“Han, lo yakin mau balik ke kosan sekarang?” Fanya menatap Jihan tak rela ketika Jihan sedang berbenah dan bersiap pergi dari apartemennya itu.
Jihan yang ditatap, menatap ke arah Fanya satu kali kemudian menyunggingkan senyumannya. “Gue gak enak sama lo, Kak Alvin bakalan sering banget ketemu sama gue soalnya ngurusin RAB sama urusan BEM lainnya, yang ada lo keganggu lagi apalagi gue sama Kak Alvin sering ribut.”
Fanya mendesis. “Sering ribut atau sering ribut? Gue liat kalian nempelnya udah kayak orang pacaran beneran, ibaratnya tuh kayak komedo di hidung, susah buat dipisah. Rangkul pinggang terus, elus kepala sampe ... .”
“Berisik.” Seru Jihan memotong ucapan Fanya. Sungguh jika membayangkannya ia sangat malu. Bagaimana bisa Alvin melakukan hal itu padanya secara natural begitu? Seolah tanpa beban sama sekali. Ia sangat malu ... sungguh ... apalagi ketika tanpa sadar ia masih bisa merasakan usakan dan elusan hangat yang diberikan Alvin terhadapnya. Ia semakin malu pada dirinya sendiri.
“Ciee salting.”
“Diem.”
“Wajahnya merah bener.”
“Fan.”
“Iya iya gue diem.” Fanya menghela nafas panjang. “Tapi beneran lo yakin balik sekarang? Kalo Erlangga gangguin lo?”
“Gak bakalan. Kan ada Kak Alvin.”
Fanya menghembuskan nafasnya lagi. “Yaudah deh terserah lo, yang penting entar lo hubungin gue ya kalo ada apa-apa. Sering-sering maen ke sini.”
“Gampang, kayak sama siapa aja lo. Udah deh Kak Alvin dah nunggu.” Ucap Jihan seraya beranjak keluar dari kamar yang selama beberapa hari ia tempati, menuju ke arah Alvin yang sudah menunggunya di ruang tengah.
“Maen ke rumah gue aja santuy banget, giliran mau ngapel ke kosan Jihan rapih.” Sindir Fanya ketika melihat penampilan Alvin yang sudah sangat rapih dengan kaus berwarna putih, jaket denim, celana jeans dan juga sebuah sneakers putih membingkai kakinya, tak lupa rambut yang di tata dengan begitu rapih, bahkan sangat rapih. Memang ... tampak lebih rapih dari terakhir ia lihat. Tampan ... Alvin begitu tampan di matanya, apalagi jika pemuda itu tersenyum tipis, menambah seratus persen kadar ketampanannya.
Jihan menggeleng kecil, berusaha membuang pikirannya tentang Alvin yang mulai melantur.
“Ya ngapain maen ke sini rapih orang apart gue aja di sini.” Balas Alvin.
Mata Fanya terbelalak, sementara Jihan hanya menatap Fanya dengan kening mengerut. Jihan sebenarnya tak heran lagi jika Alvin akan tinggal di salah satu unit apartemen berharga milyaran rupiah di gedung ini. Sudah terlihat jelas Alvin anak orang kaya.
“Lahanjir? Lo tinggal di Anandamaya juga Kak? Kok gue gak tau? Dilantai berapa?!”
Alvin mengedikkan bahu seraya meraih tas dari tangan Jihan. “Gak usah tau lo, entar Gibran marah lagi kalo lo tau apart gue” jawab Alvin kemudia mengalihkan pandangan ke arah Jihan. “Udah selesai? Ayo aku anter sekarang.”
Jihan mengerjapkan matanya. “A—aku? Kak! Kalo berdua gue lo aja lah gak usah aku-kamu. Apa gak aneh? Geli tau!”
Alvin berdecak. “Banyak banget nuntut, udah ayo gue anter pulang.”
“Jihan jangan gitu. Baik-baik sama Kak Alvin.” Tegur Fanya, lalu mengalihkan perhatian pada Alvin seraya tersenyum. “Kak jagain temen gue ya ... .”
Alvin mendesis. “Gak janji.” Ucapnya seraya berlalu meninggalkan unit apartemen tersebut.
“Inget pesen gue. Baek-baek lo sama Kak Alvin Han, dia udah bantuin lo.”
“Gue juga dah bantuin dia kali, kayak dia doang yang bantuin gue.” Jihan merengut sesaat lalu menghela nafas panjang. “Yaudah gue balik ya. Thank you buat tumpangannya Fanya. Byebye.” Ujar Jihan kemudian memeluk Fanya sesaat sebelum beranjak.
Fanya hanya mampu menghela nafas panjang kemudian menggelengkan kepala. Padahal tadi siang saat di kantin mereka tampak seperti pasangan kekasih sungguhan. Tapi sekarang? Mereka persis seperti musuh yang nyata.
