Irene merasa tubuhnya tersedot oleh sesuatu yang tak kasat mata. Raganya terasa seperti digiling paksa dengan mesin penggiling daging raksasa, memaksa agar tulang belulangnya hancur lebur, menekan agar dagingnya larut bercampur dengan sel darah segarnya. Itu sangat menyakitkan.
Pandangannya tak mampu menangkap apapun. Semuanya tampak gelap gulita. Ia tak lagi mampu merasakan lengan pria yang semula selalu digandengnya. Ini benar-benar mengerikan. Ia hanya diam, membiarkan dirinya dihancurkan oleh pusaran tak terlihat yang menyedotnya ke dalam kehampaan. Sakit, hanya itu satu-satunya hal yang dapat ia rasakan.
Ini bertambah parah. Ia tak bisa merasakan detak jantungnya sendiri. Ia tak dapat merasakan darah mengalir sedikitpun di dalam nadinya. Panca inderanya tak lagi bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Hanya kehampaan yang bergeming menyelimutinya.
Pita suaranya tak bisa bergetar. Ia ingin menjerit, tetapi tidak ada sebuah bunyi pun yang mampu dihasilkan oleh dirinya. Ia bahkan tidak tahu apakah masih memiliki mulut sebagaimana sedia kala. Irene hanya merasa memiliki pikiran yang tetap hidup, tanpa adanya tubuh atau juga apapun yang melengkapi raga tersebut.
Namun, tiba-tiba ia dapat merasakan sesuatu menggelitik kepalanya. Aneh, padahal sedetik sebelumnya, yang bahkan indera perabanya pun sama sekali tak bisa berfungsi. Apakah ini anugrah? Rasa sakitnya juga sedikit menghilang. Yah, walau hanya sedikit, namun itu tetap patut untuk disyukuri.
Gelitik lembut yang bergerak samar di atas kepalanya kini mulai terasa semakin nyata. Selain itu, ia sedikit demi sedikit juga mampu menangkap suara dengung yang menggaung di dalam indera pendengarannya. Secara berangsur-angsur panca inderanya mendapatkan fungsinya kembali.
Bau rumput basah kini menusuk indera penciumannya. Terambu dengan tajam, tetapi itu menyegarkan. Ia mampu merasakan saliva yang mengalir di sela-sela giginya. Mengalir, membasahi kerongkongannya yang sempat tak bisa ia rasakan keberadaannya.
Yang terakhir, kabut hitam gelap yang semula menutupi indera penglihatannya, kini mulai terangkat meninggalkan pelupuk mata. Samar-samar, ia mampu melihat pepohonan rindang yang jauh lebih tinggi daripada pohon-pohon yang biasa ia temui di dekat tempat tinggalnya. Pandangannya yang awalnya sangat kabur dan gelap, secara perlahan mendapatkan kembali ketepatan otot retinanya. Membuatnya dapat memberi sinyal bayangan jatuh ke otak dengan tepat.
Irene mengerjap. Ia mengusap kedua belah pendar matanya. Menjernihkan pandangannya yang sedikit dipenuhi air mata. Berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar, sekaligus meyakinkan diri tentang apa yang baru saja terjadi padanya.
"Irene, kamu baik-baik saja?" Suara pria itu masuk ke dalam indera pendengarannya. Spontan, ia langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Thian … syukurlah semuanya sudah lebih baik dari pada kegelapan barusan. Kamu sendiri, apakah baik-baik saja?" balas Irene bertanya. Ia senang melihat pria itu tetap berada di sampingnya.
"Aku baik-baik saja." Pria itu mulai memperhatikan keadaan sekitar. Pepohonan rindang menyapa indera penglihatannya. Tempat yang tampak asing bagi dirinya. "Namun, sepertinya makhluk berjubah itu sudah menteleportasi kita ke tempat yang jauh berbeda." Thian mencoba menyimpulkan.
Irene ikut memutar penglihatan, mengamati keadaan sekelilingnya yang memang terlihat sangat asing. Bukan lagi pohon ek atau pinus yang dapat ditemuinya dengan mudah di sekitar tempat tinggalnya. Ini adalah pohon berdahan besar serta begitu tinggi yang belum ia ketahui jenisnya.
Terakhir, Irene melempar pandangan pada pemuda yang masih berdiri tegap di sisinya. "Hei, Thian. Apa menurutmu kita benar-benar dibawa ke tempat yang bukan berada di dunia kita? Tempat apa ini?" Ia mulai menanyakan apa yang selama ini menjadi kegelisahan tersendiri baginya.
