Thian langsung bergerak untuk menolong lelaki tersebut. Dengan cepat, ia menebas pergelangan tangan monster itu, dilanjut dengan melompat ke atas kepalanya, kemudian dengan sekejap ia menebas lehernya. Membuat kepala besarnya itu terlepas dari tubuh raksasanya, jatuh ke atas tanah dengan darah yang membasahi seluruh permukaan yang dilaluinya. Menggelinding beberapa meter dari tempat asalnya, kemudian berhenti sepenuhnya.
Ia membantu Nolan untuk berdiri. Namun, sepertinya kaki pria tersebut sudah terkilir akibat eratnya cengkraman sang monster menjijikkan tersebut. Lelaki itu meringis, mencoba menahan sakit yang kian menjalar melewati tulang belulangnya.
Irene berlari menghampiri dua orang pemuda yang terlihat sedang dalam masalah tersebut. "Ayo cepat pergi dari sini. Aku melihat ada dua raksasa lainnya yang jaraknya tak begitu jauh dari sini." Ia memperingatkan kedua temannya itu.
Thian langsung menarik lengan Nolan, membuat pria itu berdiri seketika. Dengan tergesa-gesa, ia memapahnya, membawa dirinya dan lelaki itu untuk pergi menjauh dari tempat tersebut. Sedangkan Irene langsung mengambil langkah di depan mereka berdua, menuntun arah mana yang harus mereka ambil untuk berlindung.
Napas mereka kian memburu tak teratur. Dua ekor monster yang tadi disebutkan oleh Irene itu menyadari kehadiran mereka, dan langsung bergerak untuk mengejarnya. Hal itu jelas semakin memperburuk keadaan. Terutama untuk seorang pemuda yang bahkan tak mampu untuk menopang beban tubuhnya sendiri.
Thian mempercepat langkahnya, membuat lelaki yang dipapahnya terpaksa menyeretkan kakinya di tanah karena tak mampu menyamai langkahnya. Namun, sebuah akar pepohonan tiba-tiba menyandung langkahnya. Membuat dirinya serta pria itu terjatuh bebarengan ke atas tanah.
"Oh, sial!" umpatnya kasar ketika tubuhnya terjerembab dalam tanah kering. Ia melihat ke arah Nolan yang juga jatuh mencium tanah. "Hei, kamu masih sadar `kan?" Sontak pertanyaan itu terlontar ketika melihat lelaki itu tak kunjung menggerakkan raganya.
Dengan perlahan lelaki itu mengangkat wajahnya. Thian kemudian membelalak terkejut ketika melihat darah mengucur deras dari kening pria tersebut. Sepertinya kepala pemuda itu membentur tempat yang salah ketika Irene menghantamkannya ke pohon. Mungkin saja membentur bagian yang sedikit tajam dari tanaman tersebut, membuat lukanya menjadi begitu parah.
"Aku masih bisa mengetahui apa yang sedang terjadi," jawab Nolan lirih. Ia kembali menyeringai tipis. Namun, keadaannya sudah jauh lebih buruk dari sebelumnya.
Irene yang melihat lelaki itu tampak begitu tak berdaya akibat luka di kepalanya, membuat dirinya merasa begitu bersalah telah melakukan hal tersebut. Ia menundukkan kepalanya, menatap penuh simpatik ke arah pemuda itu. "Oh, sungguh … maafkan aku," desisnya pada pria itu.
"Tak perlu risaukan itu," lirih Nolan membalasnya.
Irene tak merespons. Ia tetap menundukkan kepalanya sambil berbalik menghadap ke arah dua pemuda itu.
Thian kembali berdiri sembari memapah Nolan. Ia mulai meniti langkah, ingin secepat mungkin meninggalkan dua raksasa yang jaraknya semakin pendek dari mereka. Namun, Irene tak kunjung mengikuti langkahnya.
"Irene, apa yang kamu lakukan?!" bentak Thian melihat gadis itu hanya bergeming di tempatnya berdiri.
Irene masih menunduk menatap kakinya yang dibalut dengan kain yang ia dapatkan dari sobekan pakaiannya. Ia tahu kalau di balik balutan kain tersebut, pasti ada, walau hanya setitik darah yang sedang mengucur keluar dari balik kulitnya. Tidak mungkin ia terus-menerus berjalan di dalam rimba tanpa mengenakan alas kaki, dan kedua tungkainya bisa baik-baik saja.
