"Hei Irene, lihat aku!"
Suara itu menggema di dalam kepalanya. Irene mengangkat wajah yang semula ia tundukkan ke dalam pelukan tungkai, kemudian mengikuti perintah itu untuk menatap sang pemilik suara.
Namun, sebelum ia dapat melihat orang yang memberinya perintah, sebuah pelukan hangat sudah lebih dahulu menghambur ke arahnya. Irene terkejut mendapat perlakuan seperti itu.
"Ti-thian?" lirihnya. Ia gugup, tak percaya pada apa yang dilakukan pria tersebut.
Hal itu seketika menghentikan Isak tangisnya. Pikirannya yang semula kacau, hatinya yang tadinya gundah, kini semua menjadi tenang. Dibalik jaket yang dikenakannya, pelukan pria itu hangat, ia dapat dengan nyata merasakannya. Bahkan, ia mampu merasakan degup jantung lelaki tersebut.
"Irene itu bodoh. Padahal tadi bilangnya ingin hidup mandiri. Tetapi, nyatanya baru mengucapkannya saja, kamu langsung nangis. Dasar cengeng," ungkap pria itu dengan tetap tenang. Namun, suaranya berubah menjadi lembut, dan penuh perhatian.
Irene terdiam mendengar ucapan lelaki tersebut. Walaupun ia sempat takut tadinya, tetapi entah mengapa di dalam dekapan hangatnya ia jadi menemukan kedamaian yang akhir-akhir ini selalu ia cari kehadirannya.
"Jujur saja, aku terkejut lho, kamu mengatakan hal seperti itu. Rasanya aneh, Irene yang selama ini kupikir lemah dan penakut tiba-tiba ingin hidup mandiri." Pria itu masih mendekapnya. Sama sekali tak mengendorkan pelukan tangannya yang melingkar di pinggang gadis tersebut.
"Tetapi, aku turut senang mendengarnya. Itu bukan keputusan buruk. Justru sebaliknya, itu bagus. Sangat bagus. Tenang saja, langkah apapun yang kamu pilih, aku pasti akan selalu mendukungmu," lanjut pemuda tersebut sembari mulai melonggarkan dekapannya. Membiarkan gadis itu menatap wajah rupawannya.
Irene menatap rupa milik lelaki tersebut. Senyum tipis pemuda itu merekah di atas air mukanya. Senyum yang hampir tidak pernah ditunjukkan pria itu pada orang lain selain dirinya. Senyum yang hampir selalu ia tunggu kehadirannya dari orang yang kini tengah duduk di sisinya.
Lelaki itu mengangkat wajah, menatap angkasa lepas. Jutaan bintang terpantul oleh pupil coklatnya yang berbinar terang. "Saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan olehmu. Tenang saja, selama aku berada di dekatmu, aku akan selalu melindungimu." Thian kembali membuka mulut, membakar habis dinding kebimbangan yang terbangun di dalam hati gadis itu.
Irene masih enggan memalingkan wajah dari pemuda itu. Ia mengamati lekuk mimik lelaki yang ia anggap sempurna tersebut. "Aku tidak mengerti, kenapa kamu selalu saja berbuat seperti itu padaku? Apalagi tentang yang kamu katakan ketika pertama bertemu dengan Nolan di hutan ini." Gadis itu memalingkan muka. "Padahal kamu tahu, kita sama sekali tidak memiliki hubungan darah," lanjutnya lirih.
Thian mengerjap. Ia langsung menurunkan pandangannya, kembali menatap gadis itu. "Memangnya aku mengatakan apa?" ujarnya seolah tak mengetahui apa yang dimaksud wanita tersebut.
"Aku adik perempuanmu," jawab Irene spontan tanpa menunggu jeda dari ucapan lelaki tersebut. Ia masih mengingat jelas ketika ungkapan tersebut keluar dari pria itu. Ucapan yang dilontarkan oleh Thian di hari kemarin.
Thian mengangkat sebelah alisnya. "Jadi itu maksudmu? Aku ingat sekarang. Mungkin saja karena aku lebih tua darimu, jadi aku merasa memiliki kewajiban untuk melindungimu." Ia memandang ke depan. Menatap jauh dalam kegelapan hutan. "Kita sudah bersama sejak kecil, `kan? Tidak mungkin aku mengabaikanmu dari anak-anak yang lainnya."
