Ternyata tak hanya di tempat itu yang ditempati oleh banyak monster manusia telanjang. Di tempat yang jauh lebih dalam ke dalam rimbunnya pepohonan juga terdapat banyak sekali raksasa. Seolah-olah semakin lama mereka semua berjalan menyusuri tumbuh-tumbuhan tersebut, justru membuat mereka semakin jauh tersesat masuk ke dalam hutan tersebut.
Tidak jarang pula, mereka terpaksa berhenti untuk sekadar melumpuhkan monster yang menurut mereka mampu untuk dikalahkan. Jika jumlah keseluruhan dalam suatu kelompok raksasa itu lebih dari tiga, sudah bisa dipastikan para anak remaja itu akan pergi dengan mengendap-endap. Namun, jika kurang dari itu, mereka akan bergerak untuk menghabisinya.
Mampu bertahan hidup hingga matahari bersembunyi di cakrawala barat saja sudah menjadi anugerah tersendiri bagi sekelompok kecil remaja yang kini tinggal tersisa lima orang saja. Termasuk di dalamnya ada seorang gadis bernama Irene, yang merupakan satu-satunya perempuan di kelompok itu yang masih bertahan hidup.
"Oh sial, kita kehilangan jejak sungainya." Nolan menggerutu ketika menyadari bahwa yang ada di sekitarnya hanyalah pepohonan tinggi tak terjangkau.
"Aku merasa haus …." Seseorang yang lainnya ikut menimpali sembari meraba kerongkongan.
Mereka terlalu banyak mengeluarkan energi di hari itu dengan berlari, dan terus berlari. Mencoba melawan takdir untuk masuk ke dalam lambung monster gila tersebut.
Matahari sudah menghilang dari pandangan mereka, tetapi mungkin itu hanya karena pepohonan di situ terlalu tinggi bagi mereka. Sehingga mereka tak lagi mampu melihat mentari yang sejatinya masih bergulir di arah barat. Langit masih menampakkan warna jingga keunguan yang mulai pekat. Menandakan bahwa malam akan segera tiba.
Irene mengelap peluh yang mulai merembes dari pelipisnya menggunakan kain pakaian yang menempel di lengannya. "Terus berjalan saja. Siapa tahu, nanti kita akan menemukan berry hutan. Atau setidaknya, kita bisa menemukan jamur yang tidak beracun." Gadis itu mengambil napas dengan terengah, mencoba melawan rasa sakit yang bersemayam di dalam tubuhnya.
"Jujur saja, aku lebih membutuhkan air daripada makanan untuk saat ini," ucap seorang pria yang ikut dengan mereka. Ia terlihat begitu kelelahan.
Thian mendengus. "Berpikirlah! Di mana seekor beruang bisa mendapatkan madu hutan? Dan bagaimana cara dia mengambilnya tanpa menggunakan alat?" Pertanyaannya yang jelas tidak mereka ketahui jawabannya, membuat mereka menggelengkan kepala.
"Kau sendiri tahu caranya, Thian?" lontar Nolan tiba-tiba.
Thian melempar pandangan ke arah pria tersebut. "Tidak. Karena aku bukan beruang," jawabnya ngelantur tak jelas.
"Payah," kekeh Nolan.
Mereka kembali berjalan di bawah naungan temaram langit senja. Namun, langkah kaki mereka justru membawa mereka ke tempat yang tak bisa diprediksi keadaannya.
Dua manusia raksasa telanjang tiba-tiba keluar dari balik rimbunan pepohonan yang ada di sebelah kiri mereka. Kedua monster itu menggeram. Membuat suara-suara yang terdengar mengerikan.
Thian dengan spontan, langsung melepaskan pedangnya dari dalam bungkusnya. Mengarahkan kepada dua ekor monster tersebut yang berjalan ke arah mereka dengan sempoyongan.
Nolan juga ikut mengeluarkan senjatanya. Disusul oleh dua pria lainnya yang mengambil gagang besinya masing-masing.
Namun, tidak dengan Irene. Gadis itu justru malah mengambil langkah mundur. Membiarkan keempat kawannya yang lain menghadapi dua ekor raksasa telanjang itu. Dirinya tak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya alat yang mampu mendukung aktivitasnya. Senjatanya sudah ia tinggalkan jauh dari tempat itu. Bukan, lebih tepatnya, ia membuang pedang tengkoraknya tersebut.