Thian balik menatapnya dengan manik coklatnya. "Itu tebakan yang dilontarkan gadis aneh yang mengenakan gaun merah semalam, `kan?" Ia justru balik bertanya.
Irene mengangguk samar. "Iya, benar," jawabnya.
"Mungkin saja dia benar. Namun, aku tidak bisa menjamin kalau dia benar. Itu hanya kemungkinan." Thian memulai pemikirannya.
"Tapi, kalau itu salah, bukankah seharusnya tempat ini sudah akrab dengan kita?" Irene terlihat kesulitan untuk mengungkapkan maksud ucapannya. Ia berdehem untuk menjernihkan pikiran sekaligus meluruskan suasana.
"Ehm … ma-maksudku, jika hutan ataupun kastil megah itu benar-benar berada di dunia kita, bukankah seharusnya itu sudah menjadi sorotan media massa?" Ia menemukan kalimat yang tepat untuk menunjukkan maksudnya. "Hampir tidak mungkin `kan, kalau bangunan kuno seperti itu tidak diidentifikasi sebagai salah satu peninggalan bersejarah? Itu lebih mirip kastil yang dibangun sebelum abad Masehi," lanjutnya.
Lelaki bersurai pirang kecoklatan tersebut mengangkat bahunya. "Enthah, tetapi apa yang kamu katakan itu masuk akal juga, Irene." Ia seolah memuji.
Irene menghela napas. Hari masih terlalu pagi untuk dapat menemukan sinar matahari yang pas, agar ia dapat bebas menjelajah rimbun hijau tersebut. "Apa yang sebaiknya kita lakukan?" tanyanya pada pria itu.
"Apa kamu mau mencoba jalan ke arah timur? Mungkin kita bisa menemukan perkampungan terpencil jika beruntung," tawar Thian.
Gadis itu mengerling. Tatapannya seolah menunjukkan kalau dia kurang setuju. "Aku tidak yakin kalau akan ada perkampungan di tempat antah berantah seperti ini." Ia menatap sebuah pohon besar yang akarnya menjalar panjang hingga mampu menyentuh kakinya. "Yah, setidaknya untuk saat ini," sanggahnya sendiri mencoba mengurangi kecemasan.
Pemuda itu mengehla napas. "Lalu apa? Bagaimana pendapatmu sendiri?" Ia balik bertanya tentang apa yang akan mereka lakukan pada gadis bersurai putih tersebut.
Irene mengambil napas, hendak mengeluarkan kata-kata yang mengaum di dalam benaknya. Pendapatnya yang mondar-mandir mengetuk pintu pembicaraan.
"Hey, apakah ada orang di sana?"
Namun, sebelum Irene sempat melontarkan kalimatnya, sebuah suara lebih dahulu terucap. Masuk ke dalam indera pendengar mereka berdua, tersalurkan lewat udara yang bergerak.
Mereka berdua seketika langsung berpaling muka, mencari arah suara itu berasal.
"Siapa di situ?" Thian langsung menyahut dengan melontarkan pertanyaan.
Mereka terdiam sejenak. Semak-semak liar mulai bergerak, mengeluarkan bunyi gemeresak yang khas. Tak lama setelah itu, muncul seseorang dari balik rimbunnya tanaman hijau. Orang itu adalah manusia, remaja yang sama seperti mereka berdua.
Remaja yang merupakan seorang lelaki, dengan warna rambut yang sepertinya bukan warna asli, silver yang bercampur dengan hitam itu menatap ke arah mereka berdua. Mereka membisu selama beberapa saat. Hingga pria itu berkata, "Apakah kalian berdua juga berasal dari kastil?"
"Ya, itu benar. Apakah kamu juga?" Thian menjawab pertanyaannya. Dari lubuk hati kecilnya, ia bergetar mengatakan bahwa lelaki itu pasti juga berasal dari kastil aneh tersebut. Namun, ini hanyalah omong kosong untuk lebih meyakinkan dirinya sendiri.
"Astaga, syukurlah. Aku bisa menemukan segelintir teman di sini. Bolehkah aku ikut dengan kalian?" Pria itu tampak sedikit gembira.
Thian mengangkat sebelah alisnya. "Jawab dulu pertanyaanku, kawan." Ia kembali menegaskan.
Pemuda itu mendesah. "Ah, sudah tentu aku juga berasal dari sana. Apakah aku tampak begitu berbeda dari kalian hingga kalian mencurigaiku sebagai sosok makhluk jahat?"
"Maaf, tapi itu hanya untuk meyakinkanku. Kamu harus ingat kalau aku tidak mudah percaya pada orang lain." Thian menghela napas sesaat "Baiklah, kita jalan bersama." Ia mempersilahkan orang tersebut bergabung dengannya.