"Kita keluarga, Irene. Sama seperti yang Mama katakan," lanjut Thian lirih.
Kalimat itu membuat Irene sedikit bersedih. Sebuah pernyataan yang diluar prediksinya. Ia sama sekali tak menyangka Thian akan menganggapnya seperti itu.
Irene menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Thian," balasnya lirih, "Kita sama sekali bukan keluarga."
Irene menundukkan wajahnya. Ia menatap dengan kecewa kepada rerumputan yang menjadi alas duduknya. "Setidaknya, aku tidak pernah menganggap kamu itu satu keluarga denganku. Tidak untuk waktu yang sudah berlalu, dan tidak untuk saat ini." Ia kembali menegaskan ucapannya.
Thian tampak kebingungan dengan apa yang Irene ucapkan. "Apa maksudmu, Irene?" tanyanya memperjelas.
"Aku bukan adikmu, dan kamu bukan kakakku. Jadi, jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Kau tahu, aku sangat membencinya." Irene masih membuang wajah dari pria tersebut.
Ia tak mengerti, mengapa perasaannya justru malah terasa sakit. Bukankah bagus kalau justru pria itu menganggapnya sebagai saudara? Namun, kenapa rasanya ia tidak mau terima akan hal itu?
Pria itu berdehem. "Baiklah, kalau itu yang kau mau." Ia tak membantah.
Irene kembali mengutuk diri sendiri. Sikapnya yang terlalu sensitif kali ini membuatnya menyesal. Ia tak ingin tidur malam itu. Ia hanya ingin duduk terus seperti itu, mendengarkan lelaki itu berbicara. Memandangi langit yang menyala terang akibat jutaan tarian bintang dan juga rembulan.
Tiba-tiba, ada suara berdehem dari arah belakang. Membuat mereka berdua terkejut, dan langsung reflek menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat, seorang lelaki berambut hitam putih itu tengah berdiri memandangi mereka berdua. "Eh … aku mengganggu pembicaraan kalian, ya? Duh, maaf," keluh pria tersebut.
Irene yang terkejut bahwa ada orang lain yang mengamati tingkahnya sejak tadi, hanya bisa diam sambil memalingkan wajah. Ia sama sekali enggan menjawab pertanyaan konyol tersebut.
"Nolan? Sejak kapan kamu berdiri di situ?" Thian segera berdiri, dan memasang tampang seperti biasanya.
"Hmm … beberapa menit yang lalu kupikir. Uh … entahlah, aku kurang tahu berapa tepatnya." Lelaki itu mengernyit. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah. "Oh ya, apa pakaianmu sudah kering, Thian?"
"Entahlah, aku belum mengeceknya. Tunggu, bukankah tadi kamu masih tertidur?" tanya Thian seperti orang linglung.
"Iya, sampai mimpi itu membangunkanku," jawabnya. "Cobalah cek pakaianmu, aku ingin memakai kembali jaketku," lanjutnya tanpa basa-basi.
"Tunggu sebentar," balas Thian. Ia berlalu pergi meninggalkan Irene yang masih duduk di atas rerumputan hijau tersebut, bersama pria yang masih berdiri memandangi punggung lelaki tersebut.
Thian bergerak ke salah satu pohon tempat bajunya di jemur. Ia yakin, pakaian itu masih belum sepenuhnya kering. Namun, apa boleh buat, ia tetap mengambilnya. Kemudian mengenakannya di tubuhnya.
Setelah memakai pakaian tersebut, ia segera bergegas kembali ke tempat di mana Nolan dan Irene berada.
"Nih, jaketmu. Terima kasih, ya." Ia mengembalikan barang yang tadi sempat dipinjamnya.
Lelaki itu menerimanya. "Ya, terima kasih kembali," ujarnya sembari bergerak untuk mengenakannya. "Oh ya, Thian, tidakkah kamu pikir ini adalah kesempatan terbaik untuk pergi?" Tiba-tiba perkataan itu terlontar dari mulut pemuda tersebut.
Thian mengernyit. "Hah? Apa maksudmu?"
"Malam hari, monster-monster itu tidak bergerak. Bukankah itu harusnya menjadi kesempatan untuk kita bergerak mencari jalan pulang?" Nolan menjelaskan rencananya.
