Irene bergerak menjauhi tanah itu, berusaha untuk masuk kembali ke tempat yang dipenuhi pepohonan besar. Beberapa anak remaja yang lain juga mengikuti langkahnya. Namun, tidak dengan Thian yang justru malah terpaku di tempatnya berdiri.
Manik coklat milik pria itu menatap balik dengan tajam ke arah raksasa yang masih bergerak, melangkah terus ke arahnya. Monster itu lambat, tentu saja, layaknya orang mabuk yang bahkan tak bisa berjalan dengan benar.
"Thian, apa yang kau lakukan?!" pekik Irene yang sudah berusaha mencari tempat aman. Teman-temannya sontak mengalihkan pandangan ke arah pria yang masih berdiri dengan cukup tenang di atas tanah yang dilumuri darah segar tersebut.
Lelaki berambut pirang kecoklatan yang sepertinya sudah masuk waktunya untuk dipangkas tersebut mengerlingkan mata, menatap Irene dengan ekor matanya. "Irene, ambil pedangmu! Dia lambat. Mudah dilumpuhkan," balas Thian memberi arahan.
Gadis bermata biru itu segera menelisik ke arah raksasa yang mulai memasuki kawasan tanah merah tersebut. Benar saja, gerakannya lambat dan penuh dengan celah. Kepanikan hanya membuat otaknya tak bisa memproduksi hal cemerlang, dan hanya memfokuskan untuk lari, lari, dan lari. Ia mengutuk diri sendiri akibat ketololannya.
Irene segera mengambil pedangnya, meskipun ia tahu kalau dirinya tak ahli untuk menggunakannya. Namun, ketika telapak tangannya menyentuh gagang pedang tersebut, hawa dingin segera menyeruak masuk ke dalam jemarinya. Ia meraba ukiran yang tercetak di benda itu, dan seketika bergidik ngeri.
Ukiran tengkorak yang menonjol itu terasa sangat nyata di dalam genggamannya. Mengeluarkan aura mistis yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah pedang itu bergetar tanpa ia getarkan, bergerak tanpa ia gerakkan. Pedang itu hidup, dan memberontak dari dalam cengkeramannya.
Dari kejauhan, terlihat pria berambut pirang kecoklatan itu mulai bersiap menyerang. Ia berlari ke samping, sedikit merapat pada tumbuhan hijau besar yang tumbuh di tanah itu. Anak-anak remaja lainnya juga mulai bersiap untuk membantu Thian melawan raksasa itu.
Thian memposisikan dirinya sendiri sebagai umpan. Tentu saja, karena keberaniannya berdiri di depan makhluk mengerikan itu, raksasa tersebut menjadi terkecoh olehnya. Kaki lebar milik monster itu berbelok, mengarah ke langkah-langkah kecil dari lelaki tersebut. Tangannya mengulur memanjang, ingin menggapai tubuhnya.
Thian dengan segera langsung menebas lengan menjijikkan dari sang raksasa tersebut. Darah mengucur deras, memercik sedikit ke pakaian yang dikenakannya.
Tanpa aba-aba, Nolan langsung maju untuk menerjang. Ia menyerang dari belakang, membuat monster itu tak menyadari keberadaannya. Pria tersebut menebas kedua kaki raksasa itu sekaligus. Membuat makhluk besar itu jatuh terjungkal karena kehilangan tumpuan berpijak, dan tak lagi mampu menopang bobot tubuhnya.
Thian yang sama sekali tidak takut pada darah, langsung mengambil serangan untuk menebas kepala monster tersebut. Hal itu jelas membuat tubuhnya dibanjiri oleh cairan kental yang berbau amis. Namun, ia tetap tidak peduli. Dalam sekejap, raksasa itu sudah berhasil mereka lumpuhkan secara sempurna.
"Apa sebaiknya kita cari sungai?" Nolan tiba-tiba melontarkan pertanyaan bodoh. "Kau tampak begitu memuakkan dengan semua darah itu," lanjutnya sembari menatap geli ke arah Thian yang baik pakaian maupun wajahnya sudah tertutup oleh larutan amis nun kental.
Thian melihat dirinya sendiri. Mulai dari lengannya yang masih mencengkeram pedang yang kini tertutup penuh oleh darah segar, hingga pakaiannya yang terlihat sama baunya dengan cairan amis itu. Ia mendengus kasar. "Tentu saja. Aku tidak ingin menakuti semuanya dengan rupa seperti ini," ucapnya menyetujui.
