ada, sepertinya rapat kali ini hanya sampai di sini. Kita akan sambung setelah semua detail program dari setiap sekbid terkumpul. Saya harap setelah ini kalian segera merundingkannya. Dan oh ya ... .” Alvin mengalihkan perhatian padanya lagi. “Kamu giliran susun RAB ya? Dua hari harus udah kamu kirim ke emailku.”
Jihan membulatkan matanya. “Dua hari? serius? Tapi Kak ... ini terlalu cepet apalagi yang dirancang beneran rancangan kasar.”
“Gak perlu dipikirkan terlalu berlebihan Jihan. Santai aja, aku yakin kamu pasti bisa.”
“Vin, lo mau ngasih tugas apa nyiksa?” kali ini Bastian yang berbicara, berusaha menengahi Jihan dan Alvin, sebab ia tahu Alvin seperti sedang ingin menjahili Jihan dengan memberi tugas berat. Padahal tak seharusnya seperti itu. “Dua hari di suruh nyusun RAB sendiri itu gak masuk akal.”
“Siapa bilang sendiri?” Alvin mengalihkan pandangan pada Bastian. “Gue bantuin kok.”
Bastian mengerutkan kening. “Tumben mau bantu yang kayak begitu.”
Alvin mendesis. “Lo ngomong kayak gue pemimpin sadis aja Bastian.”
“Emang. Lo kan paling gak punya hati dan super perfectionist.” Balas Bastian.
Ya ... memang. Alvin selalu seperti itu ketika bekerja. Ia pernah mengalaminya, tapi di bantu membuat rencana anggaran biaya? Ini aneh. Sangat tak biasa. Biasanya Alvin akan memerintahkan lalu meninjau setelah itu ketika ada kekurangan baru dia tambahkan. Tapi sekarang? Alvin akan membantunya? Sungguh. Suatu keajaiban yang luar biasa. Pikir Jihan.
“Tapi terserah deh, toh lo nyiksa pacar lo sendiri. Bukan urusan gue.”
Perhatian semua orang teralih pada Alvin, Jihan dan Bastian. Suasana pun terasa hening selama beberapa saat sebelum orang-orang dalam ruangan itu mulai berbisik seraya menatap Jihan sangsi, menilai penampilannya.
“Kak Bas!” Jihan menggeram kesal. “Apa sih kak? Gak usah ngomong kayak gitu.” Tambahnya kemudian mengerucutkan bibir. Kesal. Ia memang ingin orang-orang menduga mereka pacaran, tapi bukan dengan cara seperti ini juga. Bukan dengan di umumkan oleh sahabat terdekat Alvin.
Sementara itu Alvin hanya menghela nafas panjang. “Gak usah bahas itu di sini Bas.” Alvin menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang masih saja terus berbisik, terdengar menilai penampilan Jihan yang jujur saja ... membuat Alvin sendiri merasa tak nyaman.
“Sorry semuanya buat kalian gak nyaman. Sekali lagi sorry. Apapun hubungan kita berdua, kita pasti profesional kok. Gak ada hubungannya sama kerjaan di BEM.” Alvin kemudian menatap Jihan yang menundukkan kepalanya begitu dalam. Tangannya terulur, mengelus surai bergelombang itu beberapa saat, lalu mendelik ke arah Bastian yang kini mengangkat kedua telapak tangannya, meminta ampun.
“Sorry Bos, gue gak tau kalian bakalan lowkey.”
***
Fanya menatap beberapa orang yang melewati mereka, yang tampak menatap aneh ke arah mereka diiringi dengan bisikan-bisikan yang ia yakini adalah sebuah gibah.
“Mereka kenapa sih? Kayak pertama kali aja liat kita di sini.”
“Ini pasti gara-gara Kak Bastian.” Ujar Dania.
“Kok?” Fanya menatap Dania dengan kening yang mengerut. “Kok bisa Kak Bas?”
“Kak Bastian tiba-tiba bilang kalo Jihan pacar Kak Alvin di depan semua anak BEM.” Jelas Dania yang memang merupakan anggota BEM juga bersama Jihan, hanya saja mereka di tempatkan di tempat yang berbeda. Jadi tentu saja saat rapat sebelumnya Dania datang, Dania bahkan menjadi saksi betapa nyatanya hubungan mereka untuk disebut hubungan palsu.
Kening Fanya semakin mengerut. “Kan emang bener. Terus masalahnya dimana?”
Dania berdecak. “Masalahnya abis itu suasana jadi canggung banget, anak-anak BEM lain bahkan kayak liatin Jihan gitu. Ngerti gak sih lo kayak anggap Kak Alvin tuh gak pantes aja buat Jihan.” Dania menghela nafas panjang lalu mengalihkan pandangan pada Jihan yang hanya menumpukan kening pada kedua tangan yang terlipat di meja. Masih tampak sangat tertekan. “Sejak awal gue kurang setuju sama rencana kalian. Gue yakin bakalan kayak gini kalo orang-orang tau. Udah gue bilang udah cukup pas dikantin waktu itu, gak perlu ada pembicaraan lain, kesepakatan atau apapun. Ginikan jadinya? Mana mulut netizen nyebelin, maha benar. Seolah kalo Kak Alvin gak sama Jihan, mereka bakalan milikin Kak Alvin. Padahal ... gak mungkin!”
