[ 7 ] - Raksasa Telanjang

2027 Kata
Semua masih mematung di tempat mereka berdiri. Jerit ketakutan itu masih terdengar memenuhi penjuru hutan. Namun, tak lama setelah itu, terdengar suara erangan keras yang mengerikan. "Hei, apakah kita harus memeriksanya?" tanya seseorang di antara mereka. Ucapannya memecah kebisuan yang terjadi di tengah-tengah mereka. Thian menggeleng. "Kupikir itu bukanlah keputusan yang tepat. Ini pertanda buruk." Ia memalingkan muka yang semula masih menoleh ke belakang, kembali menghadap ke arah teman-temannya. "Apa maksudmu, Thian? Kau tahu bukan, kalau Sasa sedang kesusahan di sana?!" sergah Nolan dengan cepat. "Lalu, kamu pikir kamu akan bisa menolongnya?" tanya Thian menantang. Nolan bergerak mendekat ke arah lelaki yang berdiri di samping Irene tersebut dengan geram. "Dasar pengecut! Kita tidak akan tahu apa yang akan kita lawan jika tidak melihatnya," cercahnya balik menyanggah pendapat Thian. Thian berusaha menghadapi emosi pemuda itu dengan kepala dingin. "Hei, ketahuilah, ini hutan yang berbeda. Tidak seperti yang biasa kita temui di dunia kita. Makhluk-makhluk di sini juga berbeda. Kita tidak akan tahu apa yang akan kita hadapi nantinya. Maka dari itu, walau hanya memeriksanya saja, itu akan menimbulkan resiko yang tidak main-main," cegah Thian memberi penjelasan. "Kurasa kamu harus mendengarkan Thian, Nolan." Kini, Irene ikut angkat bicara. Walaupun suara yang dikeluarkannya cukup lirih, tetapi pria yang berada di hadapannya itu mampu mendengar apa yang ia bicarakan. "Selain itu, kita juga tidak punya senjata," lanjut Irene sembari menelisik kedua telapak tangan kosongnya. Tiba-tiba, seorang gadis yang sejak tadi berdiri agak jauh dari mereka semua mengeluarkan suara berdehem. "Eh, kawan-kawan, aku menemukan banyak pedang yang berserakan di sepanjang jalan yang menuju ke arah barat ini." Ia memberikan sebuah informasi yang langsung membuat semuanya kembali terdiam. "Pedang?" Seseorang yang lain tiba-tiba menyahut, memecah pemikiran masing-masing orang yang ada di situ. "Iya. Lebih beruntungnya lagi, senjata itu masih terlihat bagus dan bisa digunakan. Aku melihatnya ketika mencari bahan-bahan persiapan di pagi tadi. Hanya saja, mungkin aku tidak mahir menggunakannya," jelas gadis tersebut.  "Bisa kamu tunjukkan tempatnya pada kami?" Thian langsung bertanya secara spontan. Itu benar-benar sesuatu yang harus mereka miliki sekarang. Itu suatu kebutuhan yang tak kalah pentingnya untuk saat ini. Gadis itu mengangguk. "Baiklah, ikuti aku," balasnya sembari memutar tubuh. Satu persatu dari mereka mengikuti langkah gadis itu tanpa ragu. Tak terkecuali dengan Thian. Ia pergi meninggalkan Irene beserta Nolan yang masih terpaku di tempat mereka berdiri. Irene segera sadar kalau pria yang berdiri di hadapannya itu masih ragu dengan keputusan yang diambil kelompok kecil tersebut. Ia mengangkat wajahnya, berusaha memandang lelaki yang memang lebih jangkung darinya. Manik birunya bertemu dengan iris hitam milik pria tersebut. "Dengar Nolan, apa yang dikatakan Thian itu benar. Lebih baik sekarang kamu jangan berbuat gegabah, dan ikuti saja langkah kami." Irene memberinya sedikit nasehat, sebelum mengambil langkah untuk mengikuti jejak teman-temannya yang lain. Pria yang rambutnya diberi warna hitam putih itu terlihat kurang setuju dengan keputusan yang diambil seluruh teman-temannya. Namun, ia tak bisa melakukan hal lain selain mengikuti langkah kawan-kawannya. Mereka berjalan menyusuri beberapa pepohonan yang kini semakin rendah, walau tidak serendah pepohonan yang biasa mereka temui di dunia mereka. Tanah yang menjadi pijakan mereka ternyata