Beberapa remaja lainnya yang mengintip dari balik pepohonan, menatapnya dengan sedikit bergidik ngeri. Entah itu dirinya yang membuat mereka takut, ataukah bangkai monster yang sudah terpenggal kepalanya itu yang membuat mereka was-was.
Thian kembali memalingkan wajahnya menatap Nolan yang masih berdiri di dekatnya. "Namun, di mana kita bisa menemukan sungainya?" lontarnya balik.
Nolan mengerling. "Entahlah. Aku jadi berubah pikiran. Kamu akan tetap berjalan dengan keadaan seperti itu, sampai kita menemukannya." Pria itu mengibaskan pedangnya, membuat darah yang semula tertempel di besinya, kini memercik ke atas tanah. Ia lalu memasukkan senjata itu kembali ke tempatnya.
Pria beriris hitam itu berjalan mendekat ke arah Thian. "Kau benar, kawan. Andai kata tadi pagi kita langsung menemui sumber suara tanpa membawa senjata, mungkin kita sudah menjadi seperti gumpalan daging itu," bisiknya tepat di sisi Thian. Kemudian ia segera berlalu meninggalkannya.
"Persetanan dengan senjata. Aku hanya mementingkan keselamatan diriku sendiri," lirih Thian ketika Nolan sudah berjalan cukup jauh darinya. Sehingga pemuda itu tak lagi mampu mendengar apa yang diucapkan oleh dirinya.
Tiba-tiba, dirinya teringat dengan Irene. Ia langsung memutar pandangan, mencari di mana keberadaan gadis bersurai putih tersebut.
Tak lama, netranya menangkap gadis tersebut sedang berdiri di antara pepohonan yang menjulang begitu tinggi. Dengan segera, Thian langsung bergerak menghampiri wanita mungil itu, walau tubuhnya masih ditutupi oleh darah segar.
Gadis itu sedang berdiri termenung di tengah kehiruk pikukan teman-temannya yang sedang terjadi. Dengan pedang yang tadi ia berikan pada wanita itu, terjatuh tak beraturan di atas tanah. "Irene, apa kau baik-baik saja?" lepasnya ketika melihat pandangan Irene yang begitu kosong. Menatap ke udara lepas, padahal tak ada apapun di situ.
Irene terengah. Ia mengerjap, pendar matanya melotot. "Thian, jangan bawakan benda ini untukku lagi. Biarkan dia tetap berada di sini saja." Suara gadis itu terdengar bergetar. Ia ketakutan.
"Hah? Apa maksudmu, Irene? Apakah sesuatu sudah terjadi padamu?" Thian merasa sikap Irene sedang tak seperti biasanya. Ia ketakutan, sama seperti saat waktu malam kemarin lusa.
Irene hanya menutup mulut. Gadis itu kembali bungkam. Ia tak mau bicara. Pandangannya berpaling, tak lagi ingin menatap pria yang menjadi lawan bicaranya itu.
Thian menjaga jarak. Ia tak bisa mendekat lebih dari ini dengan semua sel merah yang menempel di tubuhnya itu. Hanya satu hal yang dapat ia simpulkan, gadis itu sedang merasa tidak baik-baik saja. Namun, entah apa yang membuatnya merasakan hal itu.
"Baiklah kalau kamu tak mau mengatakannya. Aku tak akan memaksa," ujar Thian mengalah. Ia menuruti permintaan Irene untuk tidak membawa pedang yang ada di atas tanah tersebut. Padahal, ia menilai kalau benda itu masih bagus dan suatu saat bisa saja berguna.
Ia berbalik menghadap ke arah teman-temannya yang terlihat masih syok. Mungkin, mereka tidak terbiasa melihat darah. Atau, mereka terkejut dengan kehadiran monster tersebut. Entah mana yang benar, tetapi bisa juga keduanya benar.
"Mari lanjutkan perjalanan. Kita cari tempat aman sebelum matahari benar-benar tenggelam. Aku yakin, kalian tidak ingin bermalam di tempat ini `kan?" Thian mengajak kelompok kecilnya itu untuk segera meninggalkan tempat tersebut.
Teman-temannya yang lain menatapnya dengan ragu. Namun, mereka tetap mengangguk setuju.
