Kembali ke peristiwa awal.
Tak lama setelah ia dan Thian berdiri di tempat itu, tiba-tiba terdengar suara berdecit yang tidak mengenakkan. Mereka berdua langsung menengok ke arah tempat suara tersebut berasal. Tidak hanya mereka berdua, tetapi, anak-anak yang tadi Irene lihat sedang berada di taman itu juga sama mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.
Irene melihat ke arah pintu utama kastil yang kian bergerak terbuka. Bahkan, remaja lelaki yang ia lihat berdiri di depan pintu itu, mulai melangkahkan kaki untuk mundur secara teratur. Mereka masih belum bisa melihat apa-apa, kecuali kegelapan pekat yang bersemayam di balik celah kecil pintu.
Kusen terus bergerak hingga pintu besar tersebut dapat memberikan ruang yang cukup besar. Kini, ambang kayu itu sudah terbuka sepenuhnya. Tiba-tiba, ada seorang wanita yang berjalan menembus kegelapan, memunculkan batang hidungnya tepat di depan pintu yang terbuka tersebut.
Wanita itu hanya terlihat wajahnya, dengan tubuh yang hampir sepenuhnya dilingkupi oleh jubah hitam, bahkan hingga ujung jari kakinya. Kepalanya tertutup oleh tudung pakaian gelapnya itu. Menimbulkan kesan misterius sekaligus menakutkan secara bersamaan.
"Apa yang kau lakukan di sini, anak muda?" celetuk wanita tersebut yang seolah terlontar pada lelaki berambut pirang, yang sebelumnya memang berdiri di depan pintu besar itu.
Lelaki itu mengangkat wajah, menatap wanita misterius tersebut yang wajahnya tersembunyi di balik tudung gelapnya. "Akankah Anda membiarkan kami semalaman di luar?" Ia balik bertanya pada perempuan berjubah hitam tersebut.
Wanita itu berhenti berbicara untuk sesaat. Ia terdengar seperti sedang menggumam. Namun, entah apa yang sedang ia bicarakan. Tak seorang pun dapat mendengarnya dengan jelas. Hanya kata-kata yang mampu didengar oleh perempuan itu sendiri, mungkin.
"Baiklah, mari masuk," ajak wanita itu pada pemuda berambut pirang pekat tersebut. Namun, beberapa saat kemudian, perempuan itu melangkahkan kaki menuruni anak tangga kastil satu per satu. Ia memandang ke arah anak-anak yang ada di halaman kastil tersebut dengan menyeluruh. "Kalian juga ikut masuk ke dalam," titahnya lanjut.
Irene langsung memandang Thian. Lalu, secara bersamaan pria yang ada di hadapannya itu memandang balik ke arahnya. Dari sorot mata mereka berdua, bertaut banyaknya pertanyaan. Namun, mulut mereka hanya membisu.
Tiba-tiba, gadis berambut hitam yang semua duduk di atas rerumputan hijau kini bangkit berdiri. Ia berlagak seolah membersihkan pakaiannya yang terlihat sedikit basah akibat embun yang semula menempel di rumput, berpindah ke gaun tak bercorak yang dikenakannya.
"Maaf, Nyonya, tetapi bolehkah aku menanyakan sesuatu terlebih dahulu?" Gadis bernetra hitam itu mulai mengeluarkan suaranya, dengan senyum manis yang terlukis di rupa eloknya.
Wanita berjubah itu bergeming di tempatnya berdiri, yaitu di salah satu anak tangga kastil. "Boleh saja," balasnya.
"Kamu sepertinya sudah mengenal tempat ini, Nyonya. Ah, tidak, aku pikir malah kamu adalah penghuni tempat ini. Dengan begitu, bisakah kamu memberitahu kami, di mana sebenarnya kami berada saat ini?" Gadis itu berceloteh, mengatakan semua yang terlintas di dalam benaknya.
"Dan juga untuk apa kami ada di sini?" lanjut gadis itu menyeringai. Ia mengangkat wajah, menatap lurus ke jangkauan dua pasang mata yang berada di dalam tudung gelap milik wanita tersebut.
Semua pertanyaan yang diajukan gadis itu jelas mewakili rasa penasaran yang sejak tadi bergeming di dalam lubuk hati Irene serta Thian. Gadis itu berani mengambil resiko, dia bukan seorang pengecut yang nyalinya akan ciut hanya dengan bertemu orang asing, di tempat yang asing pula.
