Riuh penonton terasa semakin menggaung, kilatan kamera semakin menyamarkan pandangan, membuat Jihan tak bisa mendengarkan apapun dan melihat apapun dengan jelas. Ia tak bisa melakukan apapun lagi selain menunduk dengan menutup mata dan tangan yang menutup kedua telinga, mengabaikan semua orang yang semakin mengelilinginya bersama Alvin yang masih berdiri di hadapannya. “Jihan.” Panggil Alvin seraya merengkuh kedua lengannya. Jihan menggelengkan kepala, mengabaikan Alvin ketika telinganya semakin berdenging seiring dengan banyaknya pertanyaan yang terarah pada mereka. Jihan bergetar, menangis, ketakutan. . . . Di sisi lain Kevin yang berada di bangku penonton berdiri, mulai beranjak, melangkah lebar mendekat ke arah Jihan seraya melepas jaket denim-nya. Kevin kemudian memb