"Emm … baiklah. Aku ikut denganmu, Thian," ucap gadis yang sepertinya sangat ketakutan setengah mati melihat darah yang berceceran di situ.
"Aku juga. Semoga saja saat malam nanti, tidak akan ada raksasa yang datang memberi kejutan, ya. Hahaha …." Yang lainnya berusaha memberikan humor, walau malah terkesan kaku dan gelap.
Mereka tersenyum miris mendengar itu. Hutan ini tidak seindah kelihatannya. Banyak sesuatu yang tersimpan dan tak bisa ditebak yang bersemayam di dalamnya.
***
Di malam hari, mereka membiarkan diri mereka tenggelam di dalam kegelapan. Pikir mereka, api hanya akan menarik perhatian binatang buas, ataupun sosok makhluk besar yang menyerupai manusia raksasa tersebut.
Tentu saja mereka baru menemukan tempat yang dekat dengan sungai ketika malam semakin larut. Saat perjalanan tadi, mereka sempat berpapasan dengan beberapa monster manusia telanjang yang tengah duduk bersandar di sekitar pepohonan. Namun, raksasa itu tetap tak bergerak walau anak-anak remaja itu lewat di hadapannya. Seakan-akan, manusia besar tersebut menjadi buta dalam kegelapan.
Irene tak bisa tidur malam itu. Alas rerumputan itu terlalu tajam bagi tubuhnya, seolah bagai jarum yang menusuk kulitnya. Ia bangkit duduk di tengah keremangan cahaya bulan yang mulai cembung. Bintang selalu terlihat jelas dari tempatnya memandang angkasa. Benar, ini hutan, tidak ada polusi seperti di kota yang mencemari alam ini, menjadikan bintang-bintang tersebut dapat melepaskan cahayanya, membuat mereka terlihat dengan jelas menari di langit lepas.
Thian yang semula bersandar sambil berdiri di sebuah pohon besar, langsung menyadari kalau gadis bersurai putih itu belum tertidur. Ia segera menghampirinya seperti biasa. Pakaian yang semula dikenakannya, kini terpampang di atas dahan pohon yang cukup rendah. Basah, tentu saja, karena ia mencuci semua noda darah yang membercak di sana.
Ia hanya mengenakan jaket milik Nolan. Membiarkan pemuda itu meringkuk hanya dengan mengenakan kaos lengan panjang. Celana yang dikenakannya masih sedikit basah, tetapi ia mengabaikan hal itu.
"Tidak bisa tidur?" tanyanya pada Irene yang terduduk sambil memandang langit.
Irene beralih menatapnya. "Seperti yang kamu lihat sendiri, Thian." Senyum merekah di wajah imutnya. Gadis itu bergeser, memberikan pria tersebut ruang agar dapat duduk di sebelahnya.
Thian mengambil tempat itu. Ia mendaratkan bokongnya di atas rerumputan yang dingin. Tangannya menyangga tubuh di belakang, agar tidak jatuh terjungkal.
"Kamu kedinginan?" tanyanya lagi.
Irene terkekeh. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu," balasnya.
Thian menepuk celananya yang masih menyimpan air. "Ini sudah jauh lebih kering daripada waktu tadi." Ia memeras kain itu, dan tidak menghasilkan apa-apa. Air sudah terlalu sedikit untuk bisa diperasnya. "Lihat, bahkan sudah tidak keluar air," ujarnya.
Irene melihat kain itu. "Tapi dinginnya masih tetap di situ `kan?" Ia ikut memegang kain tersebut. Benar saja, aliran dingin bergerak menggelitik jari lentiknya.
"Hanya sedikit. Itu tidak masalah untukku." Thian mengalihkan pandangannya dari kain celananya, menjadi menatap wajah gadis tersebut.
Irene juga secara tidak sengaja menatap wajah Thian. Pandangan mereka kembali bertemu. Kulit putih milik lelaki itu terlihat jauh lebih sehat daripada miliknya yang nampak terlalu pucat. Manik coklatnya yang selalu menyorotkan keberanian dan juga ketegasan, tetapi tetap teduh bisa sedang bersama dengannya. Ditambah hidung lancipnya, serta bibirnya yang tipis. Pria itu benar-benar terlihat tampan di matanya.
"Hei, Thian. Apakah kamu tidak merasa takut?" Irene tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang bahkan belum tercerna sempurna oleh otaknya. Ia awalnya bingung mau mengatakan apa, mengingat wajah mereka berdua yang berjarak sangat dekat saat itu. Sehingga kata-kata itu keluar dengan tiba-tiba dari dalam kerongkongnya.