“Heran.”
***
“Ini kosan lo?” tanya Alvin begitu mereka sampai didepan sebuah kosan tak jauh dari kampus mereka. Sebuah kosan yang sangat sederhana yang terletak di ujung jalan, yang sedikit rusak dan berlubang.
“Iya, kenapa? Gue yakin lo pasti gak betah sih Kak. Di sini panas, gak ada AC kayak di apartemen mewah lo. Bahkan AC di mobil lo ini lebih dingin daripada kipas angin di kamar gue. Masih yakin lo mau ke tempat gue?” tanya Jihan.
Alvin mendesis. “Dah gak usah banyak ngomong. Ayo.” Alvin keluar dari dalam mobilnya yang kemudian di sambut oleh seorang perempuan paruh baya.
“Oalah Neng Jihan, Ibu pikir siapa yang di anterin pake mobil mentereng begini.” Ujar perempuan paruh baya itu. “Siapa ini Neng?”
Alvin tersenyum santun kemudian menyalami perempuan paruh baya itu. “Alvin Bu, temen kuliah Jihan. Bakalan sering sih kayaknya maen ke sini soalnya mulai sekarang kita kerja bareng di BEM. Mohon ijin ya Bu ... .”
“Aduh! Udah mah kasep, sopan lagi. Nemu dimana Neng yang kayak begini? A Alvin ... boleh kok kalo mau ke sini sering-sering. Gapapa. A Dafi sama A Kevin juga sering ya Neng dateng ke sini bareng Neng Fanya sama Neng Dania?”
“Dafi sama Kevin?” tanya Alvin seraya mengerutkan keningnya.
Jihan tersenyum canggung kemudian mengangguk. “Yaudah bu aku langsung naik ya? Boleh kan bu?”
“Gapapa atuh Neng, boleh saja. Neng kan udah senior, Ibu percaya kok sama Neng Jihan. Yaudah kalo ada kerjaan gitu kerjain sana. Inget ... sebelum jam 7 malem udah harus pulang ya. Oh ya ... kenalin, Ibu namanya Bu Asih, Panggil aja Ibu ya A.”
Alvin kembali mengangguk seraya tersenyum santun. “Iya Bu, terimakasih banyak. Saya pamit naik dulu bu.” Ujar Alvin kemudian mengekori Jihan yang berjalan beberapa langkah di depannya.
Kosan ini tak banyak, hanya ada empat pintu di bawah dan empat pintu di atas. Kosan ini juga terbilang sedikit bebas meskipun untuk memasukkan seseorang harus melalui ijin si pemilik kosan, ketika ibu pemilik kosan percaya sama orang itu barulah orang tersebut mendapatkan free pass untuk memasuki kosan, di jam-jam berkunjung, di batas waktu tertentu.
“Dafi sama Kevin ngapain ke sini?”
“Kak Dafi kadang cuma nemenin Dania yang maen ke sini, jarang sih kalo maen sendiri. Kalo Kevin kadang cuma minta temenin makan. Dia yang beli abis itu makan di sini. Gak ngerti deh kenapa dia sering begitu tapi dia bilang dia kesepian hidup sendiri.”
“Lain kali jangan sembarangan masukin cowok ke kosan.”
“Yaudah kalo gitu pulang gih.”
Alvin mendelik. “Maksudnya orang lain. Cowok lain.”
Jihan terkekeh kecil dengan kepala yang mengangguk-angguk. “Iya Kak. Tau. Lagian di sini di pasang CCTV di tiap pintu masuk kamar. Tuh di atas, dan di larang tutup pintu kamar kalo ada cowok yang lagi maen.”
Alvin mendongak menatap ke arah CCTV yang menghadap setiap pintu masuk kemudian mengangguk-anggukan kepalanya. “Baguslah. Jadi mana kamar lo?”
“Ini.”
Jihan memutar kunci kamarnya sebanyak dua kali sebelum membuka pintu tersebut.
Alvin menatap sekeliling kamar Jihan yang memang tampak sangat jauh lebih kecil daripada apartemen milik Fanya. Di sini hanya ada sebuah ruangan dengan sebuah kamar mandi di ujung ruangan. Di dalam ruangan ini pun tak terlalu terdapat banyak barang. Hanya ada sebuah single bed dengan satu buah lemari kecil, sebuah rak buku, penanak nasi, tempat air dan ... sebuah gitar tergantung di sudut kanan kamar. Akan tetapi sekalipun ruangan ini tampak kecil, namun terasa cukup luas, juga terasa sangat nyaman. Tak seburuk yang di ceritakan Jihan sebelumnya.