Thian dengan cepat memutar otaknya. "Kamu benar juga. Apalagi di sini ada sungai. Biasanya kehidupan di jaman seperti ini, selalu bergantung pada perairan bersih. Dan sungai inilah yang menjadi solusinya."
Nolan menampakkan seringainya. "Kita main aman saja, kawan. Ketika matahari sudah muncul, kita harus segera mencari tempat yang memungkinkan untuk berlindung."
"Kalau begitu, bagunkan semuanya. Kita pergi malam ini juga." Thian segera menyetujuinya.
***
Matahari semakin tinggi ke atas langit. Mereka masih terus berjalan di sepanjang pinggiran sungai yang mengalir lambat. Beberapa di antara mereka tampak begitu kelelahan serta mengantuk, dan lebih parahnya lagi, mereka belum menemukan tempat untuk berlindung.
"Ah, bisakah kita berhenti sebentar? Aku merasa sangat lelah," keluh seorang gadis yang sejak tadi berjalan terhuyung-huyung. Matanya terasa begitu berat.
"Bersabarlah saja," tukas Thian dengan cepat.
Gadis itu memanyunkan bibirnya. Sudah sejak tengah malam mereka terus berjalan tanpa istirahat, dan tentu saja itu sangat melelahkan. Apalagi bagi seorang gadis seperti dirinya yang terlihat kurang biasa berjalan dalam jarak jauh secara terus-menerus.
Namun, tiba-tiba terdengar suara gemeresak yang cukup kuat dari dalam hutan tersebut. Sontak, mereka langsung menelisik ke arah rimbunnya pepohonan tersebut. Melihat dengan teliti setiap sudut tumbuh-tumbuhan berdahan rindang yang begitu tinggi.
Tanpa mereka duga, pandangan mereka justru menangkap adanya sekawanan raksasa yang tengah bergerak lambar. Namun, sepertinya para monster tersebut belum menyadari keberadaan mereka. Membuat mereka berhenti mematung seketika, dan langsung menempelkan diri dengan pepohonan untuk menyembunyikan keberadaan.
Para raksasa itu berkeliaran dengan tubuh besar mereka, mengitari sekeliling pepohonan, masih dengan gaya yang sama layaknya orang mabuk berat. Hanya saja ada yang membuatnya beda, ukuran mereka tidak hanya kurang lebih lima meter, tetapi ada juga yang bahkan hanya setinggi dua meter.
Irene mencengkram tanaman rambat yang menjalar di pepohonan. Pohon itu terlalu tinggi untuk dapat dipanjatnya. Ditambah, dahan besarnya juga sama tingginya, tidak ada dahan rendah yang bisa digunakan sebagai tempat berpijak. Satu-satunya yang mungkin bisa membantu hanyalah tanaman rambat tersebut. Namun, resiko untuk jatuh sebelum sampai atas itu sangatlah besar.
"Thian, apa yang harus kita lakukan?" bisik Nolan yang memang sejak awal berdiri di sebelah pria berambut pirang kecoklatan tersebut.
Thian diam sesaat. "Jangan menyerang, itu terlalu beresiko karena jumlah mereka tidak hanya satu." Ia menghela napas panjang. "Tetap jalan, secara perlahan. Kita segera tinggalkan tempat ini."
Nolan mengangguk. Ia memberikan kode isyarat kepada teman-temannya yang berada di belakangnya untuk maju dengan perlahan, dan sambil tetap berusaha menyembunyikan diri dari kawanan raksasa tersebut.
Mereka mengikuti instruksi Nolan dengan seksama. Berjalan mengendap di antara pepohonan serta tanah yang becek. Mereka merapatkan diri dengan pepohonan serta berpegangan erat pada tanaman rambat.
Dibalik jalan yang semakin menanjak untuk dapat ke hulu sungai, ternyata semakin banyak raksasa yang berdiam di situ. Mereka tidak tahu apakah arah yang mereka ambil itu benar atau salah. Apakah jalan itu menuju ke arah hulu yang memiliki kehidupan lebih baik, ataukah malah menuju ke dalam lubang sarang pada monster menjijikkan tersebut.
Tiba-tiba, gadis yang tadi mengeluh itu tersandung oleh akar pepohonan yang menjalar. Tanah yang basah segera menangkapnya, tetapi itu malah membuatnya kakinya terjerembab ke dalam kubangan lumpur. "Auw … sial," umpatnya dengan spontan.