"Bagaimana kalau aku tidak mau menjawabnya?" Wanita berjubah hitam itu berkata dengan tajam. Tubuhnya masih bergeming di atas anak tangga terakhir kastil tersebut, membuat posisinya menjadi lebih tinggi daripada gadis dengan gaun merahnya.
Gadis itu melebarkan seringainya. Tatapannya berubah menjadi tajam, dan penuh kengerian. "Hmm … entahlah. Kira-kira apa, ya?" Ia melontarkan pertanyaan yang entah untuk siapa. "Kamu kuat, Nyonya. Andai kata kamu lemah, tidak mungkin kamu bisa membawa kami ke sini hidup-hidup. Jadi, aku tak bisa langsung mengambil keputusan." Ia menyindir dengan halus.
Pernyataan tersebut langsung menancap kuat di pikiran Irene. Membawa kami? Berarti seseorang sudah membawa kami dari ranjang nyaman, kemudian memindahkannya ke tempat antah berantah ini? Apakah wanita berjubah itu pelakunya? Lalu, bagaimana gadis itu bisa tahu kalau sosok misterius itu pelakunya? Beragam pertanyaan berdering di dalam benaknya.
Wanita itu masih bergeming, membuat suasana menjadi hening sesaat. Namun, tiba-tiba terdengar suara tawa. Tawa yang semakin lama semakin terdengar jelas. Tawa yang berasal dari wanita berjubah hitam tersebut.
"Hahaha … lady, kau begitu kritis, ya. Kalau kamu bisa menyimpulkan hingga sejauh itu, kupikir harusnya kamu sudah bisa menebak di mana tempat ini berada." Wanita itu berkata, memberikan sedikit pencerahan.
Gadis itu menggelengkan kepala. Ia menyunggingkan senyum. "Tidak bisa. Aku tidak bisa menebaknya dengan tepat. Namun, ada satu hal yang kurasa itu benar." Ia memalingkan pandangan ke arah pria yang masih bersandar di tembok pembatas di belakang sana. Pria yang mengenakan jaket hitam, hanya menatapnya dengan wajah datar serta dingin.
"Yang jelas, tempat ini bukan berada di dunia kami, `kan?" ujarnya dengan yakin.
Pria dengan jaket hitam itu mengangkat tubuhnya dari sandaran dinding. Ia mulai berjalan menyusuri lahan rerumputan hijau yang terhampar di hadapannya. Meniti langkah, berjalan mendekati tempat gadis bergaun merah tersebut berdiri.
Wanita berjubah hitam itu mendekatkan wajahnya yang berada dalam kegelapan tudung hitamnya ke rupa gadis yang menawan tersebut. "Aku suka cara berpikirmu, Lady," bisiknya dengan sedikit keras.
Gadis itu hanya tersenyum mendapat pujian seperti itu. "Sayangnya, tidak ada hal apapun yang bisa aku sukai darimu, Nyonya," balasnya menghina.
Lelaki yang semula bersandar di pagar tembok itu, kini sudah berdiri di sisi gadis berparas elok tersebut. Ia berhenti melangkah, tatapannya menyorot lurus ke dalam kegelapan di balik pintu kastil. Sikapnya begitu dingin, dan terlihat seolah tak acuh.
"Dengar, Nyonya. Kami tahu kau itu kuat, tapi, bukan berarti kami tak berani melawanmu." Pria itu mengungkapkan kalimat yang terasa seperti tembakan yang dilepaskan di tengah badai salju. Peluru beku yang melesat dengan dorongan ledakan. Dingin. Namun menusuk dengan tajam, serta tepat sasaran.
Wanita bertudung itu terkekeh pelan. Masih dalam batasan wajar, serta menjaga wibawa. Ia menghela napas panjang, melukis senyum walau tak seorang pun di situ yang mampu menyadari senyumannya. Dengan wajah yang berada di kegelapan tudung jubahnya.
"Aku berani bertaruh, kalian berdua bisa lolos mengikuti ujiannya," gumamnya lirih. "Ayolah, apakah kalian ingin terus-terusan berada di luar? Ada jamuan makanan ringan hingga berat untuk pengganjal lapar di dalam sana. Kemarilah, masuklah."
Tanpa menunggu keputusan yang lainnya, lelaki berjaket hitam itu langsung melangkahkan kakinya, menaiki anak tangga. Pria berambut pirang yang semula berada di depan pintu, sudah lama menghilang di balik keremangan kastil. Kini, laki-laki bersurai hitam itu mengikuti langkahnya untuk menghilang di dalam kegelapan kastil.