“Kecil sih. Tapi semoga lo nyaman kak. Tapi jangan betah.”
Alvin terkekeh kecil lalu melirik ke arah Jihan yang sedang membuka tirai jendela. “Tapi kayaknya gue bakalan betah di sini. Gak ada kerjaan juga gue bakalan sering maen.”
Jihan membelalakkan matanya. “Gak! Ngapain?!”
“Lo kan pacar gue. Masa pacar gak boleh sering-sering maen. Ya ya?” Alvin menaik turunkan alisnya, meminta ijin pada pemilik kamar.
“Dih! Ngadi-ngadi lo! Kagak!”
“Kevin aja bisa maen tanpa alesan kesini.”
Jihan mendelik, “Jangan bertingkah sok cemburu.”
“Gue emang cemburu. Lo pilih kasih.”
“KAK Alvin!”
“Stt! Kenceng amat teriakan lo. Entar orang-orang nyangkain gue m***m lagi.”
“Jangan ngeselin makanya!” seru Jihan seraya beranjak mengambil meja lipat yang kemudian di gelar di atas lantai.
Sementara Alvin yang mengamatinya hanya mampu menyunggingkan senyuman melihat wajah merengut Jihan yang tampak menggemaskan. Setelah itu duduk tepat dihadapan Jihan yang sudah membuka laptopnya.
Jihan memulai pekerjaannya sementara Alvin hanya memantau dan mengarahkan beberapa hal yang tidak ia setujui. Selebihnya Alvin hanya diam dengan sesekali mengamati ruangan itu lagi yang benar-benar tampak begitu nyaman. Terasa begitu sejuk, akan tetapi terasa begitu hangat dalam waktu bersamaan. Terasa begitu spesial. Berbeda sekali dengan tempat miliknya yang terkesan dingin.
“Lo ada keturunan Jawa juga Han?” tanya Alvin ketika melihat potret orangtua Jihan dengan pakaian khas Jawa yang tergantung dalam bingkai di dinding kamar.
Jihan mengangguk kecil. “Ayah gue Jawa.”
Alvin mengangguk-angguk kecil tak lama kemudian ia menyeringai, tersenyum jahil ketika melihat Jihan yang masih sibuk dengan layar laptopnya.
“Han.”
“Hm.”
“Bahasa Indonesianya diamond kan berlian. Kalo gold apa?”
“Emas?”
“Dalem.” Alvin menyerukan wajahnya, mendekat ke arah Jihan. “Kenapa sayang?”
Kening Jihan mengerut kemudian mengalihkan pandangannya pada Alvin yang masih menatapnya dengan senyuman penuh godaan. Beberapa saat kemudian matanya mengerjap, dadanya berdesir, menghangat, hingga membuat pipinya terasa memanas, merona malu setelah menyadari arti godaan yang dilayangkan pemuda itu.
“Apaan sih Kak? Gak jelas. Mau gombal kok bikin orang mikir dulu. Gak pro!” Jihan mendorong bahu Alvin menjauh dari wajahnya. Lalu menatap Alvin lagi setelah merasakan perasaannya lebih baik. “Udah dari pada gombal gagal mending bantuin mikir ini. Liat, masih banyak kerjaan.”
Jihan memutar laptopnya menghadap ke arah Alvin, membiarkan pemuda itu membaca hasil dari pekerjaannya yang bahkan belum mencapai seperempatnya dari seluruh pekerjaan yang diberikan Alvin.
“Oh iya kak mau nanya deh. Bagian lantai kapal pesiar itu apa?”
Kening Alvin mengerut, ia menatap Jihan sesaat sebelum menatap ke arah layar laptop lagi. “Deck?”
“Dalem ... Kenapa Mas?”
Alvin menghentikan pergerakan jarinya, kemudian menoleh, menatap Jihan yang menatapnya dengan senyuman menggoda. “Itu Dek, bukan Deck. Adek Jihan ... .” ujar Alvin seraya mencubit hidung Jihan, beriringan dengan jantung yang masih berdebar kencang akibat godaan sederhana itu.
Alvin menatap Jihan yang masih tertawa puas seraya tersenyum lembut. Jika dilihat-lihat, ternyata Jihan menggemaskan juga ya? Manis, apalagi saat tertawa lepas seperti itu.
“Oh ya ... Han, besok ada jadwal gak?”
Jihan menghentikan tawanya. Gadis itu mendongak, mentap ke arahnya kemudian tersenyum. “Kenapa? Mau ngajakin gue kencan?”
Alvin terkekeh kecil, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Jihan hingga membuat gadis itu terdiam sesaat lalu mendorongdada Alvin seraya memundurkan wajahnya.
Alvin menyeringai, menarik ujung bibirnya, tersenyum puas.
“Emang, kok lo tau?”