"Baiklah, mari kembali berjalan!" ujar Nolan sembari meregangkan tubuhnya. Pria itu mengangkat barang bawaannya, menghadap ke arah dua orang yang juga mulai bangkit dari posisi duduk, mengikutinya untuk berdiri.
Hari masih gelap. Matahari belum menampakkan sinarnya. Bahkan dari tebing tempat mereka bermalam, cahaya pucat dari bulan cembung masih menyorot ke arah wajah mereka.
Di tengah alam liar seperti itu, semua sinar bintang di angkasa lepas memang selalu terlihat jelas. Langit selalu bangun ketika malam tiba. Mereka menari, berdansa sembari menunjukkan pesona cahayanya. Menghias angkasa yang tak terhingga jaraknya dari bumi yang mereka pijak.
Memang terlalu dini untuk memulai perjalanan di waktu yang masih gelap ini. Bisa saja pepohonan rindang di hutan tersebut menghalau cahaya langit cerah agar tidak bisa menembus daun-daun lebatnya. Membuat mereka terjebak dalam kegelapan pekat, tersesat dalam kubang hitam yang menghisap. Namun, itu adalah waktu terbaik untuk bergerak sebelum para raksasa gila itu bangun dari tidur mereka.
"Kita susuri saja bibir tebing ini. Kita bisa menginjak kaki raksasa jika kembali masuk lebih jauh ke dalam hutan." Thian mengangkat beban bawaannya. Lelaki jangkung itu tetap menjaga kharismanya walau dalam keadaan seperti itu.
Nolan mengangkat bahu. "Aku juga tak sudi untuk kembali masuk ke dalam hutan. Di sini jauh lebih baik." Ia mengalihkan pandangan dari dua orang tersebut, kini memandang langit yang terlukis alami dari ujung tebing tersebut. "Atau, mungkin saja para raksasa itu menyadari beban tubuh mereka yang begitu berat, sehingga menghindari tempat ini?"
Pria yang memiliki warna rambut abstrak itu, hitam putih, terkekeh dengan ucapannya sendiri. "Mereka takut kalau-kalau tanah di tebing ini tidak kuat menahan beban tubuh mereka, hingga membuat tanahnya patah. Kemudian mereka akan jatuh dari ketinggian ini, hingga ke dasar hutan saja." Ia berjalan ke ujung tebing, memunculkan kepalanya untuk mengintip ke arah bawah tebing.
Mungkin, bagi seseorang yang mempunyai phobia pada ketinggian, melakukan hal yang sama dilakukan oleh lelaki itu sudah membuat jantung mereka serasa mau copot. Sensasi ketinggian itu membuat tubuh mereka berguncang, dan biasanya mereka langsung menarik kembali kepalanya ke permukaan, dan mundur hingga sejauh-jauhnya dari bibir tebing. Namun, sepertinya pemuda ini tidak mengalami phobia seperti itu.
"Baguslah kalau begitu," ujar Thian, "Mari mengambil arah yang mendaki. Aku pikir, mungkin kita bisa menemukan sesuatu di atas sana." Ia mulai mengambil langkah. Menyusuri tanah yang tak ditumbuhi pepohonan di pinggir tebing tersebut.
Irene segera mengambil kiprah, mengikuti jejak yang dibuat oleh pria bersurai pirang kecoklatan tersebut. Sedangkan Nolan berjalan di sebelahnya, membiarkan Thian untuk menuntun arah mana yang harus mereka ambil dalam perjalanan kali ini.
Tadi, beberapa saat sebelum mereka kembali memulai perjalanan, mereka menyempatkan diri terlebih dahulu untuk mengelilingi hutan yang ada di sekitar tebing itu. Menemukan beberapa tumbuhan yang mungkin bisa sedikit mengganjal lapar yang kian menjadi di dalam perut mereka. Bukan buah, terlalu sulit mencari buah-buahan di daerah itu. Alih-alih mereka memakan dedaunan, serta menenggak air embun yang menempel di daun-daun tersebut.
Kini, mereka kembali menyusuri jalan yang medianya lumayan berat dikarenakan tanahnya yang tidak datar. Lahan yang mereka pijak kian menanjak, membuat mereka harus mengeluarkan energi yang lebih besar untuk menelusurinya. Hembusan udara berdesir dingin menggelitik leher mereka. Itu bagus, karena membuat mereka tidak merasa begitu kepanasan karena lelah.
Irene mengambil napas sebanyak-banyaknya. Udara pada dini hari itu sangat menyegarkan, serta menyehatkan paru-parunya. Baginya, walau menjelajahi media yang sulit seperti ini, itu bukanlah pantangan yang berat baginya. Ia sudah terbiasa dengan hal seperti ini, berjalan kaki menaiki jalan miring yang menanjak.
Begitu pula dengan Thian. Pemuda itu sudah berkali-kali merasakan susahnya berjalan di daerah pegunungan serta hutan yang penuh dengan tanah berkelok, serta curam. Sehingga membuatnya terbiasa dengan media seperti ini. Hal ini tidak membuatnya terkejut, ditambah kegiatan sehari-harinya yang membuatnya harus mengumpulkan kayu bakar dari hutan, membuat otot tungkai serta lengannya menjadi baik-baik saja walau terus berjalan tanpa henti selama tiga hari terakhir ini.
Sedangkan untuk Nolan, tak ada yang tahu apakah ia merasa begitu kelelahan ataukah biasa saja. Mereka berdua belum terlalu mengenal pria tersebut. Ia terlihat seperti seorang remaja berandal yang nakal dan sering berbuat ulah di sekolah pada awalnya. Mungkin saja hidupnya dipenuhi dengan dunia gemerlap seperti umumnya anak remaja di luar sana.
Yah, walaupun sebenarnya wajah Nolan tidak begitu buruk. Malah, mungkin bisa dikategorikan tampan. Pria itu juga tidak bisa digolongkan sebagai anak rumahan yang takut pada alam liar. Ia cukup berani pada keadaan apapun, untuk ukuran anak yang hidupnya selalu bergelimangan kemewahan--dilihat dari pakaian yang dikenakannya, semua tertera label merk yang terkenal--ia mempunyai jiwa petualang yang besar.
Tebing itu menghadap ke arah barat. Tentu saja pemandangan matahari terbit tak bisa mereka saksikan dari tempat itu. Berbalikan dengan kemarin sore, di mana mereka bertiga mendapat sorot sambutan hangat dari langit senja yang terlihat begitu indah di atas sana. Di cakrawala barat, langit masih terlihat gelap, tetapi keadaannya mungkin berbanding terbalik jika tebing itu menghadap ke arah timur.
Setelah sekian lama berjalan, mereka kembali menemukan bibir tebing terbentang di hadapan mereka. Jalan yang hanya terdiri dari rerumputan tipis dan memanjang di sekitar tebing itu sudah habis mereka susuri. Kini, waktu untuk menyusuri tanah yang tak ditumbuhi pepohonan sudah berakhir.
Mereka terpaksa kembali masuk ke dalam hutan, ketika langit gelap mulai kehilangan tawa bintang-bintang yang menjadi sumber cahayanya. Ketika bulan sudah gagal menjaga keberadaan sinar pucatnya yang sepanjang malam melekat di tubuh baharinya. Ketika sang surya sudah siap mengetuk pintu dari arah ufuk timur.
Thian sempat menoleh ke arah belakang, untuk menatap kedua temannya. "Bagaimana?" tanya pria itu meminta pendapat.
Nolan mengangkat bahu, seolah tidak mengetahui jawabannya. "Apa menurutmu kita harus melompat terjun dari tebing ini?" Ia melempar pandangan ke arah mulut tebing yang terbuka lebar di hadapannya.
Thian menghela napas panjang. Pandangannya beralih menatap gadis yang hanya setinggi bahunya, yang sedari tadi berdiri di samping Nolan.
Irene membiarkan manik birunya bertaut dengan tatapan pemuda itu. "Hutan menyimpan sejuta misteri. Jika kita tak mengambil langkah, maka kita tak akan bisa memecahkan satupun dari jutaan teka-teki yang tersedia itu." Ia merasa itu adalah kalimat yang baru dikeluarkannya pagi ini. Sejak berangkat tadi, ia hanya terdiam sambil melamun. Sesekali juga terpana akan keindahan lukisan yang disajikan oleh alam tersebut.
Lelaki itu mengangkat wajahnya. Ia melemparkan tatapan tersebut pada pepohonan yang terhampar sejauh mata memandang. "Masa bodoh dengan semua tanda tanya itu," desisnya kesal.
***
Hampir tidak ada binatang yang berkeliaran di dalam hutan ini. Tentu saja, mungkin karena ini adalah tempat kekuasaan para manusia raksasa telanjang itu. Mereka mungkin tak hanya kanibal, tetapi juga memakan semua makhluk yang mempunyai daging di dalam tubuhnya. Rakus? Siapapun pasti akan menjawab iya untuk pertanyaan yang satu ini.
Lebih tololnya lagi, tiga anak remaja yang tak tahu apa-apa, kini harus terjebak selama berhari-hari di hutan tempat para monster itu berkuasa. Tanpa adanya makanan ataupun air yang dapat langsung mereka nikmati. Berat, tentu saja. Namun, semua itu hanya untuk dapat bertahan hidup, yang entah sampai kapan waktunya, mungkin saja besok mereka sudah mati. Tak ada yang tahu.
Tiga ekor monster berjalan ke arah tiga remaja yang masih terlihat kelelahan akibat terus berjalan tanpa istirahat sejak hari bahkan belum memasuki pagi.
Gadis yang tak mempunyai senjata pertahanan itu, mengambil sebongkah batu yang berukuran sebesar bola kasti. Ia segera melemparkannya dengan kuat ke arah kepala salah satu monster tersebut. Bidikannya mengenai sebelah mata makhluk yang menjijikkan itu, membuatnya mengerang kesakitan sambil menggerakkan tangan untuk menutupi mata yang terluka akibat lemparannya.
Thian segera mencabut pedangnya, kemudian berlari untuk menerjang raksasa berukuran dua meter tersebut. Ia membabatkan pedangnya, menebas kepala masing-masing monster telanjang yang gerakannya tak bisa lincah tersebut.
Monster yang berukuran dua meter itu memang mudah dilumpuhkan. Mereka tak lebih dari sosok zombie pemakan manusia yang ukurannya hanya sedikit lebih tinggi dari manusia normal. Berbeda dengan raksasa yang memiliki tinggi empat sampai lima meter. Jangkauan pedang lelaki itu hanya mampu menjangkau hingga perut atau d**a, bukan leher ataupun kepala.
"Cepat pergi dari sini!" ujar pria yang baru saja menghabisi tiga raksasa itu sekaligus. Tubuhnya kembali dibanjiri cairan merah kental yang memiliki bau amis. Namun, ia tak memperdulikan hal itu.
Nolan masih terdiam, menatap tiga monster yang sudah dilumpuhkan temannya tersebut. Ia menatap bangkai tersebut dengan pandangan yang mencerminkan kalau ia sedang tertarik. "Hei, Thian. Apakah kamu tidak berpikir untuk memanggang daging mereka? Seperti yang dilakukan oleh pemburu ketika memanggang buruannya."
Ucapan lelaki itu sontak membuat Thian sekaligus Irene terkejut. "Apa-apaan kamu itu? Memakan daging manusia hanya akan membuatmu terlihat sebagai kanibal. Tak ada bedanya dari mereka," sergah Thian segera.
"Apakah kamu tidak merasa lapar?" Nolan balik bertanya. "Sudah berapa hari kita hanya memakan tak layak, yang bahkan tidak menghasilkan nutrisi apapun?" Tatapannya mulai terlihat liar, serta gila. "Bukankah memakan daging adalah solusi terbaik? Hanya mereka yang bisa kita temukan dengan mudah di sini. Bukan anjing, bukan serigala, bukan pula babi hutan." Ucapannya semakin ngelantur tak jelas.
Thian mengernyitkan dahi. "Kumohon, jangan menggila di sini. Aku tidak akan segan membunuhmu kalau kelakuanmu semakin menjadi seperti mereka." Lelaki itu kembali bersiaga dengan pedang di tangannya.
Nolan mengerlingkan mata, memandang ke arah pepohonan yang ada di sekitarnya. "Aku suka tempat ini. Namun, aku tak pernah menyukai kalian." Tatapannya berubah menjadi mengerikan. Seolah pria itu mulai hilang kewarasannya.
Tiba-tiba dengan sikap tak sabarannya, Irene segera menarik rambut pria tersebut. Kemudian menghantamkannya sekuat tenaga ke salah satu pohon yang ada di dekatnya. Membuat cairan kental berwarna merah segar mengalir keluar dari pelipis lelaki tersebut.
"Sakit, b*****t!" umpatnya seketika. Kesadaran pria itu sepertinya langsung kembali ke dalam kepalanya saat itu juga. Akal normalnya. Umpatannya itu menunjukkan kalau ia belum benar-benar gila.
Irene masih mencengkram rambut pria itu dengan erat. Menjambaknya, membiarkan pemuda itu meringis kesakitan di bawah kendalinya. "Dengar, jangan mengatakan hal bodoh di hadapanku. Berpikirlah dengan jernih. Lihatlah, di sana, dua raksasa sedang bergerak menuju kemari!" ujar Irene dengan tajam.
Kalimat terakhir dari perkataannya itu membuat kedua lelaki yang ada di situ langsung membelalak. Mereka langsung menoleh ke arah yang dimaksud oleh gadis bersurai putih tersebut. Benar saja, ada dua ekor monster berukuran lima meter yang berjalan ke arah mereka.
Thian langsung bersiap untuk menyerang monster tersebut. "Nolan, kamu bisa ikut menghadapi mereka?" tanyanya tanpa melempar pandangan ke pria itu. Ia sibuk mengamati langkah demi langkah yang diambil oleh dua raksasa telanjang itu.
Nolan merasa kepalanya begitu pening akibat hal yang baru saja dilakukan oleh gadis itu padanya. Namun, ia tetap berusaha bangkit berdiri, walau pandangannya menjadi sedikit buram. Ia mengelap darah yang menetes dari pelipisnya menggunakan lengan jaketnya. Membiarkan noda darah tertinggal di pakaian tersebut.
"Jangan remehkan aku, sobat. Hanya karena hantaman kecil dari gadis ini, itu tak cukup untuk dapat membuatku mundur," jawabnya dengan penuh keyakinan.
"Kamu yakin?" tanya Thian kembali memastikannya.
"Tentu saja. Tak perlu risaukan aku," balasnya.
Nolan mengambil senjatanya, memperlihatkan pedang besinya yang masih bersih tanpa noda. Ia memamerkan seringai yang biasa ia tunjukkan untuk membuat orang lain merasa percaya bahwa ia sedang baik-baik saja.
"Baiklah, ayo lakukan!" seru Thian sembari mulai berlari ke arah dua raksasa yang sudah keluar dari rimbunan pepohonan untuk menggapai mangsanya.
Nolan mengikuti pria itu berlari di sebelahnya. Ia memasuki jangkauan raksasa tersebut, dan tanpa aba-aba langsung menebas kedua kaki salah satu monster itu sebelum tubuh besarnya mampu membungkuk untuk menyentuhnya.
Thian juga melakukan hal yang sama pada monster yang ada di sebelahnya. Kaki, itu yang pertama kali harus mereka tebas untuk bisa melumpuhkan monster yang berukuran lebih dari empat meter. Hal itu akan membuat raksasa itu terjatuh, dan mereka akan dengan mudah mengincar bagian kepalanya.
Namun, tiba-tiba keseimbangan Nolan goyah. Kepalanya merasa begitu sakit, seolah tengah dihujam oleh sebuah tombak yang langsung menghunus tepat di ubun-ubunnya. Ia terjatuh mencium tanah sebelum sempat untuk menebas kepala raksasa itu.
"Nolan!" pekik Thian melihat lelaki itu terjatuh di sebelah monster yang juga sama menelungkup di atas tanah. Dengan segera ia menyelesaikan pekerjaannya untuk menebas kepala raksasa yang baru saja dilumpuhkannya. Ia segera beralih untuk menolong temannya tersebut.
Nolan secepat mungkin berusaha kembali berdiri. Namun, kakinya ditahan oleh tangan raksasa yang tengah menelungkup mencium tanah. Monster yang tadi kakinya ia tebas hingga jatuh tersungkur sama sepertinya.
Ia membelalak, menyadari monster itu menyeret tubuhnya dengan kuat untuk masuk ke dalam mulut besarnya yang menganga lebar.
"TIDAK!!!" jeritnya.
***