Pria itu langsung berjalan mendekat ke arah mereka berdua. Manik hitamnya bertemu dengan iris biru milik Irene. Ia melirik gadis itu dengan sedikit terpaku.
Thian menyadari hal itu. "Ada apa, sobat?" Ia melontarkan pertanyaan, merasa tidak nyaman ketika laki-laki lain yang baru ditemuinya menatap Irene dengan begitu lama.
Pria itu melempar pandangan ke arahnya. Ia tersenyum dengan senyum terkesima. "Kamu begitu beruntung bisa berjalan bersama malaikat secantik dirinya." Lelaki tersebut menyanjung.
Thian merasa risi mendengar ungkapan yang dikatakan oleh lelaki tersebut. "Jika kamu berani macam-macam terhadap Irene, aku tidak segan untuk membunuhmu," ancamnya dingin.
"Wah, namanya Irene, ya? Senang bertemu denganmu, Irene." Ia langsung kembali memalingkan pandangan, beralih menatap Irene yang hanya memasang tampang dingin kepadanya.
Thian yang merasa ucapannya tidak dihargai, langsung menarik lengan Irene agar mendekat ke tubuh jangkungnya. Bersikap seolah melindungi gadis mungil tersebut.
"Dengar ya, orang asing. Aku paling benci dengan pria nakal, tak tahu sopan santun seperti dirimu itu," desis Thian dengan emosi yang terselip di setiap ucapan dingin lagi tajamnya.
Pria itu terkesima melihat bagaimana Thian bertindak dengan cekatan, menarik tubuh gadis mungil tersebut ke dalam lingkup perlindungannya. Gerakannya yang sangat cepat sekaligus terarah, menunjukkan kalau lelaki berambut pirang itu sedang tidak main-main.
"Astaga, kalian berdua terlihat begitu serasi. Aku hanya orang asing di antara kalian berdua. Percayalah, aku tak akan mengganggu." Pria itu mundur, menjaga jarak dari Thian dan Irene. Gerakannya yang patah-patah serta teratur, menandakan kalau ia terlihat sedang sedikit ketakutan.
Thian masih belum melepaskan dekapannya dari Irene. "Jaga pikiranmu, m***m! Dia adik perempuanku, dan tak akan kubiarkan kamu menyentuhnya," tukasnya paksa.
Irene mengerjap mendengar penuturan Thian tersebut. Selama ini, lelaki itu sama sekali tak pernah menyebut hubungan saudara di antara mereka berdua. Sering kali, pria itu malah merendahkannya dengan menyebutnya sebagai anak pungut. Namun, kali ini … apakah yang Thian katakan itu tulus? Batin Irene.
"Oh, baiklah … maafkan sikapku tadi. Percayalah, aku tidak bermaksud seperti itu. Tolong lupakan yang tadi itu." Pria itu menghela napas.
"Ya, tentu. Tidak masalah," balas Thian datar. Ia mulai melepas cengkeramannya yang semula bertengger di bahu Irene.
"Oh ya, kalian bisa memanggilku Nolan," ujar pria berambut campuran hitam putih, warna yang aneh dan kurang cocok untuk berada dalam satu kepala itu menyebutkan nama panggilannya.
"Baiklah, Nolan. Aku Thian, dan seperti yang kamu tahu, gadis ini bernama Irene." Thian balas memperkenalkan diri, sekaligus mewakili Irene untuk bicara.
Pria itu tersenyum. "Okay, Thian, Irene. Senang bertemu kalian," ujarnya, "Omong-omong, ke arah mana kalian akan pergi?" lanjutnya bertanya.
Thian segera melirik Irene yang masih terdiam. "Kamu tadi ingin mengatakan sesuatu, Irene?" tanya Thian mengingat pembicaraannya dengan Irene yang tadi sempat terputus karena datangnya pria tersebut.
Irene mengagumkan kepalanya. "Seperti ini …." Ia berdehem karena suaranya terdengar sedikit serak, bagaikan telah menelan butiran debu pasir. Lalu dilanjutkan ia terbatuk, akibat tersedak air liurnya sendiri.
"Hei-hei, pelan-pelan saja, Irene." Thian menepuk lembut punggung Irene, yang terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Irene mulai bisa mengendalikan diri. Ia kembali berdehem beberapa kali sebelum benar-benar memulai bicara.
"Jadi sama seperti ini. Kita keluar dari dalam kastil pasti tidak sendirian. Ada banyak orang lain yang mungkin jaraknya masih tidak begitu jauh dengan kita untuk saat ini. Jadi, mengapa kita tidak menemui mereka saja? Semakin banyak orang yang kita temui, aku rasa perjalanan ini menjadi semakin mudah dan tidak terasa melelahkan," usulnya.
"Aku setuju denganmu, Irene." Pria yang baru saja mereka kenal itu langsung menyahut sebelum Thian dapat mengeluarkan suara.
Thian menahan napasnya melihat keantusiasan lelaki yang baru saja ditemuinya pagi ini. "Ah, baiklah. Aku ikut dengan kalian." Ia mengalah, mengikuti usul dari Irene. "Itu bukan pendapat yang buruk, Irene. Itu cemerlang!" lanjutnya menunjukkan pujian.
Hal itu membuat Irene mengerjap. Ia mengangkat wajah, menatap air muka milik lelaki yang memiliki rambut pirang kecoklatan, serta manik coklat yang sempurna di matanya. "Eh … i-iya. Te-terima kasih, Thian."
***
Hari itu berlalu dengan lancar. Semua berjalan baik-baik saja. Mereka yang asalnya hanya berdua, bertambah menjadi tiga. Kemudian ketika matahari semakin bergulir naik, mereka terus bertemu dengan orang-orang yang sama berasal dari kastil.
Hingga hari berikutnya ini, jumlah mereka sudah mencapai tujuh orang.
Di atas dahan pepohonan yang begitu tinggi dan sulit dijangkau, terdapat dedaunan rimbun yang hampir selalu dapat menghalau sinar matahari untuk bisa masuk menembus ke dalam hutan.
Namun, beruntungnya di balik tingginya pepohonan, terdapat banyak tanaman semak yang memiliki buah-buahan. Sehingga mereka bisa dengan mudah mendapatkan bahan makanan.
"Baiklah, semua persiapan dan bahan makanan sudah berhasil kita dapatkan. Mari coba bergerak ke arah timur!" seru seseorang sambil mengangkat sebuah tas yang dibuatnya sendiri dari ranting, lumpur, dan juga dedaunan yang dianyam ke atas punggungnya.
"Eh, Thian. Benar `kan arah yang ingin kamu tuju adalah arah timur?" tanya orang yang sama, seketika ia seperti linglung.
Pria yang dilontarkan pertanyaan, hanya mengangguk sebagai respons jawaban.
"Okay! Mari bergerak, teman-teman!" serunya kembali bersemangat. Membuat Thian menggelengkan kepala melihat sikapnya yang begitu sok tersebut.
Namun, Thian segera kembali fokus. Ia mencari Irene yang seharusnya masih berada tak jauh darinya. Ia memutar pandangan, dan menemukan gadis itu sedang mengangkat tas yang terbuat dari bahan dasar tumbuhan ke atas punggungnya.
"Kamu baik-baik saja, Irene?" tanya Thian sembari menghampirinya.
Irene mengangguk. "Aku tidak apa-apa. Kamu sendiri seharusnya lebih memperhatikan keadaanmu, Thian. Semalaman kamu kurang tidur karena terlalu sibuk berjaga," balas Irene yang juga menghawatirkannya.
"Aku sudah terbiasa. Lagipula aku sudah sempat tidur walau hanya sebentar. Tak ada yang perlu kamu khawatirkan soalku, Irene." Thian ikut memungut sebuah tas, kemudian membawanya sebagai bekal perjalanan.
Irene tersenyum kecut. "Jangan terlalu memaksakan diri. Itu tidak baik," tegurnya dengan lembut.
"Dasar! Sudah kubilang aku ini sudah terbiasa. Lebih baik kamu khawatirkan dirimu sendiri saja." Pria itu menarik ujung bibirnya sedikit, membuatnya terlihat menjadi sebuah garis senyum yang samar.
Irene terpana seketika. Namun, ia cepat-cepat mengendalikan diri. "Ah, terserah kau saja, lah." Ia tersenyum.
Mereka mulai melangkahkan kaki, meninggalkan tempat yang sebelumnya mereka gunakan untuk bermalam di hutan itu. Namun, belum juga ada satu menit perjalanan mereka kembali dimulai, sudah terdengar suara jeritan dari arah yang tidak begitu jauh.
Mereka semua terdiam, sembari menoleh ke arah suara yang berasal dari belakang mereka. Suara itu terdengar begitu memilukan. Seperti jerit ketakutan, ketakutan akan sesuatu yang mengancam raga serta nyawa.
Nolan tiba-tiba membelalak. "Tunggu, di mana Sasa berada?" lontarnya secara spontan.
Seketika, semua yang ada di situ menyadari kurangnya satu orang dari keseluruhan jumlah asal mereka. Membuat mereka semua membisu dalam lingkup jerit yang menyayat hati.
***