"Irene?!!" pekik Thian untuk yang kedua kalinya.
Hal itu membuat Irene mengangkat wajahnya. Ia menoleh, menatap pria yang sudah berjalan mendahuluinya. Dua ekor raksasa sudah berjalan tak jauh darinya. Sebentar lagi, kalau ia tak segera bergegas, monster itu akan bisa dengan mudah menangkapnya. "Maafkan aku," bisiknya begitu lirih. Sehingga mungkin saja dua lelaki itu tak mampu mendengar ucapannya.
Irene segera mengambil langkah, ia berlari dengan cepat ke arah Thian. Mencuri pedang yang semula tergantung di punggung pria itu dengan gesit, kemudian kembali mundur untuk menjaga jarak.
Manik biru wanita itu terlihat begitu tajam, menyorot ke arah dua lelaki itu. Thian terkejut dengan apa yang diambil oleh gadis tersebut. Pedangnya sudah berada di tangan Irene, dengan tanpa sarung pembungkusnya.
Gadis itu membuang tatapan dari lelaki yang masih membelalak tersebut. Ia memalingkan pandangan ke arah dua monster yang semakin masuk dalam jangkauan geraknya. Dengan cepat, ia melesat ke arah dua ekor raksasa telanjang itu.
"Irene!!!" pekik Thian melihat gadis itu mengambil langkah nekat untuk menghadapi dua ekor raksasa berukuran lima meter seorang diri.
Irene sama sekali tak mengindahkan jerit peringatan dari lelaki tersebut. Keputusannya sudah bulat. Tak mungkin terus-terusan ia berlindung di balik punggung pria itu. Kini, sudah saatnya ia ganti mengambil posisi untuk melindungi teman-temannya.
Ia berlari, menuju tempat dengan celah di antara dua raksasa itu berdiri. Dengan begitu, kedua monster itu segera berebut hendak mengambil tubuhnya dari atas tanah. Namun, sebelum tangan besar itu mampu menyentuh tubuhnya, ia langsung mengambil sebuah batu yang sudah ia simpan di celah pakaiannya.
Ia melemparkan batu tersebut ke kepala salah satu raksasa, dan beruntung ia dapat mengenai target tepat dengan sasaran. Dengan segera ia memutar tubuh, membabat pergelangan tangan dari monster satunya yang hendak menyentuhnya.
Kedua monster itu meraung kesakitan ketika anggota tubuh mereka terluka. Bahkan, raksasa yang kepalanya ia lempar menggunakan batu seukuran bola kasti itu, kini terlihat berlubang. Raksasa itu roboh ke atas tanah. Irene segera menggunakan kesempatan itu untuk membabat habis leher sang raksasa. Hingga hanya menyisakan satu raksasa lagi yang salah satu pergelangan tangannya berhasil ia tebas.
Irene tak menunggu lama untuk menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera berbalik, menusukkan pedang yang ada di dalam genggamannya ke dalam jantung monster tersebut. Kemudian segera menarik mata pedang itu kembali keluar. Darah mengucur deras dari tempat yang dilukainya tersebut, membuatnya bermandikan darah segar di mana-mana.
Raksasa itu kembali meraung, kemudian menggeram. Namun, pada akhirnya juga ikut jatuh mencium tanah, sama seperti monster yang sudah lebih dahulu menemui ajalnya.
Gadis itu masih berdiri terdiam, di tengah-tengah dua bangkai raksasa yang berhasil dilumpuhkannya. Ia menatap kedua tangannya sendiri dengan hampir tidak percaya. Semuanya penuh dengan darah, begitu pula dengan pakaiannya. Namun, bukan itu yang membuatnya terkejut. Ia hanya tak percaya mampu melakukan hal yang sulit seperti ini, seorang diri.
Irene segera mengalihkan pandangannya ke arah di mana Thian serta Nolan berada. Kedua orang itu sedang mengamati hal yang ia lakukan dari kejauhan. Namun, pandangannya menjadi bulat sempurna tatkala ia melihat dengan jelas apa yang sedang berdiri di belakang kedua pria itu. Mustahil, bagaimana bisa kedua orang itu tak menyadari keberadaan makhluk yang sudah sepantasnya mereka waspadai sejak awal?
"Thian, Nolan, lari!!!" pekiknya begitu keras.
Thian segera menoleh ke belakang begitu mendengar gadis itu menjerit dengan begitu keras. Pendar matanya juga ikut membulat sempurna. Bagaimana tidak? Beberapa ekor monster yang lain sudah berdiri di belakangnya, dengan tangan yang menjulur hendak menangkapnya.
Tubuh Nolan terlalu berat untuknya, membuatnya tak bisa bebas bergerak. Akhirnya, dengan sengaja ia melepaskan lelaki itu dari rangkulannya. Terpaksa membiarkan raga pemuda itu ditangkap oleh tangan besar menjijikkan milik sang raksasa.
Ia segera berlari seorang diri ke arah Irene berada. Menangkap lengan gadis itu, mengambil kembali pedangnya yang sempat dicuri oleh wanita tersebut, kemudian segera menggandengnya untuk membawanya berlari secepat mungkin dari tempat itu.
Degup jantung Irene berpacu. Peluh mulai merambah di sekujur tubuhnya. Ia berusaha menambah kecepatan larinya, mengikuti langkah Thian yang berada sedikit di depannya. Pria itu menggenggam tangan Irene sambil terus memacu kecepatan, menyusuri lebatnya hutan.
"TIDAAAK!!! TOLONG, TOLONG JANGAN MAKAN AKU."
Pekikan yang memilukan kembali terdengar olehnya. Hati bersikeras, untuk berusaha menolong. Namun, apa daya, raga tak menyanggupinya. Irene hanya memejamkan mata, mendengar jeritan dari arah belakangnya.
"THIAN, IRENE, TOLONG! TOLONG! To … arghhh … "
Sel darah merah memancar dengan kuat ke segala arah. Sebagian, memercik pada pakaian Irene dan Thian. Mengiringi tubuh bagian atas yang terpisah dari bagian bawahnya. Serpihan daging yang melekat pada tulang, tersebar ke segala penjuru. Suara pekikan yang memilukan tak lagi terdengar. Digantikan oleh erangan raksasa yang menikmati santapan dari pemilik tubuh malang.
"Dia menyebut nama kita. Apa tak ada lagi yang bisa kulakukan?" Irene tak kuasa menahan pedih. Pendar matanya terlihat berkaca. Pandangannya pecah, kabur, dan mulai mengeluarkan bulir air. Namun, ia tetap sekuat tenaga mempercepat langkahnya.
Lelaki yang merasa bahwa dirinya diajak berbicara oleh Irene, tak merespons. Thian tetap memacu kecepatannya sambil terus memegang pergelangan tangan Irene.
Di belakang mereka, sosok raksasa manusia yang berukuran sekitar lima meter, juga sedang melangkahkan kaki, menyusul mereka. Jarak sang monster dengan mereka semakin pendek. Langkah monster tersebut terlalu cepat, bagi dua remaja yang mulai berada di ujung tanduk batas kemampuan.
"Tetaplah hidup, Irene," ucap Thian lirih. Ia langsung menarik lengan Irene yang sejak tadi digenggamnya. Mendekatkan wajah Irene pada wajahnya. Sesaat, ia memandang mimik Irene dengan dalam.
"Thian?" Irene tak mengerti.
"Bye." Tatapan tajamnya tak lepas memandangi wajah mungil gadis tersebut. Kemudian, ia melepaskan genggamannya. Mendorong Irene agar menjauh dari tempat itu.
"Apa yang kamu lakukan Thian?"
"Cepat lari, bodoh!" tekan Thian. Nada bicaranya menjadi tinggi, wajahnya memancarkan emosi.
Irene memalingkan wajahnya. Menahan pedih yang lagi-lagi harus ia rasakan. Ia mengerti maksud Thian.
Tak ada sesuatu yang bisa didapatkan tanpa pengorbanan. Huh, sungguh egois.
Meskipun hatinya menolak tuk pergi dari sisi pria itu. Namun, keadaan kian mendesaknya. Irene berbalik, membelakangi Thian yang masih memandanginya. Kemudian, ia berlari menjauh, meninggalkan lelaki tersebut.
"Maaf," lirihnya. Irene mengutuk dirinya sendiri. Namun, tetap menambah kecepatan pada setiap langkahnya. Menembus rimba.
"Gadis tolol." Thian mengembangkan senyum masam. Irene sudah lenyap dari pandangannya, masuk lebih jauh ke dalam rimba.
"Tapi aku menyukainya," lanjutnya. Ia kini membalikkan badannya, menghadap raksasa yang telah berada di hadapannya. Tangannya merogoh sebuah benda yang berada di balik mantelnya. Kemudian, menarik sebuah senapan laras pendek dan langsung mengarahkan bidikannya pada sasaran besar, yang pasti kena. Tak diragukan lagi.
Aku percaya, benda ini suatu saat pasti akan berguna. Untung saja, saat mereka membawaku kemari, mereka tak mengeluarkan benda-benda simpananku. Semoga saja, kau bisa mengulur waktu.
Tangan kirinya mengusap benda yang ia curi sebulan yang lalu. Segera, Thian menarik pelatuk senapan tersebut. Menembaknya berkali-kali ke arah kepala raksasa. Merah darah berbau amis membaur bersama tanaman hijau di sekitarnya.
Namun, raksasa itu tak tumbang. Makhluk menjijikkan bertubuh super besar itu tetap melangkah perlahan, mendekati Thian. Thian tak berhenti menarik pelatuk, menghamburkan semua peluru yang ada di dalamnya. Hingga tak tersisa.
"Sial!" Thian mengumpat kasar. Ia membuang senapan yang tak lagi bisa mengeluarkan serangan itu ketanah. Netranya meruncing getir.
Tangan raksasa tersebut menjulur, berusaha untuk menangkapnya. Namun, ia tak terjebak asa. Ia mengeluarkan pedang yang dipungutnya dari Irene tadi. Ia menggunakan semua senjata miliknya dengan sebaik-baiknya.
Thian menebas tangan raksasa yang terjulur ke arahnya. Kulit raksasa yang sama seperti postur manusia, tentu saja terluka akibat tajamnya pedang. Tangan besar itu terlepas dari tempatnya.
Setelah mengetahui, bahwa serangannya mempan terhadap makhluk kotor itu. Thian berlari dan menyerang bagian lain sang giant. Ia menebas kedua kaki monster tersebut, membuatnya kehilangan pijakan dan jatuh ketanah. Thian tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan segera, ia melompat ke tubuh raksasa itu, lalu menebas lehernya.
"Ahh, bodoh."
Pancaran darah melekat di tubuhnya. Ambu amis yang kian melekat pada indra penciumannya. Kini, ia mengembangkan senyum senang. Keberhasilannya membunuh seekor raksasa membuatnya merasa puas.
Namun, kepuasannya tak berlangsung lama. Ia menyadari dengan cepat, sosok raksasa yang tadi memakan temannya, sedang berlari ke arahnya. Monster manusia, yang bukan tipe bergerak lambat seperti yang baru saja ia lawan.
Gemuruh terdengar semakin kuat. Getaran tanah makin terasa nyata. Raksasa itu mendekat ke arahnya yang masih berdiri di punggung monster yang baru saja dibunuhnya. Dengan cepat, monster itu menjulurkan tangan. Hendak menyambar Thian yang berdiri menatap makhluk besar tersebut.
Segera, Thian kembali menggerakan pedangnya. Menebas pergelangan tangan monster itu. Tangan itu kembali terlepas dari pemiliknya. Ia sedikit tersenyum puas. Sekali lagi, serangannya mampu melukai makhluk bodoh tersebut.
Namun, dugaanya salah. Raksasa itu melompat ke atas tubuh monster yang telah terkulai tak bernyawa. Thian yang berada di atasnya, tak sempat untuk menghindari hal tersebut. Kakinya tergencet dengan tubuh besar sang monster, membuatnya tak bisa melarikan diri.
"Anjing!" Lagi-lagi, ia memekikkan umpatan kasar. Namun, kali ini, ia tak mampu melakukan apa-apa.
Tangan lainnya milik raksasa itu menangkap tubuh Thian yang tak berdaya. Gemeretak tulang patah terdengar dari pria yang kini berada dalam genggaman monster tak bernama. Tangan besar, bergerak. Mengarah ke arah rahang yang sama besarnya. Mulut giant itu terbuka lebar, siap menelan mangsa yang didapatkannya.
Jadi begini ya, yang dinamakan, kematian. Batinnya.
Ruang gelap tak terbatas menyelimuti semua sudut pandangnya. Rasa sakit. Sangat sakit. Lebih sakit daripada apapun, membekas di seluruh tubuhnya. Perlahan, kesadarannya hilang. Bersamaan dengan tubuhnya, yang tergilas oleh gigi-gigi besar sang raksasa.
Game over, -untukku.
***