"Terima kasih tawarannya, Nyonya. Kesan pertamaku terlihat memalukan, tetapi, tolong kamu jangan mengingatnya terlalu lama, ya." Gadis itu masih tersenyum. Seolah dirinya akan mati jika tidak melukiskan senyum di wajah cantiknya.
"Aku menganggap hal itu wajar dilakukan oleh orang berusia belia seperti kalian." Ia memaklumi sikap yang sedari tadi ditunjukkan oleh gadis itu. "Masuklah." Ia mengulang perintahnya.
"Baiklah," balas gadis itu sambil berlalu melewati wanita misterius tersebut. Ia ikut mengambil kiprah, menyusul jejak kedua pemuda yang sudah menghilang lebih dahulu di telan keremangan kastil.
Tinggal Irene dan Thian yang masih tertinggal di halaman luas tersebut. Mereka masih bergeming, bingung untuk memutuskan langkah apa yang harus diambil.
"Kalian berdua juga masuklah," titah wanita berjubah hitam itu kembali menegaskan.
Thian langsung mengambil langkah, menuju tangga yang mengarah ke teras kastil tersebut. Irene mengekor di belakangnya dengan sedikit ragu.
"Angkat wajah kalian! Ketakutan hanya akan membunuh kalian." Wanita itu berkata dengan tegas, tetapi pelan. Ia berbicara ketika mereka sudah sejajar dengannya di anak tangga paling bawah.
Irene merasa bahwa kalimat itu terdengar menggema di dalam kepalanya. Ia yang semula menunduk, mulai memberanikan diri mengangkat wajah. Namun, ia tak berani melihat langsung ke arah wanita berjubah tersebut.
"Baik, Nyonya. Nasehatmu akan kuingat." Thian merespons ucapan wanita itu. Ia segera menggandeng tangan Irene, kemudian berjalan menuju pintu dengan cepat. Ia mengerti kalau perasaan gadis itu sedang kacau, dan ia tidak ingin ia bertambah takut karena wanita misterius itu.
Mereka sudah ada di dalam. Kini, kegelapan menyelimuti seluruh pandangan mereka, dan hanya terdengar suara napas serta suara langkah kaki mereka yang menggema.
Namun, tiba-tiba mereka mampu menangkap cahaya yang berasal dari sebuah ruangan di dalam sana. Mereka segera melangkah lebih cepat, dan mendekat ke arah sumber penerangan yang membuat pupil mereka sedikit mengecil.
Hingga akhirnya mereka tiba di ruangan tersebut. Sebuah ruangan yang mungkin fungsinya sama seperti ruang tamu. Di dalam situ, mereka berdua dapat melihat beberapa remaja yang tadi mereka temui di halaman, tengah duduk bersantai di atas sofa yang ada di ruangan tersebut.
Ada perapian yang menyala, membuat tempat itu terasa hangat serta terang. Thian langsung melangkah masuk terlebih dahulu. Disusul oleh Irene yang terus saja menempel padanya. Ada sebuah sofa panjang yang kosong di ruangan itu, dan Thian langsung menuju ke situ.
"Duduk di sini saja, ya," ajak Thian. Irene hanya mengangguk setuju. Ia langsung mendaratkan bokongnya ke kursi itu. Mulutnya terlalu kaku untuk mengeluarkan kata-kata, maka dari itu, ia hanya dapat terdiam. Gugup.
Ada banyak makanan yang tersedia di atas meja. Terutama buah-buahan yang terlihat segar. Ada apel, anggur, pir, pisang, bahkan semangka yang telah terpotong. Ada juga roti isi yang lengkap dengan isiannya. Benar-benar terlihat menggiurkan.
Irene melihat gadis itu langsung menyantap makanan yang tersaji tanpa ragu. Begitu pula dengan pria berambut pirang yang duduk menyendiri di ujung sana. Ia tampak tenang sambil menikmati apel hijau yang seharusnya jarang ditemui di wilayahnya.
Pria yang mengenakan jaket hitam itu hanya memakan roti isi dengan perlahan. Ia duduk tenang tak jauh dari gadis bergaun merah, dekat juga dengan perapian. Namun, mereka tak saling bertukar sapa. Seolah-olah saling tak mengenal.
"Kau ingin makan apa, Irene?" Thian menawarkan agar ia juga ikut makan.
Manik biru milik gadis berambut putih yang diberinya pertanyaan itu melirik ke arahnya. "Tidakkah kamu seharusnya berhati-hati, Thian?" lirihnya. Ia hanya melirik, bukan menatap.