begitu gembur, dan juga sedikit becek. Membuat kaki mereka kini sebagiannya tertutup oleh lumpur basah yang sedikit lengket. "Ini tempatnya." Gadis itu berhenti melangkah, dan benar saja, di hadapan gadis itu terdapat banyak pedang yang bergeletakan. Semua pedang yang ada di situ terlihat masih bagus. Walaupun ada beberapa yang sudah mulai ditutupi oleh karat, tetapi kondisinya masih bisa digunakan. Yah, meski dengan begitu, kekuatan pedang akan berkurang, dan tidak lagi setajam pedang yang masih baru. Thian bergerak memungut sebuah pedang yang tergeletak tak jauh darinya. Ia mengamati benda tersebut dengan seksama, sedikit mengelap debu yang menempel pada barang itu dengan telapak tangannya. "Hmm … ini lumayan bagus," ungkapnya puas. Mereka semua sibuk melihat-lihat kilauan cahaya yang terpias dari batangan besi tersebut. Pedang-pedang itu tampak begitu nyata. Padahal, di dunia asal mereka, hampir semua persenjataan sudah digantikan dengan senapan yang lebih mudah digunakan dari jarak yang aman. "Aku tak menyangka bisa menemukan tempat yang dipenuhi oleh benda kuno seperti ini," ujar seseorang yang lain. "Benar. Ini seperti bekas medan pertempuran kuno, di mana belum ditemukannya peralatan modern seperti saat ini," timpal yang lainnya. Mereka semua tampak terkagum-kagum dengan penemuan luar biasa itu. Namun, tidak dengan Irene. Pandangannya menemukan banyak sekali asap, bukan, itu bukan asap. Mereka berbentuk layaknya udara, berwarna putih dan melayang-layang di sekitar pedang-pedang tersebut. Layaknya awan, tetapi yang kali ini bertempat di atas tanah dan sekitar pepohonan. Irene mengangkat tangannya, hendak menyentuh benda putih yang terlihat mengambang seperti kapas yang ditarik memanjang tersebut. Namun, sebelum jemarinya dapat merasakan kelembutan entitas itu, gumpalan putih itu segera lenyap dari tempatnya. Berpindah ke tempat lain yang jauh berada di luar jangkauannya. "Ada apa, Irene?" tanya Thian yang melihat Irene seperti meraba-raba udara kosong di hadapannya. Seolah gadis itu adalah orang buta yang kehilangan tongkat, sehingga harus meraba-raba terlebih dahulu sebelum mengangkat kaki. Irene segera menyadari ucapan pria itu. Ia merasa kalau orang lain tak bisa melihat apa yang ia lihat. Jelas-jelas awan putih itu menari-nari di dekat pedang yang bergeletakan. Seolah meminta untuk ditangkap oleh anjing yang senang pada gerakan meliuk-liuknya.  "Tidak ada apa-apa," jawab Irene sembari bergerak ke posisi normal. Bersamaan dengan ucapannya itu, seluruh kabut putih yang semula bergerak di hadapannya, kini lenyap sepenuhnya tanpa sisa. Thian mengernyitkan dahi. "Okay. Kalau begitu, bisakah kamu membawa ini untuk jaga-jaga?" ujarnya sambil menyodorkan sebuah pedang yang sudah dipilihnya. Irene melihat ukiran yang ada di gagang pegang tersebut. Warnanya hitam, dibalut dengan kain coklat yang entah milik siapa. Namun, yang paling mencolok dari pedang tersebut adalah bentuk tengkorak yang menyembul di ujung gagang pegangannya. Senjata … tidak, lebih tepatnya simbol tengkorak di ujung gagang pedang tersebut seolah memanggilnya. Menatap kedua pendar matanya dengan tajam. Senyum khas tengkorak manusia terlukis di sana. Tersenyum padanya dengan senyum menghina. Tawa manis yang menusuk hatinya dengan sadis. Irene menggeleng. "Kenapa tidak kamu pakai saja pedang ini? Kamu terlihat lebih cocok untuk menggunakannya dari pada aku." Ia mencoba menolak dengan halus. "Aku sudah menemukan yang kurasa cocok denganku." Ia memperlihatkan pedang yang ada di genggaman lengan kirinya. Sebuah pedang dengan gagang biru yang berbentuk ukiran lilitan seekor ular. Masih lengkap dengan