“Tapi sejauh ini Kak Alvin belain Jihan kan?” tanya Kevin yang memang sejak awal duduk di samping kanan Jihan. “Maksud gue ... dia gak biarin Jihan malu sendirikan?”
Dania memutar bola matanya. “Enggak, Kak Alvin malah dengan romantisnya elus kepala Jihan. Kalo gue gak tau yang sebenernya, gue bakalan percaya sama mereka. Mereka terlihat lebih nyata daripada hubungan Fanya sama Kak Gibran yang masih jalan di tempat.”
“Syukurlah.” Ujar Kevin.
“KOK SYUKUR?! Lo ngatain hubungan gue sama Kak Gibran juga jalan ditempat doang?”
Kevin berdecak. “Gak gitu juga ... maksud gue. Syukur kalo Kak Alvin masih inget harus jaga perasaan Jihan. Meskipun Jihan sekarang kayak Ayam yang siap mati.”
“Jihan kenapa?”
Keempat orang itu mendongak hampir secara bersamaan ketika mendengar suara yang tak asing tersebut. Itu Alvin yang tiba-tiba datang di belakang Kevin, bersama dua temannya yang lain. Bastian dan Gibran.
Kevin segera bergeser, memberikan tempat duduknya pada Alvin. Membiarkan Alvin menangani kesulitan yang dialami oleh Jihan. Alvin datang mendekat, pemuda itu duduk lalu membungkuk mendekatkan bibirnya pada telinga Jihan dengan tangan terulur mengelus kepala Jihan selama beberapa saat. Tak hanya itu Alvin bahkan memanggil Jihan dengan suara yang sangat lembut. Terdengar penuh kasih sayang.
“Jihan.” Panggil Alvin dengan tangan yang masih mengelus surai Jihan.
“Hey ... .” kali ini Alvin menggoyangkan kepala Jihan sesaat, sampai gadis itu mendongak, menatapnya dengan tatapan sendu. “Kenapa?” tanya Alvin dengan lembut.
Dania dan Fanya saling tatap sebelum menatap ke arah dua insan itu, lalu saling bertatapan lagi kemudian menggelengkan kepalanya perlahan. Setelahnya mereka hanya bisa membiarkan dua insan itu, dengan menyibukkan diri menyantap makan siang mereka.
“Aku gapapa Kak.” Ujar Jihan sebelum menumpukan dagunya pada lipatan tangannya. menatap kosong pada jus didepannya dengan bibir yang mengerucut.
Alvin tak menyerah, ia duduk miring menghadap ke arah Jihan, mengelus-elus surai bergelombang itu lagi selama beberapa waktu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Berusaha memberi waktu pada Jihan untuk menenangkan diri dan hatinya.
Kehangatan dari tangan Alvin perlahan terasa mulai merasuk, memenuhi dadanya, menghangatkan seluruh bagian dalam hatinya, mengikis perasaan kesal, menghapuskan perasaan marah yang sebelumnya sangat menguasainya. Memang ... cara seperti ini adalah cara yang paling ampuh untuk menenangkan hatinya. Ia pikir hanya bisa dilakukan oleh Ibunya, tapi ternyata Alvin pun mampu memperbaiki suasana hatinya hanya dengan sentuhan ringan, yang lembut dan juga terasa begitu hangat.
Perlahan Jihan mengangkat kepalanya, menatap ke arah Alvin kemudian tersenyum tipis. “Thank you Kak.”
“Merasa lebih baik?” tanya Alvin yang di angguki oleh Jihan.
“Baguslah. Sekarang sebaiknya kamu makan. Setelah itu aku anterin kamu ketempat Fanya. Istirahat.”
Jihan tersenyum kemudian mengangguk lagi sebagai jawaban.
Sementara itu Gibran dan Bastian yang duduk berebrangan saling bertatapan lalu melemparkan tersenyum penuh arti.
Apakah ini pertanda sahabat mereka yang sedingin gunung es mulai mencair? Rasanya semua yang di lakukan Alvin tak mungkin hanya sandiwara semata, Alvin bukan seseorang yang sering berkata dengan lembut seperti itu, Alvin juga bukan seseorang yang senang melakukan skinship seperti yang sedang Alvin lakukan saat ini. Alvin yang biasanya sangatlah dingin dan cenderung datar, serta sangat anti jika salah satu dari mereka merangkul. Tapi sekarang ... lihatlah ... semua yang terlihat di mata mereka. Alvin seperti orang lain, seperti seseorang yang benar-benar jatuh cinta, hingga semuanya benar-benar tampak lebih nyata dari sekedar sandiwara.
Lalu ... apakah Alvin melakukan semua itu hanya untuk bersandiwara atau benar-benar dari lubuk hati terdalamnya?