Irene merapatkan dirinya dengan pepohonan yang berdiri kokoh menjulang ke angkasa raya. Ia membiarkan tubuhnya bersandar pada tanaman berlumut yang lembab akibat kurang mendapat sinar matahari tersebut.
Namun, indera pendengarnya menangkap suara lain yang berasal dari arah belakangnya. Sontak, Irene menolehkan kepala. Pendar matanya membulat sempurna tatkala ia menangkap sosok yang sama mengerikannya sedang berjalan dari belakang menuju ke arahnya. Tiga makhluk, monster gila yang berjalan dengan terhuyung-huyung ke arah kumpulan anak remaja tersebut.
"Teman-teman, lari! Kalian tidak akan bisa bertahan!" pekik Irene sembari mengambil langkah seribu.
Para remaja yang lainnya sontak terkejut dengan jeritan gadis tersebut. Mereka dengan hampir bebarengan, menoleh ke belakang. Tepat di arah mana gadis itu mengeluarkan suara. Namun, justru mereka malah terpaku dengan keadaan yang sedang terjadi di dalam rimbunan pepohonan. Tiga ekor monster sedang berjalan ke arah mereka.
Ini tidak baik. Sangat tidak baik. Dikepung oleh lima ekor raksasa gila. Dua dari depan, dan tiga dari belakang. Mereka berempat langsung mengikuti langkah yang diambil Irene, lari tunggang langgang meninggalkan tempat tersebut.
Langit masih penuh dengan cahaya, walau tidak secerah saat siang hari. Namun, tetap saja itu lebih dari cukup untuk bisa melihat keadaan di hutan yang mulai remang, tetapi tidak sepekat saat malam. Harusnya mereka tidak boleh lengah saat ini. Monster-monster itu masih bergerak. Para raksasa gila tersebut masih belum tertidur.
Irene masih berada memimpin kelompok kecil remaja tersebut. Ia berlari paling depan dari kawannya yang lain. Walaupun tanpa alas kaki, ia tidak peduli. Hal itu tidaklah mengurangi kelincahan serta daya tahannya dalam berlari.
Thian dan Nolan berlari tepat di belakangnya. Mereka berdua juga cukup gesit dalam pelarian. Tidak terjebak dalam semak belukar. Tidak pula tersandung oleh akar pepohonan yang menjalar keluar. Gerakan mereka begitu lihai, melompat cukup tinggi untuk melewati rintangan, dan terus menambah kecepatan.
Dua orang yang lainnya berlari di belakang dua pemuda tersebut. Mereka cepat, tentu saja. Keadaan memaksa mereka untuk berlari cepat, dan lebih cepat lagi. Itu cukup bagus untuk dapat bertahan diri saat ini.
Hanya saja, tak lama setelah itu, seseorang dari mereka jatuh berdebum mencium tanah. Kakinya tersandung oleh kakinya sendiri. Mungkin saja, ia terlalu lelah untuk berlari, sehingga keseimbangannya berkurang dan membuatnya tak bisa menghitung jarak pacuan langkahnya.
Orang yang terjatuh itu seketika langsung panik. Ia mencoba untuk sesegera mungkin berdiri dan kembali berlari. Hanya saja, gerakannya kalah cepat dari uluran tangan para raksasa telanjang itu. Ia menjerit, memekik, menendang dan meronta ketika raganya mulai terangkat dari tanah.
"TIDAK! TIDAK!! TIDAAK!!!" jeritnya ketakutan.
Empat ekor monster yang lainnya segera menghampiri raksasa yang tengah mengangkat tubuhnya tersebut. Air liur mengalir keluar dari dalam mulut mereka. Dengan tangan mereka yang menjulur, mereka menarik dengan paksa keempat ruas remaja tersebut.
Dagingnya terkoyak. Gemeretak tulang patah terdengar menyakitkan. Tubuhnya mulai kehilangan bagiannya. Ia menjerit kesakitan ketika darah mengalir keluar dari anggota tubuhnya yang lepas akibat kuatnya energi tarikan para raksasa tersebut.
Dan teman-temannya hanya mampu berlari, dan terus berlari. Membiarkan dirinya menjadi santapan para manusia raksasa telanjang tersebut.
***
Irene terus berlari. Tak peduli walau jantungnya sudah meronta kekurangan oksigen. Napasnya memburu, bercampur dengan perutnya yang terasa semakin sakit seperti orang yang baru saja ditendang bagian tulang rusuknya.