sarung pedang tersebut. Dan itu sungguh membuatnya terlihat keren. "Jadi, aku pikir ini cocok untukmu. Bukan, kamu memang tidak terlihat cocok dengan ini, tetapi pedang ini terlihat paling mulus daripada yang lain. Lihat, tidak ada karat yang menutupi sisi tajamnya, `kan?" lanjut Thian sambil mengamati pedang bersimbol tengkorak tersebut yang masih bercokol di dalam genggaman lengan kanannya. Irene ikut mengamati sisi besi tajam yang ada pada pedang tersebut. Memang benar, besi tajamnya masih mulus tanpa gores ataupun karat. Itu terlihat bagus. "Ouh, benar. Baiklah, aku bawa saja yang ini, ya," pungkas gadis itu mengalah. "Ya, bawalah. Jangan lupa masukkan ke dalam sarungnya agar senjata itu tidak melukai pemiliknya sendiri." Thian menyerahkan pedang itu beserta bungkusnya yang berupa sebuah alat yang terlihat mirip seperti tas selempang, atau apalah itu. Irene menerimanya. Ia melihatnya sebentar, sebelum akhirnya menjatuhkannya ke dalam sarung pedang tersebut. "Okay, terima kasih ya, Thian." Pria itu memalingkan wajah. "Tidak masalah," jawabnya sembari berlalu ke arah teman-teman lainnya. Irene kembali berdiri mematung. Ia mencengkram erat pedang yang baru saja diberikan oleh Thian untuknya. Namun, detik berikutnya ia membelalak dengan lebar.  Pemandangan lain yang sangat mengerikan menghampiri indera penglihatannya. Ia gemetar. Itu terlalu menakutkan untuk dilihat. "Aku melihat …." Ia terengah sambil bergumam lirih seorang diri. Berusaha memejamkan mata untuk mengusir penglihatan tersebut. Namun, bayangannya masih tertinggal lekat di dalam memori otaknya. "Ada manusia bertubuh besar yang telanjang. Sangat besar, dan juga tinggi. Makhluk itu gila, sekaligus mengerikan," gumamnya meracau. Ia melontarkan apa yang dilihatnya menjadi untaian kalimat-kalimat rancak yang tak masuk akal. "Kemudian berlari … mengejar kami," pungkasnya dengan napas tercekat. *** Mereka menghabiskan waktu di tempat itu hingga matahari mulai tergelincir ke arah barat. Ketika dirasa sudah cukup persenjataan, mereka kembali berjalan ke arah yang sama dengan tempat bergeraknya sang surya. Barang bawaan mereka bertambah, tetapi itu bukanlah masalah. Ketika ada bahaya datang, bisa saja benda yang mereka dapatkan itu menjadi penolong nyawa mereka. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Semua bisa terjadi, tanpa bisa mereka prediksi sebelumnya. Mereka mulai melewati celah antara pepohonan kokoh yang besar serta tinggi. Irene yang tidak menggunakan alas kaki sedikit menyesalinya. Kenapa ketika tidur, ia tidak tidur saja menggunakan sepatu. Sehingga ketika dirinya dibawa ke tempat ini, kakinya tidak harus kesakitan ketika menginjak tanaman berduri atau batu yang mencuat tajam. Namun, tiba-tiba saja orang yang berjalan di depannya itu berhenti. Membuatnya yang sejak tadi hanya jalan menunduk untuk menghindari media tajam yang mampu menyayat kulit kakinya itu menabrak dengan tidak sengaja. "Ah, maafkan aku," ucapnya segera setelah mengetahui kesalahannya. Namun, orang yang berada di hadapannya itu hanya bergeming tanpa menoleh ke arahnya. Itu membuatnya bingung. Maka dari itu, ia berusaha mengeluarkan pandangannya untuk menatap ke depan. Lalu, hal yang dilihatnya ketika telah berhasil menatap tanah di depannya itu juga membuatnya melongo tak percaya. Tanah di hadapannya itu sudah dipenuhi oleh darah segar. Tidak hanya darah, tetapi beberapa serpihan tulang, semburat daging, robekan pakaian, hingga sebuah kaki yang masih lengkap dengan sepatunya tercecer di atas lahan tersebut. "Apa-apaan ini?!" pekik gadis yang tadi menemukan tempat gudang pedang itu berada. Ia menutup wajahnya dengan tangan, dan