"Kurasa tidak ada salahnya mencoba sajian mereka. Lagipula, lihatlah. Anak-anak lain, mereka memakannya. Dan lihatlah, mereka terlihat baik-baik saja." Thian meyakinkan.
Irene menatap ke arah meja yang dipenuhi oleh makanan itu. Memang tampak menggiurkan. Ah, benar. Tidak ada salahnya mencoba. Toh mereka pada baik-baik saja. "Aku ikut kamu saja." Irene mengalah.
"Baiklah," balas Thian. Ia bangkit kemudian mengambil dua buah pisang. Satu untuk dirinya, yang satu lagi untuk Irene. Lalu ia memberikan buah itu pada gadis yang duduk di sebelahnya.
Mereka berdua pun menyantap makanan itu. Berada di tempat tak dikenal, dan mengalami peristiwa baru, hal itu menunjukkan bahwa butuh waktu untuk bisa menyesuaikan diri.
***
Satu persatu, anak-anak lain berdatangan ke tempat tersebut. Hari juga semakin terang, tak lagi larut seperti malam itu. Bulan purnama sudah bergeser, digantikan oleh langit yang tampak merah keunguan. Pagi sudah hampir tiba.
Irene tak bisa balik tidur untuk malam itu. Sepanjang malam ia terus terjaga sambil mengamati tarian pijar api yang menyala terang di kotak perapian. Namun, bukan hanya dirinya sendiri yang tak tidur. Orang-orang yang ditemuinya malam itu juga tak pada tidur.
Pagi itu, seseorang berjubah datang mengumpulkan mereka semua di area aula kastil. Anak-anak lain, semuanya adalah remaja yang berusia rata-rata sama. Mereka sepertinya adalah orang-orang Eropa, dilihat dari gaya berbicara serta postur tubuhnya.
"Aku harap, kalian mau memulangkan kami!" Terdengar pekikan pemberontakan dari seorang gadis yang berdiri cukup jauh dari jangkauannya.
"Benar! Orang tua kami pasti sedang sibuk mencari kami. Tidak mungkin kami tinggal di sini dalam waktu yang lama!" timpal yang lainnya.
Mereka tampaknya tak sudi dibawa begitu saja. Mereka tampak panik, dan begitu tergesa-gesa. Tidak menghadapi masalah itu dengan kepala dingin sebagaimana segelintir orang yang Irene temukan saat malam di halaman kastil itu.
Irene hanya diam di samping Thian yang bergeming di dekat jendela aula kastil, mengamati hiruk pikuk tersebut sambil meremat pakaian yang dikenakannya, berupa mantel berwarna coklat.
Salah satu sosok berjubah hitam, datang masuk ke ruangan itu. Seketika, sosok berjubah hitam yang lainnya langsung merespons kedatangannya dengan membungkuk hormat. Anak-anak yang semula panik, kini mulai hening dan mengamati.
"Dengarkan aku, para manusia! Kalian adalah para remaja terpilih yang berhasil dikumpulkan dalam tempat bersejarah ini. Aku—"
"Keluarkan kami dari sini!" Tiba-tiba, pekikan seseorang memotong ucapan sosok berjubah hitam tersebut. Diikuti oleh lontaran emosi dari anak-anak lainnya.
Tanpa mereka sadari, sosok yang awalnya berbicara dan seperti akan menjelaskan sesuatu, kini membuka tudung jubahnya. Memperlihatkan wajah perseginya, yang dilengkapi dengan hidung bengkok layaknya paruh elang.
Lelaki itu tersenyum dengan tenang, sambil mengamati kegaduhan yang sedang terjadi di situ. Hal itu membuatnya menjadi pusat perhatian. Anak-anak lainnya mulai diam, melihat bahwa sosok itu terlihat seperti manusia normal pada umumnya.
"Baiklah, kalian akan kami keluarkan dari sini. Selamat berpetualang!" serunya.
Dalam satu kedipan mata, semua anak-anak remaja yang ada di ruangan itu menghilang. Bagaikan asap yang tertiup angin. Lenyap tanpa jejak.
Sosok lelaki berjubah itu menatap aula yang seketika berubah menjadi hening, serta kosong dari amukan anak-anak remaja tersebut. Hanya tersisa dirinya dan juga beberapa makhluk berjubah yang sejenis dengannya.
"Dan selamat bertahan hidup," pungkasnya pada udara yang diam. Ucapnya pada waktu yang membeku.
***