Thian mengernyitkan dahi. "Takut? Takut soal apa?" Ia justru balik bertanya.
"Apapun." Irene terlihat kesulitan menemukan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Thian. Ia memalingkan wajah agar tidak menatap rupa lelaki itu terlalu lama. "Terutama soal dunia ini. Dunia yang berbeda dari rumah. Dunia yang bukan tempat seharusnya kita berada," lanjutnya ngelantur sembari kembali menatap langit yang terjaga.
Thian menghela napas. Ia ikut memalingkan wajah dari gadis tersebut. "Kalau kamu mengira aku tidak takut, sayang sekali," ujarnya sambil menggeleng kepala dengan lemah. "Itu salah." Ia melanjutkan kalimatnya.
Pria itu menundukkan pandangan. Ganti menatap rumput-rumput yang kini menjadi alas tempatnya duduk. "Aku hanya tidak menampakkan ketakutan itu." Ia tersenyum tipis, entah ditunjukkan untuk siapa. "Sama seperti saat kita menghadapi mereka," ucapnya begitu lirih.
Irene tak memalingkan tatapannya dari memandang angkasa luas. "Yah, tetapi itu memang dirimu, sih." Seolah memakluminya. "Baguslah kalau kamu masih belum berubah, Thian." Gadis itu melekukkan senyum cerah.
Thian senang mendengar itu. "Kami sendiri tidak begitu. Kamu semakin sulit ditebak akhir-akhir ini." Ia tanpa sengaja mengatakan apa yang selama ini mengganjal di pikirannya.
Hal itu membuat Irene sedikit terkejut. Ia mengambil garis batas antara pandangannya dengan langit cerah di atasnya. Kemudian menekuk kakinya sendiri, lalu merapatkan lututnya ke depan d**a. Ia memeluk kedua tungkainya dengan bersamaan.
"Banyak hal yang terjadi akhir-akhir ini." Gadis itu berbicara kosong dengan nada yang datar. Padahal, sebelumnya suara dia terdengar begitu ringan. "Aku tidak bisa menjelaskan semuanya padamu, Thian. Sudah banyak sekali hal yang membuatku merepotkanmu."
"Tetapi, aku tidak keberatan kau repotkan lebih banyak lagi," sergah Thian.
Gadis itu tersentak. Ia menggelengkan kepala degan tegas. "Kumohon jangan seperti itu!" Ia langsung terkejut ketika nada bicara yang ia gunakan menjadi begitu tinggi. Ia sama sekali tidak berniat membentak lelaki itu. Ia tidak tahu, kenapa sikapnya menjadi sesensitif ini.
"Aku merasa tidak akan bisa menjadi mandiri jika kamu terus-terusan bersikap seperti itu. Kamu terlalu memanjakanku. Membuatku terus menerus bergantung padamu." Tangan gadis itu bergetar. Matanya terlihat berkaca. Ia terengah, mencoba untuk meredam emosinya.
Lelaki itu menatapnya dengan tetap diam. Mendengarkan setiap kalimat demi kalimat yang diucapkan gadis tersebut. Tenang, menerima tumpahan isi hati dari wanita yang tengah duduk di sisinya itu.
"Bisakah mulai sekarang kamu tidak perlu tahu masalahku? Biarkan aku mencoba menyelesaikannya sendiri. Aku sudah terlalu lama bersembunyi di belakang punggungmu, tak berani menatap kenyataan yang sedang berlangsung."
Gadis itu menggosok punggung tangannya, menyambut bulir air mata yang mulai berjatuhan di pipinya. "Kau tahu bahwa tak selamanya kita bisa terus bersama. Aku tak bisa selamanya bergantung padamu. Suatu saat kita akan berpisah, dan hingga saat itu tiba, aku ingin mempersiapkan diri terlebih dahulu."
Gadis itu terdiam sesaat. Ia hampir kehilangan napas untuk melanjutkan kalimatnya. Bukan, lebih tepatnya ia gugup. Ia tak berani mengatakan apa yang akan ia katakan selanjutnya. Ia hanya memalingkan wajah, kemudian membenamkannya ke dalam kakinya yang masih dipeluk dengan rapat.
"Karena, sejujurnya aku begitu takut kehilanganmu …," bisiknya pada kekosongan.
***