Suara berkecipuk di dalam kubangan tanah, serta umpatan darinya, membuat semua teman-teman lainnya melempar pandangan ke arahnya. Ia sedikit memekik karena terkejut, tetapi Irene yang berdiri di dekatnya langsung membungkam mulutnya dengan rapat.
Setelah itu mereka langsung mengintip ke arah kawanan raksasa tersebut berada. Namun, sial, tatapan mereka justru malah bertemu dengan manik bulat milik masing-masing monster yang dibanjiri air liur tersebut.
Tidak, tidak akan bisa menang jika melawan sekumpulan raksasa itu saat ini juga. Para monster itu sudah mengetahui keberadaan mereka, dan kini mulai berjalan mendekat ke arah mereka.
"Lari, sebelum mereka lebih dekat dari ini!!!" Thian sontak meneriakkan perintah sembari melayangkan kaki untuk segera pergi meninggalkan tanah itu.
Teman-teman yang lain mengikuti langkahnya untuk berlari. Mereka meninggalkan tanah becek yang ada di tepi sungai dan memilih masuk ke dalam hutan untuk mendapatkan media lahan yang tidak terlalu sulit.
Raksasa itu mengikuti mereka. Walau jalan mereka lambat, tetapi jangkauan gerak mereka jauh lebih luas. Walaupun mereka terlihat mengejar para anak remaja itu dengan berjalan, tapi kecepatan mereka setara dengan orang yang tengah berlari.
Irene berlari dengan cepat, menyelinap di antara tumbuhan besar yang berdiri kokoh dengan acak. Walaupun tak mengenakan alas kaki, tetapi telapak kakinya sama sekali tak merasakan sakit ketika menginjak bebatuan tajam, ataupun tanaman rambat berduri. Mungkin kakinya sudah kebal? Ataukah dia yang terlalu fokus pada pelariannya, sehingga mengabaikan segalanya?
Baginya, keselamatan nyawanya adalah hal yang saat ini harus diprioritaskannya. Ia tak mempedulikan apakah telapak kakinya kini sudah sobek hingga mengeluarkan cairan kental yang amis. Ia hanya terus berlari, hingga kini tubuhnya sejajar dengan Thian yang sedari tadi berlari jauh di depannya. Ia tak pernah menyangka kalau dirinya mampu menyusul kecepatan lari lelaki tersebut.
Ketika sedang terancam, di situlah sesuatu kekuatan yang tidak pernah disadari keberadaannya dapat digunakan dengan tepat sebagai media perlindungan diri.
Namun, tiba-tiba mereka mendengar suara jeritan dari arah belakang mereka.
"TIDAK! TEMAN-TEMAN, TOLONG AKU!"
Gadis itu menjerit histeris. Meronta, tetapi tak bisa melakukan apa-apa selain hal itu. Ia benar-benar tidak berdaya di dalam genggaman sang raksasa.
Irene sedikit mengalihkan pandangannya ke belakang. Kemudian ia menemukan gadis yang tadi berlari di sebelah dirinya, tetapi kini sudah tertinggal jauh darinya, terlihat meronta-ronta ketika tubuhnya mulai terangkat dari atas tanah. Salah satu raksasa itu menangkapnya.
Raksasa yang lainnya langsung berdatangan mengetahui salah satu dari mereka mendapatkan mangsa. Tubuh gadis itu ditarik oleh beberapa monster sekaligus, membuatnya kian menjerit ngeri kesakitan.
"Kumohon, tolong aku!!! Jangan tinggalkan aku di sini!" jeritnya histeris.
Namun, tak seorang pun dari kawan-kawannya yang berani mendekat ke arah gerombolan monster tersebut. Mereka hanya mampu membisu dalam tautan jantung yang berpacu semakin tak terkendali.
Dalam derai kebimbangan, dan dalam lingkup kengerian, serta keputuasaan, mereka terpaksa untuk terus berlari meninggalkan gadis yang masih menjerit histeris tersebut. Suara pekikannya yang meyayat hati itu mulai tenggelam dengan erangan kawanan raksasa yang mengerubunginya. Kelompok kecil remaja itu terpaksa membiarkannya menjadi santapan para makhluk kotor menjijikkan yang sedang kelaparan.
Para raksasa melupakan anak-anak remaja yang lainnya, sehingga membuat mereka terbebas dari kejaran para monster itu untuk sementara waktu.
***