Pandangannya semakin buram. Ia tak yakin apakah masih mampu bertahan lagi setelah ini. Hanya setitik cahaya temaram yang dapat ia temukan di ujung pupilnya yang semakin lemah. Ia merasa seolah akan segera hilang kesadaran.
Namun, setitik cahaya itu semakin membesar. Hingga akhirnya meliputi seluruh pandangannya. Ia keluar dari dalam rimbunnya pepohonan, menginjakkan kaki di sebuah tanah yang agak lapang. Di hadapannya, ada sebuah jurang yang sangat curam.
Ia menghentikan pelariannya. Terkejut dengan apa yang hadir di depannya tersebut.
Dari belakang, Thian dan Nolan segera menghentikan langkah pelariannya ketika melihat sebuah jurang yang sangat curam hadir di hadapannya.
Seketika mereka terdiam, saling membisu ketika melihat bahwa diri mereka tengah berdiri di ambang jurang. Namun, setelah diperhatikan lagi dengan mencondongkan kepala untuk menengok ke bawah jurang tersebut, ternyata apa yang ada di hadapan mereka bukanlah sebuah jurang. Melainkan adalah sebuah tebing.
Ya, tebing yang sangat curam. Mereka sudah ada di atas, dengan pemandangan hutan yang terhampar sejauh mata memandang di bawah mereka. Dari bibir tebing tersebut, mereka mampu melihat cahaya kemerahan masih bersinar di ufuk barat. Walaupun matahari telah mengulang sepenuhnya, tetapi warna orangenya masih tetap tertinggal di cakrawala tersebut.
Pandangan Irene sudah hampir sepenuhnya gelap. Tenaganya seketika terkuras habis. Ia tak lagi mampu menopang berat tubuhnya.
Irene tiba-tiba merosot jatuh, dan bisa saja ia terjun bebas dari atas tebing tersebut. Beruntung, Thian dengan sigap langsung menopang tubuh lemahnya.
Thian langsung menyeret tubuhnya agar menjauh dari bibir tebing.
"Beruntung, sepertinya monster-monster itu sudah tidak mengejar kita lagi," ujar Nolan memberitahu.
Thian melirik lelaki tersebut. "Tunggu, di mana Zack?" lontarnya. Orang yang dimaksud adalah pria yang harusnya tadi masih ikut berlari bersamanya.
Nolan menggelengkan kepala. "Kita kehilangan dia, kawan. Jumlah monster itu tadi bukan hanya lima. Namun enam." Ia menjelaskan.
"Ya ampun. Aku sama sekali tidak menyadarinya," balas Thian. Ia bergerak membaringkan tubuh gadis itu di atas tanah yang berlapis rumput hijau tipis.
"Aku sendiri hanya melihatnya sekilas karena terlalu sibuk berlari untuk menyelamatkan diri." Nolan menatap prihatin ke arah pemuda tersebut.
Ia memalingkan wajah, kembali menatap ke arah langit merah di ujung cakrawala dari bibir tebing tersebut. "Omong-omong, dari atas sini sejauh yang mata bisa lihat, hanya ada hamparan hutan. Yah, tentunya juga aliran sungai. Namun, kita sama sekali tidak bisa menemukan pemukiman atau apalah itu." Nolan mengalihkan pembicaraan.
"Hanya ada hutan, ya?" Thian mengulangi. "Namun, sejauh ini kita belum menemukan adanya mata air." Ia mencoba untuk menaruh harapan. "Lagipula, kita baru menanjak sedikit. Aku pikir, ini belum ada apa-apanya dengan gunung."
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" Wajah Nolan terlihat putih kemerahan akibat terpapar sinar cahaya senja dari langit barat.
"Entahlah. Mungkin ini yang namanya insting?" balas Thian.
Nolan sedikit tertawa. "Haha ... insting yang memanggil untuk mendatangi kematian," kekehnya.
***
Siluet dari berbagai bayangan yang rancak bergerak di dalam indera penglihatannya. Itu membuatnya sangat pusing. Jeritan histeris, wajah dari berbagai rupa yang mengerikan berdatangan menghampirinya. Darah berceceran dimana-mana, tulang belulang bergeletakan di seluruh penjuru ruangan.
Ia ingin menutup mata agar bayangan itu tak bisa masuk ke dalam indera penglihatannya. Namun, ia tak pernah berhasil menutup kelopak matanya. Sesuatu yang tidak ia ketahui apakah itu, memberi dorongan yang begitu keras pada kedua pendar penglihatannya.
Semuanya berlalu begitu cepat. Semuanya berdatangan dengan begitu cepat. Semuanya terlihat bergerak sangat cepat. Semuanya … semuanya … tak bisa dihentikan oleh apapun.
Gadis bersurai putih itu mulai membuka kelopak matanya. Ia terengah. Penglihatannya masih begitu buram. Namun, ia merasakan sesuatu yang nyata ada di sini. Tubuhnya sedikit sakit, dan itu berarti menunjukkan kalau ia sedang dalam dunia nyata.
Semua siluet bayangan tadi menghilang dengan sempurna. Gelap, itu yang pertama kali tercetak di dalam netra beningnya. Perlahan, cahaya mulai dapat diterima oleh penglihatannya. Pupilnya melebar, dan ia mampu menyesuaikan penglihatan dengan kegelapan.
Namun, ia justru merasa sesak ketika melihat bahwa lelaki itu, Thian, tertidur tepat di sampingnya. Pria itu meringkuk ke samping, menghadap ke arah dirinya. Ia sendiri juga sedang tertidur miring, menghadap ke arah pemuda tersebut.
Ia hanya terdiam, mengamati wajah rupawan yang sedang memejamkan mata tersebut. Pria itu tetap terlihat baharinya walau sedang tak sadarkan diri. Terdengar dengkuran pelan dari lelaki tersebut, seolah ia sedang benar-benar kelelahan.
Jarak di antara mereka berdua sangat tipis. Mungkin hanya berkisar beberapa sentimeter saja. Waktu seolah berhenti bergulir ketika dirinya menatap wajah rupawan itu di bawah tarian bintang yang hidup di atas langit gelap, tetapi tetap menyala terang.
Ia ingin sekali memeluk pria yang sedang meringkuk itu. Ingin rasanya menempelkan kepalanya pada dahi lelaki tersebut untuk sekadar mengintip mimpi apa yang tengah dirasakan oleh pemuda itu.
Namun, segera ia jauhkan pikiran seperti itu. Ia jauh-jauh mengurungkan niatnya.
Gadis mungil tersebut menggerakkan tangannya ke ubun-ubun lelaki itu. Ia mengusapnya, membelai rambut pirang kecoklatan yang seharusnya segera dipangkas akibat panjangnya telah melebihi daun telinga milik pria tersebut. "Astaga, Thian. Kamu terasa seperti anak kecil kalau sedang dalam keadaan seperti ini," gumam Irene lirih.
Pria itu seperti menyadari kalau sesuatu hinggap di tubuhnya. Kelopak matanya sedikit terbuka, memperlihatkan iris coklatnya yang terlihat cerah. Memandang gadis tersebut yang masih membelai kepalanya dengan halus. Ia merasakan kelembutan dari sentuhan jemari wanita tersebut
"Eh … maaf kalau aku membuatmu terbangun," bisik Irene lirih ketika melihat lelaki itu membuka kelopak matanya.
Pria itu hanya terdiam sambil terus memandangi wajahnya dengan tatapan teduhnya. Lalu, tanpa aba-aba, pemuda itu menggerakkan tubuhnya. Ia memeluk raga gadis tersebut. Menyeretnya ke dalam dekapan hangatnya.
Irene terkejut bukan main mengetahui apa yang diperbuat lelaki itu padanya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang pria itu lakukan untuknya. Padahal tadi ia sudah menahan diri agar tidak memeluk pemuda itu terlebih dahulu, tetapi justru pria itu yang memulainya terlebih dahulu.
"Thi-Thian? A-apa?" Irene begitu gugup berada di dalam dekapan pria tersebut. Wajah mereka begitu berdekatkan. Mungkin hanya beberapa inci saja sebelum dapat bersentuhan.
Lelaki itu memejamkan kedua pendar matanya. "Tidurlah kembali. Malam masih panjang. Kamu sendiri pasti sedang lelah bukan?" ucap pria itu setengah berbisik.
Irene merasa kehangatan melingkupi tubuhnya. Ia merasa begitu damai berada di dalam dekapan lelaki itu. Ia ingin terus bisa seperti itu. Berada di dalam pelukan pemuda yang selama ini selalu dikaguminya tersebut.
"Baiklah," jawabnya. Kemudian ia menyandarkan kepala di dekat leher lelaki itu, dan kembali memejamkan mata.
***