sebelah tangannya lagi memegang perutnya yang tiba-tiba naik asam lambungnya. Membuatnya ingin muntah. "Ini sangat mengerikan. Pemandangan yang paling mengerikan yang pernah aku lihat selama ini." Yang lainnya ikut menyahut sambil memalingkan wajah dari area tersebut. Namun, entah mengapa perasaan Irene justru baik-baik saja. Ia sama sekali tidak merasa ketakutan ataupun gelisah. Seolah pemandangan itu sudah akrab terjadi di depan matanya. Namun, ia sama sekali tak tahu kapan ia pernah melihatnya. Ataukah, itu hanya perasaannya saja? Irene menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Secercah bayangan tentang manusia besar yang telanjang itu kembali muncul di dalam benaknya. Itu membuatnya sontak terkejut dengan kehadiran memori itu. Ia merasa seseorang memegang pergelangan tangannya. "Irene, tenanglah." Kalimat halus itu masuk ke dalam indera pendengarannya. Bagaikan angin pegunungan yang menyegarkan lagi menenangkan. Gadis itu tersenyum simpul. "Thian, aku tidak takut darah. Lagipula, kita sudah sering melihat bangkai manusia yang nasibnya serupa seperti ini bukan? Seperti yang kita temui di gunung saat itu?" Irene menenangkan pikirannya sendiri. Sekaligus menenangkan kekhawatiran lelaki tersebut. Thian sedikit tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Tak kusangka kamu bisa setenang ini setelah melihat itu. Namun, baguslah kalau kamu baik-baik saja." Pria itu terlihat begitu peduli padanya. Setelah melihatnya baik-baik saja, Thian segera beralih menenangkan teman-teman yang lainnya. Sikapnya memang selalu peduli pada orang lain itulah yang membuat Irene mengaguminya. Daya solidaritasnya yang cukup tinggi, tetapi mampu disembunyikannya dengan sempurna. Beberapa orang mungkin menganggapnya bahwa ia adalah pria yang dingin dan selalu tak acuh. Padahal, sebenarnya tidak begitu. Irene beralih kembali melihat ke arah di mana darah berceceran tersebut. Namun, pandangannya justru tersita ke dalam rimbunnya pepohonan. Ia melihat sesuatu yang besar, sangat besar, berjalan secara perlahan ke arah mereka yang sedang berdiri terpaku di atas tanah. Sosok besar yang memiliki tinggi kira-kira lima meter tersebut berbentuk seperti seorang manusia. Namun, makhluk itu sama sekali tak sama seperti manusia. Langkahnya yang sempoyongan, dengan rahang yang menganga lebar. Air liurnya menetes ke atas tanah seperti anjing gila. Dan lebih parahnya lagi, manusia raksasa itu berjalan dengan telanjang bulat! Irene segera ingat dengan pandangannya yang mengatakan tentang makhluk besar berbentuk manusia telanjang yang mengejar mereka. Irene berusaha memperjelas pandangannya. Benar saja, dari dalam mulut monster yang menganga itu terdapat cairan kental berwarna merah. Darah. Irene mengerjap. Sebelum makhluk aneh yang gila itu lebih mendekat lagi ke arahnya. Ia segera mengambil langkah seribu. "Lari!!! Ada monster pemakan manusia di sana!" pekiknya memperingati yang lain. Semua anak remaja yang ada di situ bersamanya, langsung menoleh ke arah yang ditunjuknya. Mereka langsung melihat makhluk raksasa tersebut yang menatap mereka balik.  Makhluk itu menjijikkan, layaknya pegulat sumo besar yang kelebihan beban tubuh. Cara berjalannya seperti orang yang baru saja meminum wine sepuluh botol, mabuk berat. Kelebihan dosis, membuatnya menjadi gila, dan dari mulutnya mengeluarkan air liur. Makhluk raksasa itu mengangkat kepala, menatap sekelompok remaja itu dengan bola matanya yang terlihat seperti akan melompat keluar dari dalam kantung mata.  Raksasa telanjang itu menyeringai ke arah mereka. Mengoyak mental diri mereka. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN